pasarsapi

Archive for the ‘tentang Akademi Berbagi’ Category

Mencatat Hal Biasa, Menuliskan dengan Sederhana

In tentang Akademi Berbagi on August 7, 2011 at 2:38 am

Foto ambil dari bahtiar.wordpress.com

*tulisan ini mengenai kelas penulisan yang diajar oleh Zen RS. Sangat basic dan dalam artinya bagi yang ingin menjadi penulis*

Selama bulan puasa, kelas Akademi Berbagi (Akber) tetap berjalan seperti biasa, hanya kita majukan jamnya menjadi pukul 16.00 sampai menjelang buka puasa. Selama bulan Agustus ini tema besar kelasnya adalah : PENULISAN. Minggu pertama, kamis kemaren diawali dengan guru Zen RS  @zenrs dengan judul : Mencatat Hal Biasa dan Menuliskannya dengan Sederhana. Sebuah pembelajaran tentang menulis dasar dan sangat penting.

Kita seringkali ribet dengan keinginan kita untuk bisa menulis langsung bagus dan sempurna dipuja-puji banyak orang. “Jangan mimpi tulisan pertamamu bagus!’ begitu kata Zen. Perlu berlatih berulang-ulang dengan memulai saat ini. Bukan besok, karena setiap hari selalu ada cerita yang menarik untuk ditulis. Mulailah menulis dari apa yang kita lihat, kira alami, dan kita rasakan. Karena itu untuk mempermudah kita mengasah kemampuan. Jangan, belum-belum udah menulis sesuatu yang kita tidak pernah tau.

Catatan harian adalah langkah awal untuk menulis. Dengan membuat catatan setiap peristiwa, kita belajar mendokumentasikan pikiran-pikiran kita sehingga suatu saat pasti berguna. Hanya diperlukan pena dan kerta untuk mulai menulis, atau computer dan listrik kalau jaman sekarang, begitu tutur Zen. Belajar menulis dengan membuat catatan harian lebih mudah dan tanpa beban karena kita tidak berpretensi apa-apa. Karena menulis itu untuk menulis itu sendiri.

Harus dibedakan antara menulis dan mengedit. Mencampuradukan kedua justru akan menghambat kita untuk menulis. Menulis memerlukan emosi dan hati sedang mengedit memerlukan akal. Seringkali kita berusaha mengedit tulisan yang belum selesai karena kita ingin hasil yang bagus. Menulis harus tanpa pretensi, pretensi untuk keren, pretensi untuk dimuat. Tulislah semua yang ada di pikiran dengan jujur. Jujur di sini bukan berarti membuka semua aib kita, tetapi menulis apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dengan apa adanya. Tuangkan semua pikiranmu sampai habis, dan jangan buru-buru melakukan editing. Jangan pernah berhenti, teruslah menulis.Ada banyak ide cerita disekeliling kita, sayang kita tidak punya waktu untuk memperhatikan. Apalagi jaman sekarang segala sesuatu berjalan begitu cepat.

“Menunda menulis adalah perkara besar!” Zen menyampaikan dengan lugas tentang betapa pentingnya membuat sebuah tulisan. Tulisan yang bagus selalu berdasarkan realitas dan diawali dengan riset. Riset untuk tempat dan kelengkapan remeh temeh yang diperlukan untuk membuat cerita itu masuk akal. Selain riset kita juga perlu memperbanyak referensi, semakin banyak referensi akan semakin memperkaya cerita.

Apa yang diungkap Zen selama hampir dua jam adalah perkara dasar yang harus dipunyai jika ingin menjadi penulis. Tidak ada yang lahir langsung jadi penulis, diperlukan berlatih berulang-ulang dan dibiasakan. Jaman sekarang banyak cara untuk membiasakan menulis. Misalnya dengan membuat foto, dan setiap foto kita buat chapter satu dua paragraph untuk menceritakan gambar tersebut. Atau membuat catatan ringan perjalanan kita.

Yang mengagumkan diri Zen adalah, referensi bacaan dia sangat banyak dan beragam. Hampir yang dia pernah baca, dia ingat karena dia terbiasa menuliskan segala sesuatunya. Dari kecil dia diajari ibunya untuk menulis. Pernah sewaktu SD diminta ibunya duduk di dekat pohon. Kemudian ibunya meminta Zen menuliskan tentang pohon itu. Pertama kali hanya menghasilkan dua paragraph, kemudian Ibunya menyuruh untuk memperhatikan lebih detil dari pohon itu. Kemudian Zen melihat ada semut, kemudian dia cerita tentang semut, dan melihat yang lain-lainnya sehingga akhirnya jadi tulisan empat setengah halaman. Karya itu masih disimpan hingga sekarang sebagai karya tulisannya yang pertama.

Saya kemudian paham kenapa Zen begitu mencintai kesusasteraan, karena orang tuanya adalah pencinta sastra dan membiasakan anaknya untuk berlatih dan berlatih. Menulis pun kemudian menjadi kebiasaan Zen, dan dia tidak pernah kehabisan ide. “Setiap manusia adalah unik, dan setiap manusia pasti punya cerita yang menarik” ,tutup Zen di kelas Akber malam itu.

“Dialog dengan diri sendiri, adalah awal mula kesusateraan.”

MENGAPRESIASI BUKAN MENGHAKIMI

In tentang Akademi Berbagi on August 3, 2011 at 2:48 am

Glenn Marsalim

 

“The deepest principle in human nature is the craving to be appreciated” *William James*

Selalu menyenangkan mendengarkan orang-orang kreatif sharing. Selalu ada hal baru dan berbeda yang kita peroleh. Seperti kelas Kamis (28/7/2011) gurunya Glenn Marsalim orang yang bekerja sebagai freelancer dibidang periklanan dan pasti banyak orang sudah tahu dengan prestasinya. Malam itu di kantor SITTI (Jalan Senopati – Jaksel) Glenn berbagi ilmu tentang Apresiasi Iklan. Banyak orang kreatif, banyak orang bisa membuat iklan, tetapi jarang yang bisa mengapresiasi dengan baik. Apresiasi berbeda dengan menilai atau menghakimi. Butuh kepekaan dan background pengetahuan yang cukup untuk dapat mengapresiasi sebuah iklan.

Dalam proses pembuatannya, terutama iklan TV, Glenn menuturkan sebuah proses yang panjang dan rumit untuk sebuah hasil yang paling lama 60 detik atau bahkan 30 detik. Perlu menselaraskan antara keinginan klien, keinginan kreatif dan maunya konsumen dan itu bukan hal yang mudah. Mengupas satu per satu iklan di TV sungguh mengasyikkan. Kita diajak Glenn untuk menghargai sebuah proses. Ya proses yang seringkali diabaikan. Kita lebih sering fokus akan hasil hasil dan hasil.

Sebuah iklan dikatakan bagus atau jelek, itu sangat tergantung siapa yang menilai. Iklan-iklan yang bagus dan menang award belum tentu booming di pasaran, walaupun ada beberapa. Mengapresiasi iklan bukan menilai bagus atau jelek, tetapi bagaimana sebuah penciptaan karya yang punya nilai lebih. Seperti contohnya, salah satu iklan yang dibuat Ipang Wahid. Dalam iklan Lebaran yang dibuat pada tahun 2002 untuk perusahaan rokok kalau tidak salah, Ipang Wahid menggambarkan suasana lebaran yang penuh kegembiraan dengan menyelipkan gambar barongsai yang menari. Itu untuk pertamakalinya ada yang berani memasang adegan barongsai di iklan lebaran yang notabene adalah perayaan umat muslim. Sekarang sudah bertaburan iklan-iklan dengan barongsai, apapun perayaan keagamaannya. Menurut Glenn, karya Ipang tersebut dianggap pendobrak dan pertama yang kemudian ditiru oleh kreatif lainnya.

“Otak kita seperti palet warna. Setiap kebencianmu pada sebuah karya akan menghilangkan satu warna. Semakin banyak yang kamu tidak suka akan semakin banyak warna yang hilang. Lalu, kamu mau melukis pakai apa?” Sebuah kalimat dari Glenn Marsalim  yang sungguh dalam maknanya. Ketika kita seringkali mencela karya orang, apalagi tanpa alasan yang jelas, maka kita semakin memenjarakan kreativitas kita. Ego adalah kutub yang berlawanan dari kretivitas. Sebuah karya, apapun hasilnya patut untuk diapresiasi. Dan setiap orang telah mengeluarkan daya upayanya untuk menghasilkan karya terbaiknya.

Masih banyak iklan-iklan yang diulik dalam kelas saat itu, dan penjelasan Glenn selalu memberikan kita wawasan baru yang mungkin buat mahasiswa periklanan –di kelas itu ada beberapa mahasiswa design & iklan- tidak diperoleh di bangku kuliahnya.

Saya selalu happy setiap mengikuti kelas Akademi Berbagi, karena para guru tidak melulu memberikan teori tetapi pengalaman berharga mereka ketika menjalani profesinya. Dan Glenn adalah salah satunya. Makhluk luar biasa yang selalu rendah hati dengan bilang : “aku ini apa, aku ndak pede je ngajar di kelasmu.”

Sekali lagi, makasih Glenn butuh orang-orang yang tidak biasa sepertimu untuk menggugah wawasan dan pikiran kami yang lebih sering ribet dengan hasil dan nilai tanpa menghargai sebuah proses panjang yang selalu mengandung pembelajaran.

TRUST YOUR GUT. TRUST YOUR INSTINCTS  – GLENN MARSALIM

 

*tulisan ini juga ada di http://akademiberbagi.org *

YORIS

In Mengelola orang, tentang Akademi Berbagi on July 18, 2011 at 4:37 am

Foto diambil dari Facebook Yoris Sebastian 🙂

tulisan ini dimuat juga di http://akademiberbagi.org

Akhirnya kesampaian juga Akademi Berbagi mendatangkan guru Yoris Sebastian berkat bantuan teman-teman @IDkreatif dan PPKI 2011. Sudah cukup lama para murid mengusulkan minta supaya Yoris mengajar.

Sebelumnya, beberapa kali saya sudah bertemu dengan Yoris, tetapi tidak dalam kelas yang cukup panjang. Kali ini saya benar-benar belajar di kelas selama 2 jam mendengarkan dia berbagi ilmu dan pengalaman tentang kreativitas. Dengan suara tidak meletup-letup seperti seorang motivator kondang, tetapi  dengan gayanya yang bertutur membuat kita seperti mendengarkan sebuah cerita tentang perjalanan hidup seorang Yoris yang dari kecil tidak bandel, penakut karena tidak bisa naik sepeda hingga kemudian dia berada di posisi sekarang ini. Stereotip di kita adalah anak bandel = kreatif. Dan Yoris tidak bandel tapi kreatif abis. Dia juga bukan anak yang menonjol dibanding kakaknya yang memiliki IQ jenius, tetapi karya-karya Yoris adalah jenius!

Yoris, menyampaikan sesuatu, tanpa teriakan, tanpa semangat palsu dengan mengucapkan Selamat pagi! walaupun sudah malam, tetapi justru lebih mudah diterima. Apa adanya tetapi mengena. Dia bercerita bahwa kreatif bukan genetis tetapi bisa dipelajari dan harus dilatih. Kreatif tidak harus melanggar peraturan, justru kreatif itu adalah bagaimana meng-adjust ide kita dengan norma yang ada tanpa kehilangan sisi “tidak biasa”.

Kreatif juga bukan soal budget, kreatif adalah bagaimana menggunakan dana yang ada untuk sesuatu yang lain dari biasanya dan menjadi perbincangan orang. Kreatif juga bukan ide-ide yang spektakuler, justru menemukan hal-hal kecil yang berbeda tetapi mempunyai nilai manfaat.

Bikin seminar launching perusahaan di bioskop, program music I Like Moday, undangan nikah berupa celemek dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak biasa tetapi justru mengena.

Bagaimana dengan ATM = amati, tiru, modifikasi? Yoris menuturkan bahwa untuk diawal-awal atau untuk supaya dapur tetap ngebul itu sah-sah saja, karena memang banyak hal sukses adalah hasil modifikasi. Tetapi seiring jam terbang yang sudah cukup, dan financial sudah memadai perlu bagi orang-orang kreatif untuk menciptakan karya yang original. Karena itu menjadi pencapaian yang akan melekat dalam diri kita untuk lebih percaya diri dan milestone untuk membuat lompatan yang lebih besar lagi.

Hingga akhir kelas, saya masih terpukau. Yoris mempersiapkan semuanya dari cara bicara, gaya pakaian, penggunakan asesoris hingga tas kerjanya. Semua berbeda dan tidak biasa. Satu hal yang membuat saya semakin hormat adalah, dengan semua pencapaian dia, Yoris tetap manusia yang rendah hati.

Terimakasih Yoris, setelah buku pertamamu Creative Junkies ditunggu buku berikutnya.

PENTINGKAH SEBUAH JUMLAH?

In tentang Akademi Berbagi on July 17, 2011 at 3:02 pm

“tulisan saya ini juga dimuat di http://akademiberbagi.org & foto by Suryo @siboglou

Kemaren lusa saya berkesempatan menonton Musikal Laskar Pelangi, dapat hadiah dari Susu SGM Sari Husada untuk Akademi Berbagi. Karena dapat cuma 2, saya menonton dengan salah satu pengurus Akademi Berbagi Jakarta, Ranum. Lumayan dapat tiket VIP sehingga bisa menyaksikan secara dekat.

Salah satu adegan yang cukup mengena di hati saya adalah, ketika awal masuk sekolah Bu Muslimah sang guru menunggu dengan harap-harap cemas dan nampak raut wajahnya yang gundah, jumlah murid yang akan bersekolah. Jika kurang dari 10, maka SD Muhammadiyah Gantong tidak berjalan. Betapa pentingnya angka 10 demi berlangsungnya sebuah sekolah yang notabene sangat dibutuhkan untuk masyarakat Gantong.

Hal tersebut kemudian mengingatkan saya kepada Akademi Berbagi. Sekarang ada sekitar 10 daerah yang melaksanakan kelas secara rutin yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Surabaya, Palembang, Jambi, Medan, Ambon dan Madiun. Untuk kelas di Jakarta relatif tidak banyak kesulitan, selalu ada guru yang bersedia mengajar dengan cuma-cuma dan cukup banyak murid yang berminat. Sedangkan di daerah, beberapa masalah yang timbul adalah ketersediaan guru dan murid. Iya murid. Kalau guru, bisa pahamlah, tidak banyak expertise atau praktisi di daerah karena semua berbondong-bondong ke Jakarta, sehingga di daerah kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas. Tetapi saya percaya, dan selalu meyakinkan teman-teman di daerah, bahwa pasti ada orang pintar dan baik yang mau berbagi di daerah masing-masing.

Bagaimana dengan murid? Masak tidak ada yang berminat belajar secara gratis dan mendapat ilmu yang manfaat? Begitulah kenyataannya, tidak selalu setiap kelas banyak muridnya. Seperti kemaren, Kepala Sekolah Palembang melaporkan, hanya 7 murid yang datang dan belajar padahal gurunya datang dari Jakarta dan membagikan ilmu yang sedang “hip” di dunia online. Beberapa daerah lain juga mengalami kekurangan murid dan mereka merasa kuatir dan kurang bersemangat menjalankan kelasnya.

Apakah ukuran kesuksesan dari kelas Akademi Berbagi adalah jumlah murid? Kebiasaan kita bahwa ukuran sukses dihitung dengan angka, dan event yang sukses adalah yang pesertanya membludak membuat kegiatan Akademi Berbagi juga merasa itu menjadi salah satu ukuran sukses. Saya pun sempat ikut berpikiran demikian. Sehingga kemudian kita gencar mengumumkan dan mengajak orang-orang supaya mau belajar.

Pada suatu hari, di suatu acara saya sempat ngobrol dengan Enda Nasution. Dia bercerita tentang pengalamannya mengikuti berbagai workshop di luar negeri. Salah satu cerita yang kemudian saya ingat terus adalah, dalam sebuah workshop yang terdiri dari berbagai tema, dan peserta boleh memilih tema yang diminati. Ada salah satu kelas yang pesertanya cuma satu orang dan workshop itu tetap berjalan, pembicara pun tetap bersemangat mengajar. Karena bukan jumlah yang dikejar, tetapi proses transfer ilmu dan diskusinya. Walaupun satu orang, jika dia bersungguh-sungguh dan berminat maka sangat mungkin ilmu itu akan meyebar dan bermanfaat.

DANG!! Saya pun merasa ditampar.  Apa tujuan saya dan teman-teman membuat Akademi Berbagi? Apakah mengejar sukses dengan jumlah murid yang banyak dan tumpah ruah? Saya pun kemudian mengingat kembali awal perjalanan kelas Akademi Berbagi yang dimulai dengan 10 orang. Semangat kami adalah belajar dan berbagi. Memberikan orang akses atau jembatan untuk mengembangkan diri dengan murah dan mudah. Ketika belajar, training maupun workshop semakin mahal, di kelas kami semuanya gratis. Guru-gurunya pun bukan sembarangan tetapi orang-orang ahli dan para praktisi yang berpengalaman dan bahkan dikenal di masyarakat.

Tugas kami, menjadi jembatan antara pemilik ilmu dan orang-orang yang membuthkan ilmu. Berapa pun yang datang dan belajar, kelas harus tetap berjalan. Karena sesungguhnya gerakan kami bukan untuk mengklaim diri sebagai kegiatan social movement yang besar dan berhasil tetapi justru kegiatan kami adalah memberikan akses kepada siapa saja yang ingin belajar dengan murah dan mudah, memberi kesempatan orang-orang yang mau berkembang. Kami akan sangat senang, ketika ada salah satu murid kemudian menulis di timeline : terimakasih @akademiberbagi pelajaran hari ini sangat bermanfaat.

Ketika kelas yang dibuat memberikan manfaat walaupun hanya 1 orang, itulah sebenarnya esensi dari kegiatan kami, menebar manfaat. Bukan soal jumlah.

Selamat satu tahun Akademi Berbagi, perjalanan satu tahun belum panjang tetapi juga bukan hal yang mudah, karena kita menjalankan di sela-sela pekerjaan utama kita sebagai pencari nafkah. Selama satu tahun tetap konsisten menyelenggarakan kelas adalah hal yang luar biasa, karena tidak ada satu pun yang dibayar. Terimakasih untuk semua pengurus Akademi Berbagi di mana pun berada, tetap semangat dan istiqomah menjalankan kelas demi kelas. Seperti yang saya selalu ungkapkan : Akademi Berbagi ini adalah virus. Virus kebaikan yang terus menyebar tanpa penting lagi siapa penggagasnya karena Akademi Berbagi milik semua.

Soal jumlah? Tidak masalah 🙂

SELAMAT ULANG TAHUN YANG PERTAMA, SEMOGA BISA MENJAGA KOMITMEN DAN KONSISTENSI DALAM MENJALANKAN KELAS DEMI KELAS. BERBAGI MEMANG BIKIN HAPPY!