pasarsapi

Archive for the ‘Mengelola orang’ Category

MASIH ADAKAH PAHLAWAN DI NEGERI INI?

In Mengelola orang on November 9, 2011 at 9:03 pm

Hari Jumat lalu, saya diminta menjadi salah satu narasumber di Coaching Clinic dengan tema “Jadilah Pahlawan Masa Kini, Jadilah Tango Digital Heroes” yang diadakan oleh Wafer Tango. Narasumber yang lain adalah psikolog Rosdiana Setyaningrum M.Psi, MHPed  dan kami pun membahas apa itu pahlawan di masa sekarang. Menarik sekali acara tersebut, karena pertama: diadakan di kidzania jadi saya bisa sekalian bawa anak saya untuk menikmati fasilitas bermain di kidzania, kedua pesertanya adalah teman-teman dari media. Baru sekali ini saya berbicara di depan teman-teman media untuk becerita bagaimana membangun gerakan sosial dengan memanfaatkan social media. Acara ini sengaja dibuat dalam rangka memperingati Hari Pahlawan sekaligus peluncuran program baru Tango Together To Get There, sebuah program berbasis social media.

Saat ini banyak mata tertuju di social media, sebuah platform media baru di mana sekarang sudah dihuni lebih dari 800 juta orang khusus untuk facebook, jadi kalau dianggap sebagai negara maka Facebook adalah negara ketiga terpadat setelah China dan India. Di Indonesia sendiri penghuni facebook sekita 30 juta, sebuah jumlah yang cukup fantastik dengan segala keterbatasan infrastrukturnya.

Banyak gerakan-gerakan sosial yang timbul dari social media, karena di sini kita bisa terhubung dengan banyak orang tanpa batasan geografis, pendidikan, strata sosial maupun jabatan. Bangsa kita dikenal dengan bangsa pemurah, maka tidak heran jika banyak sekali aksi sosial yang bermunculan. Sebut saja Blood for Life, Yatim Online, Indonesia Berkebun, Indonesia Bercerita, Shoe Box Project, dan masih banyak lagi. Kebetulan saya pun ikut serta membangun gerakan belajar gratis yang diinisiasi dari online tetapi kelasnya offline. Nama gerakan tersebut adalah Akademi Berbagi.

Dulu kita selalu diajarkan tentang pahlawan bangsa, yaitu orang-orang berjasa atas berdirinya negeri ini yang kemudian beberapa dari mereka namanya diabadikan menjadi nama jalan, gedung maupun gambar di mata uang. Tetapi apakah pahlawan hanya mereka, yaitu orang yang berjuang mengangkat senjata, bertaruh nyawa memperjuangkan kemerdekaan? Bagaimana dengan sekarang?

Bangsa kita sudah merdeka lebih dari 66 tahun, banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan Negara kita berdaulat baik secara geografis, ekonomi dan sosial. Perlu pejuang-pejuang baru untuk memajukan negeri ini. Dan menurut saya definisi pahlawan perlu dikembangkan  lebih luas lagi yaitu orang-orang yang berjasa atau berbuat baik kepada lingkungannya. Tindakan kepahlawanan bisa dimulai dari yang paling sederhana yaitu menolong tetangga yang kesusahan, atau membantu saudara-saudaranya yang kesulitan meneruskan pendidikan.  Tindakan heroik tidak harus tindakan besar, asal memberikan manfaat buat sesama sudah merupakan tindakan kepahlawanan.

Anak-anak kita yang selama ini hanya menghafal nama-nama para pahlawan,perlu juga dikenalkan tentang apa itu pahlawan. Jiwa pahlawan bisa dipupuk sedari kecil, sehingga ketika besar itu sudah menjadi nilai yang dianut dalam perjalanan kehidupannya. Apalagi anak sekarang banyak yang sudah terhubung dengan tehnologi, mereka bisa memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk mempraktekkan tindakan kepahlawanannya.

Dengan banyaknya kegiatan sosial di online, kita bisa mengajak putra-putri kita untuk ikut serta sebagai bentuk latihan memupuk jiwa kepahlawanan. Salah satu kegiatan social yang mudah diikuti dan berdampak baik bagi teman-teman kita yang kekurangan gizi adalah ajakan dari Tango Together To Get There. Caranya mudah, kita dapat meng-up load video gaya masing- masing dalam menerima, makan dan kemudian seakan memberikan Tango kepada orang disebelahnya ke facebook Tango. Dan setiap satu video yang di up load berarti lima piring makanan bergizi yang akan diberikan kepada anak- anak bergizi kurang di Desa Rabak, pinggiran kota Bogor. Dari situ anak-anak bisa belajar sekaligus melihat bagaimana aksi kepedulian sosial itu dibangun. Tetapi apa yang dilakukan Tango bukan hanya untuk anak-anak, siapa saja boleh berpartisipasi, semakin banyak semakin bagus. Tidak perlu kamera video yang canggih, justru yang ada di handphone sudah mencukupi. Yang penting adalah partisipasinya.

Tidak sulit untuk menjadi pahlawan di negeri ini. Banyak hal bisa kita lakukan untuk membantu sesama, tehnologi semakin mempermudah juga. Maka saya pun tidak akan heran kalau kelak akan banyak sekali digital hero yang lahir di negeri kita. Bukan saatnya lagi kita mementingkan diri sendiri, karena manusia yang berhasil adalah yang paling bermanfaat bagi bumi ini. Selamat hari pahlawan, mari hargai pengorbanan para pahlawan pendahulu kita dengan melanjutkan perjuangan mereka untuk kebaikan sesama.

Advertisements

Belajar untuk Siapa?

In Mengelola orang on October 5, 2011 at 6:10 am

Anak Bula Pulau Seram yang Terus Belajar #AkademiBerbagi

Bekal hidup apa sih yang paling penting? Agama jelas utama, tetapi selain itu apa? Benarkah dengan mempersiapkan harta untuk anak cucu menjamin kehidupannya kelak di masa datang? Mungkin kalau hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan bener kali ya, anak cucu terjamin. Tetapi apakah harta menjadi bekal utama?

Aku adalah anak nomer 5 dari 6 bersaudara. Keluargaku dulu cukup kaya untuk ukuran kampung kami. Dan kakek seorang pejabat yang dahulu ayahnya adalah orang kaya juga. Tidak pernah terpikir di benak keluargaku, bahwa kelak kemudian ayah akan sakit kanker yang butuh biaya besar, sehingga usahanya pun terbengkelai. hari demi hari dijalani dengan terapi dan pengobatan dengan biaya yang tidak murah. Hingga akhirnya ayah dipanggil Tuhan dengan meninggalkan istri serta 6 anak yang semuanya masih sekolah dan butuh biaya. Kakak sulungku masih di bangku kuliah, adiknya 2 orang masih SMA, anak nomer 4 masih SMP sedangkan aku dan adik bungsuku masih SD. Tak terbayangkan betapa sedih dan paniknya ibuku, mengurus 6 orang anak dengan hutang yang ditinggal ayahku karena usahanya bangkrut.

Ibuku adalah perempuan kampung tamatan SMA, dan hanya ibu rumah tangga yang sesekali membantu usaha ayah. Ibuku bukan perempuan biasa, yang kemudian menyerah dengan keadaan atau membiarkan anaknya putus sekolah. Tidak! Bahkan ibuku bersikeras semua anaknya harus sekolah sampai sarjana apapun yang terjadi. Ibarat kata kaki jadi kepala, kepala jadi kaki pun tak mengapa. Pada masa itu, ibuku termasuk progresif cara berpikirnya. Di saat orang lain membiarkan anak-anaknya cukup sampai SMA atau dikawinkan saja, kami harus terus belajar hingga tamat. Ibuku akan sangat marah kalau kami tidak menyelesaikan pendidikan.

Sebenarnya apa yang membuat ibuku begitu berkeras anak-anaknya harus sekolah walau kondisi ekonomi morat-marit? Saat ini aku dan saudara-saudaraku telah menyelesaikan pendidikan hingga sarjana, dan tidak semua kemudian bekerja atau berkarir. Dan baru aku sadari, jika dulu aku putus sekolah, apa yang terjadi? Jaman begitu cepat berubah, semua orang dituntut untuk mempunyai bekal yang cukup dalam ilmu & pengetahuan jika tidak ingin tertinggal. Akhirnya aku pun bersyukur telah menyelesaikan kuliah dan banyak pembelajaran yang aku peroleh selama di bangku sekolah. Memang ilmu tidak selamanya harus di bangku sekolah formal, apalagi jaman sekarang ketika informasi begitu terbuka dan mudah diakses. Tetapi setidaknya dengan pendidikan formal, aku mempunyai bekal untuk melanjutkan hidup secara mandiri, tanpa bergantung pada orang tua lagi.

Ketika warisan pun aku gak punya, pendidikan yang aku enyam ternyata sangat berarti. Bukan sekedar untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk bersosialisasi dan membuat kegiatan sosial yang bermanfaat. Siapa bilang untuk beramal tidak perlu ilmu? Justru dengan berilmu maka jalan amal kita semakin luas. Aku bersyukur dibekali ilmu dan pengetahuan yang cukup, karena kalau pun aku dibekali harta tetapi tidak punya ilmu apa bisa menjaga harta tersebut dengan baik dan manfaat?

Konon katanya knowledge is power. Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan maka dia akan menguasai dunia. Orang-orang yang sukses adalah orang yang cepat merespon setiap perubahan dan membuat tindakan nyata atas perubahan tersebut. Dan semua itu dibutuhkan ilmu pengetahuan. Tidak ada orang yang sukses tapi tidak pernah belajar. Justru orang sukses adalah orang yang belajar terus menerus.

Kita tidak harus jadi presiden atau pengusaha multinasional, untuk menjadi karyawan pun butuh ilmu bukan? Hidup tidak semakin mudah tetapi bukan berarti harus menyerah. Ketika persaingan semakin ketat, di sisi lain peluang juga semakin banyak. Dulu kalau mau sekolah keluar negeri rasanya sesuatu yang susaaaah dan mahaaaal sekali. Tetapi sekarang banyak beasiswa dan kesempatan kerja dan kuliah di luar negeri secara mudah. Akses informasi yang semakin terbuka, batasan antar negara semakin tipis sehingga sekarang bukan hanya belajar yang lintas negara, bisnis pun sudah antar negara.

Seorang teman bercerita, anaknya melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah dihitung-hitung ternyata biayanya sama dengan kuliah di negeri sendiri di universitas swasta yang terkemuka. Dengan belajar di negeri orang, kita bukan hanya dapat ilmu tetapi juga pengalaman dan kemandirian yang tidak bisa diperoleh jika sekolah di sini. Dan sudah barang tentu, komunikasi dalam bahasa Inggris pun semakin lancar. Dan temanku pun berujar bahwa tidak perlu meninggalkan harta warisan, tetapi kasih kesempatan belajar seluas-luasnya Insya Allah bisa jadi bekal hidupnya kelak.

Anakku masih SD sih, tetapi ikut kepikiran juga. Pendidikan seperti apa yang kelak aku berikan untuk anakku? Aku bukan hartawan yang bisa mewariskan milyaran, saat ini ya hahaa…, maka aku pun punya mimpi bahwa putriku bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Bukan sok-sok an, tetapi belajar di negeri orang memiliki tantangan yang berbeda, dan seperti yang tadi aku bilang anak bisa lebih mandiri dan percaya diri berdiri sejajar dengan bangsa lain. Hal itu penting, karena sudah cukup lama kita terjajah baik secara fisik dan sekarang secara mental. Bukan lagi saatnya kita hanya belanja hasil karya dari negeri orang tetapi mereka harus membeli karya kita.

Kita dan orang-orang di luar sana sama-sama diberi otak dan hati, yang membedakan hanyalah apa yang telah kita masukkan ke dalam otak dan hati kita. Kita bisa jadi apapun yang kita mau, asal mau belajar. Karena penguasa dunia adalah mereka yang mengusai ilmu pengetahuan.

Terbangkan Mimpi Rendahkan Hati

In Mengelola orang on September 16, 2011 at 3:54 am

Foto dari corbis dot com

Dulu, karena badanku bongsor dengan tinggi di atas rata-rata manusia di kampungku serta badan yang langsing, seringkali orang bilang’ “jadi pramugari ajah” . Saking seringnya sampai lama-lama bosen dengarnya. Wong aku ini anak kampung, belum pernah naik pesawat bahasa Inggris ndak bisa, mana beranilah bermimpi jadi pramugari. Cita-citaku dulu paling puool jadi pegawai bank kecil di kampungku, dan itu sudah terasa mewah.

Seiring berjalannya waktu, dan karena terlalu sering juga diprovokasi supaya jadi pramugari kemudian aku jadi mikir. Apa iya ya, aku cocok jadi pramugari? Apa iya keterima? Gadis kampung yang bisanya bahasa jawa?  Sambil membaca-baca majalah yang memuat berita-berita tentang kota-kota di luar negeri, diriku pun menghayal. Seandainya aku jadi pramugari, aku bakal mudah berkunjung ke kota-kota dalam gambar itu. Berfoto, mencoba makanan yang asing, jalan-jalan ke museum atau bangunan-bangunan keren, taman-taman yang indah penuh burung dan bunga-bunga warna-warni. Oh indahnya…!

Eits tapi tunggu dulu, tugas pramugari itu apa? Kemudian aku pun bertanya kesana kemari mencari info tentang tugas pramugari. Kebetulan, salah satu kakak kelas di SMA adalah pramugari dan dia bercerita tentang tugas utamanya yaitu melayani penumpang, seperti mengambilkan makanan, atau minuman, memenuhi panggilan penumpang jika butuh sesuatu. Dan harus sabar dengan tingkah penumpang yang terkadang aneh bin nyebelin. Aku pun merenungkan kembali, apa bisa aku melayani orang sedangkan aku seringkali males dimintai tolong ibuku untuk bersih-bersih atau menghidangkan suguhan untuk tamu. Duh, gengsi dong masak jadi pelayan?

Sekarang aku sudah menjadi ibu dan bekerja, mimpi tentang pramugari itu pun terkubur lenyap ditelan rutinitas dan mimpi-mimpi yang lain. Ketika baca-baca ini, aku jadi teringat kembali. Kalau waktu bisa diputar kembali, maukah aku jadi pramugari? Melayani penumpang yang bermacam ragam dan melakukan perjalanan hampir setiap hari serasa tidak punya rumah? Aku akan jawab : MAU! Kenapa? Mari aku ceritakan sesuatu tentang pembelajaran hidup.

Sekian puluh tahun bekerja dan berkegiatan memberikan banyak pelajaran hidup. Pekerjaanku memungkinkan aku bertemu tokoh-tokoh penting, pengusaha sukses dan orang-orang hebat. Aku seringkali mengamati, apa ya yang membuat mereka sukses? Adakah resep yang mujarab? Tentu saja aku tidak menemukan resep jitunya, tetapi ada hal yang menarik yang aku peroleh. Orang-orang hebat itu adalah pemimpin yang handal di bidangnya, entah dia Direktur, CEO, Wirausahawan, Menteri, maupun Gubernur atau Bupati. Untuk Menteri, Bupati dan Gubernur tidak semua sih handal (nanti ada catatan tersendiri untuk mereka), tetapi adalah beberapa yang handal. Dan kunci pemimpin itu adalah melayani. Mereka luwes melayani kolega, klien, konsumen, ataupun warganya.

Beberapa orang sukses yang aku kagumi, hampir sebagian besar adalah orang yang ramah dan rendah hati. Posisi yang diraihnya sekarang berkat kerja kerasnya bertahun-tahun melayani orang-orang yang terkait dengan pekerjaannya. Dan pasti mereka sudah bertemu dengan banyak orang dan berbagai karakter, sehingga mereka bisa luwes menjalin kerjasama. Siapa sih yang tidak senang dilayani? Hampir semua senang dong, dan ilmu melayani itu bukan sekedar “yess men” dan kemudian menjalankan instruksi seperti robot.

Hakikat melayani adalah bisa memenuhi harapan orang lain tanpa kita merasa tertindas dan tak perlu merendahkan diri. Perlu ketrampilan komunikasi dan belajar melapangkan hati.  Kerendahan hati bisa diasah dengan melayani sesama. Bahkan konon, Nabi pun melayani umatnya. Karena kunci pemimpin yang benar adalah melayani. Dan melayani itu tidak ada sekolahnya, semua harus dipelajari dengan praktek langsung.

Bayangin kalau jadi pramugari, aku harus melayani penumpang dengan tulus dan ramah. Menghadapi berbagai macam orang itu penuh tantangan. Di pesawat pasti penumpang berganti-ganti, jadi aku akan ketemu banyak sekali orang. Pekerjaan pramugari tidak mudah, selain masalah skill kita juga harus belajar mengendalikan ego, sehingga bisa melayani dengan tulus bukan sekedar kewajiban. Jika kita berhasil, maka bukan hanya gaji dan jalan-jalan gratis tetapi kita lebih bijak dan siapa tau kelak jadi pemimpin yang sukses mengatur warganya atau pemimpin yang sukses menjalankan usahanya. Selain itu, kita juga bisa membangun networking lho! Pelajaran hidup yang luar biasa, bukan?

Buat kalian yang masih muda, saatnya menimba ilmu dan pengalaman seluas-luasnya. Menjadi pramugari adalah salah satu pilihan yang menarik.  Jadi buruan gih daftar di sini dan Good Luck yaa! 🙂

Rumah Ibu

In Mengelola orang on August 29, 2011 at 4:37 am

Osamaliki - Salatiga

Ibu,

aku telah sampai di rumahmu

Sudah 4 hari ini aku sampai di rumah, di mana aku dilahirkan dan menghabiskan masa kecilku sampai beranjak dewasa.

Aku masuk kamarmu, di mana aku selalu tidur bersamamu jika aku pulang ke rumah Ibu. Kita tidur bertiga di sini, Ibu, aku dan Kika. Semuanya masih sama, kasur besar, lemari besar dan televisi di kamarmu. Di pojokan masih ada juga tumpukan berkas-berkas organisasi di mana Ibu jadi ketuanya.

Ibu,

ketika aku membuka pintu kamarmu, sepi…..

Terlalu sepi dan kosong. Tidak ada tangan yang aku cium, tidak ada pipi keriput yang aku cium, tidak ada senyummu.

Ibu,

Apa kabarmu di tanah suci? Pasti bahagia. Ini mimpi Ibu yang sudah lama sekali. Dulu ketika Ibu menyampaikan keinginan untuk menghabiskan Ramadhan hingga lebaran di tanah suci, rasanya seperti jauh di awang-awang. Tetapi engkau selalu yakin, suatu saat pasti bisa tercapai.

“Aku ingin, sebelum meninggal pernah berpuasa ramadhan di rumah Allah, di Mekkah” begitu ujarmu dulu. Dan Ramadhan kali ini, Ibu benar-benar di tanah suci, sebulan penuh. Sebelumnya, Ibu sempat bertanya : “Kalau aku menghabiskan Ramadhan dan Lebaran di tanah suci, aku egois gak? Kalian Lebaran aku tinggal.” Aku sempat terhenyak! Aah…Ibu, memang kami ingin ketika pulang kampung lebaran ada Ibu yang menyambut di rumah, ada Ibu yang menemani di sahur-sahur terakhir, ada masakan Ibu ketika Lebaran. Tetapi Bu, kalau Ibu bahagia pasti anak-anaknya lebih bahagia lagi. Ramadhan di tanah suci adalah mimpimu sejak dulu kala, kini sudah di depan mata tinggal melangkah, Ibu tidak perlu ragu lagi. Semua anakmu ingin mewujudkan mimpimu. Dan Ibu tidak egois.

Ibu,

aku masih ingat ketika Bapak dipanggil Tuhan dengan tumpukan hutang dan enam anak yang semua masih sekolah, saat itu Ibu benar-benar berjuang seluruh jiwa raga dan perhatian hanya untuk anak. Tidak berani mengungkapkan mimpimu. Saat ini ketika anak-anakmu sudah bisa hidup masing-masing, saatnya Ibu mengurai kembali mimpi-mimpi yang dulu terucap pun tidak berani.

Ibu,

aku di rumah Ibu sekarang. Menuliskan ini dengan haru biru. Di rumah ini aku dilahirkan, di rumah ini juga anakku pertama kali mengenal rumah setelah lahir di rumah sakit. Di rumah ini, perjuangan hidup yang sesungguhnya di mulai. Di rumah ini saksi perjuangan Ibu, saksi kepergian Bapak, saksi waktu demi waktu engkau menempa anak-anakmu.

Ibu,

aku di rumahmu sekarang, rumah di mana hati kita semua tertambat. Hati Ibu dan anak-anakmu.

Selamat sholat Ied di depan Ka’bah Ibu, kutunggu pulangmu dengan bahagia, sehat dan selamat.

Ibu,

Aku rindu….

Ditulis dari kamar Ibu, Ramadhan hari ke 29 menjelang lebaran.

Salatiga 2011

Ramadhan untuk Kika

In Mengelola orang on August 7, 2011 at 3:51 am

 

Bulan puasa penuh berkah. Mungkin bagi sebagian orang hanya jargon rutin setahun sekali, atau ucapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Tetapi buat saya yang abangan ini, bulan Ramadhan benar-benar banyak berkahnya.

Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak belum genap 8 tahun, bulan puasa adalah tantangan tersendiri. Mengajak anak berpuasa sehari penuh, membangunkan sahur dan mengajak makan dengan menu yang ada di meja makan bukan perkara mudah. Sempat deg-degan menjelang bulan Ramadhan. “Kira-kira, saya bisa nggak ya mengajak putri saya berpuasa tanpa paksaan, dan dia melaksanakan dengan enjoy?” Karena di kepala saya, ibadah itu harusnya tanpa paksaan atau ancaman dosa dan neraka. Ibadah harus berhubungan langsung dengan dirinya sendiri. Tetapi mengajarkan itu kepada anak, gimana caranya?

Sahur pertama, Kika –putri saya- bangun dengan semangat karena ada saudara sepupunya yang menemani. Dan dia happy banget bisa sahur bareng ibu, pakde, bude, tante dan saudara sepupunya. Jarang kami bisa terkumpul dalam satu meja. Awal yang baik, dan tanpa tantangan yang berarti. Begitu pun ketika sholat subuh dan mengaji, dia mengerjakan sendiri tanpa disuruh.

Waktu Kakak sepupunya akhirnya pulang, karena liburan usai kekhawatiranku kembali muncul. Kalau tidak ada temannya, mau gak ya Kika dibangunkan sahur? Dengan sedikit upaya, Kika bisa bangun sahur, dan agak sedkiti dipaksa makan. Di hari-hari biasa Kika susah makan, apalagi makan dini hari gak ada menariknya. Tetapi dia tetap mau makan asal disuapi. Ya gak papa, itung-itung itu cara saya meluangkan waktu untuk dia. Karena di hari biasa saya disibukkan dengan mencari nafkah untuk kami berdua, sehingga Kika sering saya tinggal.

Taraweh pertama juga dilakukan Kika dengan baik. Dia menyelesaikan 23 rekaat tanpa berhenti. Sempat protes karena bacaan dia belum selesai tetapi sudah berganti gerakan lagi. Kata Kika, “ngebut banget sih, Bu”. Tadinya saya tidak berharap banyak Kika bisa menyelesaikan seluruh rekaat, mau ikut taraweh saja saya sudah bersyukur. Saya pun menyiapkan sajadah besar, siapa tahu dia ngantuk di tengah-tengah ibadah, maka dia bisa tidur di sajadah samping saya. Ternyata dia tidak tidur, bahkan tidak berhenti. Walaupun agak terkantuk-kantuk. Kita pun yang dewasa susah sekali bukan untuk mengerjakan tarawih 23 rekaat.

Suatu hari, saya kelelahan sekali sehingga habis buka ingin istirahat di rumah tidak taraweh di Masjid. Jarak dari rumah ke masjid cukup jauh. Biasanya kami menumpang mobil pakdenya atau naik taksi. Tiba-tiba Kika bilang : “Ibu, aku mau taraweh ke masjid, tetapi harus sama Ibu.” Akhirnya mau gak mau saya harus berangkat ke masjid. Masak anak saya yang berumur 7 tahun semangat ke masjid, ibunya tidak mendukung? Mungkin orang tua lain kesusahan mengajak anaknya ke masjid, tetapi saya bahkan yang diajak anak saya.

Selama di masjid, selain sholat Isya dan taraweh ada ceramah yang cukup panjang. Kika tetap duduk manis mendengarkan ceramah hingga usai tidak tergoda untuk ikut bermain dengan anak-anak lain yang rame di halaman masjid. Begitu pun ketika taraweh. Anak-anak berseliweran maen dan jalan-jalan keluar masjid, tetapi Kika tetap menjalankan rekaat demi rekaat sambil berhitung kapan selesainya, ha ha haa.

Buat saya itu berkah dan kemudahan luar biasa. Saya bukan orang tua yang religius dan berilmu agama tinggi dan saya juga bukan ibu yang pintar mengasuh anak. Kesibukan saya, seringkali tidak bisa mengajarkan banyak hal terutama tentang agama. Ramadhan memang melimpahkan rahmat untuk keluarga kecil saya. Dalam setiap doa saya, putri saya menjadi anak yang bertaqwa dan memberi  manfaat buat sesama. Saya tidak meminta dia kelak menjadi apa, bisa mandiri dan tidak merepotkan orang lain itu sudah cukup. Karena saya tahu, saya tidak bisa mendampingi selamanya.

Terimakasih Ramadhan, kehadiranmu memberikan banyak hal untuk saya. Karena Ramadhan juga memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi. Saya tidak punya harta yang banyak, tetapi saya punya tenaga dan pikiran yang bisa membantu sesama. Kalau doa untuk putri saya adalah kelak dia menjadi manusia yang bermanfaat, begitu juga dengan saya sendiri. Saya ingin berarti hidup di dunia ini, saya ingin memberikan manfaat bagi sekitar walaupun kecil. Karena seperti kata almarhum Gus Dur : Manusia yang berhasil adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Digital Never Sleep

In Mengelola orang on July 25, 2011 at 4:50 am

Jaman semakin maju, dunia bergerak begitu cepat dan bukan hanya kota besar yang tidak pernah tidur, tetapi “kicauan” di dunia online pun tidak pernah berhenti. 24 jam non-stop. Gak percaya? Cek twitter deh, salah satu arena bersosialisasi di internet, setiap menit bahkan detik selalu bergerak dengan status-status baru. Di satu sisi kita jadi tidak pernah ketinggalan berita dan informasi, tanpa perlu mantengin tv dan baca koran hampir semua informasi tersaji di social media bahkan terkadang lebih cepat. Tetapi di sisi lain kita makin berkurang waktu istirahatnya.

Saya selalu takjub dengan teman-teman di timeline yang tetap terbangun dan aktif di twitter hingga dini hari, padahal esok pagi mereka harus bekerja, meeting atau melakukan aktivitasnya. Pernah bertanya pada beberapa orang, “Apa gak kliyengan paginya?” Jawaban mereka rata-rata sama, “Sudah biasa” atau banyak juga yang menjawab karena mereka kesulitan tidur atau insomnia. Daripada bengong yang udah “berkicau” di online.

Teknologi yang semakin canggih, katanya membuat kualitas hidup semakin meningkat. Semua berjalan serba cepat dan efisien. Tetapi benarkah kualitas kita meningkat? Contohnya saya aja nih! Pekerjaan saya sekarang banyak berhubungan dengan dunia online dan digital. Bangun tidur bisa langsung kerja tanpa perlu memkirkan mandi atau pake baju apa hari ini. Yang penting koneksi internet lancar jaya, pekerjaan pun ikut lancar. Tetapi karena bisa kapan saja dan di mana saja, saya jadi seenak-enaknya mengerjakan pekerjaan. Bisa malah hari, subuh, siang atau kalau lagi dikejar-kejar garis mati bisa siang sampai siang lagi. Beberapa teman bilang, enak banget kerja seperti saya. Bisa kerja di mana saja, dan hang out kapan saja. Bener begitu ya? Eiitss..! Nanti dulu. Hukum dari dunia online yang hidup dalam 24 jam berarti semua berproses dalam 24 jam juga yang itu berarti masalah bisa timbul di jam berapa aja. Kalau dini hari, ya dini hari itu harus diselesaikan. Haram hukumnya delay di dunia online hahahaa..

Suka perhatikan juga gak, karena semua terhubung dengan dunia digital, dan para asisten di rumah juga pegang HP, untuk memanggil atau menyuruh mereka pun seringkali kita menelpon atau sms mereka, males untuk berjalan ke dapur. Hayo siapa yang begitu? Apa-apa tinggal telepon, males jalan ke halte bus telpon taksi. Males jalan ke rumah makan, telepon delivery. Oh sungguh semakin mudah hidup kita.

Jadi hidup kita berkualitas ya? Makin gak jelas jam kerjanya, makin males bergerak, liburan pun masih sibuk dengan gadget kanan kiri karena bisnis tidak bisa ditunda, itu berkualitas ya? Ho..ho..ho..

Ngomong2 tentang kualitas hidup dan tentunya nyambung dengan gaya hidup, gaya hidup yang tidak teratur dan tidak sehat itu kalau berlarut-larut, memperbesar peluang untuk terkena penyakit yang krtiis lho.  Ada artikelnya di sini (http://www.thejakartapost.com/news/2011/01/08/unhealthy-lifestyles-give-rise-new-killer-diseases.html) yang menggaris bawahi hal itu.

Wahai para manusia modern, suka periksa kesehatan gak? Suka cek-cek ke laboratorium secara rutin gak? Kita asyik dengan fasilitas alat-alat canggih sehingga pekerjaan kita semakin maju tetapi tanpa disadari mengabaikan pola hidup yang kurang sehat. Badan kita ya sama dengan mesin, harus ada saatnya berhenti, harus ada saatnya direparasi, harus ada saatnya di cek up. Apalagi kalau pola makan tidak sehat, lengkap sudah!

Apabila Anda memang termasuk dalam kelompok orang-orang tersebut, sudah waktunya Anda berhati-hati. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebanyak 36,1 juta orang meninggal dunia disebabkan oleh penyakit jantung, stroke, kanker, dan diabetes (sumber: WHO Global Status Report on Noncommunicable Diseases (NCDs –April, 2011). Penyakit jantung koroner masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, yaitu rata-rata 200.000 pasien per tahun, menurut data Departemen Kesehatan RI. WHO dan Bank Dunia juga

Mari kita berhenti sejenak. Perhatikan badan kita sendiri, sudahkah memberikan haknya secara benar? Ketika penyakit kemudian menyerang, baru kita tersadar dan menyesal. Kalau sekedar masuk angin, demam, atau sakit-sakit ringan yaa okelah bisa sembuh dengan istirahat dan minum air putih serta makan yang benar. Tetapi jika mendadak terserang penyaki yang cukup berat, sudah siapkah? Karena sebenarnya penyakit berat itu tidak ada yang mendadak, pasti sudah ada tanda-tanda sejak awal tetapi sering tidak terdekteksi karena kesibukan. Penyakit berat bukan lagi milik Opa Oma kita, tetapi anak muda produktif pun sekarang sudah banyak yang terserang penyakit berat dan menggerogoti sepanjang umurnya.  Apalagi jika yang sakit adalah tulang punggu keluarga, pencari nafkah utama. Sudahkah diantisipasi jika hal itu terjadi? Bukan mau mendahului Tuhan, tetapi alangkah lebih nyaman jika kita mempunyai persiapan yang baik jika hal-hal buruk menimpa. Banyak kog instrument keuangan yang memberikan perlindungan secara maksimal, tinggal kita harus pintar-pintar mencari dan mempelajari mana yang sesuai dengan kondisi kita. Katanya manusia modern, harusnya melek financial juga toh?

Ketika dunia online tidak pernah tidur, bukan berarti kita begadang sepanjang malam.  Hidup cuma sekali, badan cuma satu, siapa lagi yang menyayangi kalau bukan kita sendiri?

Mari kita tidur, sudah malam.

YORIS

In Mengelola orang, tentang Akademi Berbagi on July 18, 2011 at 4:37 am

Foto diambil dari Facebook Yoris Sebastian 🙂

tulisan ini dimuat juga di http://akademiberbagi.org

Akhirnya kesampaian juga Akademi Berbagi mendatangkan guru Yoris Sebastian berkat bantuan teman-teman @IDkreatif dan PPKI 2011. Sudah cukup lama para murid mengusulkan minta supaya Yoris mengajar.

Sebelumnya, beberapa kali saya sudah bertemu dengan Yoris, tetapi tidak dalam kelas yang cukup panjang. Kali ini saya benar-benar belajar di kelas selama 2 jam mendengarkan dia berbagi ilmu dan pengalaman tentang kreativitas. Dengan suara tidak meletup-letup seperti seorang motivator kondang, tetapi  dengan gayanya yang bertutur membuat kita seperti mendengarkan sebuah cerita tentang perjalanan hidup seorang Yoris yang dari kecil tidak bandel, penakut karena tidak bisa naik sepeda hingga kemudian dia berada di posisi sekarang ini. Stereotip di kita adalah anak bandel = kreatif. Dan Yoris tidak bandel tapi kreatif abis. Dia juga bukan anak yang menonjol dibanding kakaknya yang memiliki IQ jenius, tetapi karya-karya Yoris adalah jenius!

Yoris, menyampaikan sesuatu, tanpa teriakan, tanpa semangat palsu dengan mengucapkan Selamat pagi! walaupun sudah malam, tetapi justru lebih mudah diterima. Apa adanya tetapi mengena. Dia bercerita bahwa kreatif bukan genetis tetapi bisa dipelajari dan harus dilatih. Kreatif tidak harus melanggar peraturan, justru kreatif itu adalah bagaimana meng-adjust ide kita dengan norma yang ada tanpa kehilangan sisi “tidak biasa”.

Kreatif juga bukan soal budget, kreatif adalah bagaimana menggunakan dana yang ada untuk sesuatu yang lain dari biasanya dan menjadi perbincangan orang. Kreatif juga bukan ide-ide yang spektakuler, justru menemukan hal-hal kecil yang berbeda tetapi mempunyai nilai manfaat.

Bikin seminar launching perusahaan di bioskop, program music I Like Moday, undangan nikah berupa celemek dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak biasa tetapi justru mengena.

Bagaimana dengan ATM = amati, tiru, modifikasi? Yoris menuturkan bahwa untuk diawal-awal atau untuk supaya dapur tetap ngebul itu sah-sah saja, karena memang banyak hal sukses adalah hasil modifikasi. Tetapi seiring jam terbang yang sudah cukup, dan financial sudah memadai perlu bagi orang-orang kreatif untuk menciptakan karya yang original. Karena itu menjadi pencapaian yang akan melekat dalam diri kita untuk lebih percaya diri dan milestone untuk membuat lompatan yang lebih besar lagi.

Hingga akhir kelas, saya masih terpukau. Yoris mempersiapkan semuanya dari cara bicara, gaya pakaian, penggunakan asesoris hingga tas kerjanya. Semua berbeda dan tidak biasa. Satu hal yang membuat saya semakin hormat adalah, dengan semua pencapaian dia, Yoris tetap manusia yang rendah hati.

Terimakasih Yoris, setelah buku pertamamu Creative Junkies ditunggu buku berikutnya.

Terimakasih …

In Mengelola acara, Mengelola orang on May 13, 2011 at 5:54 am

Semalam Akber Akbar telah rampung digelar.

Tamu-tamu undangan istimewa berdatangan. Istimewa? Iya, para guru yang selama ini membagi ilmu dan pengalamannya dengan gratis di kelas-kelas Akademi Berbagi.

Murid-murid yang semangat  datang dan belajar dari guru Yanuar Nugroho, dosen dari Manchester University, UK. Beliau berbagi hasil penelitiannya.

Tidak ada biaya yang kami keluarkan, semua sumbangan dari teman-teman baik hati. Bareng sama Internet Sehat kita bikin kelas yang cukup besar untuk 300 orang di Goethe Institute.

Konsumsi, dari Moz5salon milik Mbak Yulia Astuti. Terimakasih banyak mbak, udah repot-repot membelikan kue-kue dan masukin dus satu per satu :’)

Goodi bag, dari teman-teman Saling Silang di Langsat. Malam-malam nodong ke Pak Didinu dan langsung diiyakan. Duh, maturnuwun nggih, Pak :’)

Panitianya, adalah teman-teman baik hati dari Akademi Berbagi. Gak dibayar, gak diongkosin pulang pulak. Ah, kalian terimakasih banyak. Sungguh haru hatiku :’)

Mendadak dibuatin video streaming dari teman-teman Blogvaganza. Terimakasih Pak Fajar Eridianto dan Shantie, jauh-jauh dari Bandung demi tersebarnya virus positif Akademi Berbagi di seluruh penjuru negeri :’)

Yang pasti, terimakasih juga atas kerjasamanya yang baik teman-teman Internet Sehat serta dukungannya dari XL dan detikcom. Semoga kita tetap bisa bekerja bareng menyebarkan virus cerdas buat teman-teman di seluruh daerah di Indonesia.

Buat guru malam itu, Mas Yanuar Nugroho terimakasiiih tak terhingga! Materi yang menarik dan bermanfaat jauh-jauh datang dari UK. Dan juga Mas Onno W. Purbo yang ikut memberikan ‘pelajaran’ buat gurunya hahaaa…

Ada tamu istimewa semalam, yaitu Mas Harry Van Jogja, pengayuh becak keren dari Jogja yang punya akun berbagai social media, dan menerbitkan buku!

Berkumpul bersama orang-orang yang baik hati itu sungguh menyenangkan. Tidak ada yang sulit jika mau berbagi dan bekerjasama. Biarlah di luar sana mereka yang berjulukan pejabat dan orang penting berulah tak penting, kita di sini bareng-bareng teman bersemangat menyebarkan virus kebaikan.

Malam itu saya semakin percaya, masih banyak orang hebat dan orang baik di negeri ini.

Jakarta, 12 Mei 2011 tidak adan terlupakan

Indonesia harus Cerdas. Stop Complain Do Something!

In Mengelola orang on April 19, 2011 at 3:13 pm

*foto ini ngambil dari http://www.satuhati.com/who-we-are *

Kalau menjelang hari Kartini begini, apa yang kalian ingat? Waktu sekolah pakai baju daerah ikut bermacam-macam lomba dari memasak, menyanyi, peragaan busana, gulung stagen sampai bikin drama. Seru yaa…masa-masa sekolah memang indah dan menyenangkan. Banyak teman, banyak aktivitas dan bebas merangkai mimpi. Kalau anak sekolah sekarang gimana ya?

Mengingat-ingat jaman sekolah memang menyenangkan … etapi bagaimana dengan yang tidak bisa bersekolah? Masih ada gak ya? Kan katanya SD sekarang gratis ya? Kalau SMP gratis juga gak ya? Tapi masih ada pungutan sana-sini atau bener-bener gratis sih? Pada kenyataannya masih ada lo yang tidak mampu bersekolah. Okelah kalau bisa ikutan SD gratis, tetapi selanjutnya bagaimana? Sekarang pendidikan SMP aja tidak cukup apalagi SD.

Saya sebenarnya bukan penganut paham anak wajib sekolah formal, karena saya percaya banyak ilmu berserak-serak di luar sekolah formal. Tetapi pendidikan dasar itu penting terutama tentang budi pekerti, sosialisasi dan kemampuan mengembangkan daya nalar & kreativitas. Apakah harus diperoleh di sekolah formal? Tidak harus sih, tetapi sistem di negara kita yang masih mensyaratkan berbagai macam ijazah untuk memperoleh sesuatu, menjadikan pendidikan formal menjadi penting. Kecuali jika kelak segala peraturan birokrasi itu dihilangkan.

Sekarang coba tengok kanan kiri kita. Masih adakah yang belum bersekolah minimal sampai SMU? Biaya hidup yang mahal mau gak mau ikut menyeret biaya sekolah menjadi mahal. Mungkin SPP gratis, tetapi yang lainnya: buku, seragam, iuran sekolah, dana kegiatan bla..bla..bla…ujungnya banyak juga ya biaya bersekolah secara normal. Terus bagaimana jika tidak mampu? Ya berhenti sekolah Kak…ya ngamen aja Kak… ya ngasong di jalanan aja Kak. Miris. Kita yang diberi anugerah bisa sekolah dan bisa menyekolahkan seringkali gemes pengin anak-anak di jalanan itu kembali ke sekolah. Tapi gimana caranya? Kita aja udah rumit dengan berbagai kebutuhan yang semakin hari semakin membumbung tinggi ke langit yang abu-abu.

Sebenarnya banyak cara kog. Sekarang kan banyak lembaga atau kegiatan yang membantu anak-anak untuk bersekolah. Seperti yatim online, beasiswa Sampoerna Foundation, beasiswa Djarum, beasiswa Riyanto dan masih banyak lagi. Kita gak harus jalan sendiri, tetapi bisa bergabung dengan memberikan donasi kepada mereka. Daripada sendiri, bersama-sama itu lebih meringankan. Gak punya uang? Ada cara lain kog untuk membantu. Bisa sumbang buku, bisa sumbang tenaga jadi relawan, bisa sumbang unjuk bakat dengan cara yang gampang. Tadi saya melihat di sini www.satuhati.com keren deh konsepnya. Jadi kita bisa milih mau nyumbang dengan cara apa, nyumbang uang juga bisa, tinggal transfer aja. Donate Yourself!

Senang kalau semakin banyak anak yang bisa bersekolah dengan baik. Tetapi apakah sekolah aja cukup? Apakah belajar cukup di sekolah? Lagi-lagi itu saja masih kurang. Perkembangan dunia seakan mengajak kita berlari, kemajuan teknologi hari per hari. Kita harus terus belajar belajar dan belajar. Memang belajar harus sampai ajal menjemput bukan? Karena hakekat hidup adalah perjalanan belajar.

Saya dan teman-teman yang haus belajar dan pengin belajar dengan murah dan gampang kemudian membuat kelas informal namanya Akademi Berbagi. Itu benar-benar karena kami ingin belajar dari orang-orang pintar, bukan hanya ilmu tetapi juga pengalamannya. Konon pengalaman mahal harganya. Di Akademi Berbagi belajar dari pengalaman orang dengan gratis.

Kita sengaja bikin rutin, karena belajar memang harus terus menerus. Gak Cuma di Jakarta, tetapi di Semarang, Jogja, Surabaya, Solo, Palembang, Medan, dan Ambon. Semoga daerah lain menyusul yaa… Gampang kog bikin Akademi Berbagi di daerahmu. Asal ada kemauan pasti ada jalan. Kata Bapak saya, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa, adanya karena kalian tidak mau. Senang lo punya akademi berbagi jadi ajang silaturrahhiim, bikin jaringan relasi, nambah ilmu … siapa tahu dapat jodoh *eh ..maksudnya dapat proyek atau pekerjaan. Asyik kan? Berbagi selalu bikin happy.

Jadi, makin banyak aja cara kita berkontribusi untuk dunia pendidikan di negeri kita. Kita semua percaya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang bisa membuat kita maju. Kita harus terus menerus mengupakan bangsa kita menjadi bangsa yang pintar, karena harga diri dan kepercayaan diri terbangun karena kepintaran. Slogan #IndonesiaCerdas menarik bukan? Akan semakin menarik jika tidak sekedar jadi slogan dan benar-benar jadi bangsa yang cerdas. Stop complain! Stop mengeluh! Donate Yourself!

Modal Informasi, Belajar ke Luar Negeri bukan Mimpi

In Mengelola orang on April 1, 2011 at 3:07 am

 

Minggu lalu saya datang ke acara ACCESS Education Beyond (ACCESS) Open House & Launching di Sampoerna Strategic Square (SSS) pengin tahu informasi apa yang bisa kita peroleh di sana. Gedung SSS menurut saya adalah salah satu gedung yang keren di antara deretan gedung-gedung di sepanjang Sudirman-Thamrin. Gaya Eropa dengan pilar-pilar besar, besi-besi serta lampu gantung sebagai ornamen membuat gedung itu seperti museum di Eropa. Kantor ACCESS menempati lantai Mezzanine tidak terlalu luas tapi cukup “homey” dan sepertinya sangat sesuai berada di gedung tersebut. Modern tetapi hangat.

Masuk ke ruangan disambut oleh para staf yang ramah dan “helpfull” sehingga kita tidak canggung untuk banyak bertanya dan mencari informasi. Sempat bertemu dengan Education Counselor yang ramah, dan kita dilayani di ruangan khusus sehingga lebih personal dan leluasa bertanya serta mencari informasi yang kita perlukan. Saya pun mendapat penjelasan bahwa ACCESS bukan lembaga pemberi beasiswa, tetapi program persiapan pendidikan tinggi untuk pelajar yang ingin bersekolah di Amerika dan di negara lainnya. ACCESS memberikan bantuan konsultasi, bimbingan serta strategi agar sukses bersekolah di luar negeri. Sebagai konsultan pendidikan, tentu saja mereka juga punya data tentang beasiswa studi di seluruh dunia yang ternyata banyak sekali bukan hanya S2 atau S3 tetapi ada juga untuk S1, diploma dan lain-lain.

Sempat bertemu dengan Direkturnya Mr. Brook W. Ross yang sangat ramah dan fasih berbahasa Indonesia. Beliau bercerita tentang pengalamannya membantu teman-teman di Indonesia yang ingin sekolah di luar negeri dengan kemampuan financial yang terbatas. Katanya, yang penting adalah kemauan, punya potensi dan komitmen pasti akan mendapatkan jalan. Salah satu yang berkesan adalah ketika membantu teman di Aceh yang hanya tamatan SMA ingin belajar tentang kesehatan di luar negeri karena menurutnya ilmu itu penting untuk membantu saudara-saudaranya di Aceh. Mr Brook kemudian berusaha mencarikan informasi tentang beasiswa tersebut, beserta persyaratan yang diperlukan. Akhirnya teman dari Aceh tersebut, bukan hanya mendapat beasiswa untuk studi tetapi juga living cost atau biaya hidup semuanya ditanggung. Sampai saat ini, dia masih menjalankan studinya di Amerika.

Saat ini informasi menjadi sangat penting, dengan informasi kita bisa mendapat berbagai kesempatan bukan hanya studi tetapi juga pekerjaan. Dan kita juga lebih berani dan percaya diri. Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk belajar di luar negeri tetapi jangan lupa, carilah informasi di tempat yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan supaya kita tidak mengalami kesulitan di negeri orang.

Kebutuhan akan studi di luar negeri semakin besar. Banyak anak-anak yang ingin melanjutkan studi di luar negeri semenjak SMU untuk memudahkan dalam melanjutkan studi yang lebih tinggi. ACCESS melihat perkembangan tersebut, sehingga kemudian membuka lembaga konsultasi studi ke Amerika dan negara lainnya. Bukan hanya karena semakin tinggi peminatnya tetapi juga ingin membantu lebih banyak teman-teman di Indonesia. Selama ini informasi dikuasai oleh Jakarta dan pulau Jawa, padahal banyak anak-anak berpotensi di luar Jawa. Untuk itu ACCESS mengadakan roadshow di berbagai kota selain Surabaya yang sudah dilaksanakan tanggal 28 Maret yaitu Bali tgl 26 Maret, Balikpapan 29 Maret , Palembang 31 Maret dan Medan 1 April. Dan sudah barang tentu pameran juga akan diadakan di Jakarta pada 3 April 2011. Tidak menutup kemungkinan akan diadakan di daerah-daerah lain juga. Tunggu saja, semoga bisa terlaksana dalam waktu dekat.

Tiba-tiba teringat pembicaraan semalam dengan Pidibaiq salah satu “orang gila” yang sangat kreatif tentang pengalamannya ke Belanda.

“Hanya 2 minggu di Belanda tapi saya merasa 70 tahun lamanya. Karena pengalaman di sana mengubah banyak hal dalam diri saya. Saya dibukakan mata, bukan karena ilmu yang canggih tetapi karena sikap hidup orang-orang hebat di sana. Mereka begitu sederhana tetapi luar biasa. Jadi yang terpenting adalah sikap dan pola pikir, karya dan ilmu akan mengikutinya. Pergilah ke luar negeri, belajarlah di sana jangan hanya diam di negerimu karena kamu hanya akan menjadi orang yang manja. Negeri ini terlalu memanjakan kita sehingga kita lebih sering mengeluh daripada berusaha. Lihat di luar sana, kamu akan menyaksikan dan harus melakukan kerja keras yang sesungguhnya.”

Terimakasih Surayah Pidibaiq. Kamu benar!