pasarsapi

Posts Tagged ‘ibu’

Rumah Ibu

In Mengelola orang on August 29, 2011 at 4:37 am

Osamaliki - Salatiga

Ibu,

aku telah sampai di rumahmu

Sudah 4 hari ini aku sampai di rumah, di mana aku dilahirkan dan menghabiskan masa kecilku sampai beranjak dewasa.

Aku masuk kamarmu, di mana aku selalu tidur bersamamu jika aku pulang ke rumah Ibu. Kita tidur bertiga di sini, Ibu, aku dan Kika. Semuanya masih sama, kasur besar, lemari besar dan televisi di kamarmu. Di pojokan masih ada juga tumpukan berkas-berkas organisasi di mana Ibu jadi ketuanya.

Ibu,

ketika aku membuka pintu kamarmu, sepi…..

Terlalu sepi dan kosong. Tidak ada tangan yang aku cium, tidak ada pipi keriput yang aku cium, tidak ada senyummu.

Ibu,

Apa kabarmu di tanah suci? Pasti bahagia. Ini mimpi Ibu yang sudah lama sekali. Dulu ketika Ibu menyampaikan keinginan untuk menghabiskan Ramadhan hingga lebaran di tanah suci, rasanya seperti jauh di awang-awang. Tetapi engkau selalu yakin, suatu saat pasti bisa tercapai.

“Aku ingin, sebelum meninggal pernah berpuasa ramadhan di rumah Allah, di Mekkah” begitu ujarmu dulu. Dan Ramadhan kali ini, Ibu benar-benar di tanah suci, sebulan penuh. Sebelumnya, Ibu sempat bertanya : “Kalau aku menghabiskan Ramadhan dan Lebaran di tanah suci, aku egois gak? Kalian Lebaran aku tinggal.” Aku sempat terhenyak! Aah…Ibu, memang kami ingin ketika pulang kampung lebaran ada Ibu yang menyambut di rumah, ada Ibu yang menemani di sahur-sahur terakhir, ada masakan Ibu ketika Lebaran. Tetapi Bu, kalau Ibu bahagia pasti anak-anaknya lebih bahagia lagi. Ramadhan di tanah suci adalah mimpimu sejak dulu kala, kini sudah di depan mata tinggal melangkah, Ibu tidak perlu ragu lagi. Semua anakmu ingin mewujudkan mimpimu. Dan Ibu tidak egois.

Ibu,

aku masih ingat ketika Bapak dipanggil Tuhan dengan tumpukan hutang dan enam anak yang semua masih sekolah, saat itu Ibu benar-benar berjuang seluruh jiwa raga dan perhatian hanya untuk anak. Tidak berani mengungkapkan mimpimu. Saat ini ketika anak-anakmu sudah bisa hidup masing-masing, saatnya Ibu mengurai kembali mimpi-mimpi yang dulu terucap pun tidak berani.

Ibu,

aku di rumah Ibu sekarang. Menuliskan ini dengan haru biru. Di rumah ini aku dilahirkan, di rumah ini juga anakku pertama kali mengenal rumah setelah lahir di rumah sakit. Di rumah ini, perjuangan hidup yang sesungguhnya di mulai. Di rumah ini saksi perjuangan Ibu, saksi kepergian Bapak, saksi waktu demi waktu engkau menempa anak-anakmu.

Ibu,

aku di rumahmu sekarang, rumah di mana hati kita semua tertambat. Hati Ibu dan anak-anakmu.

Selamat sholat Ied di depan Ka’bah Ibu, kutunggu pulangmu dengan bahagia, sehat dan selamat.

Ibu,

Aku rindu….

Ditulis dari kamar Ibu, Ramadhan hari ke 29 menjelang lebaran.

Salatiga 2011

Advertisements

Genap 7 tahun usiamu, Nak!

In Campur- aduk, Mengelola orang on September 27, 2010 at 1:33 am

Rasanya baru kemaren aku kesakitan melahirkanmu, rasanya baru kemaren aku menuntunmu belajar berjalan, rasanya baru kemaren kamu girang memanggilku Ibam. Sekarang kamu sudah mulai ribet dengan baju apa yang akan kau kenakan, dan sudah mulai minta gadget ini itu. Seperti yang selalu aku bilang, tidak semua keinginanmu kamu bisa dapatkan, dan tidak semua yang kamu minta aku perbolehkan. Kamu sudah besar dan mulai belajar tanggung jawab. Tidak mudah anakku, tetapi kamu harus bisa.

Pesanku padamu adalah jujur dan bertanggung jawab. Hingga kelak kamu dewasa, tetaplah kejujuran itu kamu bawa serta, dan bertanggung jawablah pada apapun tindakan dan ucapanmu. Jangan pernah lari dari masalah, hadapilah dan yakin Allah selalu bersamamu.

Anakku, Matahatiku!

Terimakasih atas kesabaranmu menjadi putriku, atas tawa yang selalu kau hadirkan dan terimakasih atas pelajaran hidup yang kau berikan. Apapun kau akan selalu menjadi putriku dan ingatlah, ibumu selalu ada dihatimu. Begitu pun kamu, selalu ada dihati ibu. Capailah mimpi-mimpimu, tetapi ingat semua sesuai kemampuanmu. Jangan menaruh terlalu tinggi, jangan pula terlalu rendah. Hidup ini seperti anak tangga, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dan dimulai dari langkah pertama. Sabarlah dalam setiap perjalanan, pada akhirnya kamu akan sampai juga di puncak tujuan asalkan tetap istiqomah dengan cita-citamu.

Aku tidak meminta apapun padamu, aku hanya ingin kamu berbahagia atas dirimu, dan tidak ada hal diluarmu yang bisa merusak kebahagiaanmu. Karena keputusan bahagia ada ditanganmu.

Sabarlah, karena kesabaran mengajarkan banyak hal. Memberikan kamu ruang-ruang belajar tentang kehidupan.

Terakhir, bersyukurlah selalu atas hidupmu. Bahagia dan susah adalah anugerah, karena keduanya memberikan arti pada kehidupan.

Selamat ulang tahun Matahati, terimakasih ..aku bahagia menjadi ibumu.