pasarsapi

Bukan di Mall, di Rumah Saja

In Mengelola orang on August 22, 2009 at 3:17 am

Masih inget Mbak Jeni dan Mas Rudi?
Kemaren kita tujuhbelas agustusan disana. Bukan mau upacara, tetapi berkumpul, bersenang-senang dan makan-makan. Sudah lama sekali saya ingin berkunjung ke rumah beliau berdua pasangan sesepuh blogger paling romantis. Mas Rudi biasa disapa Pakdhe Mbilung dan Mbak Jeni disapa budhe oleh anak-anak blogger.

Seperti biasa sang Bude mempersiapkan segala logistik, dari spaggeti yang kondang kelezatannya itu sampai pepes, puding, ayam goreng dan semua perminumannya. Lengkap, sampai bingung menyantapnya. Belum lagi tambahan bakso yang yummy dari sang legenda bakso mas Gandhung Manongan. Sumpah baksonya enak banget!

Berkunjung ke rumah teman, dijamu makan dan ngobrol-ngobrol santai merupakan kegiatan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Gaya hidup diperkotaan yang selalu akrab dengan macet dan berkejar-kejaran dengan waktu membuat budaya berkunjung ke rumah semakin ditinggalkan. Mall atau tempat-tempat makan menjadi pilihan yang diminati untuk bertemu. Disamping mudah dijangkau secara transportasi, juga bisa melakukan beberapa kegiatan sekaligus. Makan, berkumpul, ngobrol, bisnis, belanja, anak main dan cuci mata! Praktis tapi jelas ndak ekonomis babarblas! Gimana mau ngirit, yang tadinya gak niat beli jadi diborong, yang tadinya cuma mau minum tambah cemal-cemil jadi dimakan deh segala menu. Tinggal nanti melongo melihat tagihan. Uang cash gak cukup, srettt…! digeseklah si kartu kredit. Beres, tagihan pikir belakang.

Bertamu ke rumah teman menjadi hal yang langka. Berkumpul di rumah sambil mengudap dengan posisi sembarangan dan mengumbar guyonan jorok terasa lebih kekeluargaan dibanding bertemu di mall dengan waktu yang terbatas dan segala hal yang dibatasi pula. Di rumah, pembicaraan pun bisa jauh lebih akrab dan bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Anak-anak pun bisa belajar bersosialisasi dengan lebih manusiawi. Bahkan kita bisa mengenal seluruh anggota keluarganya.

Bertamu memang lebih bebas dan lebih akrab, tetapi tetap saja ada etikanya. Bertamu harus seijin dan sepersetujuan yang didatangi, atau memang diundang sang empunya. Soal hidangan juga, lihat adat kebiasaannya, bila perlu bawa juga makanan yang nanti akan di makan bersama-sama atau diserahkan ke pemilik rumah. Dan saya pun memilih bertamu ke rumah teman atau saudara yang memang sudah dekat atau akrab. Sehingga saya bisa lebih yaman dalam bertamu dan ngobrol santai itu benar-benar terjadi.

Saya akan selalu kangen berkunjung ke rumah-rumah teman, karena dapat mengembalikan semangat kekeluargaan yang semakin berkurang dikikis yang namanya kemajuan jaman. Apalagi kalau pulang masih dibekali pepes, he he he…Terimakasih Mbak Jeni, terima kasih Mas Rudi.

  1. lha trus kapan omahmu arep ngadakno open house…kanggo BHI ae sik lah?😛

  2. @ Hedi : la ayoo kapaaan..? cidhek ae lo seko wetiga. Gawa panganan dewe2 yo Sam😀

  3. tenane? ayo kapan?

  4. ayuk.. kemon.. kapan?

  5. Mbak, itu makan-makan kalo aku pas lagi di sini ya. Kalo lagi di Bali sih aku cuma bisa melu ndlongop.

Comments are closed.

%d bloggers like this: