pasarsapi

Archive for August, 2011|Monthly archive page

Rumah Ibu

In Mengelola orang on August 29, 2011 at 4:37 am

Osamaliki - Salatiga

Ibu,

aku telah sampai di rumahmu

Sudah 4 hari ini aku sampai di rumah, di mana aku dilahirkan dan menghabiskan masa kecilku sampai beranjak dewasa.

Aku masuk kamarmu, di mana aku selalu tidur bersamamu jika aku pulang ke rumah Ibu. Kita tidur bertiga di sini, Ibu, aku dan Kika. Semuanya masih sama, kasur besar, lemari besar dan televisi di kamarmu. Di pojokan masih ada juga tumpukan berkas-berkas organisasi di mana Ibu jadi ketuanya.

Ibu,

ketika aku membuka pintu kamarmu, sepi…..

Terlalu sepi dan kosong. Tidak ada tangan yang aku cium, tidak ada pipi keriput yang aku cium, tidak ada senyummu.

Ibu,

Apa kabarmu di tanah suci? Pasti bahagia. Ini mimpi Ibu yang sudah lama sekali. Dulu ketika Ibu menyampaikan keinginan untuk menghabiskan Ramadhan hingga lebaran di tanah suci, rasanya seperti jauh di awang-awang. Tetapi engkau selalu yakin, suatu saat pasti bisa tercapai.

“Aku ingin, sebelum meninggal pernah berpuasa ramadhan di rumah Allah, di Mekkah” begitu ujarmu dulu. Dan Ramadhan kali ini, Ibu benar-benar di tanah suci, sebulan penuh. Sebelumnya, Ibu sempat bertanya : “Kalau aku menghabiskan Ramadhan dan Lebaran di tanah suci, aku egois gak? Kalian Lebaran aku tinggal.” Aku sempat terhenyak! Aah…Ibu, memang kami ingin ketika pulang kampung lebaran ada Ibu yang menyambut di rumah, ada Ibu yang menemani di sahur-sahur terakhir, ada masakan Ibu ketika Lebaran. Tetapi Bu, kalau Ibu bahagia pasti anak-anaknya lebih bahagia lagi. Ramadhan di tanah suci adalah mimpimu sejak dulu kala, kini sudah di depan mata tinggal melangkah, Ibu tidak perlu ragu lagi. Semua anakmu ingin mewujudkan mimpimu. Dan Ibu tidak egois.

Ibu,

aku masih ingat ketika Bapak dipanggil Tuhan dengan tumpukan hutang dan enam anak yang semua masih sekolah, saat itu Ibu benar-benar berjuang seluruh jiwa raga dan perhatian hanya untuk anak. Tidak berani mengungkapkan mimpimu. Saat ini ketika anak-anakmu sudah bisa hidup masing-masing, saatnya Ibu mengurai kembali mimpi-mimpi yang dulu terucap pun tidak berani.

Ibu,

aku di rumah Ibu sekarang. Menuliskan ini dengan haru biru. Di rumah ini aku dilahirkan, di rumah ini juga anakku pertama kali mengenal rumah setelah lahir di rumah sakit. Di rumah ini, perjuangan hidup yang sesungguhnya di mulai. Di rumah ini saksi perjuangan Ibu, saksi kepergian Bapak, saksi waktu demi waktu engkau menempa anak-anakmu.

Ibu,

aku di rumahmu sekarang, rumah di mana hati kita semua tertambat. Hati Ibu dan anak-anakmu.

Selamat sholat Ied di depan Ka’bah Ibu, kutunggu pulangmu dengan bahagia, sehat dan selamat.

Ibu,

Aku rindu….

Ditulis dari kamar Ibu, Ramadhan hari ke 29 menjelang lebaran.

Salatiga 2011

Advertisements

Mudik Nyaman, Mungkin Banget!

In Mengelola acara on August 26, 2011 at 7:44 am

Lebaran menjelang. Kerepotan apalagi selain pengeluaran yang pasti lebih besar dari hari biasa dan persiapan mudik? Iya mudik bagi sebagian orang adalah ritual yang tidak mungkin ditinggalkan termasuk saya yang masih punya Ibu dan Simbah di kampung halaman. Apalagi kalau membawa anak, repotnya dua kali lipat. Untung anak saya sudah berumur 8 tahun, jadi kerepotan tidak sebesar jika anak-anak masih balita. Bahkan sesekali putri saya bisa membantu membawakan buntelan mudik hehee…

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jika pengin mudik dengan nyaman tanpa menguras kantong maka harus memesan tiket jauh-jauh hari. Kalau mendadak tinggal dua pilihan : tiket harganya selangit atau tidak kebagian sama sekali. Agenda mudik, wassalam.

Saya sebenarnya sudah merencanakan mudik jauh-jauh hari dengan menggunakan mobil, karena kebetulan ada mobil yang harus di bawa ke kampung. Tetapi di tengah bulan Ramadhan dapat kabar, mobilnya masih disewa sampai tanggal 10 September. Waduh! Pilihan tinggal mencari tiket dengan harga selangit, atau menumpang mobil saudara. Saya lebih memilih menumpang mobil kakak, yang kebetulan memang kosong. Tetapi jadwal kepulangan, tergantung hari liburnya Kakak yang pasti sangat mepet dengan hari lebaran. Membayangkan jalanan menjelang hari – H pasti padat merayap berhenti alias macet, sambil berdoa semoga kemacetan tidak parah sehingga kami tidak terpanggang kelamaan di jalan. Saya pasrah saja, daripada tidak mudik lebih ngenes lagi.

Ketika membaca salah satu milis yang saya ikuti, ada pengumuman tawaran mudik gratis, pulang tanggal 25 pagi. Wah, serasa dapat durian runtuh, karena tepat tanggal segitu anak saya sudah libur. Kalau saya sih bisa mudik kapan saja, karena gak punya kantor, seorang freelancer online yang bisa bekerja dari mana saja. Eitts..tunggu dulu! Tiketnya untuk berapa orang, dan menurut info rutenya ke Surabaya, padahal saya turunnya di Semarang. Iseng-iseng mencoba mengontak panitia yang menyediakan mudik gratis, siapa tahu saya beruntung!

Tuhan Maha Baik, saya masih diberi jalan keluar yang menyenangkan. Ternyata oh ternyata saya bisa turun di Semarang dan vouchernya berlaku untuk dua orang. Pas banget! Dan saya pun kemudian sibuk mempersiapkan mudik yang dipercepat. Ngebut dalam dua hari menyelesaikan segala kewajiban di ibukota, dan ngepak baju-baju serta perlengkapan buat mudik. Hasil pengepakan adalah satu tas koper besar, dengan 2 tas jinjing. Hadueh banyak banget yak! Terpikir bagasi di kabin kereta kan kecil, mana bisa koper saya yang segede gambreng bisa masuk? Ya sudah, nanti ditaruh di kaki, sempit-sempitan dikit tak mengapa yang penting bisa mudik lancar selamat. Sempat membayangkan Gambir pasti penuh sesak, jadi mesti siap-siap tenaga ekstra untuk nyeret koper berdesak-desakan sambil nggandeng anak supaya tidak lepas.

Rabu pagi, Kika putri saya sudah tidak sabar untuk mudik. Saya pun berdoa semoga nanti dimudahkan semuanya. Saya adalah Emak yang selalu cemas jika perjalanan ini tidak membuat nyaman anaknya. Segala hal saya persiapkan untuk membuat nyaman : membawakan makanan kesukaan dan mainan supaya tidak bosan di kereta yang pasti penuh sekali.

Sampai di Gambir, sudah ada meja penerima peserta mudik meriah untuk menukarkan voucher dengan tiket kereta. Ternyata Gambir tidak penuh sesak, dan kami melalui pintu khusus yang bebas serbuan porter dan calo. Di meja penukaran voucher kami dilayani dengan baik. Selain tiket gratis ternyata saya juga mendapat berbagai macam bingkisan : ada makanan, minuman, tas, kaos dan bantal. Wah, menyenangkan ternyata mudik gratis ini. Gak cuma itu, tas saya yang segede gambreng pun langsung diterima di meja yang ada tulisannya “BAGASI”. Kata petugasnya, tasnya nanti ada ngurus untuk dibawa sampai di kereta tepat di kursi sesuai dengan nomer kursi. Alhamdulillaaaah….apa yang saya kuatirkan pun lenyap. Saya gak perlu nggotong-nggotong koper hingga lantai paling atas. Sambil menunggu kereta siap, kami duduk manis ditemani penampilan band yang menyanyikan lagu-lagu seru. Penumpang mudik pun ikut serta menyanyi dan bergembira ria.

Tiba waktunya harus naik ke kereta. Dipandu oleh petugas, kami dengan tertib menaiki kereta. Tidak perlu berjejal-jejal dan berebut. Dan kereta nya pun ternyata kereta khusus untuk acara mudik meriah. Masuk ke gerbong 2 sesuai tiket kami, saya takjub. Woow…! Ternyata keretanya benar-benar bagus dan lega. Ukuran lega buat saya adalah kaki. Saya perempuan dengan ukuran extra ordinary karena tinggi badan mencapai 175 cm sering kerepotan meletakkan kaki di transportasi publik. Di Kereta ini, ternyata nyaman sekali. Tempat kaki luas, bangku juga lebih nyaman, dan bagasi kabinnya ternyata gede banget. Koper saya pun muat ditaruh di atas tanpa perlu menggangu posisi duduk kami. Senangnyaaaa….!

Benar-benar berkah mudik kali ini. Dapat kereta bagus, gratis, penuh dengan bingkisan dan di dalam kereta ada bacaan gratis. Belum habis itu semua, selama perjalanan ada games berhadiah dan pembagian makanan..lagi! Kika pun happy dan sempat komentar : “Seperti di pesawat ya, Bu”

Perjalanan pagi – siang pun tidak lagi membosankan. Biasanya saya menghindari perjalanan pagi, karena lebih lelah dan bosan. Kalau malam kan tinggal tidur, tau-tau sampai deh! Tapi untuk kali ini, sungguh menyenangkan. Kami bisa menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan yang memang cukup bagus. Apalagi setelah masuk Jawa tengah menjelang Semarang, kita akan disguhi pemandangan sebelah kiri laut dan sebelah kanan tanaman padi hijau menghampar. Eksotis!

Kereta berjalan tepat waktu, dan sampai pun tepat waktu juga. Tidak ada hal-hal yang mengganggu. Tampak panitia dan penyelenggara mempersiapkan mudik meriah ini dengan sangat baik. Terimakasih Telkomsel sudah mengajak saya dan putri saya mudik bareng. Walapun saya pengguna Telkomsel sejak jaman dulu kala hingga kini, tetapi saya tidak pernah menyangka akan diajak mudik bareng. Teman-teman dari Telkomsel pun melayani dengan ramah dan sangat membantu. Buat saya seorang ibu yang melakukan perjalanan dengan anak, kenyamanan adalah utama. Dan telkomsel telah membuat perjalanan kami nyaman dan senang.

Saya adalah kelompok pertama yang mudik dengan kereta, karena menurut informasi ada 4 kelompok mudik kereta yaitu tanggal 5 September pagi dan malam serta tanggal 26 pagi dan malam. Selain kereta, semua moda transportasi disediakan untuk mudik meriah ini yaitu transportasi darat, udara dan laut. Selain kereta ada juga bis dengan segala arah tujuan.

Selamat mudik teman-teman, tiada yang lebih bahagia bisa berkumpul dengan keluraga dan sanak saudara. Pastikan perjalanan mudik kalian nyaman, dan selamat sampai tujuan. Hati-hati ya..!

Ramadhan untuk Kika

In Mengelola orang on August 7, 2011 at 3:51 am

 

Bulan puasa penuh berkah. Mungkin bagi sebagian orang hanya jargon rutin setahun sekali, atau ucapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Tetapi buat saya yang abangan ini, bulan Ramadhan benar-benar banyak berkahnya.

Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak belum genap 8 tahun, bulan puasa adalah tantangan tersendiri. Mengajak anak berpuasa sehari penuh, membangunkan sahur dan mengajak makan dengan menu yang ada di meja makan bukan perkara mudah. Sempat deg-degan menjelang bulan Ramadhan. “Kira-kira, saya bisa nggak ya mengajak putri saya berpuasa tanpa paksaan, dan dia melaksanakan dengan enjoy?” Karena di kepala saya, ibadah itu harusnya tanpa paksaan atau ancaman dosa dan neraka. Ibadah harus berhubungan langsung dengan dirinya sendiri. Tetapi mengajarkan itu kepada anak, gimana caranya?

Sahur pertama, Kika –putri saya- bangun dengan semangat karena ada saudara sepupunya yang menemani. Dan dia happy banget bisa sahur bareng ibu, pakde, bude, tante dan saudara sepupunya. Jarang kami bisa terkumpul dalam satu meja. Awal yang baik, dan tanpa tantangan yang berarti. Begitu pun ketika sholat subuh dan mengaji, dia mengerjakan sendiri tanpa disuruh.

Waktu Kakak sepupunya akhirnya pulang, karena liburan usai kekhawatiranku kembali muncul. Kalau tidak ada temannya, mau gak ya Kika dibangunkan sahur? Dengan sedikit upaya, Kika bisa bangun sahur, dan agak sedkiti dipaksa makan. Di hari-hari biasa Kika susah makan, apalagi makan dini hari gak ada menariknya. Tetapi dia tetap mau makan asal disuapi. Ya gak papa, itung-itung itu cara saya meluangkan waktu untuk dia. Karena di hari biasa saya disibukkan dengan mencari nafkah untuk kami berdua, sehingga Kika sering saya tinggal.

Taraweh pertama juga dilakukan Kika dengan baik. Dia menyelesaikan 23 rekaat tanpa berhenti. Sempat protes karena bacaan dia belum selesai tetapi sudah berganti gerakan lagi. Kata Kika, “ngebut banget sih, Bu”. Tadinya saya tidak berharap banyak Kika bisa menyelesaikan seluruh rekaat, mau ikut taraweh saja saya sudah bersyukur. Saya pun menyiapkan sajadah besar, siapa tahu dia ngantuk di tengah-tengah ibadah, maka dia bisa tidur di sajadah samping saya. Ternyata dia tidak tidur, bahkan tidak berhenti. Walaupun agak terkantuk-kantuk. Kita pun yang dewasa susah sekali bukan untuk mengerjakan tarawih 23 rekaat.

Suatu hari, saya kelelahan sekali sehingga habis buka ingin istirahat di rumah tidak taraweh di Masjid. Jarak dari rumah ke masjid cukup jauh. Biasanya kami menumpang mobil pakdenya atau naik taksi. Tiba-tiba Kika bilang : “Ibu, aku mau taraweh ke masjid, tetapi harus sama Ibu.” Akhirnya mau gak mau saya harus berangkat ke masjid. Masak anak saya yang berumur 7 tahun semangat ke masjid, ibunya tidak mendukung? Mungkin orang tua lain kesusahan mengajak anaknya ke masjid, tetapi saya bahkan yang diajak anak saya.

Selama di masjid, selain sholat Isya dan taraweh ada ceramah yang cukup panjang. Kika tetap duduk manis mendengarkan ceramah hingga usai tidak tergoda untuk ikut bermain dengan anak-anak lain yang rame di halaman masjid. Begitu pun ketika taraweh. Anak-anak berseliweran maen dan jalan-jalan keluar masjid, tetapi Kika tetap menjalankan rekaat demi rekaat sambil berhitung kapan selesainya, ha ha haa.

Buat saya itu berkah dan kemudahan luar biasa. Saya bukan orang tua yang religius dan berilmu agama tinggi dan saya juga bukan ibu yang pintar mengasuh anak. Kesibukan saya, seringkali tidak bisa mengajarkan banyak hal terutama tentang agama. Ramadhan memang melimpahkan rahmat untuk keluarga kecil saya. Dalam setiap doa saya, putri saya menjadi anak yang bertaqwa dan memberi  manfaat buat sesama. Saya tidak meminta dia kelak menjadi apa, bisa mandiri dan tidak merepotkan orang lain itu sudah cukup. Karena saya tahu, saya tidak bisa mendampingi selamanya.

Terimakasih Ramadhan, kehadiranmu memberikan banyak hal untuk saya. Karena Ramadhan juga memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi. Saya tidak punya harta yang banyak, tetapi saya punya tenaga dan pikiran yang bisa membantu sesama. Kalau doa untuk putri saya adalah kelak dia menjadi manusia yang bermanfaat, begitu juga dengan saya sendiri. Saya ingin berarti hidup di dunia ini, saya ingin memberikan manfaat bagi sekitar walaupun kecil. Karena seperti kata almarhum Gus Dur : Manusia yang berhasil adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Mencatat Hal Biasa, Menuliskan dengan Sederhana

In tentang Akademi Berbagi on August 7, 2011 at 2:38 am

Foto ambil dari bahtiar.wordpress.com

*tulisan ini mengenai kelas penulisan yang diajar oleh Zen RS. Sangat basic dan dalam artinya bagi yang ingin menjadi penulis*

Selama bulan puasa, kelas Akademi Berbagi (Akber) tetap berjalan seperti biasa, hanya kita majukan jamnya menjadi pukul 16.00 sampai menjelang buka puasa. Selama bulan Agustus ini tema besar kelasnya adalah : PENULISAN. Minggu pertama, kamis kemaren diawali dengan guru Zen RS  @zenrs dengan judul : Mencatat Hal Biasa dan Menuliskannya dengan Sederhana. Sebuah pembelajaran tentang menulis dasar dan sangat penting.

Kita seringkali ribet dengan keinginan kita untuk bisa menulis langsung bagus dan sempurna dipuja-puji banyak orang. “Jangan mimpi tulisan pertamamu bagus!’ begitu kata Zen. Perlu berlatih berulang-ulang dengan memulai saat ini. Bukan besok, karena setiap hari selalu ada cerita yang menarik untuk ditulis. Mulailah menulis dari apa yang kita lihat, kira alami, dan kita rasakan. Karena itu untuk mempermudah kita mengasah kemampuan. Jangan, belum-belum udah menulis sesuatu yang kita tidak pernah tau.

Catatan harian adalah langkah awal untuk menulis. Dengan membuat catatan setiap peristiwa, kita belajar mendokumentasikan pikiran-pikiran kita sehingga suatu saat pasti berguna. Hanya diperlukan pena dan kerta untuk mulai menulis, atau computer dan listrik kalau jaman sekarang, begitu tutur Zen. Belajar menulis dengan membuat catatan harian lebih mudah dan tanpa beban karena kita tidak berpretensi apa-apa. Karena menulis itu untuk menulis itu sendiri.

Harus dibedakan antara menulis dan mengedit. Mencampuradukan kedua justru akan menghambat kita untuk menulis. Menulis memerlukan emosi dan hati sedang mengedit memerlukan akal. Seringkali kita berusaha mengedit tulisan yang belum selesai karena kita ingin hasil yang bagus. Menulis harus tanpa pretensi, pretensi untuk keren, pretensi untuk dimuat. Tulislah semua yang ada di pikiran dengan jujur. Jujur di sini bukan berarti membuka semua aib kita, tetapi menulis apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dengan apa adanya. Tuangkan semua pikiranmu sampai habis, dan jangan buru-buru melakukan editing. Jangan pernah berhenti, teruslah menulis.Ada banyak ide cerita disekeliling kita, sayang kita tidak punya waktu untuk memperhatikan. Apalagi jaman sekarang segala sesuatu berjalan begitu cepat.

“Menunda menulis adalah perkara besar!” Zen menyampaikan dengan lugas tentang betapa pentingnya membuat sebuah tulisan. Tulisan yang bagus selalu berdasarkan realitas dan diawali dengan riset. Riset untuk tempat dan kelengkapan remeh temeh yang diperlukan untuk membuat cerita itu masuk akal. Selain riset kita juga perlu memperbanyak referensi, semakin banyak referensi akan semakin memperkaya cerita.

Apa yang diungkap Zen selama hampir dua jam adalah perkara dasar yang harus dipunyai jika ingin menjadi penulis. Tidak ada yang lahir langsung jadi penulis, diperlukan berlatih berulang-ulang dan dibiasakan. Jaman sekarang banyak cara untuk membiasakan menulis. Misalnya dengan membuat foto, dan setiap foto kita buat chapter satu dua paragraph untuk menceritakan gambar tersebut. Atau membuat catatan ringan perjalanan kita.

Yang mengagumkan diri Zen adalah, referensi bacaan dia sangat banyak dan beragam. Hampir yang dia pernah baca, dia ingat karena dia terbiasa menuliskan segala sesuatunya. Dari kecil dia diajari ibunya untuk menulis. Pernah sewaktu SD diminta ibunya duduk di dekat pohon. Kemudian ibunya meminta Zen menuliskan tentang pohon itu. Pertama kali hanya menghasilkan dua paragraph, kemudian Ibunya menyuruh untuk memperhatikan lebih detil dari pohon itu. Kemudian Zen melihat ada semut, kemudian dia cerita tentang semut, dan melihat yang lain-lainnya sehingga akhirnya jadi tulisan empat setengah halaman. Karya itu masih disimpan hingga sekarang sebagai karya tulisannya yang pertama.

Saya kemudian paham kenapa Zen begitu mencintai kesusasteraan, karena orang tuanya adalah pencinta sastra dan membiasakan anaknya untuk berlatih dan berlatih. Menulis pun kemudian menjadi kebiasaan Zen, dan dia tidak pernah kehabisan ide. “Setiap manusia adalah unik, dan setiap manusia pasti punya cerita yang menarik” ,tutup Zen di kelas Akber malam itu.

“Dialog dengan diri sendiri, adalah awal mula kesusateraan.”

MENGAPRESIASI BUKAN MENGHAKIMI

In tentang Akademi Berbagi on August 3, 2011 at 2:48 am

Glenn Marsalim

 

“The deepest principle in human nature is the craving to be appreciated” *William James*

Selalu menyenangkan mendengarkan orang-orang kreatif sharing. Selalu ada hal baru dan berbeda yang kita peroleh. Seperti kelas Kamis (28/7/2011) gurunya Glenn Marsalim orang yang bekerja sebagai freelancer dibidang periklanan dan pasti banyak orang sudah tahu dengan prestasinya. Malam itu di kantor SITTI (Jalan Senopati – Jaksel) Glenn berbagi ilmu tentang Apresiasi Iklan. Banyak orang kreatif, banyak orang bisa membuat iklan, tetapi jarang yang bisa mengapresiasi dengan baik. Apresiasi berbeda dengan menilai atau menghakimi. Butuh kepekaan dan background pengetahuan yang cukup untuk dapat mengapresiasi sebuah iklan.

Dalam proses pembuatannya, terutama iklan TV, Glenn menuturkan sebuah proses yang panjang dan rumit untuk sebuah hasil yang paling lama 60 detik atau bahkan 30 detik. Perlu menselaraskan antara keinginan klien, keinginan kreatif dan maunya konsumen dan itu bukan hal yang mudah. Mengupas satu per satu iklan di TV sungguh mengasyikkan. Kita diajak Glenn untuk menghargai sebuah proses. Ya proses yang seringkali diabaikan. Kita lebih sering fokus akan hasil hasil dan hasil.

Sebuah iklan dikatakan bagus atau jelek, itu sangat tergantung siapa yang menilai. Iklan-iklan yang bagus dan menang award belum tentu booming di pasaran, walaupun ada beberapa. Mengapresiasi iklan bukan menilai bagus atau jelek, tetapi bagaimana sebuah penciptaan karya yang punya nilai lebih. Seperti contohnya, salah satu iklan yang dibuat Ipang Wahid. Dalam iklan Lebaran yang dibuat pada tahun 2002 untuk perusahaan rokok kalau tidak salah, Ipang Wahid menggambarkan suasana lebaran yang penuh kegembiraan dengan menyelipkan gambar barongsai yang menari. Itu untuk pertamakalinya ada yang berani memasang adegan barongsai di iklan lebaran yang notabene adalah perayaan umat muslim. Sekarang sudah bertaburan iklan-iklan dengan barongsai, apapun perayaan keagamaannya. Menurut Glenn, karya Ipang tersebut dianggap pendobrak dan pertama yang kemudian ditiru oleh kreatif lainnya.

“Otak kita seperti palet warna. Setiap kebencianmu pada sebuah karya akan menghilangkan satu warna. Semakin banyak yang kamu tidak suka akan semakin banyak warna yang hilang. Lalu, kamu mau melukis pakai apa?” Sebuah kalimat dari Glenn Marsalim  yang sungguh dalam maknanya. Ketika kita seringkali mencela karya orang, apalagi tanpa alasan yang jelas, maka kita semakin memenjarakan kreativitas kita. Ego adalah kutub yang berlawanan dari kretivitas. Sebuah karya, apapun hasilnya patut untuk diapresiasi. Dan setiap orang telah mengeluarkan daya upayanya untuk menghasilkan karya terbaiknya.

Masih banyak iklan-iklan yang diulik dalam kelas saat itu, dan penjelasan Glenn selalu memberikan kita wawasan baru yang mungkin buat mahasiswa periklanan –di kelas itu ada beberapa mahasiswa design & iklan- tidak diperoleh di bangku kuliahnya.

Saya selalu happy setiap mengikuti kelas Akademi Berbagi, karena para guru tidak melulu memberikan teori tetapi pengalaman berharga mereka ketika menjalani profesinya. Dan Glenn adalah salah satunya. Makhluk luar biasa yang selalu rendah hati dengan bilang : “aku ini apa, aku ndak pede je ngajar di kelasmu.”

Sekali lagi, makasih Glenn butuh orang-orang yang tidak biasa sepertimu untuk menggugah wawasan dan pikiran kami yang lebih sering ribet dengan hasil dan nilai tanpa menghargai sebuah proses panjang yang selalu mengandung pembelajaran.

TRUST YOUR GUT. TRUST YOUR INSTINCTS  – GLENN MARSALIM

 

*tulisan ini juga ada di http://akademiberbagi.org *