pasarsapi

MASIH ADAKAH PAHLAWAN DI NEGERI INI?

In Mengelola orang on November 9, 2011 at 9:03 pm

Hari Jumat lalu, saya diminta menjadi salah satu narasumber di Coaching Clinic dengan tema “Jadilah Pahlawan Masa Kini, Jadilah Tango Digital Heroes” yang diadakan oleh Wafer Tango. Narasumber yang lain adalah psikolog Rosdiana Setyaningrum M.Psi, MHPed  dan kami pun membahas apa itu pahlawan di masa sekarang. Menarik sekali acara tersebut, karena pertama: diadakan di kidzania jadi saya bisa sekalian bawa anak saya untuk menikmati fasilitas bermain di kidzania, kedua pesertanya adalah teman-teman dari media. Baru sekali ini saya berbicara di depan teman-teman media untuk becerita bagaimana membangun gerakan sosial dengan memanfaatkan social media. Acara ini sengaja dibuat dalam rangka memperingati Hari Pahlawan sekaligus peluncuran program baru Tango Together To Get There, sebuah program berbasis social media.

Saat ini banyak mata tertuju di social media, sebuah platform media baru di mana sekarang sudah dihuni lebih dari 800 juta orang khusus untuk facebook, jadi kalau dianggap sebagai negara maka Facebook adalah negara ketiga terpadat setelah China dan India. Di Indonesia sendiri penghuni facebook sekita 30 juta, sebuah jumlah yang cukup fantastik dengan segala keterbatasan infrastrukturnya.

Banyak gerakan-gerakan sosial yang timbul dari social media, karena di sini kita bisa terhubung dengan banyak orang tanpa batasan geografis, pendidikan, strata sosial maupun jabatan. Bangsa kita dikenal dengan bangsa pemurah, maka tidak heran jika banyak sekali aksi sosial yang bermunculan. Sebut saja Blood for Life, Yatim Online, Indonesia Berkebun, Indonesia Bercerita, Shoe Box Project, dan masih banyak lagi. Kebetulan saya pun ikut serta membangun gerakan belajar gratis yang diinisiasi dari online tetapi kelasnya offline. Nama gerakan tersebut adalah Akademi Berbagi.

Dulu kita selalu diajarkan tentang pahlawan bangsa, yaitu orang-orang berjasa atas berdirinya negeri ini yang kemudian beberapa dari mereka namanya diabadikan menjadi nama jalan, gedung maupun gambar di mata uang. Tetapi apakah pahlawan hanya mereka, yaitu orang yang berjuang mengangkat senjata, bertaruh nyawa memperjuangkan kemerdekaan? Bagaimana dengan sekarang?

Bangsa kita sudah merdeka lebih dari 66 tahun, banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan Negara kita berdaulat baik secara geografis, ekonomi dan sosial. Perlu pejuang-pejuang baru untuk memajukan negeri ini. Dan menurut saya definisi pahlawan perlu dikembangkan  lebih luas lagi yaitu orang-orang yang berjasa atau berbuat baik kepada lingkungannya. Tindakan kepahlawanan bisa dimulai dari yang paling sederhana yaitu menolong tetangga yang kesusahan, atau membantu saudara-saudaranya yang kesulitan meneruskan pendidikan.  Tindakan heroik tidak harus tindakan besar, asal memberikan manfaat buat sesama sudah merupakan tindakan kepahlawanan.

Anak-anak kita yang selama ini hanya menghafal nama-nama para pahlawan,perlu juga dikenalkan tentang apa itu pahlawan. Jiwa pahlawan bisa dipupuk sedari kecil, sehingga ketika besar itu sudah menjadi nilai yang dianut dalam perjalanan kehidupannya. Apalagi anak sekarang banyak yang sudah terhubung dengan tehnologi, mereka bisa memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk mempraktekkan tindakan kepahlawanannya.

Dengan banyaknya kegiatan sosial di online, kita bisa mengajak putra-putri kita untuk ikut serta sebagai bentuk latihan memupuk jiwa kepahlawanan. Salah satu kegiatan social yang mudah diikuti dan berdampak baik bagi teman-teman kita yang kekurangan gizi adalah ajakan dari Tango Together To Get There. Caranya mudah, kita dapat meng-up load video gaya masing- masing dalam menerima, makan dan kemudian seakan memberikan Tango kepada orang disebelahnya ke facebook Tango. Dan setiap satu video yang di up load berarti lima piring makanan bergizi yang akan diberikan kepada anak- anak bergizi kurang di Desa Rabak, pinggiran kota Bogor. Dari situ anak-anak bisa belajar sekaligus melihat bagaimana aksi kepedulian sosial itu dibangun. Tetapi apa yang dilakukan Tango bukan hanya untuk anak-anak, siapa saja boleh berpartisipasi, semakin banyak semakin bagus. Tidak perlu kamera video yang canggih, justru yang ada di handphone sudah mencukupi. Yang penting adalah partisipasinya.

Tidak sulit untuk menjadi pahlawan di negeri ini. Banyak hal bisa kita lakukan untuk membantu sesama, tehnologi semakin mempermudah juga. Maka saya pun tidak akan heran kalau kelak akan banyak sekali digital hero yang lahir di negeri kita. Bukan saatnya lagi kita mementingkan diri sendiri, karena manusia yang berhasil adalah yang paling bermanfaat bagi bumi ini. Selamat hari pahlawan, mari hargai pengorbanan para pahlawan pendahulu kita dengan melanjutkan perjuangan mereka untuk kebaikan sesama.

Belajar untuk Siapa?

In Mengelola orang on October 5, 2011 at 6:10 am

Anak Bula Pulau Seram yang Terus Belajar #AkademiBerbagi

Bekal hidup apa sih yang paling penting? Agama jelas utama, tetapi selain itu apa? Benarkah dengan mempersiapkan harta untuk anak cucu menjamin kehidupannya kelak di masa datang? Mungkin kalau hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan bener kali ya, anak cucu terjamin. Tetapi apakah harta menjadi bekal utama?

Aku adalah anak nomer 5 dari 6 bersaudara. Keluargaku dulu cukup kaya untuk ukuran kampung kami. Dan kakek seorang pejabat yang dahulu ayahnya adalah orang kaya juga. Tidak pernah terpikir di benak keluargaku, bahwa kelak kemudian ayah akan sakit kanker yang butuh biaya besar, sehingga usahanya pun terbengkelai. hari demi hari dijalani dengan terapi dan pengobatan dengan biaya yang tidak murah. Hingga akhirnya ayah dipanggil Tuhan dengan meninggalkan istri serta 6 anak yang semuanya masih sekolah dan butuh biaya. Kakak sulungku masih di bangku kuliah, adiknya 2 orang masih SMA, anak nomer 4 masih SMP sedangkan aku dan adik bungsuku masih SD. Tak terbayangkan betapa sedih dan paniknya ibuku, mengurus 6 orang anak dengan hutang yang ditinggal ayahku karena usahanya bangkrut.

Ibuku adalah perempuan kampung tamatan SMA, dan hanya ibu rumah tangga yang sesekali membantu usaha ayah. Ibuku bukan perempuan biasa, yang kemudian menyerah dengan keadaan atau membiarkan anaknya putus sekolah. Tidak! Bahkan ibuku bersikeras semua anaknya harus sekolah sampai sarjana apapun yang terjadi. Ibarat kata kaki jadi kepala, kepala jadi kaki pun tak mengapa. Pada masa itu, ibuku termasuk progresif cara berpikirnya. Di saat orang lain membiarkan anak-anaknya cukup sampai SMA atau dikawinkan saja, kami harus terus belajar hingga tamat. Ibuku akan sangat marah kalau kami tidak menyelesaikan pendidikan.

Sebenarnya apa yang membuat ibuku begitu berkeras anak-anaknya harus sekolah walau kondisi ekonomi morat-marit? Saat ini aku dan saudara-saudaraku telah menyelesaikan pendidikan hingga sarjana, dan tidak semua kemudian bekerja atau berkarir. Dan baru aku sadari, jika dulu aku putus sekolah, apa yang terjadi? Jaman begitu cepat berubah, semua orang dituntut untuk mempunyai bekal yang cukup dalam ilmu & pengetahuan jika tidak ingin tertinggal. Akhirnya aku pun bersyukur telah menyelesaikan kuliah dan banyak pembelajaran yang aku peroleh selama di bangku sekolah. Memang ilmu tidak selamanya harus di bangku sekolah formal, apalagi jaman sekarang ketika informasi begitu terbuka dan mudah diakses. Tetapi setidaknya dengan pendidikan formal, aku mempunyai bekal untuk melanjutkan hidup secara mandiri, tanpa bergantung pada orang tua lagi.

Ketika warisan pun aku gak punya, pendidikan yang aku enyam ternyata sangat berarti. Bukan sekedar untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk bersosialisasi dan membuat kegiatan sosial yang bermanfaat. Siapa bilang untuk beramal tidak perlu ilmu? Justru dengan berilmu maka jalan amal kita semakin luas. Aku bersyukur dibekali ilmu dan pengetahuan yang cukup, karena kalau pun aku dibekali harta tetapi tidak punya ilmu apa bisa menjaga harta tersebut dengan baik dan manfaat?

Konon katanya knowledge is power. Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan maka dia akan menguasai dunia. Orang-orang yang sukses adalah orang yang cepat merespon setiap perubahan dan membuat tindakan nyata atas perubahan tersebut. Dan semua itu dibutuhkan ilmu pengetahuan. Tidak ada orang yang sukses tapi tidak pernah belajar. Justru orang sukses adalah orang yang belajar terus menerus.

Kita tidak harus jadi presiden atau pengusaha multinasional, untuk menjadi karyawan pun butuh ilmu bukan? Hidup tidak semakin mudah tetapi bukan berarti harus menyerah. Ketika persaingan semakin ketat, di sisi lain peluang juga semakin banyak. Dulu kalau mau sekolah keluar negeri rasanya sesuatu yang susaaaah dan mahaaaal sekali. Tetapi sekarang banyak beasiswa dan kesempatan kerja dan kuliah di luar negeri secara mudah. Akses informasi yang semakin terbuka, batasan antar negara semakin tipis sehingga sekarang bukan hanya belajar yang lintas negara, bisnis pun sudah antar negara.

Seorang teman bercerita, anaknya melanjutkan kuliah di luar negeri. Setelah dihitung-hitung ternyata biayanya sama dengan kuliah di negeri sendiri di universitas swasta yang terkemuka. Dengan belajar di negeri orang, kita bukan hanya dapat ilmu tetapi juga pengalaman dan kemandirian yang tidak bisa diperoleh jika sekolah di sini. Dan sudah barang tentu, komunikasi dalam bahasa Inggris pun semakin lancar. Dan temanku pun berujar bahwa tidak perlu meninggalkan harta warisan, tetapi kasih kesempatan belajar seluas-luasnya Insya Allah bisa jadi bekal hidupnya kelak.

Anakku masih SD sih, tetapi ikut kepikiran juga. Pendidikan seperti apa yang kelak aku berikan untuk anakku? Aku bukan hartawan yang bisa mewariskan milyaran, saat ini ya hahaa…, maka aku pun punya mimpi bahwa putriku bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Bukan sok-sok an, tetapi belajar di negeri orang memiliki tantangan yang berbeda, dan seperti yang tadi aku bilang anak bisa lebih mandiri dan percaya diri berdiri sejajar dengan bangsa lain. Hal itu penting, karena sudah cukup lama kita terjajah baik secara fisik dan sekarang secara mental. Bukan lagi saatnya kita hanya belanja hasil karya dari negeri orang tetapi mereka harus membeli karya kita.

Kita dan orang-orang di luar sana sama-sama diberi otak dan hati, yang membedakan hanyalah apa yang telah kita masukkan ke dalam otak dan hati kita. Kita bisa jadi apapun yang kita mau, asal mau belajar. Karena penguasa dunia adalah mereka yang mengusai ilmu pengetahuan.

Terbangkan Mimpi Rendahkan Hati

In Mengelola orang on September 16, 2011 at 3:54 am

Foto dari corbis dot com

Dulu, karena badanku bongsor dengan tinggi di atas rata-rata manusia di kampungku serta badan yang langsing, seringkali orang bilang’ “jadi pramugari ajah” . Saking seringnya sampai lama-lama bosen dengarnya. Wong aku ini anak kampung, belum pernah naik pesawat bahasa Inggris ndak bisa, mana beranilah bermimpi jadi pramugari. Cita-citaku dulu paling puool jadi pegawai bank kecil di kampungku, dan itu sudah terasa mewah.

Seiring berjalannya waktu, dan karena terlalu sering juga diprovokasi supaya jadi pramugari kemudian aku jadi mikir. Apa iya ya, aku cocok jadi pramugari? Apa iya keterima? Gadis kampung yang bisanya bahasa jawa?  Sambil membaca-baca majalah yang memuat berita-berita tentang kota-kota di luar negeri, diriku pun menghayal. Seandainya aku jadi pramugari, aku bakal mudah berkunjung ke kota-kota dalam gambar itu. Berfoto, mencoba makanan yang asing, jalan-jalan ke museum atau bangunan-bangunan keren, taman-taman yang indah penuh burung dan bunga-bunga warna-warni. Oh indahnya…!

Eits tapi tunggu dulu, tugas pramugari itu apa? Kemudian aku pun bertanya kesana kemari mencari info tentang tugas pramugari. Kebetulan, salah satu kakak kelas di SMA adalah pramugari dan dia bercerita tentang tugas utamanya yaitu melayani penumpang, seperti mengambilkan makanan, atau minuman, memenuhi panggilan penumpang jika butuh sesuatu. Dan harus sabar dengan tingkah penumpang yang terkadang aneh bin nyebelin. Aku pun merenungkan kembali, apa bisa aku melayani orang sedangkan aku seringkali males dimintai tolong ibuku untuk bersih-bersih atau menghidangkan suguhan untuk tamu. Duh, gengsi dong masak jadi pelayan?

Sekarang aku sudah menjadi ibu dan bekerja, mimpi tentang pramugari itu pun terkubur lenyap ditelan rutinitas dan mimpi-mimpi yang lain. Ketika baca-baca ini, aku jadi teringat kembali. Kalau waktu bisa diputar kembali, maukah aku jadi pramugari? Melayani penumpang yang bermacam ragam dan melakukan perjalanan hampir setiap hari serasa tidak punya rumah? Aku akan jawab : MAU! Kenapa? Mari aku ceritakan sesuatu tentang pembelajaran hidup.

Sekian puluh tahun bekerja dan berkegiatan memberikan banyak pelajaran hidup. Pekerjaanku memungkinkan aku bertemu tokoh-tokoh penting, pengusaha sukses dan orang-orang hebat. Aku seringkali mengamati, apa ya yang membuat mereka sukses? Adakah resep yang mujarab? Tentu saja aku tidak menemukan resep jitunya, tetapi ada hal yang menarik yang aku peroleh. Orang-orang hebat itu adalah pemimpin yang handal di bidangnya, entah dia Direktur, CEO, Wirausahawan, Menteri, maupun Gubernur atau Bupati. Untuk Menteri, Bupati dan Gubernur tidak semua sih handal (nanti ada catatan tersendiri untuk mereka), tetapi adalah beberapa yang handal. Dan kunci pemimpin itu adalah melayani. Mereka luwes melayani kolega, klien, konsumen, ataupun warganya.

Beberapa orang sukses yang aku kagumi, hampir sebagian besar adalah orang yang ramah dan rendah hati. Posisi yang diraihnya sekarang berkat kerja kerasnya bertahun-tahun melayani orang-orang yang terkait dengan pekerjaannya. Dan pasti mereka sudah bertemu dengan banyak orang dan berbagai karakter, sehingga mereka bisa luwes menjalin kerjasama. Siapa sih yang tidak senang dilayani? Hampir semua senang dong, dan ilmu melayani itu bukan sekedar “yess men” dan kemudian menjalankan instruksi seperti robot.

Hakikat melayani adalah bisa memenuhi harapan orang lain tanpa kita merasa tertindas dan tak perlu merendahkan diri. Perlu ketrampilan komunikasi dan belajar melapangkan hati.  Kerendahan hati bisa diasah dengan melayani sesama. Bahkan konon, Nabi pun melayani umatnya. Karena kunci pemimpin yang benar adalah melayani. Dan melayani itu tidak ada sekolahnya, semua harus dipelajari dengan praktek langsung.

Bayangin kalau jadi pramugari, aku harus melayani penumpang dengan tulus dan ramah. Menghadapi berbagai macam orang itu penuh tantangan. Di pesawat pasti penumpang berganti-ganti, jadi aku akan ketemu banyak sekali orang. Pekerjaan pramugari tidak mudah, selain masalah skill kita juga harus belajar mengendalikan ego, sehingga bisa melayani dengan tulus bukan sekedar kewajiban. Jika kita berhasil, maka bukan hanya gaji dan jalan-jalan gratis tetapi kita lebih bijak dan siapa tau kelak jadi pemimpin yang sukses mengatur warganya atau pemimpin yang sukses menjalankan usahanya. Selain itu, kita juga bisa membangun networking lho! Pelajaran hidup yang luar biasa, bukan?

Buat kalian yang masih muda, saatnya menimba ilmu dan pengalaman seluas-luasnya. Menjadi pramugari adalah salah satu pilihan yang menarik.  Jadi buruan gih daftar di sini dan Good Luck yaa! :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.