pasarsapi

Koin bukan untuk Prita

In Mengelola orang on December 13, 2009 at 5:23 am

Apakah saya mengenal Prita? Tidak. Lalu kenapa bersusah payah ikut menggalang pengumpulan koin untuk Prita. Apakah saya tahu penggagas gerakan koin untuk keadilan? Saya tidak tahu. Gerakan koin pertama kali saya ketahui melalui twitter dan seperti menjadi sebuah jalan buat saya dan mungkin buat yang lain juga untuk menyuarakan kekecewaan yang luar biasa atas ketidakadilan hukum di negeri tercinta.

Saya sama dengan Prita, seorang perempuan biasa yang seringkali mengalami kekecewaan dan bahkan kerugian akibat pelayanan yang buruk tidak hanya rumah sakit atau dokter, tetapi dari berbagai hal. Sebagai konsumen seringkali kebingungan bagaimana caranya mengeluh bahkan memprotes atas hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya. Mengisi form keberatan atau melapor ke management perusahaan/ lembaga menjadi cara yang basi karena seringkali kita hanya jadi bola pingpong yang dilempar kesana kemari tanpa penyelesaian. Atau lain waktu kita bak patung yang didiamkan dan dianggap tidak penting kecuali uang kita. Apa yang dialami Prita sangat efektif untuk membungkam kita dalam diam dan menyimpan kekecewaan sendirian, karena hukum begitu menakutkan.

Belum kelar soal Prita, datang Mbok Minah. Aaaaaagggh…..saya tidak tega melihat tatapan bingung dan ketakutan simbah tua atas apa yang menimpanya. Kemudian secara bertubi-tubi muncul ke media kasus pencurian semangka, kasus satu keluarga yang dipenjara karena mencuri sisa olahan kayu untuk mempertahankan hidup, dan kasus-kasus yang lain yang membuat kita ternganga karena disatu sisi Anggodo yang bocoran sadapan teleponnya begitu menggemaskan untuk ditindaklanjuti bebas berlalu lalang tidak diapa-apakan. Atas nama hukum hati nurani pun menjadi tidak ada karena nurani tidak punya bukti.

Saya begitu bersemangat ikut menggalang koin melalui FB dan twitter karena menurut saya pribadi ini adalah cara untuk menyuarakan kekecewaan atas ketidakadilan, daripada saya marah-marah membuang sumpah serapah. Kemudian gerakan ini bergulir tanpa bisa terbendung dan membuat publik tercengang sendiri betapa luar biasa sambutan masyarakat untuk ikut serta dalam pengumpulan koin bukan hanya orang yang mampu, pengemis dan pemulung pun ikut berpartisipasi.

Ketika pada akhirnya RS Omni mencabut gugatan, bukan berarti pengumpulan koin menjadi sia-sia. Saya percaya gemerincing pengumpulan koin terdengar sampai ke ujung negeri membuat gerah dan malu hati. Dan koin itu hanyalah perlambang ketika keadilan semakin membumbung tinggi diawan, maka perlu dibumikan,direcehkan sehingga kembali terjangkau oleh semua masyarakat. Semua orang bisa berpartisipasi untuk mengumpulkan koin : pengusaha, politisi karyawan bahkan pengemis. Karena keadilan pada dasarnya untuk semua untuk pemulung juga.

Pelajaran penting bagi negeri ini, ketika hukum tidak (lagi) dapat menaungi rakyatnya bersiap-siaplah karena berkarung-karung koin akan jatuh menimpanya. Berat dan merepotkan!!

  1. pastinya receh-receh yang terkumpul bisa buat sesuatu yang lain yang juga sama sama beguna dan bermanfaatnya

  2. dan saya menganggap demo seperti ini jauh lebih efektif daripada berteriak-teriak di tengah jalan.
    suara-suara itu hanya akan jadi uap dibawa angin, dan hilang.

  3. Nothing : Pa kabar mas Wahyu…saya pengin sekali ke malang. Kapan yaa…

    Bakurujak : betul sekali, apalagi kalau yg bersuara seluruh masyarakat Indonesia…:D

  4. dan hukum kita sekarang ini memang sudah seharga receh Mbak😐

  5. presidene cek telo! tukang akting, muka memelas, lempar batu sembunyi tangan dan cuci tangan. presiden opo kuwi?

  6. ga ada yg sia-sia untuk kerja bakti kayak gitu

  7. LAIK DIS!

    ga sia2 ya nte ai ngitung koin di samping mbak sita RSD😀

Comments are closed.

%d bloggers like this: