pasarsapi

Archive for July, 2009|Monthly archive page

Berdebu

In Mengelola orang on July 25, 2009 at 12:50 am

Yaa betul..berdebu.
Terlalu lama aku tinggalkan blog ini, sampai berdebu dan terlupakan di sudut gelap.
Kenapa? Karena facebook yang menawan, twitter yang ringkas menggoda. Halah! Itu hanya alasan atas kemalasanku. Malas berpikir dan merangkai kata, malas mengetik panjang-panjang dan malas berkreasi. Kemalasan kog dipelihara.

Seperti kata Neneng Wenni menulis adalah melatih otak, hati
dan tangan untuk sinkron: otak berfikir- hati menyaring – tangan mengetik. Dan saya bersemangat lagi, terimakasih Neng! Saya belum pernah bertemu atau berbicara denganmu tetapi blogmu menginspirasiku.

Terkadang ada perasaan cemas dan takut kalau blog ini dikomentari jelek, atau dianggap menyinggung sesorang atau sesuatu, UU ITE itu sukses juga menakutiku. Tetapi kenapa ketakutan itu dipelihara ya? Aku harus mulai belajar untuk menerima rasa takut sebagai bagian dari hal yang manusiawi tetapi tidak menghentikan langkah baikku. Apapun itu!

Selain ketakutan atas UU ITE itu -sebel enggak seh – ada satu hal dan PR banget neeh yang harus segera diselesaikan. Takut nyopir. Ya betul…dulu sekali aku bisa menyopir dan sok gaya gak pake SIM pula. Tapi entah mengapa sekarang ketakutan enggak jelas. Mungkin karena pernah tabrakan sama dokar atau karena penumpang mobilku hidungnya berdarah-darah. Jadi waktu belok kemepetan sehingga ban mobilnya beradu dengan trotoar dan temanku yang duduk dibelakang hidungnya terbentur kaca karena sedang sibuk dadah-dadah sambil mengeluarkan kepalanya. Doh!

Menyopir bagi diriku pribadi adalah salah satu ukuran kemandirian dan keberanian. Karena banyak masalah terselesaikan dan gantunganku pada orang lain menjadi berkurang. Bisa nyopir meruntuhkan salah satu gunung ketakutan. Dan aku harus mulai menyusun keberanian untuk meruntuhkan satu per satu gunung-gunung itu. .

Mari kembali menulis tanpa rasa takut. Apapun komentar orang jangan menjadikan gundah, dan sebisa mungkin tidak menyinggung pihak manapun. Yang penting seperti kata Neng Wenni menulis adalah salah satu penyaluran ekspresi diri biar tidak menjadi bisul dikemudian hari. Mariii….mariiii…!