pasarsapi

Archive for September, 2008|Monthly archive page

Terjun Bebas ala Amerika- saatnya Berinvestasi

In mengelola uang on September 19, 2008 at 11:56 pm

Minggu lalu, gambaran berita pasar saham dipenuhi dengan anjloknya harga-harga saham dunia, karena jatuh bangkrutnya Lehman Brothers, sehingga The Fed terpaksa menyuntikkan dana untuk mencegah kebangkrutan bursa. Saya kurang tahu persis detil dan bagaimana, tapi yang saya tahu pasti adalah nilai aktiva reksadana di Indonesia semua ikut terjun bebas akibat hal tersebut. Terutama reksadana saham dan reksadana campuran.

Kalau mengikuti tips dan trik para Manager investasi, karena ini kejatuhan yang sangat dalam Рmirip kejadian 1998- maka saat ini adalah saat paling baik untuk membeli saham ataupun reksadana.  Harganya murah, dan kemungkinan mendapat keuntungan bisa lebih cepat. Seperti biasa, apabila saham jatuh, para pemangku hajat di bursa saham akan melakukan berbagai tindakan penyelamatan supaya harga saham bangkit lagi atau istilahnya rebound. Sehingga besar kemungkinan jika kita beli sekarang, maka dalam waktu lebih cepat sudah mendapat keuntungan atas bangkitnya harga saham.

Beberapa pengamat pernah menyampaikan di media, bahwa tren pasar saham biasanya akan naik di akhir tahun yaitu Desember -Januari. Jadi bisa dibayangkan, jika kita membeli reksadana atau saham sekarang, kita bisa mendapatkan kenaikan yang cukup signifikan, karena 2 alasan tersebut yaitu : tindakan penyelamatan dari para pemegang otoritas supaya pasar tidakambruk dan tren akhir tahun yang selalu ditutup dengan kenaikan harga-harga saham.

Jadi bagaimana? Sudah siap dana buat borong saham atau reksadana saham? Kalau masih takut, coba yang lebih kecil resiko yaitu reksadana campuran (saham dan obligasi) dan tidak usah banyak-banyak. Kita perlu tahu dan belajar tentang berbagai macam pilihan investasi, terutama perempuan dan ibu-ibu. Dan investasi bukan hanya saham, reksadana atau obligasi. Ada berbagai macam dan berbagai jalan. Investasi bukan suatu hal yang sulit dipelajari, dan bukan hal yang rumit.

Menabung sudah tidak tepat lagi disebut investasi karena tingkat inflasi yang begitu tinggi. Inflasi? Iya inflasi itu adalah jika hari ini kerupuk harganya Rp 500 per buah, padahal 5 tahun yang lalu masih Rp 100. Dengan menabung, dana kita akan sebesar jumlah yang kita tabung, tidak ada pertambahan nilai -kalaupun ada kecil sekali karena bunga bank. Tidak bisa mengejar besarnya tingkat inflasi.

Sudah saatnya, terutama perempuan, untuk melek finansial. Jangan mau dibodohi! Kita jangan hanya disibukkan oleh isu-isu kesetaraan jender, demokrasi,hak asasi manusia dan terorisme tetapi lupa diajari bagaimana mengelola keuangan kita sendiri. Dan para funding (negara donor) menyibukkan kita dengan bantuan untuk pelatihan-pelatihan tersebut supaya kita tidak sempat memikirkan perekonomian yang merupakan fundamental bangsa.

Jika kita takut riba dan halal haramnya investasi, sekarang sudah ada bank syariah dan reksadan syariah. Saya pernah membaca beberapa kali tentang hal tersebut, tetapi belum tahu persis bagaimana pengelolaannya. Mungkin ada yang tahu dan bisa berbagi?

Sudah saatnya kita belajar bersama-sama bagaimana mengelola uang kita. Karena nasib kita ada ditangan kita sendiri.

PS : Barusan baca detik-finance harga saham sudah mulai naik lagi.

Advertisements

RAMADHAN- pencarian makna diantara ritual kolosal

In Mengelola orang on September 1, 2008 at 5:16 am

Ramadhan telah tiba. Ini ramadhan yang 30-an kali saya temui. Apakah ramadhan berikutnya masih saya temui? Entahlah. Dulu waktu saya kecil, saya menyambut dengan sukacita dan penuh makna. Kekhusu’an terasa dimana-mana. Tanpa melupakan ritual khas kampung kami, seperti jalan-jalan di pagi hari setelah subuh, jaburan-makanan kecil yang dibagi di mesjid setelah sholat tarawih, mercon dan kembang api, ritual ramadhan yang sesungguhnya kami jalani yaitu mengaji di surau, tarawih bersama di mesjid, sholat subuh berjamaah, tadarus dengan suasana yang syahdu dan menentramkan.

Sekarang saya di ibukota, kesyahduan dan kekhusyu’an ramadhan berganti dengan ritual ramadhan yang hiruk pikuk dan artifisial. Sejenak saya mulai terganggu dengan ritual tersebut, entah mengapa. Mari kita lihat ritual¬† ramadhan di ibukota yang sudah saya alami hampir 10 kali :

1. Tayangan TV berganti dengan sinetron religi, maksudnya sinetron yang berbalut agama (pemainnya jilbaban dengan lebih sering mengucapkan lafal-lafal yang bernafas Islam) tetapi tetap dengan tema yang sama berlebihannya dengan sinetron biasa.

2. Para musisi -baik pop, rock,alternatif, dsb- mendadak berganti aliran menjadi musik religi. Kostumnya pun ikut berganti -koko, kopiah, sorban kalo perlu sarungan.

3. Acara TV tak jauh dari menu buka puasa, anggaran belanja di bulan ramadhan, tips tetap bugar saat kelaparan dan para pengusaha makanan dan minuman berlomba-lomba menggenjot tayangan iklannya secara bertubi-tubi dengan visual yang menerbitkan lapar dan dahaga.

4. Mal-mal dan pusat perbelanjaan tak mau ketinggalan. Marhaban yaa ramadhan menjadi tulisan wajib menyambut para tamunya dengan berbagai bahasa dan berbagai warna. Konter-konter jualan pun berganti dengan mayoritas disesuaikan dengan keperluan lebaran yang masih sebulan lagi seperti baju muslim, kue kering, parsel serta makanan wajib puasa kurma sehingga rasanya seperti di negeri Timur Tengah saking banyaknya kurma dengan berbagai rasa, gaya serta negara asal yang berbeda. Oh ya..tidak ketinggalan mbak-mbak penjaga mal mengganti rok mini dengan baju panjang dan kerudung walaupun tetap menonjolkan bodi aduhai. Pengunjungnya pun menyesuaikan kostumnya sesuai tema mal di bulan ramadhan. Mushola mal pun sama penuhnya dengan konter ZARA

5. Undangan pengajian sama banyaknya dengan undangan bazar ramadhan. Baik pengajian di lingkungan rumah, pengajian di masjid maupun pengajian di hotel bintang lima.

6. Kemacetan sedikit lebih parah dibanding hari biasa yang sudah parah, terutama di sore hari yang katanya orang berlomba-lomba ingin buka di rumah bersama keluarga. Walaupun di mal maupun resto tak kalah penuhnya. Semua penuh, tak peduli rasa makanannya enak apa ndak karu-karuan. Supaya dapat tempat, mereka sudah duduk dan memandang makanan yang sudah disajikan satu jam sebelum beduk dibunyikan. Jadi siapa yang buka di rumah?

7. Tayangan gosip berganti wajah, dengan pembawa acaranya berbusana muslimah dan tema-tema pengalaman spritual artis selama ramadhan dengan jawaban tidak pernah berganti hanya artisnya saja yang berubah menjadi baru dan muda-muda. Soal gosipnya? Teteeeup…diselipin diantara tausiyah dan dakwah ala artis.

Ahh…saya menjadi bosan dengan ritual-ritual kolosal itu. Entah mengapa sedikit membuat saya muak dan kehilangan spirit ramadhan yang dulu selalu saya dapatkan. Kekhusyu’an dan kedamaian terasa hilang. Mungkin saya saja yang bebal, hatinya membantu sehingga ritual-ritual itu tidak menyentuh. Atau selera saya yang kampung, sehingga tidak bisa menyelami ramadhan di tengah kemajuan peradaban. Ramadhan menjadi terlewatkan begitu saja tanpa pemaknaan dan keberkahan untuk saya.

Mungkin ramadhan kali ini, saya harus mencari sendiri kekhusyu’an ala saya ditengah ritual ramadhan metropolitan yang justru membuat saya semakin tidak bisa belajar menahan diri. Saya ingin berkah itu, saya ingin mendapatkan pembelajaran yang berarti. Menahan diri adalah bagian yang paling sulit buat saya, mumpung Yang KUASA memberikan banyak kemudahan untuk belajar menahan diri di bulan suci.

Saya tidak bisa menghentikan atau menggantikan tradisi-tradisi kolosal tersebut, yang saya bisa adalah mengubah tradisi saya sendiri. Pengaruh diluar hanyalah ujian kecil diantara badai dan gemuruh ombak dalam diri saya. Saya lah pemegang kendali atas diri, bukan mereka atau anda. Saya lah yang menentukan rasa yang ingin saya terima : khusu’ atau hiruk pikuk. Dan saya yang harus bertanggung tawab atas moral saya bukan mal atau TV.

Bukan kah berarti itu menjadi mudah, karena kekuasaan di tangan saya? Justru itulah kesulitan terbesar saya. Saya meyakini hal tersebut tapi saya tidak kuasa menjalani. Karena perkataan jauh lebih mudah dari pada kenyataan. Dan tantangan terbesar manusia adalah ketika dia bisa menundukkan dirinya sendiri. Musuh terbesar manusia adalah egoismenya sendiri. Apa saya mesti menyerah? Tidak juga, karena tidak ada jalan untukmelarikan diri semua harus dihadapi.

Saya harus belajar me”nunduk”an diri sendiri. Tidak mudah tetapi juga bukan tidak mungkin. Saya harus berusaha dan berproses untuk menuju kekhusyu’an, perkara hasil serahkan kepada Yang Kuasa. Karena BELIAU selalu memberikan jalan ditengah-tengah kesulitan. Usaha saya belum tentu berhasil sesuai keinginan saya, tetapi saya meyakini apa yang TUHAN beri atas usaha saya adalah yang terbaik yang bisa saya miliki. ENGKAU Maha Mengetahui dan Maha Pemberi. ENGKAU Maha Peyayang dan Maha Mengampuni. Manusia tempat salah dan lupa,

Maha Benar ALLAH dari segala salah dan lupa.