pasarsapi

MIE INSTANT RASA PENGAWET

In Mengelola orang on October 13, 2010 at 9:20 am

Indomie menjadi pembicaraan yang rame di twitter, ada apa gerangan? Oh..ternyata ada berita penarikan Indomie dari pasar-pasar diTaiwan karena dianggap mengandung bahan pembuat kosmetik, atau batas pengawet yang melebihi dosis aman. Berita simpang siur di kepala, karena saya memang tidak sungguh-sungguh memperhatikan. Belum lagi isu bahwa itu masalah persaingan usaha, karena Indomie begitu merajai pasar makanan di Taiwan selama 15 tahun terakhir. Ruwet.

Apakah kemudian saya berhenti mengkonsumsi mie instant? Ah..entahlah. Karena nanti pas kepepet dan pengin banget, mana kuat menahan untuk tidak makan demi alasan kesehatan? Ya alasan kesehatan sepertinya kog kurang manjur, harus ada alasan lain yang cukup signifikan untuk menghentikan saya dan yang lainnya untuk berhenti mengkosumsi mie instant.

Bukan saya tidak peduli kesehatan, tetapi mari kita perhatikan dengan seksama kualitas makanan di Indonesia. Suka ikan? Ya di Negara kita ada bermacam-macam ikan. Proses penangkapan dan penyimpanan nelayan kita belum canggih malah tergolong tradisional sehingga untuk mengejar harga jual yang murah mereka menggunakan pengawet makanan yang murah juga. Contohnya formalin. Murah, mudah didapat dan bener-bener awet karena biasanya formalin untuk mengawetkan mayat. Dulu sempat ada razia pelarangan menggunakan formalin, tetapi lagi-lagi kondisi ekonomi nelayan dan pengepul yang relatif pas-pasan,dan ditekan tengkulak kanan kiri akhirnya balik lagi pake formalin. Jika pake pengawet makanan yang benar, disamping harganya mahal yang nanti akan membebani harga jual padahal kondisi riil daya beli masyarakat masih rendah, makanan pun tidak bisa awet lama. Daripada menanggung rugi terus-menerus kembalilah mereka pake formalin.

Boraks. Naah ini adalah zat mengenyalkan biasanya dipakai untuk bakso atau mie. Sudah barang tentu berbahaya, tetapi karena efeknya tidak langsung, konsumen pun anteng-anteng aja dijejali mie atau bakso boraks. Pernah dirazia sih, tetapi lagi-lagi hukum ekonomi berlaku. Sepanjang murah dan enak, pasar tetap berjalan seperti sediakala dengan boraksnya. Soal kesehatan, waah nantilah dipikirkan. Mikirin kebutuhan sekarang aja sudah repot.

Suka tahu? Naah ini sama juga neeh. Pengawet yang dipake ya formalin juga. Bagaimana jika pake pengawet makanan? Waah baru sampai di supermarket sehari aja sudah basi. Enggak tahan lama. Kondisi jalanan yang macet, biaya produksi yang ditekan supaya harga jual masuk akal membuat pengusaha tahu balik lagi ke formalin setelah dulu ramai-ramai ditarik dari peredaran karena hampir sebagian besar berformalin. Pernah saya beli tahu di supermarket yang cukup elit ,dengan harga lebih mahal, dan katanya kualitas bahan makanan cukup bagus. Pikir saya untuk menghindari makanan dengan bahan tambahan aneh-aneh. Sampai di rumah iseng-iseng tahu saya banting. Boro-boro pecah, justru malah membal loh! Saya sempat komplain, dan tahu itu sempat ditarik dari supermarket tersebut. Tapi besok-besok sudah ada lagi dengan tambahan tulisan : bebas formalin. Apakah betul bebas formalin? Wallahu alam bissawwab. Karen menurut pengakuan produsen tahu, sangat susah dan mahal jika menggunakan pengawet makanan. Hanya tahan sebentar, padahal proses pengiriman makan waktu dan memang tahu itu tidak bisa lebih dari 2 hari jika suhu penyimpanannya tidak bagus. Belum lagi airnya. Pembuatan tahu dan tempe seharusnya menggunakan air yang benar-benar bersih dan banyak. Lah di Jakarta ini bagaimana mendapatkan air yang bagus, untuk minum di rumah-rumah aja susah.

Belum lagi soal buah, ayam dan daging-dagingan, kue…aaaaarrrgghhh….silakan dicek sendiri deh, mana yang benar-benar bebas bahan berbahaya. Bukan menakut-nakuti, tetapi kondisinya memang seperti itu. Jangan salah, buah import pun banyak yang disuntik bahan pengawet berbahaya, Karena regulasi Negara kita memang lemah dan pengawasan yang kurang. Importir makanan dan barang-barang ke Indonesia itu menganggap Indonesia ini surganya pasar. Aturan mudah ditawar dan konsumennya gak rewel. Lengkap sudah. Makanan dan barang kualitas rendah berhamburan.

Jadiiiii….soal mie sepertinya akan lewat begitu saja seperti kasus borak, formalin, pewarna tekstil dan teman-temannya. Pemerintah tidak punya nafas panjang untuk terus-menerus mengawasi. Kesadaran konsumen atas bahaya zat-zat tersbeut juga minim, belum lagi produsennya yang dibebani biaya ini itu yang tidak jelas terpaksa menurunkan biaya produksi dengan menggunakan bahan-bahan semurah mungkin untuk menekan harga jual.

Selama kebutuhan dasar belum terpenuhi, susah untuk membangun pola pikir dan kesadaran tentang kesehatan serta lingkungan. Sebagian warga kita masih yang menganut : bisa makan sampai besok saja sudah syukur. Umur di tangan Tuhan Pak Presiden, Bu Menkes. Makan kami hari ini yang harus kami pikirkan.

Saya sendiri? Saya adalah golongan menengah yang belum kuat untuk mengganti semua makanan saya dengan organik. Harganya diluar jangkauan saya. Masih sih memilih-milih terutama yang untuk anak saya, tetapi dengan keterbatasan dana, saya tidak punya banyak pilihan. Selebihnya, saya yakin makanan-makanan dengan za-zat ajaib itu banyak yang masuk di perut saya, tinggal satu cara menyelamatkan tubuh saya : berdoa sebelum makan, minta kepada Tuhan makanan tersebut membawa manfaat dan kesehatan bagi tubuh saya. Pasrah kepada Yang Maha Hidup.

Maafkan saya Tuhan, lagi-lagi membebani dengan urusan yang kurang penting ini, karena Negara saya belum mampu menjaga makanan rakyatnya.

  1. hadeh serem gini. kalau mau jadi vegetarian pun sayurannya juga banyak bahan kimia… *oh aku sekarang dah belajar hidup sehat, makan malam cuman ubi cilembu doang hi hi

  2. Kw : yaah makan ubi cilembu aja mana sehaaat? Hidup di Indonesia dengan alam yang indah sayang kualitas makanan hancur minah ha ha ha

  3. aku selalu stock indomie je mbak, nek kepepet yha lumayan kan ? hihihihiihii….enak juga sih hihihii….

  4. Semoga Tuhan tahan dengan beban doa yang kian panjang dan berat😉

  5. di masa depan Indonesia menjadi surga bagi para arkeolog, banyak muminya…. orang sudah diawetkan perlahan sejak masih hidup….😉

  6. Info tambahan :
    – Formalin Pada Ikan (Ikan berformalin dan tidak berformalin)
    – Ciri – Ciri Ikan Berformalin

    http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/05/30/formalin-pada-ikan-ikan-berformalin-dan-tidak-berformalin-ciri-ciri-ikan-berformalin/

Comments are closed.

%d bloggers like this: