pasarsapi

Archive for August 7th, 2011|Daily archive page

Ramadhan untuk Kika

In Mengelola orang on August 7, 2011 at 3:51 am

 

Bulan puasa penuh berkah. Mungkin bagi sebagian orang hanya jargon rutin setahun sekali, atau ucapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Tetapi buat saya yang abangan ini, bulan Ramadhan benar-benar banyak berkahnya.

Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak belum genap 8 tahun, bulan puasa adalah tantangan tersendiri. Mengajak anak berpuasa sehari penuh, membangunkan sahur dan mengajak makan dengan menu yang ada di meja makan bukan perkara mudah. Sempat deg-degan menjelang bulan Ramadhan. “Kira-kira, saya bisa nggak ya mengajak putri saya berpuasa tanpa paksaan, dan dia melaksanakan dengan enjoy?” Karena di kepala saya, ibadah itu harusnya tanpa paksaan atau ancaman dosa dan neraka. Ibadah harus berhubungan langsung dengan dirinya sendiri. Tetapi mengajarkan itu kepada anak, gimana caranya?

Sahur pertama, Kika –putri saya- bangun dengan semangat karena ada saudara sepupunya yang menemani. Dan dia happy banget bisa sahur bareng ibu, pakde, bude, tante dan saudara sepupunya. Jarang kami bisa terkumpul dalam satu meja. Awal yang baik, dan tanpa tantangan yang berarti. Begitu pun ketika sholat subuh dan mengaji, dia mengerjakan sendiri tanpa disuruh.

Waktu Kakak sepupunya akhirnya pulang, karena liburan usai kekhawatiranku kembali muncul. Kalau tidak ada temannya, mau gak ya Kika dibangunkan sahur? Dengan sedikit upaya, Kika bisa bangun sahur, dan agak sedkiti dipaksa makan. Di hari-hari biasa Kika susah makan, apalagi makan dini hari gak ada menariknya. Tetapi dia tetap mau makan asal disuapi. Ya gak papa, itung-itung itu cara saya meluangkan waktu untuk dia. Karena di hari biasa saya disibukkan dengan mencari nafkah untuk kami berdua, sehingga Kika sering saya tinggal.

Taraweh pertama juga dilakukan Kika dengan baik. Dia menyelesaikan 23 rekaat tanpa berhenti. Sempat protes karena bacaan dia belum selesai tetapi sudah berganti gerakan lagi. Kata Kika, “ngebut banget sih, Bu”. Tadinya saya tidak berharap banyak Kika bisa menyelesaikan seluruh rekaat, mau ikut taraweh saja saya sudah bersyukur. Saya pun menyiapkan sajadah besar, siapa tahu dia ngantuk di tengah-tengah ibadah, maka dia bisa tidur di sajadah samping saya. Ternyata dia tidak tidur, bahkan tidak berhenti. Walaupun agak terkantuk-kantuk. Kita pun yang dewasa susah sekali bukan untuk mengerjakan tarawih 23 rekaat.

Suatu hari, saya kelelahan sekali sehingga habis buka ingin istirahat di rumah tidak taraweh di Masjid. Jarak dari rumah ke masjid cukup jauh. Biasanya kami menumpang mobil pakdenya atau naik taksi. Tiba-tiba Kika bilang : “Ibu, aku mau taraweh ke masjid, tetapi harus sama Ibu.” Akhirnya mau gak mau saya harus berangkat ke masjid. Masak anak saya yang berumur 7 tahun semangat ke masjid, ibunya tidak mendukung? Mungkin orang tua lain kesusahan mengajak anaknya ke masjid, tetapi saya bahkan yang diajak anak saya.

Selama di masjid, selain sholat Isya dan taraweh ada ceramah yang cukup panjang. Kika tetap duduk manis mendengarkan ceramah hingga usai tidak tergoda untuk ikut bermain dengan anak-anak lain yang rame di halaman masjid. Begitu pun ketika taraweh. Anak-anak berseliweran maen dan jalan-jalan keluar masjid, tetapi Kika tetap menjalankan rekaat demi rekaat sambil berhitung kapan selesainya, ha ha haa.

Buat saya itu berkah dan kemudahan luar biasa. Saya bukan orang tua yang religius dan berilmu agama tinggi dan saya juga bukan ibu yang pintar mengasuh anak. Kesibukan saya, seringkali tidak bisa mengajarkan banyak hal terutama tentang agama. Ramadhan memang melimpahkan rahmat untuk keluarga kecil saya. Dalam setiap doa saya, putri saya menjadi anak yang bertaqwa dan memberi  manfaat buat sesama. Saya tidak meminta dia kelak menjadi apa, bisa mandiri dan tidak merepotkan orang lain itu sudah cukup. Karena saya tahu, saya tidak bisa mendampingi selamanya.

Terimakasih Ramadhan, kehadiranmu memberikan banyak hal untuk saya. Karena Ramadhan juga memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi. Saya tidak punya harta yang banyak, tetapi saya punya tenaga dan pikiran yang bisa membantu sesama. Kalau doa untuk putri saya adalah kelak dia menjadi manusia yang bermanfaat, begitu juga dengan saya sendiri. Saya ingin berarti hidup di dunia ini, saya ingin memberikan manfaat bagi sekitar walaupun kecil. Karena seperti kata almarhum Gus Dur : Manusia yang berhasil adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Advertisements

Mencatat Hal Biasa, Menuliskan dengan Sederhana

In tentang Akademi Berbagi on August 7, 2011 at 2:38 am

Foto ambil dari bahtiar.wordpress.com

*tulisan ini mengenai kelas penulisan yang diajar oleh Zen RS. Sangat basic dan dalam artinya bagi yang ingin menjadi penulis*

Selama bulan puasa, kelas Akademi Berbagi (Akber) tetap berjalan seperti biasa, hanya kita majukan jamnya menjadi pukul 16.00 sampai menjelang buka puasa. Selama bulan Agustus ini tema besar kelasnya adalah : PENULISAN. Minggu pertama, kamis kemaren diawali dengan guru Zen RS  @zenrs dengan judul : Mencatat Hal Biasa dan Menuliskannya dengan Sederhana. Sebuah pembelajaran tentang menulis dasar dan sangat penting.

Kita seringkali ribet dengan keinginan kita untuk bisa menulis langsung bagus dan sempurna dipuja-puji banyak orang. “Jangan mimpi tulisan pertamamu bagus!’ begitu kata Zen. Perlu berlatih berulang-ulang dengan memulai saat ini. Bukan besok, karena setiap hari selalu ada cerita yang menarik untuk ditulis. Mulailah menulis dari apa yang kita lihat, kira alami, dan kita rasakan. Karena itu untuk mempermudah kita mengasah kemampuan. Jangan, belum-belum udah menulis sesuatu yang kita tidak pernah tau.

Catatan harian adalah langkah awal untuk menulis. Dengan membuat catatan setiap peristiwa, kita belajar mendokumentasikan pikiran-pikiran kita sehingga suatu saat pasti berguna. Hanya diperlukan pena dan kerta untuk mulai menulis, atau computer dan listrik kalau jaman sekarang, begitu tutur Zen. Belajar menulis dengan membuat catatan harian lebih mudah dan tanpa beban karena kita tidak berpretensi apa-apa. Karena menulis itu untuk menulis itu sendiri.

Harus dibedakan antara menulis dan mengedit. Mencampuradukan kedua justru akan menghambat kita untuk menulis. Menulis memerlukan emosi dan hati sedang mengedit memerlukan akal. Seringkali kita berusaha mengedit tulisan yang belum selesai karena kita ingin hasil yang bagus. Menulis harus tanpa pretensi, pretensi untuk keren, pretensi untuk dimuat. Tulislah semua yang ada di pikiran dengan jujur. Jujur di sini bukan berarti membuka semua aib kita, tetapi menulis apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dengan apa adanya. Tuangkan semua pikiranmu sampai habis, dan jangan buru-buru melakukan editing. Jangan pernah berhenti, teruslah menulis.Ada banyak ide cerita disekeliling kita, sayang kita tidak punya waktu untuk memperhatikan. Apalagi jaman sekarang segala sesuatu berjalan begitu cepat.

“Menunda menulis adalah perkara besar!” Zen menyampaikan dengan lugas tentang betapa pentingnya membuat sebuah tulisan. Tulisan yang bagus selalu berdasarkan realitas dan diawali dengan riset. Riset untuk tempat dan kelengkapan remeh temeh yang diperlukan untuk membuat cerita itu masuk akal. Selain riset kita juga perlu memperbanyak referensi, semakin banyak referensi akan semakin memperkaya cerita.

Apa yang diungkap Zen selama hampir dua jam adalah perkara dasar yang harus dipunyai jika ingin menjadi penulis. Tidak ada yang lahir langsung jadi penulis, diperlukan berlatih berulang-ulang dan dibiasakan. Jaman sekarang banyak cara untuk membiasakan menulis. Misalnya dengan membuat foto, dan setiap foto kita buat chapter satu dua paragraph untuk menceritakan gambar tersebut. Atau membuat catatan ringan perjalanan kita.

Yang mengagumkan diri Zen adalah, referensi bacaan dia sangat banyak dan beragam. Hampir yang dia pernah baca, dia ingat karena dia terbiasa menuliskan segala sesuatunya. Dari kecil dia diajari ibunya untuk menulis. Pernah sewaktu SD diminta ibunya duduk di dekat pohon. Kemudian ibunya meminta Zen menuliskan tentang pohon itu. Pertama kali hanya menghasilkan dua paragraph, kemudian Ibunya menyuruh untuk memperhatikan lebih detil dari pohon itu. Kemudian Zen melihat ada semut, kemudian dia cerita tentang semut, dan melihat yang lain-lainnya sehingga akhirnya jadi tulisan empat setengah halaman. Karya itu masih disimpan hingga sekarang sebagai karya tulisannya yang pertama.

Saya kemudian paham kenapa Zen begitu mencintai kesusasteraan, karena orang tuanya adalah pencinta sastra dan membiasakan anaknya untuk berlatih dan berlatih. Menulis pun kemudian menjadi kebiasaan Zen, dan dia tidak pernah kehabisan ide. “Setiap manusia adalah unik, dan setiap manusia pasti punya cerita yang menarik” ,tutup Zen di kelas Akber malam itu.

“Dialog dengan diri sendiri, adalah awal mula kesusateraan.”