pasarsapi

Posts Tagged ‘social media’

MASIH ADAKAH PAHLAWAN DI NEGERI INI?

In Mengelola orang on November 9, 2011 at 9:03 pm

Hari Jumat lalu, saya diminta menjadi salah satu narasumber di Coaching Clinic dengan tema “Jadilah Pahlawan Masa Kini, Jadilah Tango Digital Heroes” yang diadakan oleh Wafer Tango. Narasumber yang lain adalah psikolog Rosdiana Setyaningrum M.Psi, MHPed  dan kami pun membahas apa itu pahlawan di masa sekarang. Menarik sekali acara tersebut, karena pertama: diadakan di kidzania jadi saya bisa sekalian bawa anak saya untuk menikmati fasilitas bermain di kidzania, kedua pesertanya adalah teman-teman dari media. Baru sekali ini saya berbicara di depan teman-teman media untuk becerita bagaimana membangun gerakan sosial dengan memanfaatkan social media. Acara ini sengaja dibuat dalam rangka memperingati Hari Pahlawan sekaligus peluncuran program baru Tango Together To Get There, sebuah program berbasis social media.

Saat ini banyak mata tertuju di social media, sebuah platform media baru di mana sekarang sudah dihuni lebih dari 800 juta orang khusus untuk facebook, jadi kalau dianggap sebagai negara maka Facebook adalah negara ketiga terpadat setelah China dan India. Di Indonesia sendiri penghuni facebook sekita 30 juta, sebuah jumlah yang cukup fantastik dengan segala keterbatasan infrastrukturnya.

Banyak gerakan-gerakan sosial yang timbul dari social media, karena di sini kita bisa terhubung dengan banyak orang tanpa batasan geografis, pendidikan, strata sosial maupun jabatan. Bangsa kita dikenal dengan bangsa pemurah, maka tidak heran jika banyak sekali aksi sosial yang bermunculan. Sebut saja Blood for Life, Yatim Online, Indonesia Berkebun, Indonesia Bercerita, Shoe Box Project, dan masih banyak lagi. Kebetulan saya pun ikut serta membangun gerakan belajar gratis yang diinisiasi dari online tetapi kelasnya offline. Nama gerakan tersebut adalah Akademi Berbagi.

Dulu kita selalu diajarkan tentang pahlawan bangsa, yaitu orang-orang berjasa atas berdirinya negeri ini yang kemudian beberapa dari mereka namanya diabadikan menjadi nama jalan, gedung maupun gambar di mata uang. Tetapi apakah pahlawan hanya mereka, yaitu orang yang berjuang mengangkat senjata, bertaruh nyawa memperjuangkan kemerdekaan? Bagaimana dengan sekarang?

Bangsa kita sudah merdeka lebih dari 66 tahun, banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan Negara kita berdaulat baik secara geografis, ekonomi dan sosial. Perlu pejuang-pejuang baru untuk memajukan negeri ini. Dan menurut saya definisi pahlawan perlu dikembangkan  lebih luas lagi yaitu orang-orang yang berjasa atau berbuat baik kepada lingkungannya. Tindakan kepahlawanan bisa dimulai dari yang paling sederhana yaitu menolong tetangga yang kesusahan, atau membantu saudara-saudaranya yang kesulitan meneruskan pendidikan.  Tindakan heroik tidak harus tindakan besar, asal memberikan manfaat buat sesama sudah merupakan tindakan kepahlawanan.

Anak-anak kita yang selama ini hanya menghafal nama-nama para pahlawan,perlu juga dikenalkan tentang apa itu pahlawan. Jiwa pahlawan bisa dipupuk sedari kecil, sehingga ketika besar itu sudah menjadi nilai yang dianut dalam perjalanan kehidupannya. Apalagi anak sekarang banyak yang sudah terhubung dengan tehnologi, mereka bisa memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk mempraktekkan tindakan kepahlawanannya.

Dengan banyaknya kegiatan sosial di online, kita bisa mengajak putra-putri kita untuk ikut serta sebagai bentuk latihan memupuk jiwa kepahlawanan. Salah satu kegiatan social yang mudah diikuti dan berdampak baik bagi teman-teman kita yang kekurangan gizi adalah ajakan dari Tango Together To Get There. Caranya mudah, kita dapat meng-up load video gaya masing- masing dalam menerima, makan dan kemudian seakan memberikan Tango kepada orang disebelahnya ke facebook Tango. Dan setiap satu video yang di up load berarti lima piring makanan bergizi yang akan diberikan kepada anak- anak bergizi kurang di Desa Rabak, pinggiran kota Bogor. Dari situ anak-anak bisa belajar sekaligus melihat bagaimana aksi kepedulian sosial itu dibangun. Tetapi apa yang dilakukan Tango bukan hanya untuk anak-anak, siapa saja boleh berpartisipasi, semakin banyak semakin bagus. Tidak perlu kamera video yang canggih, justru yang ada di handphone sudah mencukupi. Yang penting adalah partisipasinya.

Tidak sulit untuk menjadi pahlawan di negeri ini. Banyak hal bisa kita lakukan untuk membantu sesama, tehnologi semakin mempermudah juga. Maka saya pun tidak akan heran kalau kelak akan banyak sekali digital hero yang lahir di negeri kita. Bukan saatnya lagi kita mementingkan diri sendiri, karena manusia yang berhasil adalah yang paling bermanfaat bagi bumi ini. Selamat hari pahlawan, mari hargai pengorbanan para pahlawan pendahulu kita dengan melanjutkan perjuangan mereka untuk kebaikan sesama.

Advertisements

Dari 140 karakter Mimpi Indonesia Cerdas Kita bangun

In Mengelola orang on February 9, 2011 at 1:31 am

Salah satu yang membuat saya melupakan blog adalah adanya medium baru yang lebih ringkas, cepat dan langsung dapat respon dari teman-teman cukup dengan 140 karakter. Ya, saya sedang kecanduan twitter. Dengan segala keterbatasannya yaitu hanya 140 karakter, hanya tersimpan 7 hari, gerakannya yang begitu cepat, twitter mampu menyalurkan apa yang tersumbat dipikiran. Kegembiraan, kegelisahan, kemarahan, kekecewaan, dan harapan semua tumplek bleg. Istilah nyampah di timeline mungkin benar adanya, kita tumpahkan ribuan kata-kata entah bermakna atau tidak yang penting berceloteh dan eksis. Hahaha…..

Kapan pun dimana pun saya bisa menuliskan sesuatu, pemakaian yang begitu mudah dan mobile sangat cocok bagi pemalas seperti saya. Terus terang saya semakin jarang membaca berita dari website langsung, atau pun menonton berita di TV. Di twitter informasi lebih cepat walau terkadang tidak akurat, dan hampir semua portal media ada di twitter juga. Kita tinggal baca headline-headlinenya yang gak suka lewatkan yang menarik tinggal klik linkmya. Beres.

Apakah fungsi twitter hanya seperti itu? Untuk saya, tidak! Dengan berjalannya waktu, saya menemukan bahwa dengan twitter saya bisa berbuat sesuatu. Paling tidak untuk teman-teman di garis waktu saya. Lahirnya Akademi Berbagi sebuah kegiatan berbagi ilmu gratis bagi siapa saja yang mau bermula dari twitter. Di twitter saya berkenalan dengan orang-orang hebat yang berbaik hati untuk membagi ilmunya. Mereka dengan senang hati mengajar dan memberikan bukan hanya ilmu tetapi juga pengalaman di bidang masig-masing. Sebuah pengetahuan yang luar biasa menurut saya. Jika di sekolah kita mendapatkan ilmu secara formal dan akademis, di Akademi Berbagi kita juga mendapatkan pengalaman yang mahal dari para pelaku bisnis dan organisasi.

Beberapa menamai gerakan Akademi Berbagi sebagai social movement, beberapa menamai urban movement atau online movement. Apapun istilahnya saya terima saja, karena gerakan ini murni dilakukan tanpa bayaran baik gurunya, penyelenggaranya, tempatnya semua gratisan.Teman-teman yang kemudian ikut membantu pun dengan sukarela mereka bekerja penuh semangat. Misi kita cuma satu : berbagi ilmu sebanyak-banyaknya kepada siapa saja. Akademi Berbagi menjadi jembatan yang menghubungkan para ahli dengan yang membutuhkan. Pada perkembangannya bukan hanya ilmu yang diperoleh tetapi jaringan dan relasi juga didapat. Tinggal pintar-pintarnya kita memanfaatkan peluang yang ada.

Satu hal yang membuat saya begitu antusias adalah karena bidang pendidikan ternyata menjadi passion saya. Terimakasih kepada Rene Suhardono yang membantu membuka mata telinga dan hati saya untuk menemukan jalan yang tepat. Thanks Rene! Sebuah gerakan yang dikerjakan dengan passion, terasa lebih mudah dan ringan nyaris tanpa beban. Saya tidak mendapatkan uang dari sini, tetapi jaringan, relasi dan pengalaman para guru membukakan banyak jalan baru.

Saat ini Akademi Berbagi nyaris 1 tahun berjalan. Tidak ada kendala yang berarti, karena kami percaya “Berbagi bikin happy”. Kalau kemudian ada organisasi atau brand yang mengapresiasi kegiatan ini, itu bonus buat saya dan teman-teman untuk lebih bersemangat. Cukup mengejutkan ketika Akademi Berbagi menjadi 10 besar kandidat Aksi #klikhati, sebuah kegiatan penghargaan kepada aktivitas sosial yang dibangun melalui jaringan online. Klik Hati dimotori oleh sebuah perusahaan farmasi Merck dan akan memberikan penghargaan bagi 5 pemenang yaitu bantuan dana untuk mengembangkan aktivitas sosialnya. Saat ini saya masih menunggu kabar baik itu, tetapi menang atau kalah bukan tujuan saya. Bagi saya semua yang berani bergerak untuk membantu sesama dan tetap menjaga secara konsisten itulah juaranya. Tidak penting besar kecilnya, yang penting mempunyai manfaat bagi sekitar apa pun bidangnya.

Apakah Akademi Berbagi kemudian akan menjadi gerakan yang besar, dan di copy paste diberbagai tempat, menjadi semangat untuk berbagi ilmu sehingga masyarakat Indonesia semakin cerdas? Wallahu ‘alam tetapi saya dan teman-teman sangat mengharapkan itu terjadi. Perlu dukungan dan bantuan dari berbagi pihak itu pasti. Tetapi saya punya keyakinan selama niatnya baik, dijalankan dengan benar pasti ada jalan dan banyak dukungan.

Teringat twit pertanyaan dari Farhan sang MC kondang dan penyiar radio Delta FM : apakah social media bisa menggerakkan banyak orang untuk bertindak? Menurut saya : jawabnya iya dan tidak. Karena tetap saja gerakan di online akan menjadi gerakan di offline sangat terkait dengan : issue yang diusung, momentum yang ada serta siapa pembawa pesan atau sang influencernya. Gerakan online hanya akan menjadi teriakan di timeline saja jika issue yang diusung tidak menyentuh hati banyak orang, atau tidak memperoleh momentum yang tepat atau tidak dibawakan oleh orang yang tepat juga. Tidak harus ketiga-tiganya terpenuhi, 2 saja menurut saya cukup tetapi jika tiga-tiganya terpenuhi akan luar biasa.

Belajar dari koin Prita, Bibit-Chandra “Cicak vs Buaya’ 2 gerakan ini memenuhi ketiga unsur di atas sehingga kemudian menjadi gerakan massa yang cukup besar dan nyata. Aapakah kemudian Akademi Berbagi bisa seperti itu? Dalam konteks yang berbeda mungkin bisa. Karena Akademi Berbagi bukan pengumpulan massa, tetapi lebih kepada spiritnya yaitu berbagi ilmu kepada siapa saja dimana saja tanpa biaya. Spirit ini yang terus akan kita bangun dan tularkan kepada semua orang. Silakan bikin Akademi Berbagi dimana saja dan saya yakin pasti bisa. Tinggal meniru yang sudah saya bikin atau mau dimodifikasi monggo saja yang penting semangat berbagi ilmunya tetap terjaga.

Kebodohan menjadi issue penting di negeri ini, kekerasan dan ketertindasan bermula dari kebodohan. Jika kita sama-sama menyadari itu, maka kemudian pendidikan adalah hal mutlak yang harus mudah diakses dan didapat oleh siapa saja. Menunggu pemerintah sama saja membenturkan kepala ke dinding, dampak dari kebodohan sudah melebar kemana-mana. Kita hanya perlu bergandengan tangan, meluangkan waktu sedikit dan jalankan. Simple dan mudah.

Mimpi saya, mimpi teman-teman saya, dan juga mimpi kita semua sebenarnya sama : masyarakat kita lebih cerdas sehingga mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan dalam hidupnya. Seperti kata almarhum Bapak saya : tidak ada yang tida bisa, semua pasti bisa asal kita mau. Tidak ada yang susah jika dikerjakan bersama-sama dan menggunakan hati. Jalan masih panjang, karena kami juga tidak berharap semua instant. Yang kami harap semakin banyak orang mau menyontek Akademi Berbagi di berbagi daerah dan kelompok masing-masing. Tidak harus besar, kecil-kecil jika banyak dan tersebar ke berbagai wilayah akan besar juga bukan?

Yuuk berbagi, berbagi selalu bikin happy!

Sebuah Catatan : Social Media & GUSDURian

In Mengelola orang on December 26, 2010 at 12:24 am

Berbicara di depan para GUSDURian –sebutan untuk para penerus perjuangan Gus Dur- tentang social media adalah pengalaman pertama yang cukup menantang sekaligus menyenangkan. Dalam rangka Haul KH Abdurrahman Wahid di Jombang, para GUSDURian ini berkumpul dan berusaha merajut kembali kepingan-kepingan perjuangan yang berserak diantara murid-murid dan kelompok murid yang tersebar di berbagai wilayah.

Sempat bertanya pada diri sendiri, apakah cocok berbicara tentang social media di depan para pejuang lapangan? Mereka terbiasa beraktivitas langsung sesuai bidang masing-masing ada yang sebagai petani, pedagang, santri, kyai, ustad ataupun aktivis jalanan. Waktu mereka di depan komputer atau browsing di HP mungkin hampir tidak ada atau bahkan beberapa belum mengenal apa itu social media.

Tetapi cerita dari mba Alissa, selaku koordinator GUSDURian, pengalamannya berbagi nilai-nilai dan perjuangan Gus Dur di social media mendapat tanggapan yang cukup signifikan. Bahkan hasil survey ada ratusan page facebook yang mengatasnamakan Gus Dur ataupun KH Abdurrahman Wahid. Saya pun bersemangat untuk berbagi manfaat social media kepada mereka. Karena saya berkeyakinan mungkin sekarang mereka belum banyak yang menggunakan social media tetapi kelak social media adalah media penghubung yang paling efektif dan murah untuk menjalin kerjasama dan koordinasi GUSDURian yang berserak di segala penjuru negeri bahkan sampai ke luar negeri sehingga menjadi komunitas yang solid.

Hampir semua yang hadir di acara kumpulan GUSDURian tersebut mempunyai Facebook, dan masih sedikit yang paham twitter. Tetapi itu adalah realita yang menggembirakan, bahwa tuduhan para GUSDURian tidak paham dan tidak menggunakan social media tidak benar. Dengan Facebook saja mereka sebenarnya bisa memaksimalkan fungsi social media untuk bertukar informasi dan memberikan bantuan serta dukungan untuk gerakan mereka. Tidak usah muluk-muluk, jika setiap leader di kelompok per wilayah mempunyai facebook atau social media lainnya, sudah cukup untuk menjalin komunikasi dan menyatukan gerakan dalam rangka memperjuangkan kembali nilai-nilai positif Gus Dur.

Mungkin benar mereka hanya petani atau santri, tetapi dengan kemudahan dan kemurahan HP smartphone bukan tidak mungkin tidak lama lagi mereka semua akan terkoneksi dalam sebuah wadah yaitu social media. Siapa bilang petani tidak butuh internet? Justru jika mereka diajari untuk mengakses internet, memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan pertanian. Begitu juga dengan pedagang, guru, dan santri. Ilmu di internet berserakan tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak.

Saya percaya, jika diberi akses dan kesempatan, setiap orang dapat menggunakan internet ataupun social media. Dan tidak akan lama lagi para GUSDURian dapat terhubung dan berkomunikasi melalui social media serta memanfaatkan internet untuk kemajuan aktivitas mereka. Tidak ada yang tidak mungkin. Para koordinator GUSDURian bisa memulai untuk mengedukasi para ketua kelompok atau tokoh-tokoh muda, yang selanjutnya akan menyebar seperti virus.

Pemanfaat jaringan online untuk mengembangkan komunitas adalah pilihan yang paling murah saat ini, dengan kondisi wilayah Indonesia yang terpecah-pecah di berbagai pulau dan biaya transportasi yang cukup mahal. Jika janji pemerintah dalam mewujudkan desa teknologi dapat terealisir di seluruh  Indonesia, maka semua wilayah akan terhubung melalui jaringan online. Dengan internet kita tidak hanya bertukar informasi, tetapi dapat menggerakkan massa untuk mengusung suatu issue atau perubahan untuk kebaikan. GUSDURian sebuah komunitas yang sudah mempunyai kaki di seluruh wilayah terutama Jawa akan jauh lebih efektif jika ada yang mewadahi dan bisa diakses dengan mudah seluruh anggotanya maupun orang luar yang tertarik atau ingin mengetahui aktivitasnya, sehingga pengembangan jaringan bisa lebih cepat. Wadah itu bisa berupa social media, website blog ataupun yang lainnya. Apapun bentuknya tidak jadi masalah, sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan akses anggotanya.

Kelak jika GUSDURian sudah terwadahi dengan baik di social media atau website, dengan database yang cukup rapi bukan tidak mungkin akan menjadi penggerak utama perubahan dan issue-issue strategis terutama yang berkaitan dengan perjuangan Gus Dur : toleransi, ke-Bhinneka-an, ekonomi kerakyatan dan Islam Rahmatan lil alamin.

Ingat pelajaran marketing tentang penjual sepatu? Salesman 1 di kirim ke suatu daerah dan ternyata di daerah tersebut seluruh penduduknya tidak menggunakan sepatu. Maka pulang lah dia ke kantor pusat dan bilang, “kita tidak bisa menjual sepatu di sana.” Salesman 2 pun di berangkatkan ke daerah yang sama. Dia tetap tinggal dan bergaul dengan penduduk setempat. Dan memberikan penjelasan tentang sepatu dan manfaatnya. Tidak lama kemudian, di daerah tersebut menjadi pasar baru penjualan sepatu.

Mau pilih Salesman 1 atau 2? Tidak ada yang instant untuk sebuah perjuangan. Tidak ada yang cepat untuk sebuah perubahan. Konsisten dan ketekunan tetap menjadi kunci keberhasilan.

Belajar dari Lelehan Cokelat jilid 2

In Mengelola acara on December 3, 2010 at 2:46 am

Masih penasaran belum mencicipi ice cream fenomenal Magnum si cokelat Belgian? Membaca di timeline twitter perburuan ice cream tersebut sudah cukup mereda. Mungkin konsumen sudah gampang menemukan atau sudah jenuh menunggu?

Setelah sebelumnya saya menulis tentang Magnum yang hilang di pasaran, kali ini saya ingin membahas tentang peran social media agent yang mempromosikan Magnum di dunia digital.  Jika iklan TV adalah komunikasi satu arah, event adalah kegiatan bersama sesaat, lain persoalan dengan social media. Kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka selama akun tersebut masih aktif. Padahal social media agent tidak bertugas selamanya, seringkali mereka dikontrak dalam jangka pendek. Kalau produk tersebut baik-baik saja, lancar di pasaran maka social media agent tenang-tenang saja. Tetapi jika produk tersebut ada masalah?

Seperti kejadian susahnya Magnum dicari di pasaran. Di social media terutama di twitter mereka menanyakan kepada para social media influencer tentang produk tersebut. Bukan hanya bertanya, kadang malah marah-marah menimpakan kekesalannya. Masalah yang lain adalah seringkali para influencer ini tidak tahu apakah produk tersebut memang kurang pasokan atau sengaja dibuat menjadi isu oleh perusahaan. Yang terjadi teman-teman di online tergaga-gagap menanggapinya. Perlu dijawab atau tidak, jika dijawab melanggar aturan atau tidak. Atau bagaimana mereka mesti menjawabnya.

Ketika saya bercerita di twitter tentang ibu yang ngamuk-ngamuk sama SPG karena tidak memperoleh Magnum, sambutan pun rame, hujan reply pun tiba. Beragam komentar mereka : ada yang bertanya apakah itu disengaja oleh perusahaan, ada yang kecewa karena susah mendapatkan dan ada juga yang memberikan  informasi dimana stok Magnum yang masih banyak.

Yang kemudian menarik adalah, twit-twit yang kecewa dan bertanya itu di cc ke buzz agent dari produk tersebut, dan diminta menjelaskan kenapa produk susah dicari di pasaran. Sebenarnya tidak tepat sasaran, tetapi sebuah hukum di dunia online, siapa yang bicara dia akan ditanya. Tidak peduli kita hanya membantu teman, buzz agent, penggemar atau hanya sekedar meng- RT. Karena begitu bersliwerannya berita terutama di twitter dengan cepat membuat orang tidak menaruh perhatian secara detil.

Lagi-lagi sebuah pelajaran bagi pelaku social media sebagai agent suatu brand. Batasan-batasan pekerjaan tidak bisa dibuat jelas dan detil. Seperti jenis komunikasinya yang cair, social media agent harus melebur dalam percakapan yang terjadi sehingga tidak terlalu nampak sedang menjalankan promosi.  Sebaiknya ketika menggunakan social media agent, brand harus paham bahwa mereka akan mengawal dalam kurun waktu tertentu hingga suatu perbincangan mereda. Jika mereka hanya dikontrak pas event saja, besar kemungkinan para agent ini tetap harus berdedikasi melayani  para konsumen di luar masa kontrak. Tanpa petunjuk pelaksanaan, bisa berakibat salah menjawab dan merugikan brand itu sendiri. Bagi social media agent : diam salah menjawab juga riskan. Perlu kehati-hatian dalam mengkomunikasikan.

Sekedar mengingatkan bahwa beban social media agent tidak hanya mempublikasikan informasi tetapi diharapkan oleh khalayak onliner, mereka dapat memberi penjelasan atau minimal menunjukkan kontak person yang tepat, meskipun kontrak kerja telah selesai.  Jika social media agent bisa menjalin komunikasi dengan baik, justru sangat mungkin menaikkan brand awareness dan konsumen semakin terpuaskan.  Selain perlu dibuat juklak menjadi agent suatu brand, penyusunan konten di social media juga sangat penting. Hindari kata-kata yang multitafsir atau tidak jelas. Buat percakapan itu natural sehingga terjadi ikatan yang cukup erat dengan konsumen brand. Untuk selanjutnya akan sangat mudah membuat komunitas dari brand tersebut bukan karena dibayar, tetapi karena keikhlasan si konsumen yang terpuaskan dengan relasi yang terjadi di online.

Bagi para perusahaan dan pemilik brand, mari ditinjau ulang kontrak kerja dengan social media agent. Social media agent bisa menjadi perpanjangan costumer service anda di online, dan kurun waktu yang pendek menjadi kurang tepat jika ingin brand melekat dihati konsumen 🙂

Belajar dari Lelehan Cokelat jilid 1 ( tulisan saya untuk The Marketeers)

In Mengelola acara on December 3, 2010 at 2:28 am

Coba tebak apa yang diributkan ibu-ibu rumah tangga di kota besar saat ini? Bukan beras langka, kenaikan harga atau antrian panjang mencari sembako. Tetapi mencari sepotong es krim karena seharian anaknya merengek-rengek minta es krim seperti di TV. Yach, es krim Magnum Belgian Chocolate berhasil membius bukan hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa karena iklan di TV yang begitu menggoda serta buzzing di social media yang jor-joran.

Sebuah promosi yang sukses dengan menggunakan semua lini, iklan di TV, event di Senayan City dan penggunaan social media membuat es krim tersebut jadi pembicaraan dan dicari banyak orang. Orang pun beramai-ramai berburu sang Magnum. Mendadak buuummmm..!!! Barang hilang dari pasaran. Apakah ada yang memborong, menimbun atau sengaja dihilangkan? Timbullah dugaan orang-orang bahwa itu sengaja dibuat hilang, sehingga orang semakin penasaran, tetapi ada juga yang menduga bagian distribusi tidak siap dengan gencarnya usaha marketing yang mendapat sambutan luar biasa. Lagu lama “High promises low delivery “.

Saya tidak tahu persis mana yang benar, yang jelas banyak konsumen kesulitan mencari es krim Magnum. Seperti kejadian minggu lalu ketika saya belanja di salah satu hypermarket di Jakarta Selatan, dua orang ibu marah-marah kepada salah satu SPG es krim karena tidak menemukan Magnum. Ibu tersebut mengaku jengkel sudah ke berbagai toko tidak ada, dan berharap di supermarket besar bakalan nemu. Ketika dijelaskan bahwa memang stock sudah habis tadi siang, si dua ibu tersebut tetap tidak percaya dan justru menuduh itu semua tipuan. Jadilah SPG tersebut diomel-omelin dan dibilang berbohong sambil menyeret anaknya yang menangis tidak mendapatkan es krim impiannya.

Saya pernah dengar beberapa perusahaan memang sengaja begitu. Mebuat promosi besar-besaran sehingga menjadi bahan perbincangan tetapi produk belum ada di pasaran. Hal itu sengaja dibuat agar konsumen semakin penasaran dan perbincangan produk tersebut menjadi “panjang”. Ujung dari design komunikasi itu adalah ketika produk tiba di pasaran, bakal diserbu konsumen laris manis bak kacang goreng. Serta brand tersebut akan melekat terus dibenak konsumen. Contoh yang berhasil melakukan hal tersebut adalah perusahaan otomatif dan gadget. Tetapi kalau makanan, atau consumer goods apakah cocok dengan model yang begitu? Menurut pandangan saya, benda-benda yang habis pakai umur menjadi perbincangannya pendek, subtitusinya banyak sekali dan konsumen sangat mudah beralih. Jarang yang sedemikian loyal sehingga mau menunggu hingga produk tersedia. Jangan-jangan malah ada produk kompetitor yang menyalip di tikungan, memanfaatkan kejengkelan konsumen. Alhasil ketika produk menyerbu ke pasaran, masyarakat sudah lupa bahkan kehilangan selera.

Jadi apakah Magnum susah di pasaran itu sengaja atau masalah produksi dan distribusi yang tidak cepat dan merata? Saya tidak paham, tetapi apakah tepat menahan produk dari pasaran untuk memperpanjang rasa “penasaran” sehingga Magnum akan melekat di hati? Selamat berburu Magnum, ditunggu lelehannya di segala penjuru negeri! 