pasarsapi

Archive for November, 2010|Monthly archive page

Mengejar Mimpi, Jalan Panjang Pendidikan Anak Bangsa

In Mengelola orang on November 18, 2010 at 2:38 am

Minggu lalu, saya dapat kesempatan untuk menyaksikan pemutaran film dokumenter Mengejar Impian garapan sutradara kondang Nia Dinata kerjasama Kalyana Shira Foundation dengan Putera Sampoerna Faoundation (PSF) dalam rangka penggalangan dana masyarakat untuk  program bea siswa. Sebuah film dengan setting kota Malang tempat sekolah impian yang bertujuan mencetak pemimpin-pemimpin masa depan. Dalam program tersebut, anak-anak penerima beasiswa harus menjalani tes penerimaan yang cukup ketat dan tidak mudah. Bagi yang lolos, bukan hanya sekolahnya yang dibiayai tetapi seluruh biaya hidup ditanggung oleh PSF sehingga murid-murid bisa benar-benar berkonsentrasi belajar meraih impiannya.

Suatu hal yang tidak biasa, sebuah foundation milik perusahaan besar mengadakan penggalangan dana,  karena pandangan masyarakat selama ini bahwa PSF adalah milik pengusaha kaya raya yang tidak perlu bantuan masyarakat. Eitts jangan salah, kebutuhan akan dana pendidikan yang berkualitas itu sangat besar, tidak bisa ditangani sendiri oleh sebuah foundation, perlu uluran tangan bersama. Dan bantuan dari masyarakat bukan sumbangan besar dan glondongan, tetapi seperti yang Pak Putra Sampoerna katakan : bukan jumlah donasinya yang utama, tetapi kebersamaannya. Walaupun kecil jika dilakukan bersama-sama dengan banyak orang maka akan menjadi kekuatan luar biasa.

Film dokumenternya sendiri  terkesan kurang greget. Padahal tokoh-tokoh yang bermain sangat beragam dan banyak hal-hal yang menarik yang bisa diangkat. Misalnya ibu dari Aang, seorang orang tua tunggal yang berjuang membesarkan anaknya setelah ditinggal mati suaminya, Kegigihan seorang perempuan bisa digarap lebih menyentuh. Atau ada kakaknya salah satu tokoh  yang gagu tetapi semangat untuk menjadi pemulung demi membantu keluarganya  bisa lebih mengharu biru.

Karena untuk penggalangan dana, kenapa tidak menayangkan lebih banyak anak-anak yang gagal menerima beasiswa  padahal mempunyai potensi? Justru kegagalan mereka dapat menggugah hati penonton bahwa perlu banyak uluran tangan untuk membantu anak-anak kita meraih impiannya. Menurut saya sah-sah saja film dokumenter dibuat lebih dramatis toh tujuannya adalah untuk menyentuh emosi masyarakat agar lebih peduli dan tergerak hatinya. Sekali lagi ini pendapat saya pribadi.

Tetapi  yang terpenting adalah pesan bahwa semua anak bisa punya impian dan dapat meraih mimpinya jika dia bersungguh-sungguh belajar dan berusaha. Tugas kita lah untuk  membantu menfasilitasi  agar mimpi itu menjadi jalan hidupnya. Menggantungkan harapan pada pemerintah sepertinya hanya akan memperbanyak kekecewaan. Sudah saatnya kita bergerak, karena nasib pendidikan anak bangsa sudah sangat memprihatinkan. Kalau kita bersama-sama bergandengan tangan, saya yakin kita pasti bisa, demi anak-anak kita. Wahai anak muda beranilah bermimpi karena dengan kegigihanmu selalu adalah jalan untuk meraihnya!

Pucuk diCinta Galaxy Tab Tiba

In Mengelola acara, Mengelola orang on November 15, 2010 at 4:49 am

*ini adalah postingan saya di blog The Marketeers dalam rangka – siapa tahu- bisa dapat Galaxy Tab *

Saya ingin sekali punya Samsung Galaxy Tab. E, lha kog, The Marketeers bikin lomba nulis tentang marketing hadiahnya Galaxy Tab. Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang menginginkan, pasti di luar sana banyak sekali yang ingin Samsung Galaxy Tab, terbukti antrean yang panjang dan mengular ketika produk tersebut diluncurkan untuk pertama kalinya. The Marketeers pasti melihat itu. Kenapa hadiahnya Galaxy Tab, pasti karena disesuaikan dengan pasar yang ingin disasar. Sasaran yang hendak dituju The Marketers adalah para penghuni social media yang riuh rendah dan sudah barang tentu pengguna dan penikmat gadget-gadget teranyar.

Apakah mengadakan kuis berhadiah masih diminati? Saya yakin masih sangat diminati, buktinya masih banyak yang tertipu menang kuis ini itu dengan diminta transfer biaya sekian rupiah untuk menebus hadiahnya. Bayangkan dengan membayar saja masih pada mau menebus hadiahnya, apalagi jika kuis itu benar dan cuma-cuma.

Saya teringat salah satu pengajar di Akademi Berbagi, jika ingin produk atau brand menjadi pembicaraan ada 3 hal : baru, berhadiah, dan unik.

Jadi kalau ingin brand atau produknya menjadi pembicaraan, pilih diantara 3 hal di atas. Memang bukan sesuatu yang mudah, perlu membuat strategi dan taktik untukmenjadikan produk atau brand adalah barang baru, memberikan hadiah yang menarik atau barang yang unik. Apalagi di dunia web 2.0 dimana semua informasi, data, gossip berseliweran begitu cepat dan saling berebut perhatian.

Riset kecil-kecilan juga diperlukan agar mempunyai basis informasi yang tepat. Jaman teknologi informasi seperti sekarang ini lebih mudah membuat riset. Bisa melalui facebook, twitter atau milis. Apalagi jika mempunyai keterbatasan dana, kreativitas dan pemanfaatan teknologi semaksimal mungkin sangat diperlukan. Tetapi saya mempunyai kepercayaan, di dunia digital dana yang besar tidak menjamin produk atau brand anda laku di pasaran. Siapa kreatif dan konsisten bisa berhasil.

Apakah saya akan memperoleh Galaxy Tab? Belum tahu, tetapi mencoba tidak ada salahnya bukan?

Berbagi bikin Happy

In Mengelola acara on November 4, 2010 at 4:11 am

Yaa…sudah hampir 5 bulan kelas Akademi Berbagi berjalan. Sudah banyak kelas-kelas yang diselenggarakan dan guru-guru hebat didatangkan. Alhamdulillah, ini berkah luar biasa buat saya pribadi dan pasti juga buat murid-murid peserta akademi berbagi. Kapan lagi kita bisa mendapatkan ilmu langsung dari praktisi yang keren seperti : Bapak Subiakto pemilik biro iklan HOTLINE yang berhasil menelurkan iklan-iklan keren seperti Indomie, Mc.Donald, Extra Joss dll., Bapak Budiono Darsono pemilik sekaligus Pimpinan Redaksi news portal terkemuka detikcom, belum yang lain-lain seperti Budiman Hakim, Tya Subyakto, Elisa Ventura, Ndoro Kakung, Enda Nasution, Danny Tumbelaka, Sasha “poetic picture”, Djito Kasilo, Aidil Akbar, Sumardi, Catur PW, Zara Zettira dll.

Kelas yang diselenggarakan di akademi berbagi ada berbagai macam diantaranya : Copy writing, Art Directing, Script Writing, Music directing, creative writing, Jurnalistik Online, Social Media, Fotografi, Financial planning dan akan ada kelas Public relations, Branding dan tentunya menerima usulan kelas-kelas yang lainnya. Yang penting adalah berbagi ilmu dari para pelaku dan praktisi sehingga kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman mereka.

Berhubung ini adalah akademi berbagi, sekolahnya tidak dikenakan biaya kalau pun kelak ada biaya itu untuk konsumsi dan jumlahnya tidak besar. Guru nya pun saya dapat gratisan, bahkan disediakan tempat di kantor mereka. Seperti kelas Jurnalistik di kantor detikcom, kelas creative dan iklan di kantor Hotline, kelas fotografi dan social media di Rumah Langsat.

Awal mula berdirinya akademi berbagi karena saut-sautan twitter dengan Pak Bi, panggilan akrab Pak Subiakto.  Kemudian beliau menawarkan untuk mengajar copy writing dan saya diminta mengumpulkan muridnya via twitter. Ternyata peminatnya banyak sehingga dibuatlah beberapa kelas. Bukan hanya murid, saya pun mendapat tawaran dari para guru yang mau berbagi ilmunya, sehingga jenis kelasnya semakin beragam sesuai kapasitas dan pengalaman sang guru. Semua dimulai dari 140 karakter!

Begitulah kelas ini berjalan, pengumuman, pendaftaran murid, dan semua hal dilakukan via twitter. Dengan berjalannya waktu banyak informasi yang harus ditulis lebih panjang, kemudian saya dibantu dengan fanabis membuat blog http://akademiberbagi.blogdetik.com. Tetapi semua informasi tetap dishare via twitter. Dan atas kebaikan Yhanuar salah satu murid rajin yang kemudian menjadi asisten saya, dibuatlah akun twitter : @akademiberbagi.

Akibat akademi berbagi ini, BDI atau Budiono Darsono sering memanggil saya Kepala Sekolah. Karena beliau adalah rain maker sejati ,pangkat itu kemudian melekat begitu saja kepada saya. Dan semua teman di twitter menyapa saya Bu Kepsek. Berhubung kelas semakin banyak maka ada beberapa Wakepsek yang membantu saya, yaitu : @fanabis, @yhanuar, dan @diniAFC. Terimakasih kepada kalian semua, bantuannya sangat berarti 🙂

Akademi Berbagi benar-benar membuat saya bahagia, karena dengan segala keterbatasannya saya bisa membantu teman-teman yang ingin menambah ilmu. Dan saya tidak mungkin sendirian, pasti harus dibantu oleh banyak orang agar akademi berbagi ini terus berjalan dan bisa menularkan ilmu ke lebih banyak orang. Untuk itu, saya berharap ada yang membuat akademi berbagi ini di manapun dan kapan pun tanpa harus saya yang menangani. Saya akan support dan bantu bagi siapa saja yang ingin membuat akademi berbagi. Semakin banyak dan sering kelas dibuat, maka akan semakin banyak orang yang mendapatkan ilmu pengetahuan.

Mari Berbagi, karena Berbagi bikin happy!

Ultah Unik membawa Spirit

In Mengelola orang on November 1, 2010 at 11:00 am

Di suatu siang mendadak dapat BBM seorang kawan , diundang ke ulang tahun temannya. Disela-sela kegiatan yang padat merayap saya luangkan waktu untuk mampir ke lokasi ulang tahun, yang kebetulan satu jalan. Tiba di tempat acara, saya terheran-heran, ini acara ulang tahun atau seminar ya? Dari penerima tamu sampai settingan lokasinya seperti sebuah seminar dan cukup serius.  Kebetulan saya diundang oleh teman saya yang adalah sahabatnya si empunya gawe.

Setelah berkenalan dengan yang ulang tahun, dan diceritakan sedikit tentang latar belakang acara tersebut, saya semakin ternganga, ada ya orang seperti itu. Jadi si pamengku hajat ini adalah seorang perempuan sukses yang selalu merayakan ulang tahun dengan cara yang tidak biasa. Kebetulan dia adalah blogger  sehingga setiap ulang tahun dia menyelenggarakan lomba cerpen berhadiah dan membukukan hasil karya para pemenang dengan modal sendiri. Ulang tahun kali ini dia ingin berbeda, untuk itu dia mengundang mahasiswa dari berbagai universitas, dosen, bahkan selebritis untuk hadir di seminar tentang Hak Kekayaan Intelektual. Pembicaranya pun bukan main yaitu DR. Bambang Kesowo, SH, LL.M  pakar Hak Kekayaan Intelektual, dan mantan menteri di era Presiden Megawati.

Ketika undangan ulang tahun itu dikirim via BBM, saya sedang ngobrol bareng Mba Fitri dari Speedy Telkom diantaranya membicarakan tentang kekayaan intelektual anak negeri.  Berapa banyak harta yang telah terampok atas pembajakan karya cipta bangsa Indonesia. Kita bicara di musik saja, ada berapa milyar dari pajak yang seharusnya diterima oleh Negara, dan ada berapa milyar yang harusnya diterima oleh musisi atas karyanya. Itu baru dari musik, belum karya lainnya. Dan yang menjadi keprihatinan Mba Fitri, saya dan teman-teman lainnya adalah Departemen Komunikasi dan informatika lebih sibuk mengurusi hal-hal porno daripada menyelamatkan karya anak negeri yang bebas didownload bajakannya di online.  Entah kurang paham atau tidak peduli. Padahal setiap hari selalu lahir karya-karya kreatif yang jika difasilitasi dan dilindungi haknya akan menjadi potensi ekonomi bangsa. Tetapi katanya kita gak boleh putus harapan, selalu ada secercah cahaya di ujung lorong. Mari sama-sama berdoa cahaya itu segera tampak dan membesar.

Acara Seminar Hak kekayaan Intelektual yang diadakan oleh mba Risa mungkin adalah salah satu cahaya, walaupun kecil tetapi jika disebarkan ke banyak peserta akan menjadi gelombang kesadaran yang  semakin membesar sehingga menyadarkan pemerintah untuk menjalankan regulasinya dengan tegas dan konsisten.

Jangan pernah berhenti berkarya teman, pembajak hanyalah tanjakan yang akan membuat kita besar.

Untuk mba Risa Amrikasari selamat ulang tahun semoga semakin keren. Ulang tahunmu sungguh inspiratif dan penuh makna, kita tunggu ulang tahun unik selanjutnyaa…*hugs and kisses*