pasarsapi

Archive for August, 2009|Monthly archive page

Kenapa Risau..?

In Mengelola orang on August 28, 2009 at 9:37 am

Kenapa kita harus risau dengan malam, karena pagi pasti datang.

Kenapa kita harus risau dengan kemalangan, karena kesenangan akan datang.

Kenapa kita harus risau dengan kesulitan, karena kemudahan pasti akan datang.

Banyak dari kita seringkali terpuruk dalam kesedihan yang dalam, tanpa tahu harus bagaimana. Merasa frustasi, bahkan depresi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.  Padahal kalau kita selalu ingat janji ALLAH bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, maka tidak ada penderitaan yang abadi.

Hidup ini bergilir dari gelap ke terang, dari mudah ke susah, dari sehat menjadi sakit dan kemudian sehat lagi.  Walaupun kita tidak mau menerima, tetap saja saat-saat gelap pasti datang. Untuk apa dilawan. Berdoa memohon supaya tidak ada kesusahan? Seperti memohon pagi hadir tanpa malam.

Menjalani segala sesuatu sesuai dengan ketetapan-NYA dan menerima sebagai suatu hal yang memang harus terjadi atau bahasa lainnya ikhlas adalah kuncinya. Kita tidak bisa menghindar dari bencana, tetapi kita bisa menghadapi bencana. Kita tidak bisa menghindar dari kesulitan, tetapi kemudahan akan datang menyelesaikan.

Jadi, mari kita berdoa memohon kekuatan, keihlasan, dan kelapangan hati untuk menerima segala sesuatunya sebagaimana adanya, tanpa perlu menggurui TUHAN.

Apakah saya gak boleh minta sehat, minta kaya, minta selamat?  Yaa..boleh, bahkan harus meminta kepada Yang Punya Hidup, tetapi apabila kita sakit, kita miskin, kita celaka bukan karena ALLAH tidak mengabulkan doa kita, tetapi karena kita manusia memang harus menjalani sebagai bagian dari proses kehidupan.

Jika sehat dan sakit, susah dan senang, mudah dan sulit bisa kita jalani dengan kerelaan hati, tanpa perasaan yang melebihkan di salah satu bagian maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dengan sakit, kita bersyukur diberi sehat, dengan susah kita bersyukur diberi kesenangan, dengan kesulitan kita menghargai adanya kemudahan-kemudahan yang kita peroleh.

Jadi, kenapa harus risau..?

Quote of the day : bersyukurlah atas hal-hal yang kecil, karena tanpa mensyukuri yang kecil kita tidak bisa menikmati hal-hal yang besar.

Anak, Memahami Sumur Tanpa Dasar

In Mengelola orang on August 24, 2009 at 5:03 am

Mengenal pribadi seseorang tidaklah mudah, begitu juga mengenal anak kita sendiri. Saya pribadi mengalami kesulitan dan keragu-raguan dalam “memperlakukan” anak secara tepat. Walaupun ada peribahasa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, tetapi setiap manusia mempunyai muatan lokal masing-masing dan tidak ada yang sama satu dengan yang lain meskipun sekandung.

Sebagai ibu yang gagap dan kurang ilmu yang mumpuni, saya berusaha keras mencoba mengetahui kepribadiaan dan kecenderungan putri saya yang seringkali membuat saya takjub dan melongo. Kesalahan perlakukan berulangkali terjadi, bahkan seringkali menyamakan diri sendiri dengan anaknya. Doh! Padahal katanya salah-salah perlakuan bisa menjadi trauma seumur hidup.

Banyaknya referensi dan berita-berita “menyeramkan” tentang salah perlakuan kepada anak membuat saya jadi paranoid sendiri. Sampai kadang saya punya pikiran terlalu banyak referensi membuat saya berlebihan dan takut melakukan tindakan apapun.

Tetapi saya percaya bahwa yang paling tahu tentang anak saya ya saya ibunya. Dengan segala keterbatasan ilmu dan kemampuan saya mencari ilmu tambahan yang menurut saya paling sesuai untuk memahami anak saya sehingga paling tidak ada sesuatu yang bisa saya pegang dan saya percaya. Ada beberapa referensi yang saya anggap sesuai untuk memahami anak dan manusia pada umumnya yaitu NLP, Finger Print test, buku Bahasa Kasih dan Personality Plus.

Dari referensi itu saya memperoleh banyak pengetahuan dan cara memperlakukan anak. Tidak semua bisa diterapkan memang, harus ada pemilihan dan uji coba kepada anak pun disesuaikan. seperti misalnya Finger Print Test, hasilnya memberikan gambaran bakat anak saya, kelemahannya, kecenderungan perilaku, dan metode penyerapan ilmu pengetahuan yang sesuai. Anak saya dengan IQ yang standar lebih menyukai sistem kelas yang kecil, dengan murid yang sedikit sehingga mendapat perhatian guru secara maksimal. Jika ada temannya yang berisik akan sangat mengganggu, karena dia lebih mudah menyerap apa yang disampaikan guru secara langsung. Anaknya yang naturalis menyukai alam, membuat sekolah yang banyak lapangan terbuka dan berbau alam sangat diminati. Saya pun mencari sekolah yang mirip dengan kondisi yang membuat dia nyaman, karena saya tidak ingin sekolah menjadi keharusan tetapi menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

Anggota badannya (tangan juga) yang kurang lentur, sehingga kegiatan prakarya kurang bagus hasilnya. Tetapi putri saya suka menggambar, maka kemudian dia kursus menggambar untuk melatih kelenturan tangannya. Kemajuan prestasi menggambarnya tidak secepat kawan-kawannya, tetapi karena saya tidak membuat target apa-apa kecuali melatih kelenturan tangannya maka anak saya enjoy saja. Hal lain yang disarankan adalah olahraga. Ya..anak saya mempunyai kelemahan dibidang olahraga karena kekuranglenturan anggota badannya sehingga saya bersikeras anak saya harus berolah raga. Renang adalah pilihannya, karena disamping memang suka main air, renang melatih kelenturan badannya sehingga olahraga tidak menjadi beban. Hal-hal inilah yang saya peroleh dari hasil finger print tes, disamping kenyataan bahwa anak saya follower sehingga mudah terpengaruh lingkungan sehingga saya harus cukup selektif dengan lingkungan dia di masa pendidikan dasar.

Ada lagi ajaran yang lain tentang memperlakukan anak. Bahwa anak lebih suka diajak berbicara dengan posisi setara dengan orang dewasa (jadi ibu-ibu kalo mau meminta anaknya mengerjakan sesuatu berbicaralah dengan tinggi badan sejajar dengan anak, bisa jongkok atau menekuk lutut sehingga garis mata sejajar antara ibu dan anak), masing-masing anak punya preferensi (kecenderungan) yang berbeda-beda. Menurut guru NLP saya, Bapak Wiwoho, beliau kurang setuju dengan tipe, karena kalau tipe seakan-akan sudah melekat terus. Lebih sesuai disebut kecenderungan. Jadi ada anak yang kecenderungannya visual, auditorial atau kinestetik. Kencederungan ini pun sangat kontekstual, ada yang visual ketika belajar di sekolah, dan menjadi auditorial ketika di rumah. Jika kita memahami hal tersebut akan mempermudah membantu anak belajar. Sebagai contoh anak saya auditorial, jadi ketika gurunya menerangkan dia harus mendengarkan dengan seksama sehingga bisa menyerap dengan jelas. Jika ada suara-suara yang ribut akan mengganggu konsentrasinya.

Begitu juga ketika kita ingin memberikan perhatian kepada anak. Ada buku bagus yang namanya Bahasa kasih dan Personality Plus (walaupun saya tidak setuju dengan penyebutan tipe dalam buku tsb yang seakan melekat selamanya, karena kecenderungan seseorang sangat mungkin berubah mengikuti lingkungannya). Ada 4 bahasa kasih manusia yaitu : kebersamaan waktu, sentuhan, hadiah, dan dukungan. Anak saya kebetulan sangat menyukai waktu kebersamaan dengan ibunya dan menyukai sentuhan. Bahasa kasih bisa lebih dari satu. Maka jika saya ingin memberikan reward atau punishment akan saya sesuaikan dengan bahasa kasihnya. Saya akan menemani dia bermain (menemani dalam arti ikut terlibat secara aktif) atau memeluknya untuk memberikan perhatian kepadanya. Begitu juga ketika menghukum, saya tidak memperbolehkan ikut pergi bersama saya sebagai bentuk hukuman atas perilakunya yang kurang baik. Saya akan memeluk dan mendekap jika dia sedih atau kecewa, hal itu mempercepat pemulihan emosinya. Jika tangki kasih anak itu penuh, maka perilaku yang kurang baik pun cenderung berkurang. Maka orang tua harus sering-sering memenuhi tangki kasih anaknya. Di buku Personality juga diulas tentang tipe-tipe orang dan bagaimana memperlakukan mereka. Ada melankolis, Sanguin, Koleris, Plagmatis.  Distu dijelaskan tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing tipe.

Saya juga menerapkan ilmu-ilmu di atas dalam mengajari anak saya puasa. Anak saya adalah follower, maka apa kelakuan ibunya akan ditiru. Saya menceritakan tentang puasa, tentang enaknya puasa (jangan ngomong yang gak enak ha ha ha), tentang kasih sayang Allah, Alhamdulillah tanpa diminta dia ingin ikut puasa, ikut taraweh dan ngaji. Cuma konsekuensinya ya emaknya harus konsisten memberikan contoh (itu yang susaaah yaaa……hehe). Dengan memahami kecenderungannya, paling tidak saya bisa lebih mudah mengajarkan ibadah kepada anak saya yang belum genap 6 tahun, karena sebelumnya saya agak deg-deg an juga bisa enggak ya diajak puasa.

Saya yakin masih banyak referensi, dan belum tentu pilihan referensi saya di atas sesuai untuk anda. Tetapi saya harap dengan membagi apa yang saya ketahui sedikitnya membantu orang tua memilih referensi yang sesuai dan memberikan pemahaman tentang anak. Referensi itu bukan hanya untuk anak lo..tapi bisa juga untuk pasangan, teman kerja, saudara ataupun orang tua. Selamat mengeksplorasi karena menjadi orang tua adalah belajar sepanjang hayat. Anak ibarat sumur tanpa dasar, semakin di gali semakin banyak hal yang harus dipelajari.

Bukan di Mall, di Rumah Saja

In Mengelola orang on August 22, 2009 at 3:17 am

Masih inget Mbak Jeni dan Mas Rudi?
Kemaren kita tujuhbelas agustusan disana. Bukan mau upacara, tetapi berkumpul, bersenang-senang dan makan-makan. Sudah lama sekali saya ingin berkunjung ke rumah beliau berdua pasangan sesepuh blogger paling romantis. Mas Rudi biasa disapa Pakdhe Mbilung dan Mbak Jeni disapa budhe oleh anak-anak blogger.

Seperti biasa sang Bude mempersiapkan segala logistik, dari spaggeti yang kondang kelezatannya itu sampai pepes, puding, ayam goreng dan semua perminumannya. Lengkap, sampai bingung menyantapnya. Belum lagi tambahan bakso yang yummy dari sang legenda bakso mas Gandhung Manongan. Sumpah baksonya enak banget!

Berkunjung ke rumah teman, dijamu makan dan ngobrol-ngobrol santai merupakan kegiatan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Gaya hidup diperkotaan yang selalu akrab dengan macet dan berkejar-kejaran dengan waktu membuat budaya berkunjung ke rumah semakin ditinggalkan. Mall atau tempat-tempat makan menjadi pilihan yang diminati untuk bertemu. Disamping mudah dijangkau secara transportasi, juga bisa melakukan beberapa kegiatan sekaligus. Makan, berkumpul, ngobrol, bisnis, belanja, anak main dan cuci mata! Praktis tapi jelas ndak ekonomis babarblas! Gimana mau ngirit, yang tadinya gak niat beli jadi diborong, yang tadinya cuma mau minum tambah cemal-cemil jadi dimakan deh segala menu. Tinggal nanti melongo melihat tagihan. Uang cash gak cukup, srettt…! digeseklah si kartu kredit. Beres, tagihan pikir belakang.

Bertamu ke rumah teman menjadi hal yang langka. Berkumpul di rumah sambil mengudap dengan posisi sembarangan dan mengumbar guyonan jorok terasa lebih kekeluargaan dibanding bertemu di mall dengan waktu yang terbatas dan segala hal yang dibatasi pula. Di rumah, pembicaraan pun bisa jauh lebih akrab dan bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Anak-anak pun bisa belajar bersosialisasi dengan lebih manusiawi. Bahkan kita bisa mengenal seluruh anggota keluarganya.

Bertamu memang lebih bebas dan lebih akrab, tetapi tetap saja ada etikanya. Bertamu harus seijin dan sepersetujuan yang didatangi, atau memang diundang sang empunya. Soal hidangan juga, lihat adat kebiasaannya, bila perlu bawa juga makanan yang nanti akan di makan bersama-sama atau diserahkan ke pemilik rumah. Dan saya pun memilih bertamu ke rumah teman atau saudara yang memang sudah dekat atau akrab. Sehingga saya bisa lebih yaman dalam bertamu dan ngobrol santai itu benar-benar terjadi.

Saya akan selalu kangen berkunjung ke rumah-rumah teman, karena dapat mengembalikan semangat kekeluargaan yang semakin berkurang dikikis yang namanya kemajuan jaman. Apalagi kalau pulang masih dibekali pepes, he he he…Terimakasih Mbak Jeni, terima kasih Mas Rudi.