pasarsapi

Archive for the ‘mengelola uang’ Category

Financial Check Up…Sakit Apa?

In mengelola uang on March 4, 2010 at 3:06 am

Beberapa hari lalu saya bela-belain ikut kopdar NGERUMPI karena salah satu narasumber yang hadir adalah Aidil Akbar Madjid suhu Financial Planner. Yup, saya pengin dapat ilmu mengelola duit dengan bijaksana. Banyak info-info yang “mengagetkan” seperti : asuransi pendidikan anak tidak akan pernah bisa menutup biaya sekolahnya kelak karena tingkat inflasi lebih tinggi daripada return yang diberikan. Begitu juga asuransi untuk pensiun, boro-boro pensiun buat bayar preminya sudah bikin senut-senut. 😀

Jadi orang (perempuan) sekarang harus “melek” financial. Banyak instrumen keuangan yang bisa digunakan untuk mensiasati kebutuhan hidup yang terus meningkat. Tidak bisa lagi mengandalkan pendapatan saja. Asuransi masih diperlukan, tetapi sebaiknya dalam memilih asuransi kita harus tahu persis detil dari manfaat dan cermat mempelajari semua pasal-pasalnya. Kita seringkali hanya mendengarkan sales-nya tanpa mau mempelajari polisnya. Seperti yang dibicarakan Bang Aidil, jika kita membutuhkan asuransi yang asuransi saja, jika perlu investasi ya investasi saja. Jangan dicampur! Itu seperti kita sakit batuk, tetapi kita beli obat yang bisa menyembuhkan batuk, pilek, panas, panu. Bukan efektif malah membuat kerja ginjal lebih keras. Masalah keuangan itu seperti badan, perlu diperiksa dengan seksama atau sering disebut Financial Check Up. Jika ada yang sakit, maka yang disembuhkan hanya bagian yang sakit saja. Asuransi dan investasi adalah 2 instrumen yang berbeda dengan treatment yang berbeda pula. Jika digabung biasanya hasilnya kurang maksimal, kadangkala justru merugi. Khusus untuk asuransi kesehatan kita memang harus punya, pilihlah provider yang kredibel jangan membeli melalui kartu kredit karena preminya lebih mahal. Perlu diperhatikan, asuransi kesehatan adalah alat bantu untuk menutup biaya ketika sakit yang seringkali mendadak dan dalam jumlah besar bukan sebuah investasi yang punya nilai keuntungan.

Ada hitung-hitungan sederhana tentang kesehatan keuangan kita. Jika kita single, maka kita harus punya dana cadangan 3 kali gaji, jika punya anak 1 harus punya dana cadangan 6 kali gaji, total cicilan utang tidak boleh lebih dari 20% gaji. Mobil, HP, BB dan alat elektronik lainnya bukanlah aset (kecuali kita bisnis rental mobil, atau jual beli HP :D). Untuk membelinya sebaiknya tunai jangan kredit apalagi dengan bunga tinggi. Tetapi untuk membeli properti lebih baik dengan cicilan pinjaman jangan tunai.

Instrument investasi sekarang ada berbagai macam seperti : reksadana, SUKUK, saham dan emas. Dalam mempelajarinya kita tidak bisa hanya membaca buku panduan atau ikut training, tetapi kita harus menceburkan diri langsung dan belajar dengan menjalankan investasi tersebut. Untuk reksadana kita bisa membeli ritel (nominal kecil seperti Rp 100 ribu, 200 ribu dst) melalui bank, sedang untuk saham sekarang ada yang minimal Rp 5 juta bahkan konon  ada yang  minimal Rp 2 juta. Anggaplah itu biaya belajar yang benefitnya adalah kita lebih pintar, bukankah ilmu juga investasi?

Walaupun harganya berfluktuasi, untuk jangka panjang investasi surat berharga masih menguntungkan. Jika belum paham jangan main jangka pendek, karena perlu keahlian,pengalaman dan kematangan emosi. Pada dasarnya investasinya surat berharga memang untuk jangka panjang. Emas juga investasi yang menarik saat ini (bukan emas perhiasan tetapi emas batangan) karena nilainya akan naik terus dan cukup liquid. Sekarang banyak emas batangan dijual di toko-toko emas dengan ukuran 5 gram, 10 gram sehingga tidak terlalu memberatkan.

Saat ini dengan menabung atau deposito saja tidak cukup, karena tingkat inflasi yang begitu tinggi melebihi suku bunga belum dipotong pajak dan biaya adminsitrasi. Kalau diperhatikan dengan seksama uang ditabungan kita justru berkurang nilainya dengan berjalannya waktu. Untuk itu kita perlu cermat dalam memilih instrumen keuangan.

Tambah bingung? Sama saya dulu juga bingung, tetapi kemudian saya nekat dengan membeli reksadana pada awalnya karena relatif lebih mudah dipelajari dan bisa membeli sedikit demi sedikit. Tetapi lepas dari semua itu, saya sangat percaya yang namanya berkah. Kita memang harus mempunyai perencanaan, hitungan dan catatan tentang kondisi keuangan kita sehingga tidak besar pasak daripada tiang atau menjadi korban jeratan kartu kredit yang mengerikan, diluar itu berdoalah kepada Yang Kuasa karena rejeki bisa datang dari arah mana saja tanpa diduga. Jadi jangan stress melihat kondisi keuangan yang amburadul, benahi segera dengan bijaksana dan selanjutnya Tuhan akan membantu mengatur dengan lebih baik.

Soal tulisan saya ini mungkin ada salah-salahnya, ya maaf saja ketika mendengarkan Mas Aidil disambi ngerumpi 😀 . Kalau ini salahkan simbok venus Mas Hedi dan Mba Eny hahahaaa….(ampuuun sesepuuh 😀 )  Tetapi jangan kuatir, kita bisa nanya langsung kog ke ahlinya, silakan datangi saja rumah Mas Aidil Akbar 😉

*Maaf gak ada potonya karena gak dipoto bareng Mas Aidil Akbar (ngambek ceritanya)*

Ciri manusia dan peluangnya

In Mengelola orang, mengelola uang on January 28, 2009 at 4:24 pm

Ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis (wartawan, sastrawan, budayawan) adalah :

  1. Munafik, hipokrit
  2. Lempar batu sembunyi tangan
  3. Feodal dan patriarkal
  4. Suka hantu, paranormal, firasat
  5. Punya jiwa seni
  6. Boros, senang berutang, senang pesta
  7. Kurang gigih
  8. Gemar jalan pintas
  9. Iri, dengki, menggerutu
  10. “me too”
  11. Jumawa, belagu
  12. Baik hati, ramah, gotong royong, guyub suka damai, bisa tertawa dalam penderitaan

Saya tidak mempermasalahkan soal positif negatifnya, tetapi saya tertarik dengan ulasan majalah 3636 LIFESTYLE tentang mencari peluang usaha, atau bidang kerja apa yang cocok dengan karakteristik tersebut.

Ciri di atas kemudian memberikan penjelasan yang cukup masuk akal misalnya, kenapa tayangan gosip laris manis, atau banyak sekali jalan tikus, dan jalur busway yang sering diserobot mobil. Makanya walaupun sudah sering orang tertipu bisnis money game, tidak membuat jera bagi yang lainnya. Bisnis MLM pun tumbuh sangat subur di Indonesia, karena janjinya tanpa modal, tanpa terikat waktu nanti akan ada pasif income alias ongkang-ongkang kaki duit muter sendiri.

Sekarang adalah tahun kerbau, yang kata para peramal tahun kerja keras, walaupun menurut saya setiap tahun adalah kerja keras. Sebenarnya kerja keras saja tidak cukup, tetapi harus kerja pintar. Naah, melihat karakteristik manusia seperti yang disebut di atas, maka kita bisa memilah-milah bisnis apa yang cocok utnuk dikembangkan di Indonesia.

Sebagai contoh, karena hobi berutang maka bisnis kartu kredit, BPR, koperasi simpan pinjam akan tetap laris manis. Bisnis penjualan dengan sistem cicilan juga masih oke, sepanjang kita telaten dan rajin untuk menagih. Karena ciri yang lain lempar batu sembunyi tangan, sudah berutang suka pura-pura lupa. Hehe..

Hal lain yang bisa dipertimbangkan adalah jiwa seni yang cukup tinggi serta suka pada pesta menjadikan bisnis di bidang entertainment tidak ada matinya. Aapalagi kalau bisnis nya terkait dengan hantu-hantu dan ramalan, seperti film hantu, sms ramalan dan pengobatan alternatif. Bikinlah usaha yang terkait dengan seni, bersenang-senang dan sedikit hantu tidak mengapa asal jangan melupakan bahwa ada etika dan aturan yang tetap harus dijaga. Janganlah yang terlalu murahan atau vulgar, masyarakat kita sudah mulai bosan. Harus lebih kreatif dan berbobot supaya ada bekas di hati penikmatnya. Menghibur bukan berarti membodohi kan?

Karena baik hati dan suka gotong royong alias guyub, hal-hal yang berbasis komunitas dan berkomunikasi masih sangat berkembang. Coba saja dilihat jaringan pertemanan lewat internet, baik blog, friendster, facebook dll berkembang demikian pesatnya. Teknologi yang semakin canggih membuat kita bisa berkomunikasi via internet sepanjang waktu dengan blackberry. Sampai kata temen saya blackberry sudah kayak narkoba, bikin kecanduan, barangnya sedikit yang berminat banyak sehingga harga blackberry bisa bertahan mahal. Dan betapa laris manisnya yang namanya HP dalam berbagai bentuk dan harganya. Coba lihat di pasar-pasar dari mbok jamu sampai tukang parkir semua pakai HP. Karena kebutuhan berkomunikasi -berguyub ria- menjadi sangat vital.

Mungkin ada ide bisnis lain? Tidak ada salahnya anda mempertimbangkan ciri manusia di atas untuk mencari celah pasarnya.

Ciri yang lain yaitu “me too” dan patriarki bisa digunakan untuk teknik memasarkan. Patron atau ketokohan sangat berpengaruh. Maka seperti yang diulas dalam buku Tiping Point juga, carilah orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya untuk menjadi spokeperson atau juru bicara produk anda. Kita harus bisa mendapatkan tokoh-tokoh kunci, mendekati mereka dan menjalin relasi yang bagus sehingga mereka bisa kita jadikan salesman secara tidak langsung. Jika tokoh-tokoh ini ikut berbicara tentang produk kita, maka sesuai ciri manusia Indonesia akan banyak yang mengikuti dan menurut apa yang dikatakan. Bukankah lebih efektif dan berdampak signifikan dan biaya pemasaran pun bisa ditekan.

Semua ciri-ciri di atas bisa digali dan dicari celah untuk kemudian bisa menemukan bisnis yang sesuai dan marketable. Karena terkadang kita terlalu muluk-muluk dan susah menjangkau rencana bisnis kita padahal di sekitar kita banyak peluang yang bisa dikerjakan.

Tapi tolong hati-hati dengan ciri yang “tidak gigih”, sebagai pebisnis pantang bagi kita untuk mudah meyerah, dan tidak gigih. Untuk hal ini, kita terpaksa harus melawan ciri tersebut jika ingin sukses. Kegigihan adalah kunci sukses sebuah usaha. Apapun bentuknya. Mungkin itu juga yang menjelaskan kenapa banyak sekali usaha baru bermunculan, tetapi baru seumur jagung, sudah berguguran dan kemudian muncul yang lain lagi.

Faktor “me too” juga harus diwaspadai, jika “me too” adalah meniru bisnis anda. Banyak sekali contoh, misalnya ketika warung tenda artis muncul satu dan sukses kemudian diikuti oleh segenap artis yang tidak jelas warungnya, atau ketika booming brownies Amanda, maka orang berlomba-lomba meniru dengan merk dan bentuk semirip mungkin. Jadi berhati-hatilah dengan pesaing anda. Selamat tahun baru imlek, selamat bekerja but WORK SMART not WORK HARD. Sukses ya..!

Note : Saya jadi ingat pernyataan salah satu Bapak Menteri kita : ” Siapa bilang masyarakat menderita, itu yang kebanjiran saja bisa tertawa. Jadi mereka tidak sengsara..” So, hahaaa….kalau ini saya setuju banget dengan ciri manusia Indonesia versi pak Mochtar Lubis ” Bisa tertawa dalam penderitan.”

Tulisan ini disarikan dan terinspirasi sekali dari majalah 3636 LIFESTYLE edisi 35/ Desember 2008. GRATIS!

Asuransi, Investasi dan Resolusi 2009

In mengelola uang on December 25, 2008 at 7:23 am

Menikmati liburan dengan menunggui putri sakit di RS mengingatkan pada sebuah percakapan dengan teman tentang asuransi. Katanya dia ikut asuransi yang akan memberikan hasil setiap bulan 30%. Saya cukup bingung dengan hal itu, karena apa mungkin asuransi memberikan benefit bulanan secara tunai sebesar 30%? Menurut saya ini patut dipertanyakan, karena jika sebuah asuransi yang meberikan profit bulanan sebesar itu kenapa orang tidak berbondong-bondong investasi disitu?

Saya kurang pandai dalam masalah investasi ataupun asuransi. Tetapi saya tahu banyak manfaatnya,  sehingga saya mulai mempelajari secara sederhana tentang kedua hal tersebut. Menurut pandangan saya pribadi, asuransi bukan merupakan investasi yang mencari keuntungan, tetapi lebih kepada persiapan dana untuk masa depan, untuk kesehatan dan untuk pendidikan. Keuntungannya apa? Keuntungannya adalah untuk masa akan datang ada dana cadangan yang telah dipersiapkan sejak kini. Jika tiba-tiba sakit dan harus opname, ada asuransi yang akan menanggulangi, jika anak masuk SD atau SMP atau SMA ada dana yang telah kita persiapkan sehingga tidak mengganggu cashflow bulanan. Atau jika masa pensiun tiba, ada dana untuk biaya hidup selanjutnya.

Jika ingin mendapatkan profit, menurut saya seharusnya berinvestasi bukan asuransi. Investasi bisa dimana saja. Bikin usaha sendiri, ikut usaha teman, deposito, reksadana atau obligasi dan saham. Sebuah investasi pasti ada resikonya sekecil apapun. Hal itu harus dipahami betul oleh investor. Bikin usaha sendiri bisa bangkrut, ikut usaha teman bisa ditipu, reksadana nilai NAB bisa turun drastis, apalagi saham dan obligasi sangat banyak faktor yang mempengaruhi resikonya. Mungkin yang paling kecil resikonya adalah deposito, kecuali melakukan deposito di bank yang kurang sehat akan menjadi besar resikonya karena banknya tutup. Sebuah bank sehat tidak akan memberikan bunga yang jauh melampaui bunga yang ditetapkan bank central. Itu jadi patokan paling gampang buat saya memilih bank. Disini hukum high risk high return tetap berlaku. Mau untung gede? Resikonya juga besar.

Jadi asuransi tidak menguntungkan? Menurut saya asuransi bukan menguntungkan, tetapi menyelamatkan cashflow kita, dan keberlanjutan kondisi finansial kita. Itung-itung kita meminta bantuan sebuah lembaga untuk mendisiplinkan kita menabung untuk hari esok. Kita tidak pernah tau kondisi kita nanti bagaimana, tetapi kita tahu pasti jika kita memerlukan dana untuk kesehatan keluarga kita, pendidikannya dan hari tua kita.

Apakah investasi tidak bisa menjamin masa depan kita? Bisa saja, tetapi tetap dipahami resiko-resiko yang bakal terjadi. Seperti baru-baru ini di Indonesia nilai saham anjlok sampai titik terendah. Padahal semua pakar ekonomi melihat kondisi keuangan negeri kita baik-baik saja tetapi karena di AS terjadi krisis keuangan kita pun kena imbasnya tanpa ampun. Resiko ini tidak pernah ada yang meramalkan, para pakar ekonomi tidak ada yang menduga akan sejeblok ini. Akibat saham anjlok, reksadana ikut turun drastis, suku bunga bank dinaikkan sehingga para investor justru lari kepada deposito. Dan semakin terpuruklah kondisi pasar modal kita.

Menurut para pakar yang berbicara di media butuh waktu 1-3 tahun untuk kembali ke kondisi sebelum krisis itu terjadi. Berarti dana yang kita investasikan di reksadana ataupun saham baru akan pulih pada waktu tersebut. Apakah kita rugi? Sebaiknya jika kondisi seperti ini kita tidak usah menjual surat berharga kita, apalagi yang investasi di reksadana. Diamkan saja, janganlah ditengak-tengok NAB-nya selain cuma bikin senewen kita juga semakin terjebak pada persepsi bahwa dana kita amblas. Biarkan para manager investasi yang bekerja memulihkan, percayakan semua pada mereka karena kita pun tidak bisa melakukan apa-apa. Jika nanti setelah 1-3 tahun, NAB sudah membaik barulah kita jual atau kita cairkan dananya. Pelajaran yang sangat baik untuk saya adalah : reksadana adalah investasi untuk jangka panjang, terlalu berisiko jika kita memperlakukan sebagai investasi jangka pendek, atau mencari keuntungan dari selisih NAB. Saya tidak begitu paham dengan pasar saham di bursa, tetapi kalau kita tidak punya bekal pengetahuan yang cukup sebaiknya jangan mencoba mengadu untung di bursa, apalagi tergiur dengan keuntungan yang selangit (tanpa mengingat resikonya yang segunung).

Saat ini, untuk jangka pendek, sebaiknya deposito saja. Selain bunganya sekarang sedang tinggi, proses pencairan yang mudah dan jangka waktunya bisa 1 bulan. Bahkan sekarang ada deposito on call yang bunga bisa lebih tinggi dari deposito biasa, jangka waktunya bisa harian, mingguan atau bulanan.

Kondisi ekonomi negeri ini (seperti kata para pakar) masih kurang baik. Menaikkan penghasilan juga susah, maka langkah paling bijak adalah mengurangi pengeluaran. Apa masih ada yang bisa dikurangi? Saya dulu juga berpendapat begitu. Sepertinya semua anggaran sudah sedemikian nge-pasnya. Tetapi, setelah saya urut satu-satu, ternyata masih ada pos yang bisa di hemat. Bagaimana cara menghemat adalah sangat subyektif, tetapi cara yang saya tempuh saat ini mungkin bisa digunakan oleh yang lain, yaitu mengeluarkan semua gaji saya dan menyisakan 10% di tabungan. Semua gaji langsung saya bagi dan serahkan kepada masing-masing pos. Sehingga di kepala saya, uang saya ya yang di dompet saya, ditabungan tidak pernah saya lihat lagi (kalau perlu atm-nya saya simpan di rumah). Atau mungkin ada cara lain? Silakan saja. Menurut saya setiap orang punya cara yang sesuai untuk dirinya sendiri.

Seperti kata guru NLP saya, tidak ada balsem di dunia ini. Artinya tidak ada satu tips atau cara jitu yang sesuai untuk semua orang. Karena manusia diciptakan dengan segala perbedaan dan keunikannya.

Selamat berinvestasi, dan selamat berhemat. Kita tidak tahu bagaimana tahun depan. Yang jelas akan ada pemilu besar-besaran yang sudah pasti mempengaruhi kondisi negeri. Maka tidak ada salahnya jika resolusi tahun depan adalah berhemat biar selamat!

Untuk investasi, karena semua saham dan reksadana lagi dijual murah tidak ada salahnya membeli tetapi ingat ini adalah sebuah investasi jangka panjang, bukan mengejar peruntungan sesaat.

SELAMAT TAHUN BARU. Selamat libur panjang, nikmati hari ini sebelum kembali kerja tahun depan.

Terjun Bebas ala Amerika- saatnya Berinvestasi

In mengelola uang on September 19, 2008 at 11:56 pm

Minggu lalu, gambaran berita pasar saham dipenuhi dengan anjloknya harga-harga saham dunia, karena jatuh bangkrutnya Lehman Brothers, sehingga The Fed terpaksa menyuntikkan dana untuk mencegah kebangkrutan bursa. Saya kurang tahu persis detil dan bagaimana, tapi yang saya tahu pasti adalah nilai aktiva reksadana di Indonesia semua ikut terjun bebas akibat hal tersebut. Terutama reksadana saham dan reksadana campuran.

Kalau mengikuti tips dan trik para Manager investasi, karena ini kejatuhan yang sangat dalam – mirip kejadian 1998- maka saat ini adalah saat paling baik untuk membeli saham ataupun reksadana.  Harganya murah, dan kemungkinan mendapat keuntungan bisa lebih cepat. Seperti biasa, apabila saham jatuh, para pemangku hajat di bursa saham akan melakukan berbagai tindakan penyelamatan supaya harga saham bangkit lagi atau istilahnya rebound. Sehingga besar kemungkinan jika kita beli sekarang, maka dalam waktu lebih cepat sudah mendapat keuntungan atas bangkitnya harga saham.

Beberapa pengamat pernah menyampaikan di media, bahwa tren pasar saham biasanya akan naik di akhir tahun yaitu Desember -Januari. Jadi bisa dibayangkan, jika kita membeli reksadana atau saham sekarang, kita bisa mendapatkan kenaikan yang cukup signifikan, karena 2 alasan tersebut yaitu : tindakan penyelamatan dari para pemegang otoritas supaya pasar tidakambruk dan tren akhir tahun yang selalu ditutup dengan kenaikan harga-harga saham.

Jadi bagaimana? Sudah siap dana buat borong saham atau reksadana saham? Kalau masih takut, coba yang lebih kecil resiko yaitu reksadana campuran (saham dan obligasi) dan tidak usah banyak-banyak. Kita perlu tahu dan belajar tentang berbagai macam pilihan investasi, terutama perempuan dan ibu-ibu. Dan investasi bukan hanya saham, reksadana atau obligasi. Ada berbagai macam dan berbagai jalan. Investasi bukan suatu hal yang sulit dipelajari, dan bukan hal yang rumit.

Menabung sudah tidak tepat lagi disebut investasi karena tingkat inflasi yang begitu tinggi. Inflasi? Iya inflasi itu adalah jika hari ini kerupuk harganya Rp 500 per buah, padahal 5 tahun yang lalu masih Rp 100. Dengan menabung, dana kita akan sebesar jumlah yang kita tabung, tidak ada pertambahan nilai -kalaupun ada kecil sekali karena bunga bank. Tidak bisa mengejar besarnya tingkat inflasi.

Sudah saatnya, terutama perempuan, untuk melek finansial. Jangan mau dibodohi! Kita jangan hanya disibukkan oleh isu-isu kesetaraan jender, demokrasi,hak asasi manusia dan terorisme tetapi lupa diajari bagaimana mengelola keuangan kita sendiri. Dan para funding (negara donor) menyibukkan kita dengan bantuan untuk pelatihan-pelatihan tersebut supaya kita tidak sempat memikirkan perekonomian yang merupakan fundamental bangsa.

Jika kita takut riba dan halal haramnya investasi, sekarang sudah ada bank syariah dan reksadan syariah. Saya pernah membaca beberapa kali tentang hal tersebut, tetapi belum tahu persis bagaimana pengelolaannya. Mungkin ada yang tahu dan bisa berbagi?

Sudah saatnya kita belajar bersama-sama bagaimana mengelola uang kita. Karena nasib kita ada ditangan kita sendiri.

PS : Barusan baca detik-finance harga saham sudah mulai naik lagi.

Reksadana, sedang Mencoba

In mengelola uang on March 28, 2008 at 7:35 am

Beberapa bulan terakhir saya sedang mencoba investasi di Reksadana. Reksadana ada berbagai macamnya yaitu :

1. Reksadana pasar uang

2. Reksadana Pendapatan tetap

3. Reksadan Pendapatan Campuran

4. Reksadana Saham

Saya memilih di Reksadana campuran (pendapatan tetap dan saham) dan Reksadana saham. karena return yang kita peroleh dalam setahun bisa mencapai 65% dan tidak kena pajak, lebih tinggi daripada jenis reksadana lainnya. Jauh lebih tinggi daripada deposito tentunya, tetapi resikonya juga cukup tinggi. Karena nilai pokok kita bisa turun naik sesuai harga di pasaran atau biasa disebut dengan NAB (Nilai Aktiva Bersih). Sedang Deposito, nilai pokoknya tetap tidak akan berkurang, tetapi suku bunganya cukup rendah 6-7 % dan masih dipotong pajak. Read the rest of this entry »