pasarsapi

Archive for December, 2010|Monthly archive page

Sebuah Catatan : Social Media & GUSDURian

In Mengelola orang on December 26, 2010 at 12:24 am

Berbicara di depan para GUSDURian –sebutan untuk para penerus perjuangan Gus Dur- tentang social media adalah pengalaman pertama yang cukup menantang sekaligus menyenangkan. Dalam rangka Haul KH Abdurrahman Wahid di Jombang, para GUSDURian ini berkumpul dan berusaha merajut kembali kepingan-kepingan perjuangan yang berserak diantara murid-murid dan kelompok murid yang tersebar di berbagai wilayah.

Sempat bertanya pada diri sendiri, apakah cocok berbicara tentang social media di depan para pejuang lapangan? Mereka terbiasa beraktivitas langsung sesuai bidang masing-masing ada yang sebagai petani, pedagang, santri, kyai, ustad ataupun aktivis jalanan. Waktu mereka di depan komputer atau browsing di HP mungkin hampir tidak ada atau bahkan beberapa belum mengenal apa itu social media.

Tetapi cerita dari mba Alissa, selaku koordinator GUSDURian, pengalamannya berbagi nilai-nilai dan perjuangan Gus Dur di social media mendapat tanggapan yang cukup signifikan. Bahkan hasil survey ada ratusan page facebook yang mengatasnamakan Gus Dur ataupun KH Abdurrahman Wahid. Saya pun bersemangat untuk berbagi manfaat social media kepada mereka. Karena saya berkeyakinan mungkin sekarang mereka belum banyak yang menggunakan social media tetapi kelak social media adalah media penghubung yang paling efektif dan murah untuk menjalin kerjasama dan koordinasi GUSDURian yang berserak di segala penjuru negeri bahkan sampai ke luar negeri sehingga menjadi komunitas yang solid.

Hampir semua yang hadir di acara kumpulan GUSDURian tersebut mempunyai Facebook, dan masih sedikit yang paham twitter. Tetapi itu adalah realita yang menggembirakan, bahwa tuduhan para GUSDURian tidak paham dan tidak menggunakan social media tidak benar. Dengan Facebook saja mereka sebenarnya bisa memaksimalkan fungsi social media untuk bertukar informasi dan memberikan bantuan serta dukungan untuk gerakan mereka. Tidak usah muluk-muluk, jika setiap leader di kelompok per wilayah mempunyai facebook atau social media lainnya, sudah cukup untuk menjalin komunikasi dan menyatukan gerakan dalam rangka memperjuangkan kembali nilai-nilai positif Gus Dur.

Mungkin benar mereka hanya petani atau santri, tetapi dengan kemudahan dan kemurahan HP smartphone bukan tidak mungkin tidak lama lagi mereka semua akan terkoneksi dalam sebuah wadah yaitu social media. Siapa bilang petani tidak butuh internet? Justru jika mereka diajari untuk mengakses internet, memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan pertanian. Begitu juga dengan pedagang, guru, dan santri. Ilmu di internet berserakan tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak.

Saya percaya, jika diberi akses dan kesempatan, setiap orang dapat menggunakan internet ataupun social media. Dan tidak akan lama lagi para GUSDURian dapat terhubung dan berkomunikasi melalui social media serta memanfaatkan internet untuk kemajuan aktivitas mereka. Tidak ada yang tidak mungkin. Para koordinator GUSDURian bisa memulai untuk mengedukasi para ketua kelompok atau tokoh-tokoh muda, yang selanjutnya akan menyebar seperti virus.

Pemanfaat jaringan online untuk mengembangkan komunitas adalah pilihan yang paling murah saat ini, dengan kondisi wilayah Indonesia yang terpecah-pecah di berbagai pulau dan biaya transportasi yang cukup mahal. Jika janji pemerintah dalam mewujudkan desa teknologi dapat terealisir di seluruh  Indonesia, maka semua wilayah akan terhubung melalui jaringan online. Dengan internet kita tidak hanya bertukar informasi, tetapi dapat menggerakkan massa untuk mengusung suatu issue atau perubahan untuk kebaikan. GUSDURian sebuah komunitas yang sudah mempunyai kaki di seluruh wilayah terutama Jawa akan jauh lebih efektif jika ada yang mewadahi dan bisa diakses dengan mudah seluruh anggotanya maupun orang luar yang tertarik atau ingin mengetahui aktivitasnya, sehingga pengembangan jaringan bisa lebih cepat. Wadah itu bisa berupa social media, website blog ataupun yang lainnya. Apapun bentuknya tidak jadi masalah, sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan akses anggotanya.

Kelak jika GUSDURian sudah terwadahi dengan baik di social media atau website, dengan database yang cukup rapi bukan tidak mungkin akan menjadi penggerak utama perubahan dan issue-issue strategis terutama yang berkaitan dengan perjuangan Gus Dur : toleransi, ke-Bhinneka-an, ekonomi kerakyatan dan Islam Rahmatan lil alamin.

Ingat pelajaran marketing tentang penjual sepatu? Salesman 1 di kirim ke suatu daerah dan ternyata di daerah tersebut seluruh penduduknya tidak menggunakan sepatu. Maka pulang lah dia ke kantor pusat dan bilang, “kita tidak bisa menjual sepatu di sana.” Salesman 2 pun di berangkatkan ke daerah yang sama. Dia tetap tinggal dan bergaul dengan penduduk setempat. Dan memberikan penjelasan tentang sepatu dan manfaatnya. Tidak lama kemudian, di daerah tersebut menjadi pasar baru penjualan sepatu.

Mau pilih Salesman 1 atau 2? Tidak ada yang instant untuk sebuah perjuangan. Tidak ada yang cepat untuk sebuah perubahan. Konsisten dan ketekunan tetap menjadi kunci keberhasilan.

Advertisements

Belajar dari Lelehan Cokelat jilid 2

In Mengelola acara on December 3, 2010 at 2:46 am

Masih penasaran belum mencicipi ice cream fenomenal Magnum si cokelat Belgian? Membaca di timeline twitter perburuan ice cream tersebut sudah cukup mereda. Mungkin konsumen sudah gampang menemukan atau sudah jenuh menunggu?

Setelah sebelumnya saya menulis tentang Magnum yang hilang di pasaran, kali ini saya ingin membahas tentang peran social media agent yang mempromosikan Magnum di dunia digital.  Jika iklan TV adalah komunikasi satu arah, event adalah kegiatan bersama sesaat, lain persoalan dengan social media. Kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka selama akun tersebut masih aktif. Padahal social media agent tidak bertugas selamanya, seringkali mereka dikontrak dalam jangka pendek. Kalau produk tersebut baik-baik saja, lancar di pasaran maka social media agent tenang-tenang saja. Tetapi jika produk tersebut ada masalah?

Seperti kejadian susahnya Magnum dicari di pasaran. Di social media terutama di twitter mereka menanyakan kepada para social media influencer tentang produk tersebut. Bukan hanya bertanya, kadang malah marah-marah menimpakan kekesalannya. Masalah yang lain adalah seringkali para influencer ini tidak tahu apakah produk tersebut memang kurang pasokan atau sengaja dibuat menjadi isu oleh perusahaan. Yang terjadi teman-teman di online tergaga-gagap menanggapinya. Perlu dijawab atau tidak, jika dijawab melanggar aturan atau tidak. Atau bagaimana mereka mesti menjawabnya.

Ketika saya bercerita di twitter tentang ibu yang ngamuk-ngamuk sama SPG karena tidak memperoleh Magnum, sambutan pun rame, hujan reply pun tiba. Beragam komentar mereka : ada yang bertanya apakah itu disengaja oleh perusahaan, ada yang kecewa karena susah mendapatkan dan ada juga yang memberikan  informasi dimana stok Magnum yang masih banyak.

Yang kemudian menarik adalah, twit-twit yang kecewa dan bertanya itu di cc ke buzz agent dari produk tersebut, dan diminta menjelaskan kenapa produk susah dicari di pasaran. Sebenarnya tidak tepat sasaran, tetapi sebuah hukum di dunia online, siapa yang bicara dia akan ditanya. Tidak peduli kita hanya membantu teman, buzz agent, penggemar atau hanya sekedar meng- RT. Karena begitu bersliwerannya berita terutama di twitter dengan cepat membuat orang tidak menaruh perhatian secara detil.

Lagi-lagi sebuah pelajaran bagi pelaku social media sebagai agent suatu brand. Batasan-batasan pekerjaan tidak bisa dibuat jelas dan detil. Seperti jenis komunikasinya yang cair, social media agent harus melebur dalam percakapan yang terjadi sehingga tidak terlalu nampak sedang menjalankan promosi.  Sebaiknya ketika menggunakan social media agent, brand harus paham bahwa mereka akan mengawal dalam kurun waktu tertentu hingga suatu perbincangan mereda. Jika mereka hanya dikontrak pas event saja, besar kemungkinan para agent ini tetap harus berdedikasi melayani  para konsumen di luar masa kontrak. Tanpa petunjuk pelaksanaan, bisa berakibat salah menjawab dan merugikan brand itu sendiri. Bagi social media agent : diam salah menjawab juga riskan. Perlu kehati-hatian dalam mengkomunikasikan.

Sekedar mengingatkan bahwa beban social media agent tidak hanya mempublikasikan informasi tetapi diharapkan oleh khalayak onliner, mereka dapat memberi penjelasan atau minimal menunjukkan kontak person yang tepat, meskipun kontrak kerja telah selesai.  Jika social media agent bisa menjalin komunikasi dengan baik, justru sangat mungkin menaikkan brand awareness dan konsumen semakin terpuaskan.  Selain perlu dibuat juklak menjadi agent suatu brand, penyusunan konten di social media juga sangat penting. Hindari kata-kata yang multitafsir atau tidak jelas. Buat percakapan itu natural sehingga terjadi ikatan yang cukup erat dengan konsumen brand. Untuk selanjutnya akan sangat mudah membuat komunitas dari brand tersebut bukan karena dibayar, tetapi karena keikhlasan si konsumen yang terpuaskan dengan relasi yang terjadi di online.

Bagi para perusahaan dan pemilik brand, mari ditinjau ulang kontrak kerja dengan social media agent. Social media agent bisa menjadi perpanjangan costumer service anda di online, dan kurun waktu yang pendek menjadi kurang tepat jika ingin brand melekat dihati konsumen 🙂

Belajar dari Lelehan Cokelat jilid 1 ( tulisan saya untuk The Marketeers)

In Mengelola acara on December 3, 2010 at 2:28 am

Coba tebak apa yang diributkan ibu-ibu rumah tangga di kota besar saat ini? Bukan beras langka, kenaikan harga atau antrian panjang mencari sembako. Tetapi mencari sepotong es krim karena seharian anaknya merengek-rengek minta es krim seperti di TV. Yach, es krim Magnum Belgian Chocolate berhasil membius bukan hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa karena iklan di TV yang begitu menggoda serta buzzing di social media yang jor-joran.

Sebuah promosi yang sukses dengan menggunakan semua lini, iklan di TV, event di Senayan City dan penggunaan social media membuat es krim tersebut jadi pembicaraan dan dicari banyak orang. Orang pun beramai-ramai berburu sang Magnum. Mendadak buuummmm..!!! Barang hilang dari pasaran. Apakah ada yang memborong, menimbun atau sengaja dihilangkan? Timbullah dugaan orang-orang bahwa itu sengaja dibuat hilang, sehingga orang semakin penasaran, tetapi ada juga yang menduga bagian distribusi tidak siap dengan gencarnya usaha marketing yang mendapat sambutan luar biasa. Lagu lama “High promises low delivery “.

Saya tidak tahu persis mana yang benar, yang jelas banyak konsumen kesulitan mencari es krim Magnum. Seperti kejadian minggu lalu ketika saya belanja di salah satu hypermarket di Jakarta Selatan, dua orang ibu marah-marah kepada salah satu SPG es krim karena tidak menemukan Magnum. Ibu tersebut mengaku jengkel sudah ke berbagai toko tidak ada, dan berharap di supermarket besar bakalan nemu. Ketika dijelaskan bahwa memang stock sudah habis tadi siang, si dua ibu tersebut tetap tidak percaya dan justru menuduh itu semua tipuan. Jadilah SPG tersebut diomel-omelin dan dibilang berbohong sambil menyeret anaknya yang menangis tidak mendapatkan es krim impiannya.

Saya pernah dengar beberapa perusahaan memang sengaja begitu. Mebuat promosi besar-besaran sehingga menjadi bahan perbincangan tetapi produk belum ada di pasaran. Hal itu sengaja dibuat agar konsumen semakin penasaran dan perbincangan produk tersebut menjadi “panjang”. Ujung dari design komunikasi itu adalah ketika produk tiba di pasaran, bakal diserbu konsumen laris manis bak kacang goreng. Serta brand tersebut akan melekat terus dibenak konsumen. Contoh yang berhasil melakukan hal tersebut adalah perusahaan otomatif dan gadget. Tetapi kalau makanan, atau consumer goods apakah cocok dengan model yang begitu? Menurut pandangan saya, benda-benda yang habis pakai umur menjadi perbincangannya pendek, subtitusinya banyak sekali dan konsumen sangat mudah beralih. Jarang yang sedemikian loyal sehingga mau menunggu hingga produk tersedia. Jangan-jangan malah ada produk kompetitor yang menyalip di tikungan, memanfaatkan kejengkelan konsumen. Alhasil ketika produk menyerbu ke pasaran, masyarakat sudah lupa bahkan kehilangan selera.

Jadi apakah Magnum susah di pasaran itu sengaja atau masalah produksi dan distribusi yang tidak cepat dan merata? Saya tidak paham, tetapi apakah tepat menahan produk dari pasaran untuk memperpanjang rasa “penasaran” sehingga Magnum akan melekat di hati? Selamat berburu Magnum, ditunggu lelehannya di segala penjuru negeri! 