pasarsapi

Archive for February, 2009|Monthly archive page

Mengenal diri, Memberi kaki pada Mimpi

In Mengelola orang on February 22, 2009 at 11:12 am

Begitu banyak buku psikologi tentang motivasi untuk menjadi kaya, sukses, bahagia dan saya salah satu penggemarnya. Membaca buku tersebut terasa begitu mudah dan gampang untuk meraih kesuksesan. Berbagai macam tips diulas dengan menarik, sehingga saya bukan hanya membaca, beberapa yang ada pelatihannya saya ikuti.Tetapi saya kog tetap begini saja. Hidup saya masih seperti kemaren-kemaren, tidak ada lompatan yang signifikan. Jadi apa yang salah?

Sampai suatu saat saya mendapat kesimpulan -yang sudah pasti subyektif- bahwa pada dasarnya manusia itu mempunyai kemampuan dasar yang dianugerahkan TUHAN secara berbeda dan kemudian tumbuh di lingkungan yang berbeda pula. Ada yang mendapat lingkungan yang kondusif sehingga kemampuan dasar terasah dengan baik sekali sehingga menjadikan dia manusia yang berbakat dan sukses. Ada yang mendapat lingkungan tidak kondusif, sehingga manusia tersebut berubah haluan sesuai kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan tidak mengasah kemampuan dasar yang dimiliki. Dia tetap berhasil, tetapi jika dia bergelut dibidang yang sesuai dengan bakatnya kemungkinan prestasinya akan jauh lebih hebat. Berarti apakah dia tidak sukses? Lagi-lagi kesuksesan itu subyektif, jika dia sudah merasa puas dan merasa bahagia atas apa yang diperoleh sudah bisa dianggap sukses. Kondisi yang kurang bagus adalah jika dia yang mempunyai bakat berada di lingkungan yang tidak mendukung dan merasa frustasi atas keadaan tanpa melakukan apa-apa. Hanya mengikuti apa yang sudah ada (hati-hati lo dengan falsafah seperti air mengalir saja…) Sehingga hidupnya terasa berjalan ditempat, hidup enggan mati tak mau. Anda merasa begitu? Saya juga pernah merasa begitu.

Setiap manusia mempunyai perbedaan penyerapan terhadap suatu pesan atau pembelajaran. Ada yang cenderung visual yaitu mudah menangkap pesan yang divisualisasikan, auditorial yaitu pesan-pesan yang bentuknya suara jauh lebih mudah ditangkap atau kinestesis yaitu mudah menangkap pesan melalui pengalaman, dan indera perasa yang jauh lebih tajam. Sehingga dalam mengasah kemampuan, kita harus memahami betul kecenderungan atau preferensi kita. Pemahaman atas preferensi mempermudah dalam mempelajari sesuatu. Preferensi sifatnya sangat kontekstual, sebagai contoh kita mungkin visual di pekerjaan tetapi ketika di rumah kita lebih auditorial, dan prefenresi bukan merupakan tipe manusia, sering orang salah kaprah menilainya.

Hal yang lain adalah perbedaan minat. Setiap manusia memiliki minat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Minat sangat bermacam-macam seperti minat terhadap politik, ekonomi, teknologi ataupun seni budaya. Tidak ada yang lebih baik satu dengan yang lain, masing-masing mempunyai keunggulannya. Keberagaman manusia dengan segala plus minusnya, dan saya yakin TUHAN menciptakan seperti itu untuk membuat dunia semakin berwarna. Bagaimana jadinya jika kita semua mempunyai kemampuan dan minat yang sama?

Jadiiii…tidak ada yang salah atas buku-buku motivasi itu. Tetapi tidak semua buku moyivasi itu cocok untuk kita. Masing-masing orang punya tujuan dan cara hidup yang berbeda – disadari atau tidak. Makanya penting sekali mengenali diri, apa tujuan hidup kita dan jalan mana yang paling sesuai. Nilai yang kita anut sangat menentukan arah, tujuan dan cara menjalaninya.

Jika kita bisa termotivasi dengan kesuksesan orang, maka jadikan orang tersebut menjadi sumber inspirasi. Tetapi jika kita tertekan dengan kesuksesan orang lain – dan ini sangat mungkin terjadi – carilah sumber motivasi dari diri sendiri bukan orang lain. Karena ada orang yang begitu dihina justru termotivasi untuk berkarya lebih baik, tetapi ada juga yang justru terpuruk. Jika terpuruk, hindarilah orang-orang yang berpotensi suka menghina, karena hinaannya justru membuat kita kehabisan waktu hanya memikirkan sakit hati. Saya percaya bahwa tidak semua kritik itu membangun, karena sangat tergantung dengan pribadi masing-masing. Ada yang menerima dengan posiif tetapi banyak juga yang menjadi negatif.

Modal utama kita adalah kepercayaan diri, percaya dan yakin akan kemampuan kita. Selanjutnya memilih lingkungan – ketika kita sudah bisa memilih – juga penting. Karena lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir kita. Lingkungan yang baik akan membawa kita pada hal-hal baik. Lingkungan yang sesuai membuat kita menjadi diri sendiri dan lebih bersemangat dalam berkarya.

Jalan hidup setiap orang itu berbeda, terima kenyataan itu tapi jangan putus asa. Menerima bukan berarti menyerah. Tetapi menerima segala yang sudah terjadi dan berusaha melakukan yang terbaik saat ini. Ada orang yang sukses dengan MLM-nya, tetapi ada yang sukses menjadi karyawan. Tidak semua orang menjadi pengusaha, harus ada juga pegawainya. Menjadi yang terbaik dibidang kita dan menerima dengan ikhlas atas apa yang terjadi pada diri kita tanpa menyalahkan orang lain menjadikan kita lebih bahagia dan sukses.

Jadi apakah kita tidak boleh bermimpi? Mimpi adalah kesenangan dan sudah seharusnya kita membangun mimpi. Tetapi mimpi harus selalu diawali dengan satu langkah kaki untuk mewujudkannya. Bagaimana kita melangkahkan kaki, pilihlah jalan yang paling sesuai dan paling nyaman untuk diri anda. Tidak semua mimpi bisa diwujudkan, bangunlah mimpi-mimpi yang sesuai dengan nilai yang kita anut. Mimpi yang berkaki itu istilah saya, yaitu mimpi yang sesuai dengan nilai dan kapasitas diri. Trial and error sudah pasti. Karena memang tidak ada kepastian dalam hidup ini. Kuncinya jangan menyerah dan selalu konsisten dengan usahanya.

Selamat bermimpi dan memberinya kaki, jangan lupa semua hal ada resikonya, dan semua hal harus ada usahanya.

Berkomunitas – Bergaul – Berkegiatan

In Mengelola acara on February 19, 2009 at 9:10 am

Sharing Bareng Komunitas, itu salah satu judul kegiatan semalam. Berbagai macam komunitas tumplek bleg jadi satu di tempat tongkrongan blogger. Acaranya sendiri rame, dan beberapa orang aktif memberikan masukan dan kritikan tentang program yang sedang dibahas yaitu “Indonesia Berprestasi Award 2009”.

Dalam mengorganisir kegiatan bareng komunitas, ini termasuk baru saya lakukan. Biasanya saya mengorganisir kegiatan diskusi atau seminar dengan kelompok atau organisasi formal. Dengan rundown acara yang detil dan terinci. Tempatnya pun di ruangan, hotel atau gedung. Pernah juga beberapa kali di Pesantren, walaupun tempatnya informal tetapi jalannya diskusi tetap formal.

Acara semalam jauh berbeda, disamping tempatnya di angkringan dan terbuka pesertanya pun komunitas. Komunitas adalah kelompok masyarakat non formal yang berkumpul berdasarkan minat yang sama akan sesuatu hal. Biasanya mereka digerakkan oleh milis, sehingga komunitas booming hanya di kota-kota besar. Tidak ada kepengurusan atau struktur yang jelas bahkan markas atau kantornya pun tidak ada. Walaupun memang ada komunitas yang cukup struktural seperti b2w-Indonesia. Mereka biasanya berkumpul atau istilahnya kopi darat (kopdar) berpindah-pindah tempat.

Karena komunitas adalah organisasi independent, maka mereka akan bergerak dan berkarya sesuai dengan keinginan mayoritas atau pentolan grup itu serta non-profit oriented. Selain menjalankan hobi bersama-sama, komunitas seringkali juga melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat atau lingkungan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri atau meminta sumbangan dari berbagai pihak tetapi tidak mengikat. Jadi benar-benar tidak ada muatan kepentingan apapun. Apalagi, kebanyakan anggota-anggota komunitas adalah para pekerja atau mahasiswa yang mempunyai kesibukan pokok diluar komunitas. Kegiatan mereka lakukan di sela-sela waktu luangnya.

Boomingnya jumlah komunitas di kota besar, menjadikan mereka lahan baru bagi para produsen. Beberapa produsen bahkan dengan sengaja membuat komunitas sesuai dengan prodaknya. Karena komunitas merupakan alternatif pilihan mensosialisasikan produk atau aktivitas suatu perusahaan. Penyebaran informasi bisa lebih cepat karena hampir semua komunitas mempunyai milis bahkan blog. Internet sebagai alat utama jalinan komunikasi diantara mereka.

Sebagai contoh baru-baru ini salah satu produk kecantikan PONDS, menggunakan komunitas blogger dalam sosialisasi produk baru mereka. Bahkan para blogger diperlakukan lebih istimewa, diajak gala dinner bukan sekedar konferensi pers. Diharapkan, setelah acara gala dinner, para blogger akan menuliskan pengalaman makam malam dalam blog masing-masing, atau sekedar berbagi foto dengan tag ke banyak teman di facebook. Secara tidak langsung sosialisasi produk tersebut sudah berjalan dengan sendirinya.

Kembali ke soal mengorganisir kegiatan, karena semalam dengan komunitas maka kegiatan dibuat informal. Tidak ada rundown acara yang baku, dalam beberapa hal kita biarkan mengalir mengikuti arus diskusi. Untuk itu, menurut saya harapan penyelenggara acara juga harus disesuaikan. Psikologi komunitas harus dipahami. Masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Komunitas kebanyakan adalah organisasi bebas kepentingan, sehingga para produsen atau penyelenggara acara tidak bisa “memaksakan” harapannya.

Naah menjadi tugas produsen atau penyelenggara acara, untuk memberikan materi yang menarik sehingga diminati oleh para komunitas. Bukan hal yang mudah ditengah penuh-sesak-hiruk-pikuk informasi, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Tinggal tugas kita untuk memeras otak mencari alternatif pilihan sekreatif mungkin.

Dalam acara sharing tersebut, saya mendapatkan beberapa masukan yang menarik, seperti kata Mas Enda Nasution semalam, bahwa apapun yang menarik pasti akan diambil dan disebarluaskan oleh orang-orang dengan suka rela melalui jalur-jalur komunikasi yang dimiliki seperti milis, facebook, blog, plurk dll. Biasanya efeknya jauh lebih besar dengan bugdet yang tidak sebesar iklan. Internet sebagai jalur sosialisasi yang mudah dan murah seperti kata Paman Tyo harus digunakan semaksimal mungkin. Masukan lucu dari Ndoro Kakung yaitu meniru cara kampanye para caleg dengan menggunakan berbagai atribut sudah pasti akan dikenal. Tetapi, suatu kegiatan yang statusnya hanya “terdengar” dan masih sayup-sayup harus diupayakan naik status menjadi “disamakan” supaya lebih banyak masyarakat yang tahu dan mau terlibat dengan cara yang baik dan elegan.

Diskusi itu terkesan mengalir begitu saja, walaupun masih banyak kekurangan disana sini, tetapi yang hadir melebihi kapasitas dan beberapa peserta aktif memberikan masukan untuk Program Indonesia Berprestasi Award. Selain mendapatkan beberapa kritikan juga mendapatkan banyak masukan supaya ke depan bisa lebih baik.

Tidak mudah memang mengorganisir komunitas, butuh pendekatan khusus dan lebih personal sifatnya. Saya sendiri menjadi bagian dari beberapa komunitas sehingga bisa merasakan bagaimana dinamikanya. Jadi bagi anda yang ingin memanfaatkan jalur komunitas sebagai bagian dari media sosialisasi, silakan pelajari dulu baik-baik kelompok masyarakat tersebut jika perlu ikutlah bergabung supaya bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang komunitas. Selamat bersosialisasi dan berkomunitas karena berteman adalah kebutuhan.