pasarsapi

Posts Tagged ‘akademi berbagi’

MASIH ADAKAH PAHLAWAN DI NEGERI INI?

In Mengelola orang on November 9, 2011 at 9:03 pm

Hari Jumat lalu, saya diminta menjadi salah satu narasumber di Coaching Clinic dengan tema “Jadilah Pahlawan Masa Kini, Jadilah Tango Digital Heroes” yang diadakan oleh Wafer Tango. Narasumber yang lain adalah psikolog Rosdiana Setyaningrum M.Psi, MHPed  dan kami pun membahas apa itu pahlawan di masa sekarang. Menarik sekali acara tersebut, karena pertama: diadakan di kidzania jadi saya bisa sekalian bawa anak saya untuk menikmati fasilitas bermain di kidzania, kedua pesertanya adalah teman-teman dari media. Baru sekali ini saya berbicara di depan teman-teman media untuk becerita bagaimana membangun gerakan sosial dengan memanfaatkan social media. Acara ini sengaja dibuat dalam rangka memperingati Hari Pahlawan sekaligus peluncuran program baru Tango Together To Get There, sebuah program berbasis social media.

Saat ini banyak mata tertuju di social media, sebuah platform media baru di mana sekarang sudah dihuni lebih dari 800 juta orang khusus untuk facebook, jadi kalau dianggap sebagai negara maka Facebook adalah negara ketiga terpadat setelah China dan India. Di Indonesia sendiri penghuni facebook sekita 30 juta, sebuah jumlah yang cukup fantastik dengan segala keterbatasan infrastrukturnya.

Banyak gerakan-gerakan sosial yang timbul dari social media, karena di sini kita bisa terhubung dengan banyak orang tanpa batasan geografis, pendidikan, strata sosial maupun jabatan. Bangsa kita dikenal dengan bangsa pemurah, maka tidak heran jika banyak sekali aksi sosial yang bermunculan. Sebut saja Blood for Life, Yatim Online, Indonesia Berkebun, Indonesia Bercerita, Shoe Box Project, dan masih banyak lagi. Kebetulan saya pun ikut serta membangun gerakan belajar gratis yang diinisiasi dari online tetapi kelasnya offline. Nama gerakan tersebut adalah Akademi Berbagi.

Dulu kita selalu diajarkan tentang pahlawan bangsa, yaitu orang-orang berjasa atas berdirinya negeri ini yang kemudian beberapa dari mereka namanya diabadikan menjadi nama jalan, gedung maupun gambar di mata uang. Tetapi apakah pahlawan hanya mereka, yaitu orang yang berjuang mengangkat senjata, bertaruh nyawa memperjuangkan kemerdekaan? Bagaimana dengan sekarang?

Bangsa kita sudah merdeka lebih dari 66 tahun, banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan Negara kita berdaulat baik secara geografis, ekonomi dan sosial. Perlu pejuang-pejuang baru untuk memajukan negeri ini. Dan menurut saya definisi pahlawan perlu dikembangkan  lebih luas lagi yaitu orang-orang yang berjasa atau berbuat baik kepada lingkungannya. Tindakan kepahlawanan bisa dimulai dari yang paling sederhana yaitu menolong tetangga yang kesusahan, atau membantu saudara-saudaranya yang kesulitan meneruskan pendidikan.  Tindakan heroik tidak harus tindakan besar, asal memberikan manfaat buat sesama sudah merupakan tindakan kepahlawanan.

Anak-anak kita yang selama ini hanya menghafal nama-nama para pahlawan,perlu juga dikenalkan tentang apa itu pahlawan. Jiwa pahlawan bisa dipupuk sedari kecil, sehingga ketika besar itu sudah menjadi nilai yang dianut dalam perjalanan kehidupannya. Apalagi anak sekarang banyak yang sudah terhubung dengan tehnologi, mereka bisa memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk mempraktekkan tindakan kepahlawanannya.

Dengan banyaknya kegiatan sosial di online, kita bisa mengajak putra-putri kita untuk ikut serta sebagai bentuk latihan memupuk jiwa kepahlawanan. Salah satu kegiatan social yang mudah diikuti dan berdampak baik bagi teman-teman kita yang kekurangan gizi adalah ajakan dari Tango Together To Get There. Caranya mudah, kita dapat meng-up load video gaya masing- masing dalam menerima, makan dan kemudian seakan memberikan Tango kepada orang disebelahnya ke facebook Tango. Dan setiap satu video yang di up load berarti lima piring makanan bergizi yang akan diberikan kepada anak- anak bergizi kurang di Desa Rabak, pinggiran kota Bogor. Dari situ anak-anak bisa belajar sekaligus melihat bagaimana aksi kepedulian sosial itu dibangun. Tetapi apa yang dilakukan Tango bukan hanya untuk anak-anak, siapa saja boleh berpartisipasi, semakin banyak semakin bagus. Tidak perlu kamera video yang canggih, justru yang ada di handphone sudah mencukupi. Yang penting adalah partisipasinya.

Tidak sulit untuk menjadi pahlawan di negeri ini. Banyak hal bisa kita lakukan untuk membantu sesama, tehnologi semakin mempermudah juga. Maka saya pun tidak akan heran kalau kelak akan banyak sekali digital hero yang lahir di negeri kita. Bukan saatnya lagi kita mementingkan diri sendiri, karena manusia yang berhasil adalah yang paling bermanfaat bagi bumi ini. Selamat hari pahlawan, mari hargai pengorbanan para pahlawan pendahulu kita dengan melanjutkan perjuangan mereka untuk kebaikan sesama.

Advertisements

Mencatat Hal Biasa, Menuliskan dengan Sederhana

In tentang Akademi Berbagi on August 7, 2011 at 2:38 am

Foto ambil dari bahtiar.wordpress.com

*tulisan ini mengenai kelas penulisan yang diajar oleh Zen RS. Sangat basic dan dalam artinya bagi yang ingin menjadi penulis*

Selama bulan puasa, kelas Akademi Berbagi (Akber) tetap berjalan seperti biasa, hanya kita majukan jamnya menjadi pukul 16.00 sampai menjelang buka puasa. Selama bulan Agustus ini tema besar kelasnya adalah : PENULISAN. Minggu pertama, kamis kemaren diawali dengan guru Zen RS  @zenrs dengan judul : Mencatat Hal Biasa dan Menuliskannya dengan Sederhana. Sebuah pembelajaran tentang menulis dasar dan sangat penting.

Kita seringkali ribet dengan keinginan kita untuk bisa menulis langsung bagus dan sempurna dipuja-puji banyak orang. “Jangan mimpi tulisan pertamamu bagus!’ begitu kata Zen. Perlu berlatih berulang-ulang dengan memulai saat ini. Bukan besok, karena setiap hari selalu ada cerita yang menarik untuk ditulis. Mulailah menulis dari apa yang kita lihat, kira alami, dan kita rasakan. Karena itu untuk mempermudah kita mengasah kemampuan. Jangan, belum-belum udah menulis sesuatu yang kita tidak pernah tau.

Catatan harian adalah langkah awal untuk menulis. Dengan membuat catatan setiap peristiwa, kita belajar mendokumentasikan pikiran-pikiran kita sehingga suatu saat pasti berguna. Hanya diperlukan pena dan kerta untuk mulai menulis, atau computer dan listrik kalau jaman sekarang, begitu tutur Zen. Belajar menulis dengan membuat catatan harian lebih mudah dan tanpa beban karena kita tidak berpretensi apa-apa. Karena menulis itu untuk menulis itu sendiri.

Harus dibedakan antara menulis dan mengedit. Mencampuradukan kedua justru akan menghambat kita untuk menulis. Menulis memerlukan emosi dan hati sedang mengedit memerlukan akal. Seringkali kita berusaha mengedit tulisan yang belum selesai karena kita ingin hasil yang bagus. Menulis harus tanpa pretensi, pretensi untuk keren, pretensi untuk dimuat. Tulislah semua yang ada di pikiran dengan jujur. Jujur di sini bukan berarti membuka semua aib kita, tetapi menulis apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dengan apa adanya. Tuangkan semua pikiranmu sampai habis, dan jangan buru-buru melakukan editing. Jangan pernah berhenti, teruslah menulis.Ada banyak ide cerita disekeliling kita, sayang kita tidak punya waktu untuk memperhatikan. Apalagi jaman sekarang segala sesuatu berjalan begitu cepat.

“Menunda menulis adalah perkara besar!” Zen menyampaikan dengan lugas tentang betapa pentingnya membuat sebuah tulisan. Tulisan yang bagus selalu berdasarkan realitas dan diawali dengan riset. Riset untuk tempat dan kelengkapan remeh temeh yang diperlukan untuk membuat cerita itu masuk akal. Selain riset kita juga perlu memperbanyak referensi, semakin banyak referensi akan semakin memperkaya cerita.

Apa yang diungkap Zen selama hampir dua jam adalah perkara dasar yang harus dipunyai jika ingin menjadi penulis. Tidak ada yang lahir langsung jadi penulis, diperlukan berlatih berulang-ulang dan dibiasakan. Jaman sekarang banyak cara untuk membiasakan menulis. Misalnya dengan membuat foto, dan setiap foto kita buat chapter satu dua paragraph untuk menceritakan gambar tersebut. Atau membuat catatan ringan perjalanan kita.

Yang mengagumkan diri Zen adalah, referensi bacaan dia sangat banyak dan beragam. Hampir yang dia pernah baca, dia ingat karena dia terbiasa menuliskan segala sesuatunya. Dari kecil dia diajari ibunya untuk menulis. Pernah sewaktu SD diminta ibunya duduk di dekat pohon. Kemudian ibunya meminta Zen menuliskan tentang pohon itu. Pertama kali hanya menghasilkan dua paragraph, kemudian Ibunya menyuruh untuk memperhatikan lebih detil dari pohon itu. Kemudian Zen melihat ada semut, kemudian dia cerita tentang semut, dan melihat yang lain-lainnya sehingga akhirnya jadi tulisan empat setengah halaman. Karya itu masih disimpan hingga sekarang sebagai karya tulisannya yang pertama.

Saya kemudian paham kenapa Zen begitu mencintai kesusasteraan, karena orang tuanya adalah pencinta sastra dan membiasakan anaknya untuk berlatih dan berlatih. Menulis pun kemudian menjadi kebiasaan Zen, dan dia tidak pernah kehabisan ide. “Setiap manusia adalah unik, dan setiap manusia pasti punya cerita yang menarik” ,tutup Zen di kelas Akber malam itu.

“Dialog dengan diri sendiri, adalah awal mula kesusateraan.”

MENGAPRESIASI BUKAN MENGHAKIMI

In tentang Akademi Berbagi on August 3, 2011 at 2:48 am

Glenn Marsalim

 

“The deepest principle in human nature is the craving to be appreciated” *William James*

Selalu menyenangkan mendengarkan orang-orang kreatif sharing. Selalu ada hal baru dan berbeda yang kita peroleh. Seperti kelas Kamis (28/7/2011) gurunya Glenn Marsalim orang yang bekerja sebagai freelancer dibidang periklanan dan pasti banyak orang sudah tahu dengan prestasinya. Malam itu di kantor SITTI (Jalan Senopati – Jaksel) Glenn berbagi ilmu tentang Apresiasi Iklan. Banyak orang kreatif, banyak orang bisa membuat iklan, tetapi jarang yang bisa mengapresiasi dengan baik. Apresiasi berbeda dengan menilai atau menghakimi. Butuh kepekaan dan background pengetahuan yang cukup untuk dapat mengapresiasi sebuah iklan.

Dalam proses pembuatannya, terutama iklan TV, Glenn menuturkan sebuah proses yang panjang dan rumit untuk sebuah hasil yang paling lama 60 detik atau bahkan 30 detik. Perlu menselaraskan antara keinginan klien, keinginan kreatif dan maunya konsumen dan itu bukan hal yang mudah. Mengupas satu per satu iklan di TV sungguh mengasyikkan. Kita diajak Glenn untuk menghargai sebuah proses. Ya proses yang seringkali diabaikan. Kita lebih sering fokus akan hasil hasil dan hasil.

Sebuah iklan dikatakan bagus atau jelek, itu sangat tergantung siapa yang menilai. Iklan-iklan yang bagus dan menang award belum tentu booming di pasaran, walaupun ada beberapa. Mengapresiasi iklan bukan menilai bagus atau jelek, tetapi bagaimana sebuah penciptaan karya yang punya nilai lebih. Seperti contohnya, salah satu iklan yang dibuat Ipang Wahid. Dalam iklan Lebaran yang dibuat pada tahun 2002 untuk perusahaan rokok kalau tidak salah, Ipang Wahid menggambarkan suasana lebaran yang penuh kegembiraan dengan menyelipkan gambar barongsai yang menari. Itu untuk pertamakalinya ada yang berani memasang adegan barongsai di iklan lebaran yang notabene adalah perayaan umat muslim. Sekarang sudah bertaburan iklan-iklan dengan barongsai, apapun perayaan keagamaannya. Menurut Glenn, karya Ipang tersebut dianggap pendobrak dan pertama yang kemudian ditiru oleh kreatif lainnya.

“Otak kita seperti palet warna. Setiap kebencianmu pada sebuah karya akan menghilangkan satu warna. Semakin banyak yang kamu tidak suka akan semakin banyak warna yang hilang. Lalu, kamu mau melukis pakai apa?” Sebuah kalimat dari Glenn Marsalim  yang sungguh dalam maknanya. Ketika kita seringkali mencela karya orang, apalagi tanpa alasan yang jelas, maka kita semakin memenjarakan kreativitas kita. Ego adalah kutub yang berlawanan dari kretivitas. Sebuah karya, apapun hasilnya patut untuk diapresiasi. Dan setiap orang telah mengeluarkan daya upayanya untuk menghasilkan karya terbaiknya.

Masih banyak iklan-iklan yang diulik dalam kelas saat itu, dan penjelasan Glenn selalu memberikan kita wawasan baru yang mungkin buat mahasiswa periklanan –di kelas itu ada beberapa mahasiswa design & iklan- tidak diperoleh di bangku kuliahnya.

Saya selalu happy setiap mengikuti kelas Akademi Berbagi, karena para guru tidak melulu memberikan teori tetapi pengalaman berharga mereka ketika menjalani profesinya. Dan Glenn adalah salah satunya. Makhluk luar biasa yang selalu rendah hati dengan bilang : “aku ini apa, aku ndak pede je ngajar di kelasmu.”

Sekali lagi, makasih Glenn butuh orang-orang yang tidak biasa sepertimu untuk menggugah wawasan dan pikiran kami yang lebih sering ribet dengan hasil dan nilai tanpa menghargai sebuah proses panjang yang selalu mengandung pembelajaran.

TRUST YOUR GUT. TRUST YOUR INSTINCTS  – GLENN MARSALIM

 

*tulisan ini juga ada di http://akademiberbagi.org *

YORIS

In Mengelola orang, tentang Akademi Berbagi on July 18, 2011 at 4:37 am

Foto diambil dari Facebook Yoris Sebastian 🙂

tulisan ini dimuat juga di http://akademiberbagi.org

Akhirnya kesampaian juga Akademi Berbagi mendatangkan guru Yoris Sebastian berkat bantuan teman-teman @IDkreatif dan PPKI 2011. Sudah cukup lama para murid mengusulkan minta supaya Yoris mengajar.

Sebelumnya, beberapa kali saya sudah bertemu dengan Yoris, tetapi tidak dalam kelas yang cukup panjang. Kali ini saya benar-benar belajar di kelas selama 2 jam mendengarkan dia berbagi ilmu dan pengalaman tentang kreativitas. Dengan suara tidak meletup-letup seperti seorang motivator kondang, tetapi  dengan gayanya yang bertutur membuat kita seperti mendengarkan sebuah cerita tentang perjalanan hidup seorang Yoris yang dari kecil tidak bandel, penakut karena tidak bisa naik sepeda hingga kemudian dia berada di posisi sekarang ini. Stereotip di kita adalah anak bandel = kreatif. Dan Yoris tidak bandel tapi kreatif abis. Dia juga bukan anak yang menonjol dibanding kakaknya yang memiliki IQ jenius, tetapi karya-karya Yoris adalah jenius!

Yoris, menyampaikan sesuatu, tanpa teriakan, tanpa semangat palsu dengan mengucapkan Selamat pagi! walaupun sudah malam, tetapi justru lebih mudah diterima. Apa adanya tetapi mengena. Dia bercerita bahwa kreatif bukan genetis tetapi bisa dipelajari dan harus dilatih. Kreatif tidak harus melanggar peraturan, justru kreatif itu adalah bagaimana meng-adjust ide kita dengan norma yang ada tanpa kehilangan sisi “tidak biasa”.

Kreatif juga bukan soal budget, kreatif adalah bagaimana menggunakan dana yang ada untuk sesuatu yang lain dari biasanya dan menjadi perbincangan orang. Kreatif juga bukan ide-ide yang spektakuler, justru menemukan hal-hal kecil yang berbeda tetapi mempunyai nilai manfaat.

Bikin seminar launching perusahaan di bioskop, program music I Like Moday, undangan nikah berupa celemek dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak biasa tetapi justru mengena.

Bagaimana dengan ATM = amati, tiru, modifikasi? Yoris menuturkan bahwa untuk diawal-awal atau untuk supaya dapur tetap ngebul itu sah-sah saja, karena memang banyak hal sukses adalah hasil modifikasi. Tetapi seiring jam terbang yang sudah cukup, dan financial sudah memadai perlu bagi orang-orang kreatif untuk menciptakan karya yang original. Karena itu menjadi pencapaian yang akan melekat dalam diri kita untuk lebih percaya diri dan milestone untuk membuat lompatan yang lebih besar lagi.

Hingga akhir kelas, saya masih terpukau. Yoris mempersiapkan semuanya dari cara bicara, gaya pakaian, penggunakan asesoris hingga tas kerjanya. Semua berbeda dan tidak biasa. Satu hal yang membuat saya semakin hormat adalah, dengan semua pencapaian dia, Yoris tetap manusia yang rendah hati.

Terimakasih Yoris, setelah buku pertamamu Creative Junkies ditunggu buku berikutnya.

PENTINGKAH SEBUAH JUMLAH?

In tentang Akademi Berbagi on July 17, 2011 at 3:02 pm

“tulisan saya ini juga dimuat di http://akademiberbagi.org & foto by Suryo @siboglou

Kemaren lusa saya berkesempatan menonton Musikal Laskar Pelangi, dapat hadiah dari Susu SGM Sari Husada untuk Akademi Berbagi. Karena dapat cuma 2, saya menonton dengan salah satu pengurus Akademi Berbagi Jakarta, Ranum. Lumayan dapat tiket VIP sehingga bisa menyaksikan secara dekat.

Salah satu adegan yang cukup mengena di hati saya adalah, ketika awal masuk sekolah Bu Muslimah sang guru menunggu dengan harap-harap cemas dan nampak raut wajahnya yang gundah, jumlah murid yang akan bersekolah. Jika kurang dari 10, maka SD Muhammadiyah Gantong tidak berjalan. Betapa pentingnya angka 10 demi berlangsungnya sebuah sekolah yang notabene sangat dibutuhkan untuk masyarakat Gantong.

Hal tersebut kemudian mengingatkan saya kepada Akademi Berbagi. Sekarang ada sekitar 10 daerah yang melaksanakan kelas secara rutin yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Surabaya, Palembang, Jambi, Medan, Ambon dan Madiun. Untuk kelas di Jakarta relatif tidak banyak kesulitan, selalu ada guru yang bersedia mengajar dengan cuma-cuma dan cukup banyak murid yang berminat. Sedangkan di daerah, beberapa masalah yang timbul adalah ketersediaan guru dan murid. Iya murid. Kalau guru, bisa pahamlah, tidak banyak expertise atau praktisi di daerah karena semua berbondong-bondong ke Jakarta, sehingga di daerah kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas. Tetapi saya percaya, dan selalu meyakinkan teman-teman di daerah, bahwa pasti ada orang pintar dan baik yang mau berbagi di daerah masing-masing.

Bagaimana dengan murid? Masak tidak ada yang berminat belajar secara gratis dan mendapat ilmu yang manfaat? Begitulah kenyataannya, tidak selalu setiap kelas banyak muridnya. Seperti kemaren, Kepala Sekolah Palembang melaporkan, hanya 7 murid yang datang dan belajar padahal gurunya datang dari Jakarta dan membagikan ilmu yang sedang “hip” di dunia online. Beberapa daerah lain juga mengalami kekurangan murid dan mereka merasa kuatir dan kurang bersemangat menjalankan kelasnya.

Apakah ukuran kesuksesan dari kelas Akademi Berbagi adalah jumlah murid? Kebiasaan kita bahwa ukuran sukses dihitung dengan angka, dan event yang sukses adalah yang pesertanya membludak membuat kegiatan Akademi Berbagi juga merasa itu menjadi salah satu ukuran sukses. Saya pun sempat ikut berpikiran demikian. Sehingga kemudian kita gencar mengumumkan dan mengajak orang-orang supaya mau belajar.

Pada suatu hari, di suatu acara saya sempat ngobrol dengan Enda Nasution. Dia bercerita tentang pengalamannya mengikuti berbagai workshop di luar negeri. Salah satu cerita yang kemudian saya ingat terus adalah, dalam sebuah workshop yang terdiri dari berbagai tema, dan peserta boleh memilih tema yang diminati. Ada salah satu kelas yang pesertanya cuma satu orang dan workshop itu tetap berjalan, pembicara pun tetap bersemangat mengajar. Karena bukan jumlah yang dikejar, tetapi proses transfer ilmu dan diskusinya. Walaupun satu orang, jika dia bersungguh-sungguh dan berminat maka sangat mungkin ilmu itu akan meyebar dan bermanfaat.

DANG!! Saya pun merasa ditampar.  Apa tujuan saya dan teman-teman membuat Akademi Berbagi? Apakah mengejar sukses dengan jumlah murid yang banyak dan tumpah ruah? Saya pun kemudian mengingat kembali awal perjalanan kelas Akademi Berbagi yang dimulai dengan 10 orang. Semangat kami adalah belajar dan berbagi. Memberikan orang akses atau jembatan untuk mengembangkan diri dengan murah dan mudah. Ketika belajar, training maupun workshop semakin mahal, di kelas kami semuanya gratis. Guru-gurunya pun bukan sembarangan tetapi orang-orang ahli dan para praktisi yang berpengalaman dan bahkan dikenal di masyarakat.

Tugas kami, menjadi jembatan antara pemilik ilmu dan orang-orang yang membuthkan ilmu. Berapa pun yang datang dan belajar, kelas harus tetap berjalan. Karena sesungguhnya gerakan kami bukan untuk mengklaim diri sebagai kegiatan social movement yang besar dan berhasil tetapi justru kegiatan kami adalah memberikan akses kepada siapa saja yang ingin belajar dengan murah dan mudah, memberi kesempatan orang-orang yang mau berkembang. Kami akan sangat senang, ketika ada salah satu murid kemudian menulis di timeline : terimakasih @akademiberbagi pelajaran hari ini sangat bermanfaat.

Ketika kelas yang dibuat memberikan manfaat walaupun hanya 1 orang, itulah sebenarnya esensi dari kegiatan kami, menebar manfaat. Bukan soal jumlah.

Selamat satu tahun Akademi Berbagi, perjalanan satu tahun belum panjang tetapi juga bukan hal yang mudah, karena kita menjalankan di sela-sela pekerjaan utama kita sebagai pencari nafkah. Selama satu tahun tetap konsisten menyelenggarakan kelas adalah hal yang luar biasa, karena tidak ada satu pun yang dibayar. Terimakasih untuk semua pengurus Akademi Berbagi di mana pun berada, tetap semangat dan istiqomah menjalankan kelas demi kelas. Seperti yang saya selalu ungkapkan : Akademi Berbagi ini adalah virus. Virus kebaikan yang terus menyebar tanpa penting lagi siapa penggagasnya karena Akademi Berbagi milik semua.

Soal jumlah? Tidak masalah 🙂

SELAMAT ULANG TAHUN YANG PERTAMA, SEMOGA BISA MENJAGA KOMITMEN DAN KONSISTENSI DALAM MENJALANKAN KELAS DEMI KELAS. BERBAGI MEMANG BIKIN HAPPY!

Terimakasih …

In Mengelola acara, Mengelola orang on May 13, 2011 at 5:54 am

Semalam Akber Akbar telah rampung digelar.

Tamu-tamu undangan istimewa berdatangan. Istimewa? Iya, para guru yang selama ini membagi ilmu dan pengalamannya dengan gratis di kelas-kelas Akademi Berbagi.

Murid-murid yang semangat  datang dan belajar dari guru Yanuar Nugroho, dosen dari Manchester University, UK. Beliau berbagi hasil penelitiannya.

Tidak ada biaya yang kami keluarkan, semua sumbangan dari teman-teman baik hati. Bareng sama Internet Sehat kita bikin kelas yang cukup besar untuk 300 orang di Goethe Institute.

Konsumsi, dari Moz5salon milik Mbak Yulia Astuti. Terimakasih banyak mbak, udah repot-repot membelikan kue-kue dan masukin dus satu per satu :’)

Goodi bag, dari teman-teman Saling Silang di Langsat. Malam-malam nodong ke Pak Didinu dan langsung diiyakan. Duh, maturnuwun nggih, Pak :’)

Panitianya, adalah teman-teman baik hati dari Akademi Berbagi. Gak dibayar, gak diongkosin pulang pulak. Ah, kalian terimakasih banyak. Sungguh haru hatiku :’)

Mendadak dibuatin video streaming dari teman-teman Blogvaganza. Terimakasih Pak Fajar Eridianto dan Shantie, jauh-jauh dari Bandung demi tersebarnya virus positif Akademi Berbagi di seluruh penjuru negeri :’)

Yang pasti, terimakasih juga atas kerjasamanya yang baik teman-teman Internet Sehat serta dukungannya dari XL dan detikcom. Semoga kita tetap bisa bekerja bareng menyebarkan virus cerdas buat teman-teman di seluruh daerah di Indonesia.

Buat guru malam itu, Mas Yanuar Nugroho terimakasiiih tak terhingga! Materi yang menarik dan bermanfaat jauh-jauh datang dari UK. Dan juga Mas Onno W. Purbo yang ikut memberikan ‘pelajaran’ buat gurunya hahaaa…

Ada tamu istimewa semalam, yaitu Mas Harry Van Jogja, pengayuh becak keren dari Jogja yang punya akun berbagai social media, dan menerbitkan buku!

Berkumpul bersama orang-orang yang baik hati itu sungguh menyenangkan. Tidak ada yang sulit jika mau berbagi dan bekerjasama. Biarlah di luar sana mereka yang berjulukan pejabat dan orang penting berulah tak penting, kita di sini bareng-bareng teman bersemangat menyebarkan virus kebaikan.

Malam itu saya semakin percaya, masih banyak orang hebat dan orang baik di negeri ini.

Jakarta, 12 Mei 2011 tidak adan terlupakan

Indonesia harus Cerdas. Stop Complain Do Something!

In Mengelola orang on April 19, 2011 at 3:13 pm

*foto ini ngambil dari http://www.satuhati.com/who-we-are *

Kalau menjelang hari Kartini begini, apa yang kalian ingat? Waktu sekolah pakai baju daerah ikut bermacam-macam lomba dari memasak, menyanyi, peragaan busana, gulung stagen sampai bikin drama. Seru yaa…masa-masa sekolah memang indah dan menyenangkan. Banyak teman, banyak aktivitas dan bebas merangkai mimpi. Kalau anak sekolah sekarang gimana ya?

Mengingat-ingat jaman sekolah memang menyenangkan … etapi bagaimana dengan yang tidak bisa bersekolah? Masih ada gak ya? Kan katanya SD sekarang gratis ya? Kalau SMP gratis juga gak ya? Tapi masih ada pungutan sana-sini atau bener-bener gratis sih? Pada kenyataannya masih ada lo yang tidak mampu bersekolah. Okelah kalau bisa ikutan SD gratis, tetapi selanjutnya bagaimana? Sekarang pendidikan SMP aja tidak cukup apalagi SD.

Saya sebenarnya bukan penganut paham anak wajib sekolah formal, karena saya percaya banyak ilmu berserak-serak di luar sekolah formal. Tetapi pendidikan dasar itu penting terutama tentang budi pekerti, sosialisasi dan kemampuan mengembangkan daya nalar & kreativitas. Apakah harus diperoleh di sekolah formal? Tidak harus sih, tetapi sistem di negara kita yang masih mensyaratkan berbagai macam ijazah untuk memperoleh sesuatu, menjadikan pendidikan formal menjadi penting. Kecuali jika kelak segala peraturan birokrasi itu dihilangkan.

Sekarang coba tengok kanan kiri kita. Masih adakah yang belum bersekolah minimal sampai SMU? Biaya hidup yang mahal mau gak mau ikut menyeret biaya sekolah menjadi mahal. Mungkin SPP gratis, tetapi yang lainnya: buku, seragam, iuran sekolah, dana kegiatan bla..bla..bla…ujungnya banyak juga ya biaya bersekolah secara normal. Terus bagaimana jika tidak mampu? Ya berhenti sekolah Kak…ya ngamen aja Kak… ya ngasong di jalanan aja Kak. Miris. Kita yang diberi anugerah bisa sekolah dan bisa menyekolahkan seringkali gemes pengin anak-anak di jalanan itu kembali ke sekolah. Tapi gimana caranya? Kita aja udah rumit dengan berbagai kebutuhan yang semakin hari semakin membumbung tinggi ke langit yang abu-abu.

Sebenarnya banyak cara kog. Sekarang kan banyak lembaga atau kegiatan yang membantu anak-anak untuk bersekolah. Seperti yatim online, beasiswa Sampoerna Foundation, beasiswa Djarum, beasiswa Riyanto dan masih banyak lagi. Kita gak harus jalan sendiri, tetapi bisa bergabung dengan memberikan donasi kepada mereka. Daripada sendiri, bersama-sama itu lebih meringankan. Gak punya uang? Ada cara lain kog untuk membantu. Bisa sumbang buku, bisa sumbang tenaga jadi relawan, bisa sumbang unjuk bakat dengan cara yang gampang. Tadi saya melihat di sini www.satuhati.com keren deh konsepnya. Jadi kita bisa milih mau nyumbang dengan cara apa, nyumbang uang juga bisa, tinggal transfer aja. Donate Yourself!

Senang kalau semakin banyak anak yang bisa bersekolah dengan baik. Tetapi apakah sekolah aja cukup? Apakah belajar cukup di sekolah? Lagi-lagi itu saja masih kurang. Perkembangan dunia seakan mengajak kita berlari, kemajuan teknologi hari per hari. Kita harus terus belajar belajar dan belajar. Memang belajar harus sampai ajal menjemput bukan? Karena hakekat hidup adalah perjalanan belajar.

Saya dan teman-teman yang haus belajar dan pengin belajar dengan murah dan gampang kemudian membuat kelas informal namanya Akademi Berbagi. Itu benar-benar karena kami ingin belajar dari orang-orang pintar, bukan hanya ilmu tetapi juga pengalamannya. Konon pengalaman mahal harganya. Di Akademi Berbagi belajar dari pengalaman orang dengan gratis.

Kita sengaja bikin rutin, karena belajar memang harus terus menerus. Gak Cuma di Jakarta, tetapi di Semarang, Jogja, Surabaya, Solo, Palembang, Medan, dan Ambon. Semoga daerah lain menyusul yaa… Gampang kog bikin Akademi Berbagi di daerahmu. Asal ada kemauan pasti ada jalan. Kata Bapak saya, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa, adanya karena kalian tidak mau. Senang lo punya akademi berbagi jadi ajang silaturrahhiim, bikin jaringan relasi, nambah ilmu … siapa tahu dapat jodoh *eh ..maksudnya dapat proyek atau pekerjaan. Asyik kan? Berbagi selalu bikin happy.

Jadi, makin banyak aja cara kita berkontribusi untuk dunia pendidikan di negeri kita. Kita semua percaya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang bisa membuat kita maju. Kita harus terus menerus mengupakan bangsa kita menjadi bangsa yang pintar, karena harga diri dan kepercayaan diri terbangun karena kepintaran. Slogan #IndonesiaCerdas menarik bukan? Akan semakin menarik jika tidak sekedar jadi slogan dan benar-benar jadi bangsa yang cerdas. Stop complain! Stop mengeluh! Donate Yourself!

Dari 140 karakter Mimpi Indonesia Cerdas Kita bangun

In Mengelola orang on February 9, 2011 at 1:31 am

Salah satu yang membuat saya melupakan blog adalah adanya medium baru yang lebih ringkas, cepat dan langsung dapat respon dari teman-teman cukup dengan 140 karakter. Ya, saya sedang kecanduan twitter. Dengan segala keterbatasannya yaitu hanya 140 karakter, hanya tersimpan 7 hari, gerakannya yang begitu cepat, twitter mampu menyalurkan apa yang tersumbat dipikiran. Kegembiraan, kegelisahan, kemarahan, kekecewaan, dan harapan semua tumplek bleg. Istilah nyampah di timeline mungkin benar adanya, kita tumpahkan ribuan kata-kata entah bermakna atau tidak yang penting berceloteh dan eksis. Hahaha…..

Kapan pun dimana pun saya bisa menuliskan sesuatu, pemakaian yang begitu mudah dan mobile sangat cocok bagi pemalas seperti saya. Terus terang saya semakin jarang membaca berita dari website langsung, atau pun menonton berita di TV. Di twitter informasi lebih cepat walau terkadang tidak akurat, dan hampir semua portal media ada di twitter juga. Kita tinggal baca headline-headlinenya yang gak suka lewatkan yang menarik tinggal klik linkmya. Beres.

Apakah fungsi twitter hanya seperti itu? Untuk saya, tidak! Dengan berjalannya waktu, saya menemukan bahwa dengan twitter saya bisa berbuat sesuatu. Paling tidak untuk teman-teman di garis waktu saya. Lahirnya Akademi Berbagi sebuah kegiatan berbagi ilmu gratis bagi siapa saja yang mau bermula dari twitter. Di twitter saya berkenalan dengan orang-orang hebat yang berbaik hati untuk membagi ilmunya. Mereka dengan senang hati mengajar dan memberikan bukan hanya ilmu tetapi juga pengalaman di bidang masig-masing. Sebuah pengetahuan yang luar biasa menurut saya. Jika di sekolah kita mendapatkan ilmu secara formal dan akademis, di Akademi Berbagi kita juga mendapatkan pengalaman yang mahal dari para pelaku bisnis dan organisasi.

Beberapa menamai gerakan Akademi Berbagi sebagai social movement, beberapa menamai urban movement atau online movement. Apapun istilahnya saya terima saja, karena gerakan ini murni dilakukan tanpa bayaran baik gurunya, penyelenggaranya, tempatnya semua gratisan.Teman-teman yang kemudian ikut membantu pun dengan sukarela mereka bekerja penuh semangat. Misi kita cuma satu : berbagi ilmu sebanyak-banyaknya kepada siapa saja. Akademi Berbagi menjadi jembatan yang menghubungkan para ahli dengan yang membutuhkan. Pada perkembangannya bukan hanya ilmu yang diperoleh tetapi jaringan dan relasi juga didapat. Tinggal pintar-pintarnya kita memanfaatkan peluang yang ada.

Satu hal yang membuat saya begitu antusias adalah karena bidang pendidikan ternyata menjadi passion saya. Terimakasih kepada Rene Suhardono yang membantu membuka mata telinga dan hati saya untuk menemukan jalan yang tepat. Thanks Rene! Sebuah gerakan yang dikerjakan dengan passion, terasa lebih mudah dan ringan nyaris tanpa beban. Saya tidak mendapatkan uang dari sini, tetapi jaringan, relasi dan pengalaman para guru membukakan banyak jalan baru.

Saat ini Akademi Berbagi nyaris 1 tahun berjalan. Tidak ada kendala yang berarti, karena kami percaya “Berbagi bikin happy”. Kalau kemudian ada organisasi atau brand yang mengapresiasi kegiatan ini, itu bonus buat saya dan teman-teman untuk lebih bersemangat. Cukup mengejutkan ketika Akademi Berbagi menjadi 10 besar kandidat Aksi #klikhati, sebuah kegiatan penghargaan kepada aktivitas sosial yang dibangun melalui jaringan online. Klik Hati dimotori oleh sebuah perusahaan farmasi Merck dan akan memberikan penghargaan bagi 5 pemenang yaitu bantuan dana untuk mengembangkan aktivitas sosialnya. Saat ini saya masih menunggu kabar baik itu, tetapi menang atau kalah bukan tujuan saya. Bagi saya semua yang berani bergerak untuk membantu sesama dan tetap menjaga secara konsisten itulah juaranya. Tidak penting besar kecilnya, yang penting mempunyai manfaat bagi sekitar apa pun bidangnya.

Apakah Akademi Berbagi kemudian akan menjadi gerakan yang besar, dan di copy paste diberbagai tempat, menjadi semangat untuk berbagi ilmu sehingga masyarakat Indonesia semakin cerdas? Wallahu ‘alam tetapi saya dan teman-teman sangat mengharapkan itu terjadi. Perlu dukungan dan bantuan dari berbagi pihak itu pasti. Tetapi saya punya keyakinan selama niatnya baik, dijalankan dengan benar pasti ada jalan dan banyak dukungan.

Teringat twit pertanyaan dari Farhan sang MC kondang dan penyiar radio Delta FM : apakah social media bisa menggerakkan banyak orang untuk bertindak? Menurut saya : jawabnya iya dan tidak. Karena tetap saja gerakan di online akan menjadi gerakan di offline sangat terkait dengan : issue yang diusung, momentum yang ada serta siapa pembawa pesan atau sang influencernya. Gerakan online hanya akan menjadi teriakan di timeline saja jika issue yang diusung tidak menyentuh hati banyak orang, atau tidak memperoleh momentum yang tepat atau tidak dibawakan oleh orang yang tepat juga. Tidak harus ketiga-tiganya terpenuhi, 2 saja menurut saya cukup tetapi jika tiga-tiganya terpenuhi akan luar biasa.

Belajar dari koin Prita, Bibit-Chandra “Cicak vs Buaya’ 2 gerakan ini memenuhi ketiga unsur di atas sehingga kemudian menjadi gerakan massa yang cukup besar dan nyata. Aapakah kemudian Akademi Berbagi bisa seperti itu? Dalam konteks yang berbeda mungkin bisa. Karena Akademi Berbagi bukan pengumpulan massa, tetapi lebih kepada spiritnya yaitu berbagi ilmu kepada siapa saja dimana saja tanpa biaya. Spirit ini yang terus akan kita bangun dan tularkan kepada semua orang. Silakan bikin Akademi Berbagi dimana saja dan saya yakin pasti bisa. Tinggal meniru yang sudah saya bikin atau mau dimodifikasi monggo saja yang penting semangat berbagi ilmunya tetap terjaga.

Kebodohan menjadi issue penting di negeri ini, kekerasan dan ketertindasan bermula dari kebodohan. Jika kita sama-sama menyadari itu, maka kemudian pendidikan adalah hal mutlak yang harus mudah diakses dan didapat oleh siapa saja. Menunggu pemerintah sama saja membenturkan kepala ke dinding, dampak dari kebodohan sudah melebar kemana-mana. Kita hanya perlu bergandengan tangan, meluangkan waktu sedikit dan jalankan. Simple dan mudah.

Mimpi saya, mimpi teman-teman saya, dan juga mimpi kita semua sebenarnya sama : masyarakat kita lebih cerdas sehingga mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan dalam hidupnya. Seperti kata almarhum Bapak saya : tidak ada yang tida bisa, semua pasti bisa asal kita mau. Tidak ada yang susah jika dikerjakan bersama-sama dan menggunakan hati. Jalan masih panjang, karena kami juga tidak berharap semua instant. Yang kami harap semakin banyak orang mau menyontek Akademi Berbagi di berbagi daerah dan kelompok masing-masing. Tidak harus besar, kecil-kecil jika banyak dan tersebar ke berbagai wilayah akan besar juga bukan?

Yuuk berbagi, berbagi selalu bikin happy!

Berbagi bikin Happy

In Mengelola acara on November 4, 2010 at 4:11 am

Yaa…sudah hampir 5 bulan kelas Akademi Berbagi berjalan. Sudah banyak kelas-kelas yang diselenggarakan dan guru-guru hebat didatangkan. Alhamdulillah, ini berkah luar biasa buat saya pribadi dan pasti juga buat murid-murid peserta akademi berbagi. Kapan lagi kita bisa mendapatkan ilmu langsung dari praktisi yang keren seperti : Bapak Subiakto pemilik biro iklan HOTLINE yang berhasil menelurkan iklan-iklan keren seperti Indomie, Mc.Donald, Extra Joss dll., Bapak Budiono Darsono pemilik sekaligus Pimpinan Redaksi news portal terkemuka detikcom, belum yang lain-lain seperti Budiman Hakim, Tya Subyakto, Elisa Ventura, Ndoro Kakung, Enda Nasution, Danny Tumbelaka, Sasha “poetic picture”, Djito Kasilo, Aidil Akbar, Sumardi, Catur PW, Zara Zettira dll.

Kelas yang diselenggarakan di akademi berbagi ada berbagai macam diantaranya : Copy writing, Art Directing, Script Writing, Music directing, creative writing, Jurnalistik Online, Social Media, Fotografi, Financial planning dan akan ada kelas Public relations, Branding dan tentunya menerima usulan kelas-kelas yang lainnya. Yang penting adalah berbagi ilmu dari para pelaku dan praktisi sehingga kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mereka.

Berhubung ini adalah akademi berbagi, sekolahnya tidak dikenakan biaya kalau pun kelak ada biaya itu untuk konsumsi dan jumlahnya tidak besar. Guru nya pun saya dapat gratisan, bahkan disediakan tempat di kantor mereka. Seperti kelas Jurnalistik di kantor detikcom, kelas creative dan iklan di kantor Hotline, kelas fotografi dan social media di Rumah Langsat.

Awal mula berdirinya akademi berbagi karena saut-sautan twitter dengan Pak Bi, panggilan akrab Pak Subiakto.  Kemudian beliau menawarkan untuk mengajar copy writing dan saya diminta mengumpulkan muridnya via twitter. Ternyata peminatnya banyak sehingga dibuatlah beberapa kelas. Bukan hanya murid, saya pun mendapat tawaran dari para guru yang mau berbagi ilmunya, sehingga jenis kelasnya semakin beragam sesuai kapasitas dan pengalaman sang guru. Semua dimulai dari 140 karakter!

Begitulah kelas ini berjalan, pengumuman, pendaftaran murid, dan semua hal dilakukan via twitter. Dengan berjalannya waktu banyak informasi yang harus ditulis lebih panjang, kemudian saya dibantu dengan fanabis membuat blog http://akademiberbagi.blogdetik.com. Tetapi semua informasi tetap dishare via twitter. Dan atas kebaikan Yhanuar salah satu murid rajin yang kemudian menjadi asisten saya, dibuatlah akun twitter : @akademiberbagi.

Akibat akademi berbagi ini, BDI atau Budiono Darsono sering memanggil saya Kepala Sekolah. Karena beliau adalah rain maker sejati ,pangkat itu kemudian melekat begitu saja kepada saya. Dan semua teman di twitter menyapa saya Bu Kepsek. Berhubung kelas semakin banyak maka ada beberapa Wakepsek yang membantu saya, yaitu : @fanabis, @yhanuar, dan @diniAFC. Terimakasih kepada kalian semua, bantuannya sangat berarti 🙂

Akademi Berbagi benar-benar membuat saya bahagia, karena dengan segala keterbatasannya saya bisa membantu teman-teman yang ingin menambah ilmu. Dan saya tidak mungkin sendirian, pasti harus dibantu oleh banyak orang agar akademi berbagi ini terus berjalan dan bisa menularkan ilmu ke lebih banyak orang. Untuk itu, saya berharap ada yang membuat akademi berbagi ini di manapun dan kapan pun tanpa harus saya yang menangani. Saya akan support dan bantu bagi siapa saja yang ingin membuat akademi berbagi. Semakin banyak dan sering kelas dibuat, maka akan semakin banyak orang yang mendapatkan ilmu pengetahuan.

Mari Berbagi, karena Berbagi bikin happy!