pasarsapi

Archive for December, 2008|Monthly archive page

Asuransi, Investasi dan Resolusi 2009

In mengelola uang on December 25, 2008 at 7:23 am

Menikmati liburan dengan menunggui putri sakit di RS mengingatkan pada sebuah percakapan dengan teman tentang asuransi. Katanya dia ikut asuransi yang akan memberikan hasil setiap bulan 30%. Saya cukup bingung dengan hal itu, karena apa mungkin asuransi memberikan benefit bulanan secara tunai sebesar 30%? Menurut saya ini patut dipertanyakan, karena jika sebuah asuransi yang meberikan profit bulanan sebesar itu kenapa orang tidak berbondong-bondong investasi disitu?

Saya kurang pandai dalam masalah investasi ataupun asuransi. Tetapi saya tahu banyak manfaatnya,  sehingga saya mulai mempelajari secara sederhana tentang kedua hal tersebut. Menurut pandangan saya pribadi, asuransi bukan merupakan investasi yang mencari keuntungan, tetapi lebih kepada persiapan dana untuk masa depan, untuk kesehatan dan untuk pendidikan. Keuntungannya apa? Keuntungannya adalah untuk masa akan datang ada dana cadangan yang telah dipersiapkan sejak kini. Jika tiba-tiba sakit dan harus opname, ada asuransi yang akan menanggulangi, jika anak masuk SD atau SMP atau SMA ada dana yang telah kita persiapkan sehingga tidak mengganggu cashflow bulanan. Atau jika masa pensiun tiba, ada dana untuk biaya hidup selanjutnya.

Jika ingin mendapatkan profit, menurut saya seharusnya berinvestasi bukan asuransi. Investasi bisa dimana saja. Bikin usaha sendiri, ikut usaha teman, deposito, reksadana atau obligasi dan saham. Sebuah investasi pasti ada resikonya sekecil apapun. Hal itu harus dipahami betul oleh investor. Bikin usaha sendiri bisa bangkrut, ikut usaha teman bisa ditipu, reksadana nilai NAB bisa turun drastis, apalagi saham dan obligasi sangat banyak faktor yang mempengaruhi resikonya. Mungkin yang paling kecil resikonya adalah deposito, kecuali melakukan deposito di bank yang kurang sehat akan menjadi besar resikonya karena banknya tutup. Sebuah bank sehat tidak akan memberikan bunga yang jauh melampaui bunga yang ditetapkan bank central. Itu jadi patokan paling gampang buat saya memilih bank. Disini hukum high risk high return tetap berlaku. Mau untung gede? Resikonya juga besar.

Jadi asuransi tidak menguntungkan? Menurut saya asuransi bukan menguntungkan, tetapi menyelamatkan cashflow kita, dan keberlanjutan kondisi finansial kita. Itung-itung kita meminta bantuan sebuah lembaga untuk mendisiplinkan kita menabung untuk hari esok. Kita tidak pernah tau kondisi kita nanti bagaimana, tetapi kita tahu pasti jika kita memerlukan dana untuk kesehatan keluarga kita, pendidikannya dan hari tua kita.

Apakah investasi tidak bisa menjamin masa depan kita? Bisa saja, tetapi tetap dipahami resiko-resiko yang bakal terjadi. Seperti baru-baru ini di Indonesia nilai saham anjlok sampai titik terendah. Padahal semua pakar ekonomi melihat kondisi keuangan negeri kita baik-baik saja tetapi karena di AS terjadi krisis keuangan kita pun kena imbasnya tanpa ampun. Resiko ini tidak pernah ada yang meramalkan, para pakar ekonomi tidak ada yang menduga akan sejeblok ini. Akibat saham anjlok, reksadana ikut turun drastis, suku bunga bank dinaikkan sehingga para investor justru lari kepada deposito. Dan semakin terpuruklah kondisi pasar modal kita.

Menurut para pakar yang berbicara di media butuh waktu 1-3 tahun untuk kembali ke kondisi sebelum krisis itu terjadi. Berarti dana yang kita investasikan di reksadana ataupun saham baru akan pulih pada waktu tersebut. Apakah kita rugi? Sebaiknya jika kondisi seperti ini kita tidak usah menjual surat berharga kita, apalagi yang investasi di reksadana. Diamkan saja, janganlah ditengak-tengok NAB-nya selain cuma bikin senewen kita juga semakin terjebak pada persepsi bahwa dana kita amblas. Biarkan para manager investasi yang bekerja memulihkan, percayakan semua pada mereka karena kita pun tidak bisa melakukan apa-apa. Jika nanti setelah 1-3 tahun, NAB sudah membaik barulah kita jual atau kita cairkan dananya. Pelajaran yang sangat baik untuk saya adalah : reksadana adalah investasi untuk jangka panjang, terlalu berisiko jika kita memperlakukan sebagai investasi jangka pendek, atau mencari keuntungan dari selisih NAB. Saya tidak begitu paham dengan pasar saham di bursa, tetapi kalau kita tidak punya bekal pengetahuan yang cukup sebaiknya jangan mencoba mengadu untung di bursa, apalagi tergiur dengan keuntungan yang selangit (tanpa mengingat resikonya yang segunung).

Saat ini, untuk jangka pendek, sebaiknya deposito saja. Selain bunganya sekarang sedang tinggi, proses pencairan yang mudah dan jangka waktunya bisa 1 bulan. Bahkan sekarang ada deposito on call yang bunga bisa lebih tinggi dari deposito biasa, jangka waktunya bisa harian, mingguan atau bulanan.

Kondisi ekonomi negeri ini (seperti kata para pakar) masih kurang baik. Menaikkan penghasilan juga susah, maka langkah paling bijak adalah mengurangi pengeluaran. Apa masih ada yang bisa dikurangi? Saya dulu juga berpendapat begitu. Sepertinya semua anggaran sudah sedemikian nge-pasnya. Tetapi, setelah saya urut satu-satu, ternyata masih ada pos yang bisa di hemat. Bagaimana cara menghemat adalah sangat subyektif, tetapi cara yang saya tempuh saat ini mungkin bisa digunakan oleh yang lain, yaitu mengeluarkan semua gaji saya dan menyisakan 10% di tabungan. Semua gaji langsung saya bagi dan serahkan kepada masing-masing pos. Sehingga di kepala saya, uang saya ya yang di dompet saya, ditabungan tidak pernah saya lihat lagi (kalau perlu atm-nya saya simpan di rumah). Atau mungkin ada cara lain? Silakan saja. Menurut saya setiap orang punya cara yang sesuai untuk dirinya sendiri.

Seperti kata guru NLP saya, tidak ada balsem di dunia ini. Artinya tidak ada satu tips atau cara jitu yang sesuai untuk semua orang. Karena manusia diciptakan dengan segala perbedaan dan keunikannya.

Selamat berinvestasi, dan selamat berhemat. Kita tidak tahu bagaimana tahun depan. Yang jelas akan ada pemilu besar-besaran yang sudah pasti mempengaruhi kondisi negeri. Maka tidak ada salahnya jika resolusi tahun depan adalah berhemat biar selamat!

Untuk investasi, karena semua saham dan reksadana lagi dijual murah tidak ada salahnya membeli tetapi ingat ini adalah sebuah investasi jangka panjang, bukan mengejar peruntungan sesaat.

SELAMAT TAHUN BARU. Selamat libur panjang, nikmati hari ini sebelum kembali kerja tahun depan.

Mas Rudi & Mbak Jeni

In Mengelola orang on December 19, 2008 at 3:54 am

*orang-orang inspiratif disekeliling saya*

Akhirnya saya bertemu dengan Mas Rudi dan Mbak Jeni blogger kondang nan bijaksana. Rumahnya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kopdaran atau tumpangan tidur (makan) bagi blogger perantau. Perwajahannya sesuai dengan gambar mereka di dunia maya. Ramah dan hangat.

Saya tidak mengomentari blog mereka, tetapi pertemuan nyata yang mengesankan. Mereka sudah cukup berumur dengan dikarunia anak-anak yang beranjak dewasa. Tidak nampak sebuah hubungan yang sudah menua, justru segar dan hangat tanpa dibuat-buat. Sesekali mereka bergandengan tangan. Si istri yang lembut baik tutur kata dan perilaku mendampingi sang suami yang aktif kesana kemari menjumpai para penggemar.

Gambaran tentang sebuah perkawinan yang membelenggu, membosankan, dan hambar ketika umur beranjak menua tidak terlihat pada mereka. Mereka tetap bergaul, berteman dan menjalankan kesukaan tanpa menganggu satu sama lain. Justru saling mendukung. Ketika berita perceraian sudah seperti minum obat, ketika percekcokan rumah tangga menjadi konsumsi media sehari-hari, melihat mereka membuat saya menaruh harap bahwa sebuah relasi suami istri bisa dibangun tanpa saling membelenggu tetapi justru menguatkan sampai waktu menyelesaikan semuanya.

Tehnologi yang semakin maju, merupakan berkah untuk mereka yang saat ini sedang menjalani hubungan jarak jauh. Mas Rudi yang tugasnya berkelana, dan mbak Jeny yang tetap beraktivitas di Bogor bersama anak-anaknya bisa menjalin komunikasi dengan sangat baik. Intip saja halaman maya mereka. Sang Bapak tetap bisa mengikuti perkembangan istri dan putra-putranya, begitu juga sebaliknya. Jarak bukan halangan, justru membuat mereka semakin romatis. Lihat saja ketika sang suami menulis statusnya di facebook : ngopi di Changi. Dan sang istri meninggalkan komen : bikin ngiri. Haha…saya ikut tersenyum melihat romantisme ala mereka.

Kehangatan juga menyebar kepada teman-teman mereka. Saya yang baru kenal pun tidak canggung untuk bertukar cerita tanpa ada sekat. Teman-teman bisa bercerita, berkeluh kesan apa saja dan mereka menerima dengan tangan terbuka. Kesediaan mereka mengulurkan tangannya atau sesekali memberikan “hadiah kecil” menjadikan mereka tempat bergantung bagi sebagian kalangan. Dituakan karena memang sudah tua, tetapi kebijaksanaan karena mereka melakukannya.

Buat kalian anak muda yang ingin melangkah ke jenjang pernikahan, mereka adalah cermin yang inspiratif dan pembelajaran yang sesungguhnya. Lupakan sejenak tentang gambaran pernikahan yang menyeramkan, karena mereka memiliki sebuah oase yang menentramkan. Sebuah relasi yang dibangun atas dasar kepercayaan dan kesetiaan bukan berarti tanpa hambatan atau godaan. Ketangguhan melalui badai, dan tidak terjebak kepada hubungan yang membosankan membuat kehangatan selalu terjaga diantara mereka. Siapa bilang perselingkuhan lebih indah? Tanyakan saja pada Mas Rudi dan Mbak Jeni.

Berdikari Ala Citos

In Mengelola acara, Mengelola orang on December 4, 2008 at 3:19 am

Terimakasih saya ucapkan kepada mal Cilandak Town Square (CITOS) yang telah memberikan pelajaran hidup bertubi-tubi dan sangat penting untuk saya sebagai orangtua, ibu dan perempuan pekerja.

Seperti biasa, saya cukup sering belanja di supermarket yang berada di CITOS membawa putri saya -kika- yang sudah berumur 5 tahun dengan berat badan lebih dari 20 kg. Malam itu, karena kondisi logistik rumah sudah habis, dan saya sudah 3 hari dihajar tugas kerja bertubi-tubi sehingga pulang larut, maka saya dari kantor mampir ke rumah menjemput kika untuk diajak belanja. Selain memenuhi kebutuhan rumah juga memenuhi kebutuhan waktu kika dengan ibunya. Dengan kondisi badan yang kurang oke, saya berangkat ke CITOS karena biasanya kika tidak pernah rewel atau merepotkan bahkan happy jalan-jalan sama ibunya.

Tadi malam tidak seperti biasa. Kika bilang pusing dengan muka mau nangis sehingga saya tidak tega dan akhirnya saya menyelesaikan proses belanja dengan menggendongnya. Sejak dari antre yang cukup lama di kasir sampai ke lobi kika tertidur dalam gendongan. Kondisi parkiran yang cukup penuh membuat saya harus menunggu lebih lama di lobi. Punggung panas, dan kaki yang melemas, keringat mengucur, dan gendongan yang makin terasa memberat membuat saya mencari tempat untuk duduk, dan adanya hanya tiang pendek yang memang bukan untuk duduk. Saya sudah tidak kuat lagi. Tiba-tiba seorang sekuriti menegur saya “Maaf Bu, dilarang duduk disini.” Saya sampaikan bahwa saya sudah tidak kuat lagi berdiri sambil menggendong, tapi sang sekuriti yang katanya hanya menjalankan tugas menjawab bahwa itu aturan manajemen CITOS. Saya pun meminta bicara dengan manajemen atau atasannya, karena saya benar-benar harus duduk supaya saya dan anak tidak terjatuh. Saya minta salah satu dari manajemennya datang ke lobi, karena saya tidak kuat lagi jalan, menggendong dan membawa troli belanjaan. Tapi sekuriti bilang bahwa saya tidak boleh duduk disitu, tanpa memberikan saya jalan tengah yang cukup melegakan.

Sekuriti itu menghampiri sekuriti yang lain – mungkin posisinya lebih tinggi – untuk melaporkan saya yang tetap ngeyel membuat saya sangat marah. Saya pun menghampiri sekuriti yang lain itu sambil bicara untuk memberikan sedikit kelonggaran dan jalan keluar yang agak manusiawi untuk saya. Kemarahan saya semakin meninggi melihat jawaban yang hanya tidak boleh duduk titik. Airmata pun akhirnya berhamburan, bukan karena sedih tetapi kemarahan yang sudah tidak terbendung.

Melihat saya meradang, sekuriti yang lain itu menyatakan kenapa saya tidak duduk di lobi yang telah disediakan, dan saya memutar pandangan ke segala arah untuk mencari tempat duduk yang mereka sebut lobi. Karena selama ini tidak pernah  tahu ada lobi dengan tempat duduk untuk menunggu mobil jemputan datang. Dan sekuriti itu menunjuk meja konter informasi dan mengambil kursi plastik petugas supaya duduk disebelahnya. Dengan airmata kemarahan dan sakit dipinggang saya menuju konter informasi sambil menggendong serta menyeret troli belanjaan sendirian.

Ohh…baru saya tahu itu yang namanya lobi dan kursi untuk menunggu. Sang sekuriti yang lain itu pun menjawab “Ya bukan bu, ini bukan lobi yang disediakan untuk duduk.” Saya pun berteriak, marah, nangis sambil menggendong putri saya, hanya meminta rasa belas kasih secara manusiawi bukan pernyataan sekedar menjalan tugas dari manajemen yang disampaikan berulang-ulang.

Malam itu di rumah, saya menyadari banyak hal. Dan pelajaran berharga untuk saya seorang ibu, orang tua tunggal telah saya dapatkan atas insiden tersebut :

1. Olahraga. Ya, saya harus berolahraga dengan teratur supaya tetap kuat mengendong putri saya yang sudah cukup besar ketika sakit di tempat umum.

2. Membagi waktu dengan lebih efektif. Supaya kewajiban mencari nafkah dan mengasuh anak dapat dilakukan dengan baik, sehingga tidak dibebani rasa bersalah dan memaksakan waktu yang sempit untuk urusan rumah tangga dan anak.

3. Jangan belanja bersama anak jika kondisi kurang fit. Disamping tidak kuat menggendong anak juga tidak bisa mengangkut belanjaan.

4. Jangan berharap ada bantuan atau belas kasihan ditempat umum. Kalau rasa kemanusiaan di mal itu sudah tidak ada terimalah dengan lapang dada dan tetaplah tegar dan kuat baik fisik maupun mental. Jangan mengeluh dan menyalahkan pihak lain, karena itu resiko yang sudah sewajarnya.

5. Taatilah aturan manajemen mal ataupun tempat umum lainnya tanpa terkecuali apapun kondisinya.

Saya bukan konsumen yang baik jika kecewa lapor ke pengelola, tetapi cukup mengakhiri kunjungan saya kesana. Mungkin lebih baik buat saya, sehingga hikmahnya tidak lagi boros belanja di ladies day. Tetapi yang lebih penting adalah pelajaran yang saya dapatkan malam itu.

Airmata saya, kemarahan saya hanyalah umbaran yang gak penting dan hanya cukup meredakan sejenak beban di dada.

Di CITOS saya belajar berdikari yang sesungguhnya. BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI apapun yang terjadi karena kursi bukan untuk umum.