pasarsapi

Archive for July, 2011|Monthly archive page

Digital Never Sleep

In Mengelola orang on July 25, 2011 at 4:50 am

Jaman semakin maju, dunia bergerak begitu cepat dan bukan hanya kota besar yang tidak pernah tidur, tetapi “kicauan” di dunia online pun tidak pernah berhenti. 24 jam non-stop. Gak percaya? Cek twitter deh, salah satu arena bersosialisasi di internet, setiap menit bahkan detik selalu bergerak dengan status-status baru. Di satu sisi kita jadi tidak pernah ketinggalan berita dan informasi, tanpa perlu mantengin tv dan baca koran hampir semua informasi tersaji di social media bahkan terkadang lebih cepat. Tetapi di sisi lain kita makin berkurang waktu istirahatnya.

Saya selalu takjub dengan teman-teman di timeline yang tetap terbangun dan aktif di twitter hingga dini hari, padahal esok pagi mereka harus bekerja, meeting atau melakukan aktivitasnya. Pernah bertanya pada beberapa orang, “Apa gak kliyengan paginya?” Jawaban mereka rata-rata sama, “Sudah biasa” atau banyak juga yang menjawab karena mereka kesulitan tidur atau insomnia. Daripada bengong yang udah “berkicau” di online.

Teknologi yang semakin canggih, katanya membuat kualitas hidup semakin meningkat. Semua berjalan serba cepat dan efisien. Tetapi benarkah kualitas kita meningkat? Contohnya saya aja nih! Pekerjaan saya sekarang banyak berhubungan dengan dunia online dan digital. Bangun tidur bisa langsung kerja tanpa perlu memkirkan mandi atau pake baju apa hari ini. Yang penting koneksi internet lancar jaya, pekerjaan pun ikut lancar. Tetapi karena bisa kapan saja dan di mana saja, saya jadi seenak-enaknya mengerjakan pekerjaan. Bisa malah hari, subuh, siang atau kalau lagi dikejar-kejar garis mati bisa siang sampai siang lagi. Beberapa teman bilang, enak banget kerja seperti saya. Bisa kerja di mana saja, dan hang out kapan saja. Bener begitu ya? Eiitss..! Nanti dulu. Hukum dari dunia online yang hidup dalam 24 jam berarti semua berproses dalam 24 jam juga yang itu berarti masalah bisa timbul di jam berapa aja. Kalau dini hari, ya dini hari itu harus diselesaikan. Haram hukumnya delay di dunia online hahahaa..

Suka perhatikan juga gak, karena semua terhubung dengan dunia digital, dan para asisten di rumah juga pegang HP, untuk memanggil atau menyuruh mereka pun seringkali kita menelpon atau sms mereka, males untuk berjalan ke dapur. Hayo siapa yang begitu? Apa-apa tinggal telepon, males jalan ke halte bus telpon taksi. Males jalan ke rumah makan, telepon delivery. Oh sungguh semakin mudah hidup kita.

Jadi hidup kita berkualitas ya? Makin gak jelas jam kerjanya, makin males bergerak, liburan pun masih sibuk dengan gadget kanan kiri karena bisnis tidak bisa ditunda, itu berkualitas ya? Ho..ho..ho..

Ngomong2 tentang kualitas hidup dan tentunya nyambung dengan gaya hidup, gaya hidup yang tidak teratur dan tidak sehat itu kalau berlarut-larut, memperbesar peluang untuk terkena penyakit yang krtiis lho.  Ada artikelnya di sini (http://www.thejakartapost.com/news/2011/01/08/unhealthy-lifestyles-give-rise-new-killer-diseases.html) yang menggaris bawahi hal itu.

Wahai para manusia modern, suka periksa kesehatan gak? Suka cek-cek ke laboratorium secara rutin gak? Kita asyik dengan fasilitas alat-alat canggih sehingga pekerjaan kita semakin maju tetapi tanpa disadari mengabaikan pola hidup yang kurang sehat. Badan kita ya sama dengan mesin, harus ada saatnya berhenti, harus ada saatnya direparasi, harus ada saatnya di cek up. Apalagi kalau pola makan tidak sehat, lengkap sudah!

Apabila Anda memang termasuk dalam kelompok orang-orang tersebut, sudah waktunya Anda berhati-hati. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebanyak 36,1 juta orang meninggal dunia disebabkan oleh penyakit jantung, stroke, kanker, dan diabetes (sumber: WHO Global Status Report on Noncommunicable Diseases (NCDs –April, 2011). Penyakit jantung koroner masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, yaitu rata-rata 200.000 pasien per tahun, menurut data Departemen Kesehatan RI. WHO dan Bank Dunia juga

Mari kita berhenti sejenak. Perhatikan badan kita sendiri, sudahkah memberikan haknya secara benar? Ketika penyakit kemudian menyerang, baru kita tersadar dan menyesal. Kalau sekedar masuk angin, demam, atau sakit-sakit ringan yaa okelah bisa sembuh dengan istirahat dan minum air putih serta makan yang benar. Tetapi jika mendadak terserang penyaki yang cukup berat, sudah siapkah? Karena sebenarnya penyakit berat itu tidak ada yang mendadak, pasti sudah ada tanda-tanda sejak awal tetapi sering tidak terdekteksi karena kesibukan. Penyakit berat bukan lagi milik Opa Oma kita, tetapi anak muda produktif pun sekarang sudah banyak yang terserang penyakit berat dan menggerogoti sepanjang umurnya.  Apalagi jika yang sakit adalah tulang punggu keluarga, pencari nafkah utama. Sudahkah diantisipasi jika hal itu terjadi? Bukan mau mendahului Tuhan, tetapi alangkah lebih nyaman jika kita mempunyai persiapan yang baik jika hal-hal buruk menimpa. Banyak kog instrument keuangan yang memberikan perlindungan secara maksimal, tinggal kita harus pintar-pintar mencari dan mempelajari mana yang sesuai dengan kondisi kita. Katanya manusia modern, harusnya melek financial juga toh?

Ketika dunia online tidak pernah tidur, bukan berarti kita begadang sepanjang malam.  Hidup cuma sekali, badan cuma satu, siapa lagi yang menyayangi kalau bukan kita sendiri?

Mari kita tidur, sudah malam.

YORIS

In Mengelola orang, tentang Akademi Berbagi on July 18, 2011 at 4:37 am

Foto diambil dari Facebook Yoris Sebastian 🙂

tulisan ini dimuat juga di http://akademiberbagi.org

Akhirnya kesampaian juga Akademi Berbagi mendatangkan guru Yoris Sebastian berkat bantuan teman-teman @IDkreatif dan PPKI 2011. Sudah cukup lama para murid mengusulkan minta supaya Yoris mengajar.

Sebelumnya, beberapa kali saya sudah bertemu dengan Yoris, tetapi tidak dalam kelas yang cukup panjang. Kali ini saya benar-benar belajar di kelas selama 2 jam mendengarkan dia berbagi ilmu dan pengalaman tentang kreativitas. Dengan suara tidak meletup-letup seperti seorang motivator kondang, tetapi  dengan gayanya yang bertutur membuat kita seperti mendengarkan sebuah cerita tentang perjalanan hidup seorang Yoris yang dari kecil tidak bandel, penakut karena tidak bisa naik sepeda hingga kemudian dia berada di posisi sekarang ini. Stereotip di kita adalah anak bandel = kreatif. Dan Yoris tidak bandel tapi kreatif abis. Dia juga bukan anak yang menonjol dibanding kakaknya yang memiliki IQ jenius, tetapi karya-karya Yoris adalah jenius!

Yoris, menyampaikan sesuatu, tanpa teriakan, tanpa semangat palsu dengan mengucapkan Selamat pagi! walaupun sudah malam, tetapi justru lebih mudah diterima. Apa adanya tetapi mengena. Dia bercerita bahwa kreatif bukan genetis tetapi bisa dipelajari dan harus dilatih. Kreatif tidak harus melanggar peraturan, justru kreatif itu adalah bagaimana meng-adjust ide kita dengan norma yang ada tanpa kehilangan sisi “tidak biasa”.

Kreatif juga bukan soal budget, kreatif adalah bagaimana menggunakan dana yang ada untuk sesuatu yang lain dari biasanya dan menjadi perbincangan orang. Kreatif juga bukan ide-ide yang spektakuler, justru menemukan hal-hal kecil yang berbeda tetapi mempunyai nilai manfaat.

Bikin seminar launching perusahaan di bioskop, program music I Like Moday, undangan nikah berupa celemek dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak biasa tetapi justru mengena.

Bagaimana dengan ATM = amati, tiru, modifikasi? Yoris menuturkan bahwa untuk diawal-awal atau untuk supaya dapur tetap ngebul itu sah-sah saja, karena memang banyak hal sukses adalah hasil modifikasi. Tetapi seiring jam terbang yang sudah cukup, dan financial sudah memadai perlu bagi orang-orang kreatif untuk menciptakan karya yang original. Karena itu menjadi pencapaian yang akan melekat dalam diri kita untuk lebih percaya diri dan milestone untuk membuat lompatan yang lebih besar lagi.

Hingga akhir kelas, saya masih terpukau. Yoris mempersiapkan semuanya dari cara bicara, gaya pakaian, penggunakan asesoris hingga tas kerjanya. Semua berbeda dan tidak biasa. Satu hal yang membuat saya semakin hormat adalah, dengan semua pencapaian dia, Yoris tetap manusia yang rendah hati.

Terimakasih Yoris, setelah buku pertamamu Creative Junkies ditunggu buku berikutnya.

PENTINGKAH SEBUAH JUMLAH?

In tentang Akademi Berbagi on July 17, 2011 at 3:02 pm

“tulisan saya ini juga dimuat di http://akademiberbagi.org & foto by Suryo @siboglou

Kemaren lusa saya berkesempatan menonton Musikal Laskar Pelangi, dapat hadiah dari Susu SGM Sari Husada untuk Akademi Berbagi. Karena dapat cuma 2, saya menonton dengan salah satu pengurus Akademi Berbagi Jakarta, Ranum. Lumayan dapat tiket VIP sehingga bisa menyaksikan secara dekat.

Salah satu adegan yang cukup mengena di hati saya adalah, ketika awal masuk sekolah Bu Muslimah sang guru menunggu dengan harap-harap cemas dan nampak raut wajahnya yang gundah, jumlah murid yang akan bersekolah. Jika kurang dari 10, maka SD Muhammadiyah Gantong tidak berjalan. Betapa pentingnya angka 10 demi berlangsungnya sebuah sekolah yang notabene sangat dibutuhkan untuk masyarakat Gantong.

Hal tersebut kemudian mengingatkan saya kepada Akademi Berbagi. Sekarang ada sekitar 10 daerah yang melaksanakan kelas secara rutin yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Surabaya, Palembang, Jambi, Medan, Ambon dan Madiun. Untuk kelas di Jakarta relatif tidak banyak kesulitan, selalu ada guru yang bersedia mengajar dengan cuma-cuma dan cukup banyak murid yang berminat. Sedangkan di daerah, beberapa masalah yang timbul adalah ketersediaan guru dan murid. Iya murid. Kalau guru, bisa pahamlah, tidak banyak expertise atau praktisi di daerah karena semua berbondong-bondong ke Jakarta, sehingga di daerah kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas. Tetapi saya percaya, dan selalu meyakinkan teman-teman di daerah, bahwa pasti ada orang pintar dan baik yang mau berbagi di daerah masing-masing.

Bagaimana dengan murid? Masak tidak ada yang berminat belajar secara gratis dan mendapat ilmu yang manfaat? Begitulah kenyataannya, tidak selalu setiap kelas banyak muridnya. Seperti kemaren, Kepala Sekolah Palembang melaporkan, hanya 7 murid yang datang dan belajar padahal gurunya datang dari Jakarta dan membagikan ilmu yang sedang “hip” di dunia online. Beberapa daerah lain juga mengalami kekurangan murid dan mereka merasa kuatir dan kurang bersemangat menjalankan kelasnya.

Apakah ukuran kesuksesan dari kelas Akademi Berbagi adalah jumlah murid? Kebiasaan kita bahwa ukuran sukses dihitung dengan angka, dan event yang sukses adalah yang pesertanya membludak membuat kegiatan Akademi Berbagi juga merasa itu menjadi salah satu ukuran sukses. Saya pun sempat ikut berpikiran demikian. Sehingga kemudian kita gencar mengumumkan dan mengajak orang-orang supaya mau belajar.

Pada suatu hari, di suatu acara saya sempat ngobrol dengan Enda Nasution. Dia bercerita tentang pengalamannya mengikuti berbagai workshop di luar negeri. Salah satu cerita yang kemudian saya ingat terus adalah, dalam sebuah workshop yang terdiri dari berbagai tema, dan peserta boleh memilih tema yang diminati. Ada salah satu kelas yang pesertanya cuma satu orang dan workshop itu tetap berjalan, pembicara pun tetap bersemangat mengajar. Karena bukan jumlah yang dikejar, tetapi proses transfer ilmu dan diskusinya. Walaupun satu orang, jika dia bersungguh-sungguh dan berminat maka sangat mungkin ilmu itu akan meyebar dan bermanfaat.

DANG!! Saya pun merasa ditampar.  Apa tujuan saya dan teman-teman membuat Akademi Berbagi? Apakah mengejar sukses dengan jumlah murid yang banyak dan tumpah ruah? Saya pun kemudian mengingat kembali awal perjalanan kelas Akademi Berbagi yang dimulai dengan 10 orang. Semangat kami adalah belajar dan berbagi. Memberikan orang akses atau jembatan untuk mengembangkan diri dengan murah dan mudah. Ketika belajar, training maupun workshop semakin mahal, di kelas kami semuanya gratis. Guru-gurunya pun bukan sembarangan tetapi orang-orang ahli dan para praktisi yang berpengalaman dan bahkan dikenal di masyarakat.

Tugas kami, menjadi jembatan antara pemilik ilmu dan orang-orang yang membuthkan ilmu. Berapa pun yang datang dan belajar, kelas harus tetap berjalan. Karena sesungguhnya gerakan kami bukan untuk mengklaim diri sebagai kegiatan social movement yang besar dan berhasil tetapi justru kegiatan kami adalah memberikan akses kepada siapa saja yang ingin belajar dengan murah dan mudah, memberi kesempatan orang-orang yang mau berkembang. Kami akan sangat senang, ketika ada salah satu murid kemudian menulis di timeline : terimakasih @akademiberbagi pelajaran hari ini sangat bermanfaat.

Ketika kelas yang dibuat memberikan manfaat walaupun hanya 1 orang, itulah sebenarnya esensi dari kegiatan kami, menebar manfaat. Bukan soal jumlah.

Selamat satu tahun Akademi Berbagi, perjalanan satu tahun belum panjang tetapi juga bukan hal yang mudah, karena kita menjalankan di sela-sela pekerjaan utama kita sebagai pencari nafkah. Selama satu tahun tetap konsisten menyelenggarakan kelas adalah hal yang luar biasa, karena tidak ada satu pun yang dibayar. Terimakasih untuk semua pengurus Akademi Berbagi di mana pun berada, tetap semangat dan istiqomah menjalankan kelas demi kelas. Seperti yang saya selalu ungkapkan : Akademi Berbagi ini adalah virus. Virus kebaikan yang terus menyebar tanpa penting lagi siapa penggagasnya karena Akademi Berbagi milik semua.

Soal jumlah? Tidak masalah 🙂

SELAMAT ULANG TAHUN YANG PERTAMA, SEMOGA BISA MENJAGA KOMITMEN DAN KONSISTENSI DALAM MENJALANKAN KELAS DEMI KELAS. BERBAGI MEMANG BIKIN HAPPY!