pasarsapi

Archive for the ‘Mengelola acara’ Category

Mudik Nyaman, Mungkin Banget!

In Mengelola acara on August 26, 2011 at 7:44 am

Lebaran menjelang. Kerepotan apalagi selain pengeluaran yang pasti lebih besar dari hari biasa dan persiapan mudik? Iya mudik bagi sebagian orang adalah ritual yang tidak mungkin ditinggalkan termasuk saya yang masih punya Ibu dan Simbah di kampung halaman. Apalagi kalau membawa anak, repotnya dua kali lipat. Untung anak saya sudah berumur 8 tahun, jadi kerepotan tidak sebesar jika anak-anak masih balita. Bahkan sesekali putri saya bisa membantu membawakan buntelan mudik hehee…

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jika pengin mudik dengan nyaman tanpa menguras kantong maka harus memesan tiket jauh-jauh hari. Kalau mendadak tinggal dua pilihan : tiket harganya selangit atau tidak kebagian sama sekali. Agenda mudik, wassalam.

Saya sebenarnya sudah merencanakan mudik jauh-jauh hari dengan menggunakan mobil, karena kebetulan ada mobil yang harus di bawa ke kampung. Tetapi di tengah bulan Ramadhan dapat kabar, mobilnya masih disewa sampai tanggal 10 September. Waduh! Pilihan tinggal mencari tiket dengan harga selangit, atau menumpang mobil saudara. Saya lebih memilih menumpang mobil kakak, yang kebetulan memang kosong. Tetapi jadwal kepulangan, tergantung hari liburnya Kakak yang pasti sangat mepet dengan hari lebaran. Membayangkan jalanan menjelang hari – H pasti padat merayap berhenti alias macet, sambil berdoa semoga kemacetan tidak parah sehingga kami tidak terpanggang kelamaan di jalan. Saya pasrah saja, daripada tidak mudik lebih ngenes lagi.

Ketika membaca salah satu milis yang saya ikuti, ada pengumuman tawaran mudik gratis, pulang tanggal 25 pagi. Wah, serasa dapat durian runtuh, karena tepat tanggal segitu anak saya sudah libur. Kalau saya sih bisa mudik kapan saja, karena gak punya kantor, seorang freelancer online yang bisa bekerja dari mana saja. Eitts..tunggu dulu! Tiketnya untuk berapa orang, dan menurut info rutenya ke Surabaya, padahal saya turunnya di Semarang. Iseng-iseng mencoba mengontak panitia yang menyediakan mudik gratis, siapa tahu saya beruntung!

Tuhan Maha Baik, saya masih diberi jalan keluar yang menyenangkan. Ternyata oh ternyata saya bisa turun di Semarang dan vouchernya berlaku untuk dua orang. Pas banget! Dan saya pun kemudian sibuk mempersiapkan mudik yang dipercepat. Ngebut dalam dua hari menyelesaikan segala kewajiban di ibukota, dan ngepak baju-baju serta perlengkapan buat mudik. Hasil pengepakan adalah satu tas koper besar, dengan 2 tas jinjing. Hadueh banyak banget yak! Terpikir bagasi di kabin kereta kan kecil, mana bisa koper saya yang segede gambreng bisa masuk? Ya sudah, nanti ditaruh di kaki, sempit-sempitan dikit tak mengapa yang penting bisa mudik lancar selamat. Sempat membayangkan Gambir pasti penuh sesak, jadi mesti siap-siap tenaga ekstra untuk nyeret koper berdesak-desakan sambil nggandeng anak supaya tidak lepas.

Rabu pagi, Kika putri saya sudah tidak sabar untuk mudik. Saya pun berdoa semoga nanti dimudahkan semuanya. Saya adalah Emak yang selalu cemas jika perjalanan ini tidak membuat nyaman anaknya. Segala hal saya persiapkan untuk membuat nyaman : membawakan makanan kesukaan dan mainan supaya tidak bosan di kereta yang pasti penuh sekali.

Sampai di Gambir, sudah ada meja penerima peserta mudik meriah untuk menukarkan voucher dengan tiket kereta. Ternyata Gambir tidak penuh sesak, dan kami melalui pintu khusus yang bebas serbuan porter dan calo. Di meja penukaran voucher kami dilayani dengan baik. Selain tiket gratis ternyata saya juga mendapat berbagai macam bingkisan : ada makanan, minuman, tas, kaos dan bantal. Wah, menyenangkan ternyata mudik gratis ini. Gak cuma itu, tas saya yang segede gambreng pun langsung diterima di meja yang ada tulisannya “BAGASI”. Kata petugasnya, tasnya nanti ada ngurus untuk dibawa sampai di kereta tepat di kursi sesuai dengan nomer kursi. Alhamdulillaaaah….apa yang saya kuatirkan pun lenyap. Saya gak perlu nggotong-nggotong koper hingga lantai paling atas. Sambil menunggu kereta siap, kami duduk manis ditemani penampilan band yang menyanyikan lagu-lagu seru. Penumpang mudik pun ikut serta menyanyi dan bergembira ria.

Tiba waktunya harus naik ke kereta. Dipandu oleh petugas, kami dengan tertib menaiki kereta. Tidak perlu berjejal-jejal dan berebut. Dan kereta nya pun ternyata kereta khusus untuk acara mudik meriah. Masuk ke gerbong 2 sesuai tiket kami, saya takjub. Woow…! Ternyata keretanya benar-benar bagus dan lega. Ukuran lega buat saya adalah kaki. Saya perempuan dengan ukuran extra ordinary karena tinggi badan mencapai 175 cm sering kerepotan meletakkan kaki di transportasi publik. Di Kereta ini, ternyata nyaman sekali. Tempat kaki luas, bangku juga lebih nyaman, dan bagasi kabinnya ternyata gede banget. Koper saya pun muat ditaruh di atas tanpa perlu menggangu posisi duduk kami. Senangnyaaaa….!

Benar-benar berkah mudik kali ini. Dapat kereta bagus, gratis, penuh dengan bingkisan dan di dalam kereta ada bacaan gratis. Belum habis itu semua, selama perjalanan ada games berhadiah dan pembagian makanan..lagi! Kika pun happy dan sempat komentar : “Seperti di pesawat ya, Bu”

Perjalanan pagi – siang pun tidak lagi membosankan. Biasanya saya menghindari perjalanan pagi, karena lebih lelah dan bosan. Kalau malam kan tinggal tidur, tau-tau sampai deh! Tapi untuk kali ini, sungguh menyenangkan. Kami bisa menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan yang memang cukup bagus. Apalagi setelah masuk Jawa tengah menjelang Semarang, kita akan disguhi pemandangan sebelah kiri laut dan sebelah kanan tanaman padi hijau menghampar. Eksotis!

Kereta berjalan tepat waktu, dan sampai pun tepat waktu juga. Tidak ada hal-hal yang mengganggu. Tampak panitia dan penyelenggara mempersiapkan mudik meriah ini dengan sangat baik. Terimakasih Telkomsel sudah mengajak saya dan putri saya mudik bareng. Walapun saya pengguna Telkomsel sejak jaman dulu kala hingga kini, tetapi saya tidak pernah menyangka akan diajak mudik bareng. Teman-teman dari Telkomsel pun melayani dengan ramah dan sangat membantu. Buat saya seorang ibu yang melakukan perjalanan dengan anak, kenyamanan adalah utama. Dan telkomsel telah membuat perjalanan kami nyaman dan senang.

Saya adalah kelompok pertama yang mudik dengan kereta, karena menurut informasi ada 4 kelompok mudik kereta yaitu tanggal 5 September pagi dan malam serta tanggal 26 pagi dan malam. Selain kereta, semua moda transportasi disediakan untuk mudik meriah ini yaitu transportasi darat, udara dan laut. Selain kereta ada juga bis dengan segala arah tujuan.

Selamat mudik teman-teman, tiada yang lebih bahagia bisa berkumpul dengan keluraga dan sanak saudara. Pastikan perjalanan mudik kalian nyaman, dan selamat sampai tujuan. Hati-hati ya..!

Advertisements

Perjalanan Kreatif Jakarta – Surabaya

In Mengelola acara on June 24, 2011 at 5:16 am

 

JAKARTA

Kelar sudah hajatan bertajuk KREATIVITAS. Apakah gerangan itu? Sebuah talkshow atau sharing bareng kawan-kawan komunitas online FRESH (Freedom of Sharing) di Jakarta dan Surabaya. Setiap daerah memberikan cerita yang berkesan dan menyenangkan. Mungkin kalau di Jakarta udah biasa ya, secara saya tinggal dan bergaul dengan teman-teman Jakarta. Tetapi tetap saja menyenangkan sharing bareng mereka, apalagi yang datang teman-teman dari komunitas online yang udah lama gak ketemu sehingga sekaligus jadi acara reuni. Inget pas awal-awal ikutan FRESH ini sekitar setahun lalu ya..eh setahun atau dua tahun lalu ya? Rasanya udah lama sekali. Dari FRESH ini saya mulai berkenalan dengan teman-teman netizen atau onliners. Dari FRESH juga saya belajar tentang dunia digital yang kala itu masih sepotong-sepotong saya pahami walaupun sudah cukup lama mengelola portal di kantor saya dulu.

Acara FRESH Kreativitas selain menjadi ajang reuni, juga mempertemukan teman-teman lama dan teman-teman baru, karena pembicaranya kebetulan bukan pembicara yang biasa bicara di forum sharing onliners. Ada Anto Motulz, mantan komikus (sorry Kang aku sebut mantan 😀 ) yang sekarang menjadi Creative Head PT Saling Silang dan ada Denny Sumargo mantan atlit basket selain Mba Dian Noeh Abubakar Senior VP Weber Shandwick yang sudah sering diminta jadi nara sumber dalam diskusi teman-teman onliners.

Motulz dan Deny jadi narasumber fresh alias menyegarkan dan memberikan wawasan yang berbeda. Motulz salah satu alumni FSRD ITB dan sering menjadi dosen tamu untuk kelas kreatif sedang giat-giatnya berbagi ilmu dan pengalaman. Tujuannya adalah membuka wawasan kita bahwa kreatif itu bukan bakat, bukan milik para artis dan seniman, tetapi kreatif itu adalah sebuah pola pikir yang harus dimiliki oleh semua orang. Kreativitas itu harus dipelajari dan dibiasakan dengan cara banyak bermain dan iseng. Seru kan! Motulz juga mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai proses, tidak semata-mata mengejar hasil. Segala hal yang serba instant dan hanya mengejar hasil ternyata memberikan dampak yang cukup serius terhadap mental dan pola pikir. Kita jadi ingin hasil yang besar usaha minim. Sibuk mengejar nilai tanpa tanpa menghargai proses usahanya. Seperti kondisi pendidikan saat ini bukan?

Fresh dan Extra Joss bekerjasama membuat diskusi ini, untuk mengajak kita semua supaya lebih kreatif tanpa melupakan stamina tubuh terutama untuk teman-teman yang bergelut di dunia digital. Di mana perubahan begitu cepat, dan tidak ada lagi batasan geografis sehingga untuk bertahan tidak ada lain selain harus lebih kreatif dan tentu saja jaga badan. Tanpa stamina yang bagus, sia-sia saja semua ide kreatif karena akan terhambat dengan fisik yang sakit-sakitan. Hal ini sering banget dilupakan oleh teman-teman onliners.

Denny Sumargo memberikan contoh yang baik tentang penggabungan stamina dan kreativitas. Siapa bilang atlit tidak perlu kreatif? Untuk berprestasi, selain menjaga stamina Denny juga harus kreatif bagaimana menjadi atlit yang bukan hanya sekedar latihan rutin tetapi menciptakan strategi-strategi baru ketika bertanding. Tentu saja fisik yang tangguh sangat penting, kalau ganteng itu bonus ya Den? Hehee…banyak teman-teman onliners yang terpukau sama DenySumargo. Hayoo ngaku ajah J

Extra Joss pun tidak ketinggalan berbagi pengalamannya bagaimana mengelolai brand besar. Bapak Loni GM Marketing memaparkan cerita yang cukup menarik, bahwa untuk mendapatkan insight massage yang tepat beliau turun langsung ke pasar ngobrol bareng penjual di warung, pembeli dan masyarakat umum sehingga ketika merumuskan sebuah pesan atau membuat varian baru ada dasar yang cukup kuat. Sebuah kegagalan selalu ada, tetapi justru dari kegagalan itu mereka bisa melompat lebih tinggi.

Satu-satunya pembicara yang paling cantik, Mba Dian Noeh seorang PR yang handal bercerita bagaimana dia menjalankan pekerjaannya hingga di posisi yang cukup strategis, menjadi Senior Vice President untuk perusahaan multi nasional. Bukan hal yang mudah, tetapi justru setiap kesulitan menjadi tantangan dan menambah semangat untuk mencapai tujuan.  Berbagai strategi kreatif telah dihasilkan untuk klien-klien dengan brand yang cukup besar di Indonesia. Dan tentu saja, mba Dian sangat menjaga stamina tubuhnya. Rajin berenang, hampir setiap hari pada pagi hari sebelum bekerja. Karena menyukai tantangan, denger-denger beliau mau ikutan lomba trianthlon. Wooow!

Pesan yang cukup jelas dari semua pembicara : Harus kreatif dan sehat untuk meraih apa yang menjadi tujuan. Tidak ada yang instant, semua perlu proses, latihan berulang-ulang, menerima tantangan dan kegagalan sebagi lompatan untuk lebih berhasil lagi. Tanpa badan sehat, tidak ada hal kreatif yang bisa dieksekusi dengan sempurna. Jadi, jaga badan rajin latihan. Kreatif tidak turun dari langit mas bro dan mbak sis 🙂

SURABAYA

Selesai dari Jakarta, gantian Surabaya yang disambangi Extra Joss bareng teman-teman FRESH Surabaya (FreshSby). Kalau di Jakarta ada Denny Sumargo yang ganteng, di Surabaya ada Harry Van Yogya yang keren. Kenapa keren? Karena dia adalah seorang tukang becak yang menjual jasanya menggunakan twitter, facebook dan email.  Konsumennya kebanyakan orang-orang asing yang ingin jalan-jalan di Jogja dengan menggunakan becaknya. Bahkan para turis itu sudah pesan jauh-jauh hari via email akan carter kapan dan berapa lama. Hebat kan?

Selain pengayuh becak, Harry Van Yogya juga aktif mengajak teman-temannya mengikuti jejaknya memanfaatkan social media untuk mengembangkan diri dan usahanya. Ketika di Jogja ada bencana gunung Merapi, Mas Harry ikut sibuk menggalang bantuan via social media. Selain itu, beliau juga rajin menulis di media massa sehingga akhirnya terbit sebuah buku The Becak Way. Dan beliau sekarang sering masuk TV dan diinterview TV asing juga. Jadi malu sama Mas Harry, karena saya belum menghasilkan satu buku pun 😦

Selain Mas Harry ada Pak Loni GM Extra Joss dan Anto Motulz  yang kurang lebih sama dengan ketika mereka sharing di Jakarta. Yang berbeda adalah pembicara dari Bandung yaitu Kang Dicky Sukmana atau dixxieland, salah satu pemalas yang sukses jadi entrepreneur di Bandung. Karena malas, dia menciptakan sesuatu yang tidak perlu banyak beraktivitas, karena malas dia menciptakan inovasi baru untuk mewadahi kemalasannya. Mendapat julukan Lazypreneur, dia mengajak teman-teman untuk lebih banyak membuat hal-hal kreatif dan inovatif. Selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan, dan tidak pernah menyerah hanya karena kegagalan.

Yang menyenangkan adalah, teman-teman Surabaya sangat antusias dan aktif mengikuti acara sharing tersebut. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, dan tentu saja selalu ada tawa disetiap diskusi. Mungkin orang Surabaya memang lebih suka humor, apapun bisa menjadi sumber kelucuan sehingga diskusi justru semakin menarik. Gaya mereka lebih spontan, dan kelihatan betapa mereka haus akan ilmu-ilmu baru dan wawasan baru. Gak salah mengusung keempat pembicara itu ke Surabaya.

Tetapi dari semua hal itu, yang paling memuaskan saya adalah, ketika ada salah satu peserta yang menghampiri saya dan menyampaikan betapa dia senang sekali dapat ilmu dan bermanfaat untuk pekerjaan mereka. Yaa..manfaat adalah kata sakti yang membuat saya sebagai manusia menjadi lebih berarti.

Jadi jangan lupa : tetap kreatif, rajin berlatih, hargai setiap proses, bikin sesuatu yang inovatif dan jangan lupa tanpa badan yang sehat semua usaha di atas jadi sia-sia. Be healthy and happy!

NB :

Sebagai Project Manager, saya bagikan tips ketika menjalankan suatu event : pastikan segala sesuatu yang diperlukan sudah tersedia H-1, pilih nara sumber yang sesuai dengan kebutuhan lokal tidak harus terkenal tetapi punya value yang dibutuhkan, backdrop harus sesuai dengan ukuran dan bentuk ruangan, sound system dan MC memegang peranan penting, dekati komunitas lokal, siapkan PLAN B jika terjadi hal-hal diluar rencana dan pastikan punya network di lokasi setempat. Kata sakti : cek, ricek, koordinasi. Terakhir : berdoa, karena kuasa TUHAN tidak ada batasnya. Salam 🙂

Terimakasih …

In Mengelola acara, Mengelola orang on May 13, 2011 at 5:54 am

Semalam Akber Akbar telah rampung digelar.

Tamu-tamu undangan istimewa berdatangan. Istimewa? Iya, para guru yang selama ini membagi ilmu dan pengalamannya dengan gratis di kelas-kelas Akademi Berbagi.

Murid-murid yang semangat  datang dan belajar dari guru Yanuar Nugroho, dosen dari Manchester University, UK. Beliau berbagi hasil penelitiannya.

Tidak ada biaya yang kami keluarkan, semua sumbangan dari teman-teman baik hati. Bareng sama Internet Sehat kita bikin kelas yang cukup besar untuk 300 orang di Goethe Institute.

Konsumsi, dari Moz5salon milik Mbak Yulia Astuti. Terimakasih banyak mbak, udah repot-repot membelikan kue-kue dan masukin dus satu per satu :’)

Goodi bag, dari teman-teman Saling Silang di Langsat. Malam-malam nodong ke Pak Didinu dan langsung diiyakan. Duh, maturnuwun nggih, Pak :’)

Panitianya, adalah teman-teman baik hati dari Akademi Berbagi. Gak dibayar, gak diongkosin pulang pulak. Ah, kalian terimakasih banyak. Sungguh haru hatiku :’)

Mendadak dibuatin video streaming dari teman-teman Blogvaganza. Terimakasih Pak Fajar Eridianto dan Shantie, jauh-jauh dari Bandung demi tersebarnya virus positif Akademi Berbagi di seluruh penjuru negeri :’)

Yang pasti, terimakasih juga atas kerjasamanya yang baik teman-teman Internet Sehat serta dukungannya dari XL dan detikcom. Semoga kita tetap bisa bekerja bareng menyebarkan virus cerdas buat teman-teman di seluruh daerah di Indonesia.

Buat guru malam itu, Mas Yanuar Nugroho terimakasiiih tak terhingga! Materi yang menarik dan bermanfaat jauh-jauh datang dari UK. Dan juga Mas Onno W. Purbo yang ikut memberikan ‘pelajaran’ buat gurunya hahaaa…

Ada tamu istimewa semalam, yaitu Mas Harry Van Jogja, pengayuh becak keren dari Jogja yang punya akun berbagai social media, dan menerbitkan buku!

Berkumpul bersama orang-orang yang baik hati itu sungguh menyenangkan. Tidak ada yang sulit jika mau berbagi dan bekerjasama. Biarlah di luar sana mereka yang berjulukan pejabat dan orang penting berulah tak penting, kita di sini bareng-bareng teman bersemangat menyebarkan virus kebaikan.

Malam itu saya semakin percaya, masih banyak orang hebat dan orang baik di negeri ini.

Jakarta, 12 Mei 2011 tidak adan terlupakan

Jejak Pelajaran dari Bandung hingga Makassar

In Mengelola acara on May 10, 2011 at 8:21 am

Menjelajah Indonesia


Sebenarnya sudah agak lama acara Roadshow Detikcom berakhir, tetapi banyak hal yang diperoleh sehingga perlu saya tuliskan di sini. Sebelumnya terimakasih kepada detikcom yang sudah memberi kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk ikut ambil bagian dalam roadshow tersebut.

Di awali dari Bandung, acara roadshow Media Online digelar. Mengambil tempat di hotel, acara tersebut dihadiri sekitar 250 peserta dengan 2 pembicara utama yaitu Budiono Darsono dan Raditya Dika. Acara Seminar ini dibuka untuk umum, siapa saja bisa daftar via online tetapi masih melalui proses seleksi, karena kapasitas ruangan hanya untuk 250 orang. Sebagai acara awal, cukup deg-degan juga, bagaimana kalo target peserta tidak tercapai, karena itu bagian dari tanggung jawab saya.

Setiap daerah mempunyai karakteristik yang berbeda. Jika di Bandung, pendaftar membludak hingga 4 kali lipat dari target, sehingga diseleksi ketat dengan mengirimkan email kepada peserta yang terpilih. Jika memang berminat ikut, mereka harus mereply balik email tersebut, atau kita telepon untuk konfirmasi. Rata-rata mereply email untuk konfirmasi sehingga tidak ada kendala serius.

Lain lagi dengan Semarang. Semarang adalah rute kedua setelah Bandung, dengan pembicara utama Budiono Darsono (BDI) dan Salsabeela (Ollie). BDI menjadi pembicara di semua daerah karena memang temanya untuk membangun jaringan media online lokal. Kalau di Semarang, yang terima email tidak mereply balik, sehingga kita anggap gugur. Pas hari H tiba-tiba datang karena merasa diundang via email, tanpa membaca dengan detil bahwa dia harus membalas email tersebut untuk menyatakan kesediaannya. Alhasil di Semarang peserta melebihi target. Tetapi Alhamdulillah berarti pemintanya banyak.

Ketika di Surabaya ada sedikit kekuatiran karena menurut informasi, kebiasaan masyarakat Surabaya kurang antusias dengan seminar atau diskusi. Untuk mengantisipasi hal itu, kita mengundang melebihi target dan menyebar ke komunitas-komunitas untuk memberikan undangan langsung. Ternyata banyak juga yang hadir dari luar Surabaya, karena mereka ingin belajar dan bertemu langsung dengan BDI dan Adrie Subono. Kekuatiran kami pun hilang, ketika masih pagi peserta sudah berduyun-duyun datang. Padahal itu hari Sabtu. Semua roadshow dilaksanakan hari Sabtu karena selain seminar dari pagi sampai sore, ada workshop khusus membuat portal lokal dengan peserta terbatas, sehingga bagi yang bekerja atau masih sekolah bisa mengikuti tanpa mengganggu aktivitasnya.

Setelah Surabaya, kami bergerak ke pulau Sumatera, diawali dengan kota Palembang. Saya sama sekali tidak ada bayangan seperti apa masyarakat Palembang. Untuk menjangkau peserta selain melalui pendaftaran online yang memang dibuka di semua daerah, kami juga minta bantuan komunitas lokal yaitu Wongkito untuk mengajak teman-temannya hadir di acara tersebut. Karena kami masih ragu, apakah banyak pengguna online di Palembang. Lagi-lagi peserta datang melebih target, dan bukan hanya dari Palembang tetapi juga dari Jambi dan Lampung. Antusias mereka selalu membuat saya terharu. Teman komunitas juga sangat ramah dan sangat membantu. Ada cerita lucu di Palembang. Ketika Raditya Dika menjadi pembicara, seperti biasa dia datang langsung bicara. Selesai bicara ada sesi foto bareng. Di daerah lain sebelum Palembang, yang ingin foto bareng pada naik ke panggung yang lain sibuk dengan urusan masing2. Tidak ada kegaduhan, sehingga Raditya Dika pun santai-santai saja bahkan sempet ngobrol-ngobrol dengan saya tanpa ada yang ngerecoki. Tetapi di Palembang, begitu ada pengumuman foto bareng, semua orang bergerak ke depan dan menyerbu Raditya Dika. Kita sempet agak panik, karena tidak mempersiapkan pengawalan apa-apa. Mereka begitu semangatnya mengejar Raditya Dika, sampai dia agak takut juga hahaa… Akhirnya Raditya Dika kita larikan ke mobil dan dibawa pergi. Woow bener-bener seleb dia 😀

Selesai Palembang, kita bergerak menuju Medan. Pedaftar terbesar melalui online di luar jawa adalah Medan. Tetapi kami tetap mengajak komunitas lokal untuk ikut serta, karena banyak juga teman-teman yang tidak aktif di online. Dapat informasi dari teman Medan, bahwa di hari Sabtu bikin acara pagi hari agak susah, banyak yang telat. Karena kalau di Medan aktivitas di hari Sabtu mulai di atas jam 9 pagi. Semua raodshow di mulai jam 8 pagi untuk registrasi. Pagi-pagi Medan sudah diguyur hujan, duh…pada datang gak ya? Pada telat gak ya..? Tetapi kekuatiran kita tidak terbukti. Jam 8 pagi sudah rame loo walau hujan. Teman saya dari Medan pun terheran-heran ternyata masyarakat di sana semangat sekali. Di Medan pembicara selain BDI adalah Adrie Subono. Sama seperti di Surabaya, beliau membagikan tiket nonton gratis show-nya Java Musikindo dan boleh milih mau show-nya siapa. Detikcom pun tidak mau ketinggalan, memberikan tambahan hadiah berupa tiket pesawat PP serta hotel untuk penginapannya. Sungguh menyenangkan….!!

Padang adalah kota setelah Medan. Di sini pendaftar via online tidak banyak. Ketika detikcom menyebarkan poster-poster informasi roadshow, baru terjadi peningkatan pendaftar via online. Tetapi kita juga sudah mengantisipasi dengan mangajak komunitas daerah ikut serta yaitu Palanta komunitas blogger Padang dan LSM PUSAKA. Di Padang banyak mahasiswa yang ikut serta, dan didominasi oleh Universitas Andalas. Kali ini pembicara pendamping BDI adalah Piyu Padi yang bercerita tentang industry music digital. Peserta yang hadir sesuai target dan semangat. Pagi-pagi sudah memenuhi ballroom untuk registrasi. Ada beberapa peserta yang tidak mendaftar tapi pengin ikut juga. Di beberapa daerah lain juga ada. Kalau kapasitas duduk masih memungkinkan untuk ditambah, kami ijinkan untuk masuk. Kasihan jauh-jauh datang masak ditolak 🙂

Kota terakhir roadshow adalah Makassar. Kita sempet ketar-ketir ketika melihat ruangannya yang kurang begitu besar. Bagaimana jika peserta membludak? Karena kalau dari data pendaftar online, Makassar termasuk kota yang “sadar” internet. Banyak yang menjadi pengguna aktif social media. Pagi-pagi Makassar pun diguyur hujan. Cuaca di sana agak kurang menentu. Jam delapan masih sedikit yang datang, sempet was-was juga kalau pada berhalangan datang. Tetapi menjelang jam sembilan, peserta berduyun-duyun datang, sehingga acara tetap bisa dimulai tepat waktu. Di Makassar pembicaranya adalah Raditya Dika. Di sini penggemarnya banyak juga, bahkan peserta seminar ada anak SMU yang pengin sekali ketemu Raditya Dika hehee…Belajar dari Palembang, tidak ada sesi foto bareng Raditya Dika. Selesai acara langsung digiring keluar. Banyak yang kecewa gak bisa foto bareng. Maaf ya dek 🙂 . Di Makassar pun saya dibantu teman-teman komunitas di sana, yaitu Anging Mamiri. Kebetulan komunitas tersebut aktif di online dan offline.

Setiap kota menyisakan jejak di hati. Setiap kota saya mendapat teman baru. Sungguh menyenangkan. Jadi saya bakal punya teman jalan di setiap kota tersebut jika kelak datang kembali. Mereka sangat ringan tangan membantu dengan senang hati. Saya merasa semakin”kaya’” dengan bertambahnya teman dari berbagai daerah. Jadi pengin ke daerah lain lagi dan menjalin perteman baru. Alangkahnya menyenangkan bisa punya teman di setiap daerah di Indonesia. Woow..!

Ohya, belajar dari pengalaman menjadi tim roadshow tersebut ada beberapa catatan penting yaitu: persiapkan segala sesuatu dengan matang, undangan di sebar 15 – 20% lebih banyak dari target peserta, libatkan setiap komunitas di derah di mana event itu diselenggarakan, pilih pembicara yang memang bagus bukan sekedar terkenal tetapi juga diminati oleh masyarakat di daerah tersebut karena pembicara menjadi daya tarik utama, usung tema yang relevan dengan kondisi saat itu serta publikasi acara tesebut. Publikasi bisa menggunakan media cetak atau online serta social media. Karena di social media kita bisa bercerita tentang event itu seperti apa, pembicaranya bagaimana, apa yang menarik dari event itu, buat live tweet setiap event sehingga daerah berikut jadi penasaran pengin datang. Yang terakhir, jangan lupa berdoa ada tangan Tuhan disetiap perhelatan yang sukses 🙂

Pelajaran yang sangat penting yang saya peroleh dari kegiatan tersebut, yaitu komitmen dan kerja keras dari seorang pemilik sekaligus pemimpin redaksi detikcom. Pesan untuk bekerja keras dan mempunyai komitmen tidak hanya disampaikan dalam setiap seminar, tetapi benar-benar dijalankan. Hal itu nampak dalam persiapan roadshow. Di setiap kota, malam sebelum acara BDI akan cek panggung, cek sound, dan ruangan. Semua dipersiapkan dengan matang termasuk materinya dan beliau turun tangan langsung untuk memastikan persiapan sudah dijalankan dengan benar. Konten masing-masing daerah selalui disisipkan dalam materi sehingga peserta merasa ikut dilibatkan. Kerja keras juga ditunjukkan di semua event. Saya pun terbawa dan merasa bersyukur ikut dalam tim tersebut. Sebuah kerja yang efektif dan efisien. Target pun tercapai. Saya semakin percaya bila kita sungguh-sungguh dan serius menjalankan, rencana pun berjalan dengan baik.

Pesan BDI kepada semua peserta seminar yang kemudian lekat di kepala saya adalah : Fokus dengan tujuan yang jelas, berani menanggung resiko, ukur kemampuan diri, serta cepat dan tepat dalam ambil keputusan. Mau jadi apapun kita, jalankan 4 hal itu. Insya Allah hasilnya baik. Itulah yang dilakukan BDI dalam menjalankan bisnis portal beritanya hingga menjadi sukses dan besar seperti sekarang.

Belajar dari Lelehan Cokelat jilid 2

In Mengelola acara on December 3, 2010 at 2:46 am

Masih penasaran belum mencicipi ice cream fenomenal Magnum si cokelat Belgian? Membaca di timeline twitter perburuan ice cream tersebut sudah cukup mereda. Mungkin konsumen sudah gampang menemukan atau sudah jenuh menunggu?

Setelah sebelumnya saya menulis tentang Magnum yang hilang di pasaran, kali ini saya ingin membahas tentang peran social media agent yang mempromosikan Magnum di dunia digital.  Jika iklan TV adalah komunikasi satu arah, event adalah kegiatan bersama sesaat, lain persoalan dengan social media. Kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka selama akun tersebut masih aktif. Padahal social media agent tidak bertugas selamanya, seringkali mereka dikontrak dalam jangka pendek. Kalau produk tersebut baik-baik saja, lancar di pasaran maka social media agent tenang-tenang saja. Tetapi jika produk tersebut ada masalah?

Seperti kejadian susahnya Magnum dicari di pasaran. Di social media terutama di twitter mereka menanyakan kepada para social media influencer tentang produk tersebut. Bukan hanya bertanya, kadang malah marah-marah menimpakan kekesalannya. Masalah yang lain adalah seringkali para influencer ini tidak tahu apakah produk tersebut memang kurang pasokan atau sengaja dibuat menjadi isu oleh perusahaan. Yang terjadi teman-teman di online tergaga-gagap menanggapinya. Perlu dijawab atau tidak, jika dijawab melanggar aturan atau tidak. Atau bagaimana mereka mesti menjawabnya.

Ketika saya bercerita di twitter tentang ibu yang ngamuk-ngamuk sama SPG karena tidak memperoleh Magnum, sambutan pun rame, hujan reply pun tiba. Beragam komentar mereka : ada yang bertanya apakah itu disengaja oleh perusahaan, ada yang kecewa karena susah mendapatkan dan ada juga yang memberikan  informasi dimana stok Magnum yang masih banyak.

Yang kemudian menarik adalah, twit-twit yang kecewa dan bertanya itu di cc ke buzz agent dari produk tersebut, dan diminta menjelaskan kenapa produk susah dicari di pasaran. Sebenarnya tidak tepat sasaran, tetapi sebuah hukum di dunia online, siapa yang bicara dia akan ditanya. Tidak peduli kita hanya membantu teman, buzz agent, penggemar atau hanya sekedar meng- RT. Karena begitu bersliwerannya berita terutama di twitter dengan cepat membuat orang tidak menaruh perhatian secara detil.

Lagi-lagi sebuah pelajaran bagi pelaku social media sebagai agent suatu brand. Batasan-batasan pekerjaan tidak bisa dibuat jelas dan detil. Seperti jenis komunikasinya yang cair, social media agent harus melebur dalam percakapan yang terjadi sehingga tidak terlalu nampak sedang menjalankan promosi.  Sebaiknya ketika menggunakan social media agent, brand harus paham bahwa mereka akan mengawal dalam kurun waktu tertentu hingga suatu perbincangan mereda. Jika mereka hanya dikontrak pas event saja, besar kemungkinan para agent ini tetap harus berdedikasi melayani  para konsumen di luar masa kontrak. Tanpa petunjuk pelaksanaan, bisa berakibat salah menjawab dan merugikan brand itu sendiri. Bagi social media agent : diam salah menjawab juga riskan. Perlu kehati-hatian dalam mengkomunikasikan.

Sekedar mengingatkan bahwa beban social media agent tidak hanya mempublikasikan informasi tetapi diharapkan oleh khalayak onliner, mereka dapat memberi penjelasan atau minimal menunjukkan kontak person yang tepat, meskipun kontrak kerja telah selesai.  Jika social media agent bisa menjalin komunikasi dengan baik, justru sangat mungkin menaikkan brand awareness dan konsumen semakin terpuaskan.  Selain perlu dibuat juklak menjadi agent suatu brand, penyusunan konten di social media juga sangat penting. Hindari kata-kata yang multitafsir atau tidak jelas. Buat percakapan itu natural sehingga terjadi ikatan yang cukup erat dengan konsumen brand. Untuk selanjutnya akan sangat mudah membuat komunitas dari brand tersebut bukan karena dibayar, tetapi karena keikhlasan si konsumen yang terpuaskan dengan relasi yang terjadi di online.

Bagi para perusahaan dan pemilik brand, mari ditinjau ulang kontrak kerja dengan social media agent. Social media agent bisa menjadi perpanjangan costumer service anda di online, dan kurun waktu yang pendek menjadi kurang tepat jika ingin brand melekat dihati konsumen 🙂

Belajar dari Lelehan Cokelat jilid 1 ( tulisan saya untuk The Marketeers)

In Mengelola acara on December 3, 2010 at 2:28 am

Coba tebak apa yang diributkan ibu-ibu rumah tangga di kota besar saat ini? Bukan beras langka, kenaikan harga atau antrian panjang mencari sembako. Tetapi mencari sepotong es krim karena seharian anaknya merengek-rengek minta es krim seperti di TV. Yach, es krim Magnum Belgian Chocolate berhasil membius bukan hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa karena iklan di TV yang begitu menggoda serta buzzing di social media yang jor-joran.

Sebuah promosi yang sukses dengan menggunakan semua lini, iklan di TV, event di Senayan City dan penggunaan social media membuat es krim tersebut jadi pembicaraan dan dicari banyak orang. Orang pun beramai-ramai berburu sang Magnum. Mendadak buuummmm..!!! Barang hilang dari pasaran. Apakah ada yang memborong, menimbun atau sengaja dihilangkan? Timbullah dugaan orang-orang bahwa itu sengaja dibuat hilang, sehingga orang semakin penasaran, tetapi ada juga yang menduga bagian distribusi tidak siap dengan gencarnya usaha marketing yang mendapat sambutan luar biasa. Lagu lama “High promises low delivery “.

Saya tidak tahu persis mana yang benar, yang jelas banyak konsumen kesulitan mencari es krim Magnum. Seperti kejadian minggu lalu ketika saya belanja di salah satu hypermarket di Jakarta Selatan, dua orang ibu marah-marah kepada salah satu SPG es krim karena tidak menemukan Magnum. Ibu tersebut mengaku jengkel sudah ke berbagai toko tidak ada, dan berharap di supermarket besar bakalan nemu. Ketika dijelaskan bahwa memang stock sudah habis tadi siang, si dua ibu tersebut tetap tidak percaya dan justru menuduh itu semua tipuan. Jadilah SPG tersebut diomel-omelin dan dibilang berbohong sambil menyeret anaknya yang menangis tidak mendapatkan es krim impiannya.

Saya pernah dengar beberapa perusahaan memang sengaja begitu. Mebuat promosi besar-besaran sehingga menjadi bahan perbincangan tetapi produk belum ada di pasaran. Hal itu sengaja dibuat agar konsumen semakin penasaran dan perbincangan produk tersebut menjadi “panjang”. Ujung dari design komunikasi itu adalah ketika produk tiba di pasaran, bakal diserbu konsumen laris manis bak kacang goreng. Serta brand tersebut akan melekat terus dibenak konsumen. Contoh yang berhasil melakukan hal tersebut adalah perusahaan otomatif dan gadget. Tetapi kalau makanan, atau consumer goods apakah cocok dengan model yang begitu? Menurut pandangan saya, benda-benda yang habis pakai umur menjadi perbincangannya pendek, subtitusinya banyak sekali dan konsumen sangat mudah beralih. Jarang yang sedemikian loyal sehingga mau menunggu hingga produk tersedia. Jangan-jangan malah ada produk kompetitor yang menyalip di tikungan, memanfaatkan kejengkelan konsumen. Alhasil ketika produk menyerbu ke pasaran, masyarakat sudah lupa bahkan kehilangan selera.

Jadi apakah Magnum susah di pasaran itu sengaja atau masalah produksi dan distribusi yang tidak cepat dan merata? Saya tidak paham, tetapi apakah tepat menahan produk dari pasaran untuk memperpanjang rasa “penasaran” sehingga Magnum akan melekat di hati? Selamat berburu Magnum, ditunggu lelehannya di segala penjuru negeri! 

Pucuk diCinta Galaxy Tab Tiba

In Mengelola acara, Mengelola orang on November 15, 2010 at 4:49 am

*ini adalah postingan saya di blog The Marketeers dalam rangka – siapa tahu- bisa dapat Galaxy Tab *

Saya ingin sekali punya Samsung Galaxy Tab. E, lha kog, The Marketeers bikin lomba nulis tentang marketing hadiahnya Galaxy Tab. Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang menginginkan, pasti di luar sana banyak sekali yang ingin Samsung Galaxy Tab, terbukti antrean yang panjang dan mengular ketika produk tersebut diluncurkan untuk pertama kalinya. The Marketeers pasti melihat itu. Kenapa hadiahnya Galaxy Tab, pasti karena disesuaikan dengan pasar yang ingin disasar. Sasaran yang hendak dituju The Marketers adalah para penghuni social media yang riuh rendah dan sudah barang tentu pengguna dan penikmat gadget-gadget teranyar.

Apakah mengadakan kuis berhadiah masih diminati? Saya yakin masih sangat diminati, buktinya masih banyak yang tertipu menang kuis ini itu dengan diminta transfer biaya sekian rupiah untuk menebus hadiahnya. Bayangkan dengan membayar saja masih pada mau menebus hadiahnya, apalagi jika kuis itu benar dan cuma-cuma.

Saya teringat salah satu pengajar di Akademi Berbagi, jika ingin produk atau brand menjadi pembicaraan ada 3 hal : baru, berhadiah, dan unik.

Jadi kalau ingin brand atau produknya menjadi pembicaraan, pilih diantara 3 hal di atas. Memang bukan sesuatu yang mudah, perlu membuat strategi dan taktik untukmenjadikan produk atau brand adalah barang baru, memberikan hadiah yang menarik atau barang yang unik. Apalagi di dunia web 2.0 dimana semua informasi, data, gossip berseliweran begitu cepat dan saling berebut perhatian.

Riset kecil-kecilan juga diperlukan agar mempunyai basis informasi yang tepat. Jaman teknologi informasi seperti sekarang ini lebih mudah membuat riset. Bisa melalui facebook, twitter atau milis. Apalagi jika mempunyai keterbatasan dana, kreativitas dan pemanfaatan teknologi semaksimal mungkin sangat diperlukan. Tetapi saya mempunyai kepercayaan, di dunia digital dana yang besar tidak menjamin produk atau brand anda laku di pasaran. Siapa kreatif dan konsisten bisa berhasil.

Apakah saya akan memperoleh Galaxy Tab? Belum tahu, tetapi mencoba tidak ada salahnya bukan?

Berbagi bikin Happy

In Mengelola acara on November 4, 2010 at 4:11 am

Yaa…sudah hampir 5 bulan kelas Akademi Berbagi berjalan. Sudah banyak kelas-kelas yang diselenggarakan dan guru-guru hebat didatangkan. Alhamdulillah, ini berkah luar biasa buat saya pribadi dan pasti juga buat murid-murid peserta akademi berbagi. Kapan lagi kita bisa mendapatkan ilmu langsung dari praktisi yang keren seperti : Bapak Subiakto pemilik biro iklan HOTLINE yang berhasil menelurkan iklan-iklan keren seperti Indomie, Mc.Donald, Extra Joss dll., Bapak Budiono Darsono pemilik sekaligus Pimpinan Redaksi news portal terkemuka detikcom, belum yang lain-lain seperti Budiman Hakim, Tya Subyakto, Elisa Ventura, Ndoro Kakung, Enda Nasution, Danny Tumbelaka, Sasha “poetic picture”, Djito Kasilo, Aidil Akbar, Sumardi, Catur PW, Zara Zettira dll.

Kelas yang diselenggarakan di akademi berbagi ada berbagai macam diantaranya : Copy writing, Art Directing, Script Writing, Music directing, creative writing, Jurnalistik Online, Social Media, Fotografi, Financial planning dan akan ada kelas Public relations, Branding dan tentunya menerima usulan kelas-kelas yang lainnya. Yang penting adalah berbagi ilmu dari para pelaku dan praktisi sehingga kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mereka.

Berhubung ini adalah akademi berbagi, sekolahnya tidak dikenakan biaya kalau pun kelak ada biaya itu untuk konsumsi dan jumlahnya tidak besar. Guru nya pun saya dapat gratisan, bahkan disediakan tempat di kantor mereka. Seperti kelas Jurnalistik di kantor detikcom, kelas creative dan iklan di kantor Hotline, kelas fotografi dan social media di Rumah Langsat.

Awal mula berdirinya akademi berbagi karena saut-sautan twitter dengan Pak Bi, panggilan akrab Pak Subiakto.  Kemudian beliau menawarkan untuk mengajar copy writing dan saya diminta mengumpulkan muridnya via twitter. Ternyata peminatnya banyak sehingga dibuatlah beberapa kelas. Bukan hanya murid, saya pun mendapat tawaran dari para guru yang mau berbagi ilmunya, sehingga jenis kelasnya semakin beragam sesuai kapasitas dan pengalaman sang guru. Semua dimulai dari 140 karakter!

Begitulah kelas ini berjalan, pengumuman, pendaftaran murid, dan semua hal dilakukan via twitter. Dengan berjalannya waktu banyak informasi yang harus ditulis lebih panjang, kemudian saya dibantu dengan fanabis membuat blog http://akademiberbagi.blogdetik.com. Tetapi semua informasi tetap dishare via twitter. Dan atas kebaikan Yhanuar salah satu murid rajin yang kemudian menjadi asisten saya, dibuatlah akun twitter : @akademiberbagi.

Akibat akademi berbagi ini, BDI atau Budiono Darsono sering memanggil saya Kepala Sekolah. Karena beliau adalah rain maker sejati ,pangkat itu kemudian melekat begitu saja kepada saya. Dan semua teman di twitter menyapa saya Bu Kepsek. Berhubung kelas semakin banyak maka ada beberapa Wakepsek yang membantu saya, yaitu : @fanabis, @yhanuar, dan @diniAFC. Terimakasih kepada kalian semua, bantuannya sangat berarti 🙂

Akademi Berbagi benar-benar membuat saya bahagia, karena dengan segala keterbatasannya saya bisa membantu teman-teman yang ingin menambah ilmu. Dan saya tidak mungkin sendirian, pasti harus dibantu oleh banyak orang agar akademi berbagi ini terus berjalan dan bisa menularkan ilmu ke lebih banyak orang. Untuk itu, saya berharap ada yang membuat akademi berbagi ini di manapun dan kapan pun tanpa harus saya yang menangani. Saya akan support dan bantu bagi siapa saja yang ingin membuat akademi berbagi. Semakin banyak dan sering kelas dibuat, maka akan semakin banyak orang yang mendapatkan ilmu pengetahuan.

Mari Berbagi, karena Berbagi bikin happy!

seribu BUKU sejuta jendela menggenggam dunia

In Mengelola acara, Mengelola orang on October 7, 2010 at 2:10 am

Menjelang Muktamar Blogger BHI lagi..hhmm..waktu demikian cepat berputar. Terkadang berhenti sejenak, untuk bertanya apa yang sudah aku lakukan diwaktu yang lalu. Tetapi kemudian terlupakan begitu saja. Dan kembali sibuk dengan entah apa 🙂

Muktamar Blogger selalu memberikan ingatan tentang teman nongkrong di bunderan Hotel Indonesia, tentang bersahabat dan berbagi. Keresahan tinggal di ibukota selalu mengingatkan akan kampung halaman. Sudah semakin tertinggal jauh kah dengan deretan gedung yang berlomba-lomba mencakar langit di ibukota?

Tidak banyak, yang bisa aku lakukan sebagai perantau untuk memperpendek kesenjangan dengan kampung halaman. Bergabung dengan teman-teman BHI memberikan semangat untuk berbagi, semampu dan sekuat kita untuk membantu teman-teman dan adik-adik di daerah. Bantuan bisa berbentuk apa saja, dan bantuan yang tulus memberikan arti bagi yang diberi maupun yang memberi.

Setelah “Kambing for Bangsari” yaitu program beasiswa untuk anak MTS di Bangsari – Cilacap dengan memberi bantuan modal kambing, tahun berikut bikin “Gerakan 1000 buku” Kenapa buku? Karena kami sangat percaya buku adalah jendela dunia, bisa menjelajah seluruh belahan bumi dengan hanya membaca.

Tahun ini mau ngapain? Ternyata masih banyak yang perlu jendela, sehingga program 1000 buku dilanjutkan, dengan ditambah program “1.000.000 Kaos” .Program ini adalah mengumpulkan buku bacaan untuk segala umur ( bukan porno, SARA, kekerasan dan sejenis) dan mengumpulkan kaos-kaos bekas yang masih layak untuk belajar sablon dan jahit bagi teman-teman yang sedang berlatih dan butuh alat percobaan.

Seperti tahun lalu, buku-buku yang terkumpul akan kami salurkan ke terutama daerah-daerah yang memerlukan. Belajar dari pengalaman tahun lalu, buku untuk anak dan remaja sangat dibutuhkan. Semua program kita sosialisasikan melalui online, jadi bagi siapa saja yang ingin menyumbang ataupun disumbang silakan cek caranya di http://1000buku.org/

Untuk kaos mekanisme-nya juga sama, siapa yang mau nyumbang atau perlu kaos untuk bahan belajar silakan kontak kami di http://1000buku.org/

Yuuk kita kumpulkan buku dan kaos sebanyak mungkin! Kalau mau menyumbang uang cash juga bisa, rekening bisa di cek di http://1000buku.org/

Mari berbagi kepada sesama karena Berbagi Tak Pernah Rugi!

Berkomunitas – Bergaul – Berkegiatan

In Mengelola acara on February 19, 2009 at 9:10 am

Sharing Bareng Komunitas, itu salah satu judul kegiatan semalam. Berbagai macam komunitas tumplek bleg jadi satu di tempat tongkrongan blogger. Acaranya sendiri rame, dan beberapa orang aktif memberikan masukan dan kritikan tentang program yang sedang dibahas yaitu “Indonesia Berprestasi Award 2009”.

Dalam mengorganisir kegiatan bareng komunitas, ini termasuk baru saya lakukan. Biasanya saya mengorganisir kegiatan diskusi atau seminar dengan kelompok atau organisasi formal. Dengan rundown acara yang detil dan terinci. Tempatnya pun di ruangan, hotel atau gedung. Pernah juga beberapa kali di Pesantren, walaupun tempatnya informal tetapi jalannya diskusi tetap formal.

Acara semalam jauh berbeda, disamping tempatnya di angkringan dan terbuka pesertanya pun komunitas. Komunitas adalah kelompok masyarakat non formal yang berkumpul berdasarkan minat yang sama akan sesuatu hal. Biasanya mereka digerakkan oleh milis, sehingga komunitas booming hanya di kota-kota besar. Tidak ada kepengurusan atau struktur yang jelas bahkan markas atau kantornya pun tidak ada. Walaupun memang ada komunitas yang cukup struktural seperti b2w-Indonesia. Mereka biasanya berkumpul atau istilahnya kopi darat (kopdar) berpindah-pindah tempat.

Karena komunitas adalah organisasi independent, maka mereka akan bergerak dan berkarya sesuai dengan keinginan mayoritas atau pentolan grup itu serta non-profit oriented. Selain menjalankan hobi bersama-sama, komunitas seringkali juga melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat atau lingkungan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri atau meminta sumbangan dari berbagai pihak tetapi tidak mengikat. Jadi benar-benar tidak ada muatan kepentingan apapun. Apalagi, kebanyakan anggota-anggota komunitas adalah para pekerja atau mahasiswa yang mempunyai kesibukan pokok diluar komunitas. Kegiatan mereka lakukan di sela-sela waktu luangnya.

Boomingnya jumlah komunitas di kota besar, menjadikan mereka lahan baru bagi para produsen. Beberapa produsen bahkan dengan sengaja membuat komunitas sesuai dengan prodaknya. Karena komunitas merupakan alternatif pilihan mensosialisasikan produk atau aktivitas suatu perusahaan. Penyebaran informasi bisa lebih cepat karena hampir semua komunitas mempunyai milis bahkan blog. Internet sebagai alat utama jalinan komunikasi diantara mereka.

Sebagai contoh baru-baru ini salah satu produk kecantikan PONDS, menggunakan komunitas blogger dalam sosialisasi produk baru mereka. Bahkan para blogger diperlakukan lebih istimewa, diajak gala dinner bukan sekedar konferensi pers. Diharapkan, setelah acara gala dinner, para blogger akan menuliskan pengalaman makam malam dalam blog masing-masing, atau sekedar berbagi foto dengan tag ke banyak teman di facebook. Secara tidak langsung sosialisasi produk tersebut sudah berjalan dengan sendirinya.

Kembali ke soal mengorganisir kegiatan, karena semalam dengan komunitas maka kegiatan dibuat informal. Tidak ada rundown acara yang baku, dalam beberapa hal kita biarkan mengalir mengikuti arus diskusi. Untuk itu, menurut saya harapan penyelenggara acara juga harus disesuaikan. Psikologi komunitas harus dipahami. Masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Komunitas kebanyakan adalah organisasi bebas kepentingan, sehingga para produsen atau penyelenggara acara tidak bisa “memaksakan” harapannya.

Naah menjadi tugas produsen atau penyelenggara acara, untuk memberikan materi yang menarik sehingga diminati oleh para komunitas. Bukan hal yang mudah ditengah penuh-sesak-hiruk-pikuk informasi, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Tinggal tugas kita untuk memeras otak mencari alternatif pilihan sekreatif mungkin.

Dalam acara sharing tersebut, saya mendapatkan beberapa masukan yang menarik, seperti kata Mas Enda Nasution semalam, bahwa apapun yang menarik pasti akan diambil dan disebarluaskan oleh orang-orang dengan suka rela melalui jalur-jalur komunikasi yang dimiliki seperti milis, facebook, blog, plurk dll. Biasanya efeknya jauh lebih besar dengan bugdet yang tidak sebesar iklan. Internet sebagai jalur sosialisasi yang mudah dan murah seperti kata Paman Tyo harus digunakan semaksimal mungkin. Masukan lucu dari Ndoro Kakung yaitu meniru cara kampanye para caleg dengan menggunakan berbagai atribut sudah pasti akan dikenal. Tetapi, suatu kegiatan yang statusnya hanya “terdengar” dan masih sayup-sayup harus diupayakan naik status menjadi “disamakan” supaya lebih banyak masyarakat yang tahu dan mau terlibat dengan cara yang baik dan elegan.

Diskusi itu terkesan mengalir begitu saja, walaupun masih banyak kekurangan disana sini, tetapi yang hadir melebihi kapasitas dan beberapa peserta aktif memberikan masukan untuk Program Indonesia Berprestasi Award. Selain mendapatkan beberapa kritikan juga mendapatkan banyak masukan supaya ke depan bisa lebih baik.

Tidak mudah memang mengorganisir komunitas, butuh pendekatan khusus dan lebih personal sifatnya. Saya sendiri menjadi bagian dari beberapa komunitas sehingga bisa merasakan bagaimana dinamikanya. Jadi bagi anda yang ingin memanfaatkan jalur komunitas sebagai bagian dari media sosialisasi, silakan pelajari dulu baik-baik kelompok masyarakat tersebut jika perlu ikutlah bergabung supaya bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang komunitas. Selamat bersosialisasi dan berkomunitas karena berteman adalah kebutuhan.