Apakah saya mengenal Prita? Tidak. Lalu kenapa bersusah payah ikut menggalang pengumpulan koin untuk Prita. Apakah saya tahu penggagas gerakan koin untuk keadilan? Saya tidak tahu. Gerakan koin pertama kali saya ketahui melalui twitter dan seperti menjadi sebuah jalan buat saya dan mungkin buat yang lain juga untuk menyuarakan kekecewaan yang luar biasa atas ketidakadilan hukum di negeri tercinta.

Saya sama dengan Prita, seorang perempuan biasa yang seringkali mengalami kekecewaan dan bahkan kerugian akibat pelayanan yang buruk tidak hanya rumah sakit atau dokter, tetapi dari berbagai hal. Sebagai konsumen seringkali kebingungan bagaimana caranya mengeluh bahkan memprotes atas hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya. Mengisi form keberatan atau melapor ke management perusahaan/ lembaga menjadi cara yang basi karena seringkali kita hanya jadi bola pingpong yang dilempar kesana kemari tanpa penyelesaian. Atau lain waktu kita bak patung yang didiamkan dan dianggap tidak penting kecuali uang kita. Apa yang dialami Prita sangat efektif untuk membungkam kita dalam diam dan menyimpan kekecewaan sendirian, karena hukum begitu menakutkan.

Belum kelar soal Prita, datang Mbok Minah. Aaaaaagggh…..saya tidak tega melihat tatapan bingung dan ketakutan simbah tua atas apa yang menimpanya. Kemudian secara bertubi-tubi muncul ke media kasus pencurian semangka, kasus satu keluarga yang dipenjara karena mencuri sisa olahan kayu untuk mempertahankan hidup, dan kasus-kasus yang lain yang membuat kita ternganga karena disatu sisi Anggodo yang bocoran sadapan teleponnya begitu menggemaskan untuk ditindaklanjuti bebas berlalu lalang tidak diapa-apakan. Atas nama hukum hati nurani pun menjadi tidak ada karena nurani tidak punya bukti.

Saya begitu bersemangat ikut menggalang koin melalui FB dan twitter karena menurut saya pribadi ini adalah cara untuk menyuarakan kekecewaan atas ketidakadilan, daripada saya marah-marah membuang sumpah serapah. Kemudian gerakan ini bergulir tanpa bisa terbendung dan membuat publik tercengang sendiri betapa luar biasa sambutan masyarakat untuk ikut serta dalam pengumpulan koin bukan hanya orang yang mampu, pengemis dan pemulung pun ikut berpartisipasi.

Ketika pada akhirnya RS Omni mencabut gugatan, bukan berarti pengumpulan koin menjadi sia-sia. Saya percaya gemerincing pengumpulan koin terdengar sampai ke ujung negeri membuat gerah dan malu hati. Dan koin itu hanyalah perlambang ketika keadilan semakin membumbung tinggi diawan, maka perlu dibumikan,direcehkan sehingga kembali terjangkau oleh semua masyarakat. Semua orang bisa berpartisipasi untuk mengumpulkan koin : pengusaha, politisi karyawan bahkan pengemis. Karena keadilan pada dasarnya untuk semua untuk pemulung juga.

Pelajaran penting bagi negeri ini, ketika hukum tidak (lagi) dapat menaungi rakyatnya bersiap-siaplah karena berkarung-karung koin akan jatuh menimpanya. Berat dan merepotkan!!

Pemimpin Negara  sedang dirundung problema dan berbagai pilihan yang (mungkin) sangat sulit.  Dan saat ini sedang terjadi, Sang Pemimpin ingin memenuhi keinginan semua pihak yang ada justru mengecewakan banyak pihak. Ketidakjelasan sebuah keputusan kadangkala dianggap cara yang aman untuk meminimalisir resiko, padahal sebenarnya ketidakjelasan menimbulkan lebih banyak lagi persoalan dikemudian hari.

Seorang Pemimpin yang sudah terpilih, wajib ngopeni semua rakyatnya baik yang memilih dirinya  yang memilih lawannya  ataupun yang golput. Begitu juga rakyatnya, meski yang terpilih bukan jagoannya tetap harus menghormati dan mengakui kepemimpinannya, jika benar kita dukung jika salah kita ingatkan.

Mengingatkan bisa bermacam-macam cara, ingat ada 2oo juta kepala dan gak mungkin sama. Mau bikin demo, bikin tulisan, bikin gerakan ya silakan saja. Apalagi Pemimpin Negara sangat sibuk, untuk mendapatkan perhatiannya diperlukan berbagai cara. Dan jangan menganggap apak yg dilakukan sebagai fitnah, apalagi fitnah yang kejam. Rakyat kan hanya tidak ingin pemimpinnya salah langkah. Memang suka ada yang berlebihan, lebay, tetapi balik lagi itu kan cara mereka untuk menarik perhatian pemimpinnya. Sebenarnya substansinya ingin Pemimpin Negara memimpin dengan baik dan benar. Nanti rakyat jadi takut aau apatis kalau kritik atau masukan dibilang fitnah.

Menjadi Kepala Negara bukan harus ahli segalanya. Kebayang dong satu negara dengan berbagai suku, adat istiadat, agama dan berbagai kepentingan, mana ada yang ahli semuanya?  Dalam bayangan saya, Kepala Negara  itu seperti Manager EO, yang mempunyai berbagai jenis karyawan, berbagai unit kegiatan dengan satu tujuan Show harus sukses! Kunci Manager EO adalah mempunyai asisten yang ahli dibidang masih-masing  dan berwibawa sehingga keputusan yang dibuat akan dijalankan. Mungkin Manajer EO tidak lebih pintar dari pegawainya dibidang tertentu, tetapi kemampuan melihat keseluruhan masalah dan menganalisis semua data untuk menghasilkan keputusan yang tepat itulah keunggulan Manager EO. Tidak selalu benar keputusan yang diambil, tetapi dengan cepat harus segera memperbaiki keputusan-keputusan yang salah supaya tidak mengganggu pertunjukkan. Maka diperlukan pendengaran yang cukup baik terhadap masukan dari luar dan keluhan pegawainya disamping yang pasti kepuasan klien nomer satu dalam hal ini adalah rakyatnya.

Kalau klien sudah berteriak-teriak, kalau klien sudah kecewa, bukankah berarti ada yang salah ya? Mengakui kesalahan juga bukan hal yang tabu buat pemimpin. Justru dengan kebesaran hati mau mengakui kesalahan kemudian memperbaikinya akan menimbulkan simpati dan dukungan yang tulus dari rakyatnya. Kita sebagai rakyat juga tidak mau dikit-dikit kudeta,  atau dikit-dikit ganti Kepala Negara. Capek ahh… dan kami pun terganggu hajat hidupnya.

Jaman sekarang dengan tingkat kesusahan yang semakin tinggi, rakyat sebenarnya semakin malas jika terjadi keributan di atas. Makanya kalo ndak kebangetan amat enggak akan kog rakyat ini teriak-teriak. Mending urus nasibnya sendiri-sendiri. Kalau rakyat sudah banyak yang teriak berarti sudah kebangetan to. Kalau teriak itupun tidak menggugah hati Pemimpinnya, wah mesti cara apalagi ya? Jangan salahkan rakyatnya jika semakin kreatif dan aneh-aneh untuk unjuk rasa. Dan demonstrasi pun jadi tontonan harian. Jangan jadikan kesabaran rakyat sebagai peluang untuk menghindar karena ledakan kemarahannya bisa lebih menghancurkan.

Ini postingan yang tertunda cukup lama. Entah kenapa karena tidak ada alasan kecuali malas.

Lebaran..ya lebaran (duh..dah 2 bulan lalu yach )  benar-benar spesial dan membahagiakan. Bagaimana tidak, undangan kumpul, reuni, silaturrahiim bertubi-tubi menghampiri. Ucapan terimakasih secara khusus saya berikan kepada Facebook, yang kedua kepada milis dan selanjutnya untuk sms. Tehnologi yang sangat mengerti kebutuhan kami :-)

Akhirnya saya bertemu teman SMA yang sudah terpisah (benar-benar pisah dan gak pernah ketemu sama sekali) selama 18 tahun. Wooow..sudah lama sekali. Awalnya saya agak ragu untuk bertemu, karena ajang reuni biasanya menjadi ajang pamer atau bergosip yang bikin -terus terang- saya minder. Karena keberhasilan apa yang mau saya tampakkan kecuali ukuran badan yg bertambah 2.0 (ha..ha..ha..). Tetapi rasa penasaran dan rindu jauh lebih besar dari pada keminderan saya. Dan saya bersyukur ternyata pertemuan itu benar-benar membahagiakan. Kita berkumpul, bercanda, tertawa bersama dan pastinya foto-foto doong! Serasa masa SMA. Tidak ada pameran dan celaan, kami melupakan sejenak tentang usia dan tanggung jawab sebagai orang tua. Selama bertemu  ada permainan  tebak-tebakan nama, berhubung ujud fisik sudah berubah dan permukaan yang sudah bermimikri. Tapi ingatan saya ternyata lumayan baik, bahkan saya dijadikan guide untuk membuka kedok teman-teman, dan menerangkan sejarah-sejarah kecil.

Cerita belum berakhir, masih ada undangan pertemuan geng lain lagi. Lintas generasi, dari yang sepuh sampai yang muda (dan hoiiii….saya paling muda loooo…hahaha). Bercanda dengan Bapak-bapak dan ibu-ibu, bertukar sejarah dan kegembiraan. Ternyata walau tua mereka masih lucu. Kalau yang ini ada urusan seriusnya, yaitu memikirkan nasib kampung halaman kami Salatiga. Pak Walikota gak tau loo kalau mereka-mereka ini jg pusing dan segera bertindak untuk membantu benah-benah. Cuma tanpa perlu jabatan ataupun catatan media. Ada candaan kami yang akan melegenda yaitu “sunatan massal” dan “poco-poco” yaitu aktivitas yg dilakukan selama bertahun-tahun jika ada acara temu dulur bersama Pak Wali. Eh..maaf  Pak..:-)

Jika reuni adalah mempertemukan orang yang kita kenal dan sudah lama tidak bersua, naah ini ada agenda pertemuan satu lagi yang unik yaitu : mempertemukan yang tidak saling kenal. Kecintaan kami dengan kampung halaman mempertemukan kami dari berbagai latar belakang,  berbagai pekerjaan dan berbagai usia. Biasanya kita bertemu saling mengingat-ngingat nama, kali ini kami bertemu dengan saling memperkenalkan diri. Saya sangat bersyukur dengan pertemuan itu dan terima kasih untuk teman yang saya hormati Mas Hendro Prastowo yang selalu semangat mengajak bersilaturrahim dengan siapa pun. Tidak ada agenda apapun, kami benar-benar bertemu untuk saling bertegur sapa dan tertawa bersama.

Bertemu teman-teman lama dan teman-teman baru sungguh sangat menyenangkan, siraturrahim memperpanjang umur jadi benar adanya. Janganlah dibebani segala hal, niatkan bertemu dan nikmati kebersamaan.  Kalau ada niatan membangun relasi bisnis atau mencari jodoh ya monggo saja, tetapi jangan kecewa yaaa..jika tidak terpenuhi harapan. Karena bertemu teman pun menjadi sesuatu yang patut kita syukuri. Tidak selalu harus curhat, ngobrol gak penting dan bercanda pun bisa menjadi obat kepenatan hati.

Saya bersyukur masih dianugerahi waktu dan kesempatan untuk bertemu mereka, dan saya lebih bersyukur diberi tambahan teman. Tidak perlu alasan untuk bertemu, datang dan nikmatilah kebersamaan. Bertemu teman  merupakan kebahagian.

 

Note:

terima kasih kepada seluruh teman saya baik yang lama maupun yang baru, kalian telah memberikan kebahagian.

Kenapa kita harus risau dengan malam, karena pagi pasti datang.

Kenapa kita harus risau dengan kemalangan, karena kesenangan akan datang.

Kenapa kita harus risau dengan kesulitan, karena kemudahan pasti akan datang.

Banyak dari kita seringkali terpuruk dalam kesedihan yang dalam, tanpa tahu harus bagaimana. Merasa frustasi, bahkan depresi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.  Padahal kalau kita selalu ingat janji ALLAH bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, maka tidak ada penderitaan yang abadi.

Hidup ini bergilir dari gelap ke terang, dari mudah ke susah, dari sehat menjadi sakit dan kemudian sehat lagi.  Walaupun kita tidak mau menerima, tetap saja saat-saat gelap pasti datang. Untuk apa dilawan. Berdoa memohon supaya tidak ada kesusahan? Seperti memohon pagi hadir tanpa malam.

Menjalani segala sesuatu sesuai dengan ketetapan-NYA dan menerima sebagai suatu hal yang memang harus terjadi atau bahasa lainnya ikhlas adalah kuncinya. Kita tidak bisa menghindar dari bencana, tetapi kita bisa menghadapi bencana. Kita tidak bisa menghindar dari kesulitan, tetapi kemudahan akan datang menyelesaikan.

Jadi, mari kita berdoa memohon kekuatan, keihlasan, dan kelapangan hati untuk menerima segala sesuatunya sebagaimana adanya, tanpa perlu menggurui TUHAN.

Apakah saya gak boleh minta sehat, minta kaya, minta selamat?  Yaa..boleh, bahkan harus meminta kepada Yang Punya Hidup, tetapi apabila kita sakit, kita miskin, kita celaka bukan karena ALLAH tidak mengabulkan doa kita, tetapi karena kita manusia memang harus menjalani sebagai bagian dari proses kehidupan.

Jika sehat dan sakit, susah dan senang, mudah dan sulit bisa kita jalani dengan kerelaan hati, tanpa perasaan yang melebihkan di salah satu bagian maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dengan sakit, kita bersyukur diberi sehat, dengan susah kita bersyukur diberi kesenangan, dengan kesulitan kita menghargai adanya kemudahan-kemudahan yang kita peroleh.

Jadi, kenapa harus risau..?

Quote of the day : bersyukurlah atas hal-hal yang kecil, karena tanpa mensyukuri yang kecil kita tidak bisa menikmati hal-hal yang besar.

Mengenal pribadi seseorang tidaklah mudah, begitu juga mengenal anak kita sendiri. Saya pribadi mengalami kesulitan dan keragu-raguan dalam “memperlakukan” anak secara tepat. Walaupun ada peribahasa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, tetapi setiap manusia mempunyai muatan lokal masing-masing dan tidak ada yang sama satu dengan yang lain meskipun sekandung.

Sebagai ibu yang gagap dan kurang ilmu yang mumpuni, saya berusaha keras mencoba mengetahui kepribadiaan dan kecenderungan putri saya yang seringkali membuat saya takjub dan melongo. Kesalahan perlakukan berulangkali terjadi, bahkan seringkali menyamakan diri sendiri dengan anaknya. Doh! Padahal katanya salah-salah perlakuan bisa menjadi trauma seumur hidup.

Banyaknya referensi dan berita-berita “menyeramkan” tentang salah perlakuan kepada anak membuat saya jadi paranoid sendiri. Sampai kadang saya punya pikiran terlalu banyak referensi membuat saya berlebihan dan takut melakukan tindakan apapun.

Tetapi saya percaya bahwa yang paling tahu tentang anak saya ya saya ibunya. Dengan segala keterbatasan ilmu dan kemampuan saya mencari ilmu tambahan yang menurut saya paling sesuai untuk memahami anak saya sehingga paling tidak ada sesuatu yang bisa saya pegang dan saya percaya. Ada beberapa referensi yang saya anggap sesuai untuk memahami anak dan manusia pada umumnya yaitu NLP, Finger Print test, buku Bahasa Kasih dan Personality Plus.

Dari referensi itu saya memperoleh banyak pengetahuan dan cara memperlakukan anak. Tidak semua bisa diterapkan memang, harus ada pemilihan dan uji coba kepada anak pun disesuaikan. seperti misalnya Finger Print Test, hasilnya memberikan gambaran bakat anak saya, kelemahannya, kecenderungan perilaku, dan metode penyerapan ilmu pengetahuan yang sesuai. Anak saya dengan IQ yang standar lebih menyukai sistem kelas yang kecil, dengan murid yang sedikit sehingga mendapat perhatian guru secara maksimal. Jika ada temannya yang berisik akan sangat mengganggu, karena dia lebih mudah menyerap apa yang disampaikan guru secara langsung. Anaknya yang naturalis menyukai alam, membuat sekolah yang banyak lapangan terbuka dan berbau alam sangat diminati. Saya pun mencari sekolah yang mirip dengan kondisi yang membuat dia nyaman, karena saya tidak ingin sekolah menjadi keharusan tetapi menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

Anggota badannya (tangan juga) yang kurang lentur, sehingga kegiatan prakarya kurang bagus hasilnya. Tetapi putri saya suka menggambar, maka kemudian dia kursus menggambar untuk melatih kelenturan tangannya. Kemajuan prestasi menggambarnya tidak secepat kawan-kawannya, tetapi karena saya tidak membuat target apa-apa kecuali melatih kelenturan tangannya maka anak saya enjoy saja. Hal lain yang disarankan adalah olahraga. Ya..anak saya mempunyai kelemahan dibidang olahraga karena kekuranglenturan anggota badannya sehingga saya bersikeras anak saya harus berolah raga. Renang adalah pilihannya, karena disamping memang suka main air, renang melatih kelenturan badannya sehingga olahraga tidak menjadi beban. Hal-hal inilah yang saya peroleh dari hasil finger print tes, disamping kenyataan bahwa anak saya follower sehingga mudah terpengaruh lingkungan sehingga saya harus cukup selektif dengan lingkungan dia di masa pendidikan dasar.

Ada lagi ajaran yang lain tentang memperlakukan anak. Bahwa anak lebih suka diajak berbicara dengan posisi setara dengan orang dewasa (jadi ibu-ibu kalo mau meminta anaknya mengerjakan sesuatu berbicaralah dengan tinggi badan sejajar dengan anak, bisa jongkok atau menekuk lutut sehingga garis mata sejajar antara ibu dan anak), masing-masing anak punya preferensi (kecenderungan) yang berbeda-beda. Menurut guru NLP saya, Bapak Wiwoho, beliau kurang setuju dengan tipe, karena kalau tipe seakan-akan sudah melekat terus. Lebih sesuai disebut kecenderungan. Jadi ada anak yang kecenderungannya visual, auditorial atau kinestetik. Kencederungan ini pun sangat kontekstual, ada yang visual ketika belajar di sekolah, dan menjadi auditorial ketika di rumah. Jika kita memahami hal tersebut akan mempermudah membantu anak belajar. Sebagai contoh anak saya auditorial, jadi ketika gurunya menerangkan dia harus mendengarkan dengan seksama sehingga bisa menyerap dengan jelas. Jika ada suara-suara yang ribut akan mengganggu konsentrasinya.

Begitu juga ketika kita ingin memberikan perhatian kepada anak. Ada buku bagus yang namanya Bahasa kasih dan Personality Plus (walaupun saya tidak setuju dengan penyebutan tipe dalam buku tsb yang seakan melekat selamanya, karena kecenderungan seseorang sangat mungkin berubah mengikuti lingkungannya). Ada 4 bahasa kasih manusia yaitu : kebersamaan waktu, sentuhan, hadiah, dan dukungan. Anak saya kebetulan sangat menyukai waktu kebersamaan dengan ibunya dan menyukai sentuhan. Bahasa kasih bisa lebih dari satu. Maka jika saya ingin memberikan reward atau punishment akan saya sesuaikan dengan bahasa kasihnya. Saya akan menemani dia bermain (menemani dalam arti ikut terlibat secara aktif) atau memeluknya untuk memberikan perhatian kepadanya. Begitu juga ketika menghukum, saya tidak memperbolehkan ikut pergi bersama saya sebagai bentuk hukuman atas perilakunya yang kurang baik. Saya akan memeluk dan mendekap jika dia sedih atau kecewa, hal itu mempercepat pemulihan emosinya. Jika tangki kasih anak itu penuh, maka perilaku yang kurang baik pun cenderung berkurang. Maka orang tua harus sering-sering memenuhi tangki kasih anaknya. Di buku Personality juga diulas tentang tipe-tipe orang dan bagaimana memperlakukan mereka. Ada melankolis, Sanguin, Koleris, Plagmatis.  Distu dijelaskan tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing tipe.

Saya juga menerapkan ilmu-ilmu di atas dalam mengajari anak saya puasa. Anak saya adalah follower, maka apa kelakuan ibunya akan ditiru. Saya menceritakan tentang puasa, tentang enaknya puasa (jangan ngomong yang gak enak ha ha ha), tentang kasih sayang Allah, Alhamdulillah tanpa diminta dia ingin ikut puasa, ikut taraweh dan ngaji. Cuma konsekuensinya ya emaknya harus konsisten memberikan contoh (itu yang susaaah yaaa……hehe). Dengan memahami kecenderungannya, paling tidak saya bisa lebih mudah mengajarkan ibadah kepada anak saya yang belum genap 6 tahun, karena sebelumnya saya agak deg-deg an juga bisa enggak ya diajak puasa.

Saya yakin masih banyak referensi, dan belum tentu pilihan referensi saya di atas sesuai untuk anda. Tetapi saya harap dengan membagi apa yang saya ketahui sedikitnya membantu orang tua memilih referensi yang sesuai dan memberikan pemahaman tentang anak. Referensi itu bukan hanya untuk anak lo..tapi bisa juga untuk pasangan, teman kerja, saudara ataupun orang tua. Selamat mengeksplorasi karena menjadi orang tua adalah belajar sepanjang hayat. Anak ibarat sumur tanpa dasar, semakin di gali semakin banyak hal yang harus dipelajari.

Masih inget Mbak Jeni dan Mas Rudi?
Kemaren kita tujuhbelas agustusan disana. Bukan mau upacara, tetapi berkumpul, bersenang-senang dan makan-makan. Sudah lama sekali saya ingin berkunjung ke rumah beliau berdua pasangan sesepuh blogger paling romantis. Mas Rudi biasa disapa Pakdhe Mbilung dan Mbak Jeni disapa budhe oleh anak-anak blogger.

Seperti biasa sang Bude mempersiapkan segala logistik, dari spaggeti yang kondang kelezatannya itu sampai pepes, puding, ayam goreng dan semua perminumannya. Lengkap, sampai bingung menyantapnya. Belum lagi tambahan bakso yang yummy dari sang legenda bakso mas Gandhung Manongan. Sumpah baksonya enak banget!

Berkunjung ke rumah teman, dijamu makan dan ngobrol-ngobrol santai merupakan kegiatan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Gaya hidup diperkotaan yang selalu akrab dengan macet dan berkejar-kejaran dengan waktu membuat budaya berkunjung ke rumah semakin ditinggalkan. Mall atau tempat-tempat makan menjadi pilihan yang diminati untuk bertemu. Disamping mudah dijangkau secara transportasi, juga bisa melakukan beberapa kegiatan sekaligus. Makan, berkumpul, ngobrol, bisnis, belanja, anak main dan cuci mata! Praktis tapi jelas ndak ekonomis babarblas! Gimana mau ngirit, yang tadinya gak niat beli jadi diborong, yang tadinya cuma mau minum tambah cemal-cemil jadi dimakan deh segala menu. Tinggal nanti melongo melihat tagihan. Uang cash gak cukup, srettt…! digeseklah si kartu kredit. Beres, tagihan pikir belakang.

Bertamu ke rumah teman menjadi hal yang langka. Berkumpul di rumah sambil mengudap dengan posisi sembarangan dan mengumbar guyonan jorok terasa lebih kekeluargaan dibanding bertemu di mall dengan waktu yang terbatas dan segala hal yang dibatasi pula. Di rumah, pembicaraan pun bisa jauh lebih akrab dan bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Anak-anak pun bisa belajar bersosialisasi dengan lebih manusiawi. Bahkan kita bisa mengenal seluruh anggota keluarganya.

Bertamu memang lebih bebas dan lebih akrab, tetapi tetap saja ada etikanya. Bertamu harus seijin dan sepersetujuan yang didatangi, atau memang diundang sang empunya. Soal hidangan juga, lihat adat kebiasaannya, bila perlu bawa juga makanan yang nanti akan di makan bersama-sama atau diserahkan ke pemilik rumah. Dan saya pun memilih bertamu ke rumah teman atau saudara yang memang sudah dekat atau akrab. Sehingga saya bisa lebih yaman dalam bertamu dan ngobrol santai itu benar-benar terjadi.

Saya akan selalu kangen berkunjung ke rumah-rumah teman, karena dapat mengembalikan semangat kekeluargaan yang semakin berkurang dikikis yang namanya kemajuan jaman. Apalagi kalau pulang masih dibekali pepes, he he he…Terimakasih Mbak Jeni, terima kasih Mas Rudi.

Yaa betul..berdebu.
Terlalu lama aku tinggalkan blog ini, sampai berdebu dan terlupakan di sudut gelap.
Kenapa? Karena facebook yang menawan, twitter yang ringkas menggoda. Halah! Itu hanya alasan atas kemalasanku. Malas berpikir dan merangkai kata, malas mengetik panjang-panjang dan malas berkreasi. Kemalasan kog dipelihara.

Seperti kata Neneng Wenni menulis adalah melatih otak, hati
dan tangan untuk sinkron: otak berfikir- hati menyaring – tangan mengetik. Dan saya bersemangat lagi, terimakasih Neng! Saya belum pernah bertemu atau berbicara denganmu tetapi blogmu menginspirasiku.

Terkadang ada perasaan cemas dan takut kalau blog ini dikomentari jelek, atau dianggap menyinggung sesorang atau sesuatu, UU ITE itu sukses juga menakutiku. Tetapi kenapa ketakutan itu dipelihara ya? Aku harus mulai belajar untuk menerima rasa takut sebagai bagian dari hal yang manusiawi tetapi tidak menghentikan langkah baikku. Apapun itu!

Selain ketakutan atas UU ITE itu -sebel enggak seh – ada satu hal dan PR banget neeh yang harus segera diselesaikan. Takut nyopir. Ya betul…dulu sekali aku bisa menyopir dan sok gaya gak pake SIM pula. Tapi entah mengapa sekarang ketakutan enggak jelas. Mungkin karena pernah tabrakan sama dokar atau karena penumpang mobilku hidungnya berdarah-darah. Jadi waktu belok kemepetan sehingga ban mobilnya beradu dengan trotoar dan temanku yang duduk dibelakang hidungnya terbentur kaca karena sedang sibuk dadah-dadah sambil mengeluarkan kepalanya. Doh!

Menyopir bagi diriku pribadi adalah salah satu ukuran kemandirian dan keberanian. Karena banyak masalah terselesaikan dan gantunganku pada orang lain menjadi berkurang. Bisa nyopir meruntuhkan salah satu gunung ketakutan. Dan aku harus mulai menyusun keberanian untuk meruntuhkan satu per satu gunung-gunung itu. .

Mari kembali menulis tanpa rasa takut. Apapun komentar orang jangan menjadikan gundah, dan sebisa mungkin tidak menyinggung pihak manapun. Yang penting seperti kata Neng Wenni menulis adalah salah satu penyaluran ekspresi diri biar tidak menjadi bisul dikemudian hari. Mariii….mariiii…!

Gonjang-gonjing pasar saham dunia yang berimbas ke perekonomian Indonesia membuat banyak investor mendadak mengalami kerugian luar biasa. Sebelumnya saham sebagai sebuah investasi yang memberikan keuntungan luar biasa dan dalam waktu relatif cepat menjadi incaran baik investor kecil maupun kelas kakap. Keruntuhan yang begitu besar tak pelak membuat kita bertanya-tanya sebenarnya investasi jenis apa yang menguntungkan dan kecil resiko kerugiannya?

Hukumnya hidup di dunia adalah segala sesuatu ada resiko baik kecil ataupun besar, semakin besar resiko semakin banyak keuntungannya. Tidak mau menanggung resiko ya jangan hidup. Begitulah pepatah sadis yang sulit kita hindari. Tapi kita masih bisa memilih, dari segala macam resiko pilihlah resiko yang paling mungkin kita tanggung. Besar kecilnya resiko sangat subyektif dan saya lebih suka menggunakan ukuran resiko yang paling mungkin kita tangung. Ada resiko yang sudah given, sudah tidak bisa diapa-apakan lagi ya sudah terima dan jalani ndak usah dipikirkan lagi karena hanya membuang energi. Tetapi ada resiko yang pilihannya ada di tangan kita, mau kita hadapi atau dihindari.

Ada sebuah investasi yang berlaku untuk sepanjang masa, resiko masih bisa kita tanggung dan manfaatnya luar biasa, bebas krisis lagi! Pertemanan. Sebuah investasi yang bisa memberikan manfaat psikologis maupun ekonomis. Hidup di dunia harus seimbang baik sisi fisik maupun bathin. Pertemanan memberikan keduanya.

Saya sangat bersyukur karena dikarunia teman yang lengkap dari berbagai jenis. Sejak saya memutuskan untuk bergaul dengan siapa saja, saya banyak menemukan hal baru. Inilah daftar teman saya :

1. Teman ber ha-ha hi-hi, yaitu tempat saya tertawa, guyon tanpa memikirkan hal lain dengan guyonan yang membumi, melepas segala embel-embel dan atribut. Mentertawakan kesedihan, mentertawakan dunia membuat hidup terasa jauh lebih mudah untuk dijalani. Pergaulan ini terapi untuk me-recharge baterei diri, menggeser sedikit arah pandangan sehingga tidak berkosentrasi pada kesulitan dan beban saja.

2. Teman berbagi, yaitu teman curhat tempat saya menumpahkan segala unek-unek membosankan dan itu-itu saja ha ha ha. Kadangkala suka geli sendiri habis curhat, cemen banget deh rasanya. Tetapi selalu kelegaan berasa setelah semua dikeluarkan dan saya tidak malu mengungkapkannya. Biasanya duduk ngopi, atau nongkrong ditempat nyaman dan mulailah dagangan curhatan digelar. Kepada sahabat-sahabat saya, terimakasih atas kesediaannya menampung curhatan gak bermutu dan keputusasaan yang berlebihan.

3. Teman sekampung yang sama-sama merantau, dengan mereka kami suka mengingat masa lalu yang wagu dan enak untuk ditertawakan. Merasa senasib dan seperjuangan. Dengan mereka saya merasa mendapat ruang untuk menjadi diri sendiri secara utuh dan mengingatkan saya betapa masa kecil kami sangat bahagia. Tempat saya ingin kembali suatu saat nanti, kampung halaman.

4. Teman girly, ini nih teman jenis baru. Saya baru memperolehnya. Ibu-ibu yang hobi nyalon dan shopping serta berbagi cerita soal remeh temeh kerumahtanggan. Teman-teman lama saya pernah bilang “apa ndak capek berteman dengan mereka?” Pada awalnya saya sangat kagok dengan lingkungan yang bukan saya banget karena tidak tahu topik apa yang mesti dibawakan. Ternyata oh ternyata asyiik juga bergaul dengan mereka. Saya banyak mendapatkan informasi yang tidak pernah saya dapat dipergaulan sebelumnya. Dari mereka saya seringkali mendapat sudut pandang yang berbeda tentang sebuah persoalan. Mereka juga membuat saya bersemangat untuk memperbaiki (walaupun sedikit, ehm..) penampilan saya yang selama ini amburadul dan seadanya banget. Sebagai seorang yang bekerja diurusan komunikasi, info-info dari ibu-ibu sosialita ini bisa menjadi data yang berguna. Kadangkala ide-ide bisnis juga keluar dari mereka. Hidup terasa ringaaaaan.

5. Selanjutnya teman sepuh, baik dari segi usianya yang sepuh atau pemikirannya yang bijaksana. Dengan mereka saya bisa berdiskusi tentang berbagai hal, kehidupan, politik, bisnis dan hal-hal lain, pokoknya ilmu kehidupan secara gratisan deh! Kepada mereka saya sering bertanya dan belajar. Karena hidup adalah proses yang tidak berhenti untuk memperbaiki diri. Kepada mereka saya sandarkan kegelisahaan saya.

Berbagai jenis teman dan bergaulan, membuat saya tidak larut dalam pergaulan yang itu-itu saja. Memberikan sudut pandang dari berbagai sisi membuat lebih bijak dalam melihat masalah. Konflik yang terjadi antar teman pasti ada, tetapi justru konflik itu memberikan pembelajaran dan tantangan untuk bisa menyelesaikan dengan baik. Berteman dengan banyak orang dapat memperkaya diri, tetapi jangan kemudian mudah mengikuti arus. Tetap dimana pun kapan pun jadilah diri sendiri. Buatlah diri ini nyaman, dan menjalaninya tanpa beban. Ketulusan dalam berteman menjadi kunci untuk masuk dilingkungan manapun. Hargai diri sendiri, tetapi jangan merendahkan orang lain.

Dulu saya sering kesulitan berada di lingkungan baru, suka kagok. Tetapi ketika ada suatu keadaan yang memaksa saya untuk seringkali berada di lingkungan baru membuat ke-kagok-an saya berangsur-angsur berkurang.” Apa ndak makan hati berteman dengan orang-orang yang sangat tidak aku?” Justru karena selama ini saya selalu merasa bahwa saya tidak cocok dengan A, saya lebih sesuai dengan B menyuburkan keangkuhan diri saya, menempatkan diri pada suatu kelas tertentu. Saya ingin menggerus ego saya, menurunkan ke-aku-an saya yang seringkali begitu tinggi saya tempatkan sehingga menghambat proses pengembangan diri. Disini saya belajar tentang sebuah keikhlasan, mengurangi tuntutan. Bukan hal yang mudah memang, dan bukan berarti sekarang saya sudah jadi makhluk yang penyabar. Tetapi proses menuju itu sedang saya jalani terus menerus dan tidak akan berhenti. Karena kebijaksanaan dan keikhlasan bukan sebuah tujuan. Lingkungan pergaulan dan pertemanan yang bermacam-macam tempat saya melatih dan menempa untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Apakah saya hanya mendapatkan kebahagiaan psikologis? Ketika sebuah pertemanan dijalankan dengan tanpa beban, memberi dan menerima tanpa diperhitungkan, keuntungan ekonomis pun mengalir dengan sendirinya. Saya banyak memperoleh info tentang pekerjaan, tentang bisnis dan serta peluang untuk mendapatkan proyek. Saya juga selalu mendapat suntikan semangat baru, pengetahuan baru tanpa capek-capek belajar. Jaringan pertemanan memudahkan pekerjaan saya, banyak teman-teman yang membantu kelancaraan usaha. Sering diajak jalan-jalan dan makan-makan gratis, itu juga keuntungan ekonomis bukan?

ndoro kakung (lagi)..1Ketika sedang duduk di angkringan Kolonel, mendadak ada yang menyelipkan buku di pangkuan. Horeee! Bukunya sang blogger kondang. Padahal sebelumnya sudah ngemis-ngemis minta sama sang Penulis dan dicuekin. Huh!. Saya celingak-celinguk mencari sang pemberi baik hati. Ahh…ternyata Ndoro sendiri. Makasiih Ndor! Gak tega sama muka melas saya yaaa….

Pagi hari karena tidak ada rencana kemana-mana, saya menyempatkan membaca buku itu sambil berharap mendapat “sesuatu” dari sang maestro blog. Ukuran bukunya pas untuk teman ngopi pagi dengan cover yang minimalis. Judulnya melankolis : “Nge-BLOG dengan Hati” membuat saya terbayang puisi dan prosa cinta Ndoro Kakung ketika jatuh cinta.

Sebelum membaca saya mengharapkan sisi “menye-menye” Ndoro dan tausiyah yang sedikit nyiyir tentang kehidupan, atau gosip-gosip para penguasa yang tertinggal dilaci mejanya tanpa pernah diekspos media. Sampai selesai lembaran-lembaran buku itu dibaca, saya tidak mendapat apa yang saya cari.

Ahh…Ndoro selalu memberi kejutan. Harapan tidak terpenuhi, tetapi saya mendapatkan hal lain diluar perkiraan. Sebuah panduan yang lengkap tapi ringkas untuk nge-blog dan bagaimana mengatasi permasalahan di dalamnya. Tak lupa sebagai seorang jurnalis, beliau memberikan gambaran sebuah realita tentang dunia maya yang sama kejamnya dengan dunia nyata, dan nge-blog bukan segala-galanya. Anda tetap hidup normal kog…walaupun tidak ngeblog.

Banyak hal yang selama ini tidak saya ketahui mendapat pencerahan dibuku ini. Misalnya soal teknolgi yang begitu melayani kebutuhan para onliner untuk tetap eksis di dunia maya. Pertanyaan saya yang selama ini tersimpan dihati tentang bagaimana Ndoro bisa update dan tetap eksis di berbagai media : blog-plurk-FB-twitter dll seakan tidak punya kerjaan lain terjawab di buku ini dalam tulisan berjudul “Sekali Klik, Dua-Tiga Layanan Terlampaui”. Kalau anda sebagai blogger pemula pengin eksis atau jadi selebritis, depresi karena diserang komen-komen miring, atau risau dengan masalah hukum dan etika nge-blog yang masih menjadi perdebatan jangan kuatir semua diulas dalam buku ini.

Buku Ndoro membuat saya kembali bersemangat untuk nge-BLOG. Saya tahu Ndoro pasti bahagia jika buku ini dapat menginspirasi banyak orang untuk nge-BLOG dan berbagi kepada sesama, walaupun akan lebih bahagia jika dampak peredaraan buku ini bisa memberikan BB Bold atau aki baru buat mobilnya.

Terimakasih Ndorokakung Wicaksono, bukumu telah menginspirasi saya untuk tidak menyerah dalam jebakan ranjau-ranjau ranah digital. Tetap semangat tetap ngeblog walaupun Sinyalnya Petak-Umpet. :)

Selamat malam Ki Sanak, sudahkah Anda membeli bukunya Ndoro Kakung? Jangan lupa jika anda mendapat manfaat atas buku ini kirimlah sebuah kemeja ukuran L untuk sang penulis. Karena sebentar lagi beliau akan sering tampil dan butuh kostum untuk ganti supaya gak nampak itu-itu saja. Ada saat mengambil, ada saatnya membagi.

Begitu banyak buku psikologi tentang motivasi untuk menjadi kaya, sukses, bahagia dan saya salah satu penggemarnya. Membaca buku tersebut terasa begitu mudah dan gampang untuk meraih kesuksesan. Berbagai macam tips diulas dengan menarik, sehingga saya bukan hanya membaca, beberapa yang ada pelatihannya saya ikuti.Tetapi saya kog tetap begini saja. Hidup saya masih seperti kemaren-kemaren, tidak ada lompatan yang signifikan. Jadi apa yang salah?

Sampai suatu saat saya mendapat kesimpulan -yang sudah pasti subyektif- bahwa pada dasarnya manusia itu mempunyai kemampuan dasar yang dianugerahkan TUHAN secara berbeda dan kemudian tumbuh di lingkungan yang berbeda pula. Ada yang mendapat lingkungan yang kondusif sehingga kemampuan dasar terasah dengan baik sekali sehingga menjadikan dia manusia yang berbakat dan sukses. Ada yang mendapat lingkungan tidak kondusif, sehingga manusia tersebut berubah haluan sesuai kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan tidak mengasah kemampuan dasar yang dimiliki. Dia tetap berhasil, tetapi jika dia bergelut dibidang yang sesuai dengan bakatnya kemungkinan prestasinya akan jauh lebih hebat. Berarti apakah dia tidak sukses? Lagi-lagi kesuksesan itu subyektif, jika dia sudah merasa puas dan merasa bahagia atas apa yang diperoleh sudah bisa dianggap sukses. Kondisi yang kurang bagus adalah jika dia yang mempunyai bakat berada di lingkungan yang tidak mendukung dan merasa frustasi atas keadaan tanpa melakukan apa-apa. Hanya mengikuti apa yang sudah ada (hati-hati lo dengan falsafah seperti air mengalir saja…) Sehingga hidupnya terasa berjalan ditempat, hidup enggan mati tak mau. Anda merasa begitu? Saya juga pernah merasa begitu.

Setiap manusia mempunyai perbedaan penyerapan terhadap suatu pesan atau pembelajaran. Ada yang cenderung visual yaitu mudah menangkap pesan yang divisualisasikan, auditorial yaitu pesan-pesan yang bentuknya suara jauh lebih mudah ditangkap atau kinestesis yaitu mudah menangkap pesan melalui pengalaman, dan indera perasa yang jauh lebih tajam. Sehingga dalam mengasah kemampuan, kita harus memahami betul kecenderungan atau preferensi kita. Pemahaman atas preferensi mempermudah dalam mempelajari sesuatu. Preferensi sifatnya sangat kontekstual, sebagai contoh kita mungkin visual di pekerjaan tetapi ketika di rumah kita lebih auditorial, dan prefenresi bukan merupakan tipe manusia, sering orang salah kaprah menilainya.

Hal yang lain adalah perbedaan minat. Setiap manusia memiliki minat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Minat sangat bermacam-macam seperti minat terhadap politik, ekonomi, teknologi ataupun seni budaya. Tidak ada yang lebih baik satu dengan yang lain, masing-masing mempunyai keunggulannya. Keberagaman manusia dengan segala plus minusnya, dan saya yakin TUHAN menciptakan seperti itu untuk membuat dunia semakin berwarna. Bagaimana jadinya jika kita semua mempunyai kemampuan dan minat yang sama?

Jadiiii…tidak ada yang salah atas buku-buku motivasi itu. Tetapi tidak semua buku moyivasi itu cocok untuk kita. Masing-masing orang punya tujuan dan cara hidup yang berbeda – disadari atau tidak. Makanya penting sekali mengenali diri, apa tujuan hidup kita dan jalan mana yang paling sesuai. Nilai yang kita anut sangat menentukan arah, tujuan dan cara menjalaninya.

Jika kita bisa termotivasi dengan kesuksesan orang, maka jadikan orang tersebut menjadi sumber inspirasi. Tetapi jika kita tertekan dengan kesuksesan orang lain – dan ini sangat mungkin terjadi – carilah sumber motivasi dari diri sendiri bukan orang lain. Karena ada orang yang begitu dihina justru termotivasi untuk berkarya lebih baik, tetapi ada juga yang justru terpuruk. Jika terpuruk, hindarilah orang-orang yang berpotensi suka menghina, karena hinaannya justru membuat kita kehabisan waktu hanya memikirkan sakit hati. Saya percaya bahwa tidak semua kritik itu membangun, karena sangat tergantung dengan pribadi masing-masing. Ada yang menerima dengan posiif tetapi banyak juga yang menjadi negatif.

Modal utama kita adalah kepercayaan diri, percaya dan yakin akan kemampuan kita. Selanjutnya memilih lingkungan – ketika kita sudah bisa memilih – juga penting. Karena lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir kita. Lingkungan yang baik akan membawa kita pada hal-hal baik. Lingkungan yang sesuai membuat kita menjadi diri sendiri dan lebih bersemangat dalam berkarya.

Jalan hidup setiap orang itu berbeda, terima kenyataan itu tapi jangan putus asa. Menerima bukan berarti menyerah. Tetapi menerima segala yang sudah terjadi dan berusaha melakukan yang terbaik saat ini. Ada orang yang sukses dengan MLM-nya, tetapi ada yang sukses menjadi karyawan. Tidak semua orang menjadi pengusaha, harus ada juga pegawainya. Menjadi yang terbaik dibidang kita dan menerima dengan ikhlas atas apa yang terjadi pada diri kita tanpa menyalahkan orang lain menjadikan kita lebih bahagia dan sukses.

Jadi apakah kita tidak boleh bermimpi? Mimpi adalah kesenangan dan sudah seharusnya kita membangun mimpi. Tetapi mimpi harus selalu diawali dengan satu langkah kaki untuk mewujudkannya. Bagaimana kita melangkahkan kaki, pilihlah jalan yang paling sesuai dan paling nyaman untuk diri anda. Tidak semua mimpi bisa diwujudkan, bangunlah mimpi-mimpi yang sesuai dengan nilai yang kita anut. Mimpi yang berkaki itu istilah saya, yaitu mimpi yang sesuai dengan nilai dan kapasitas diri. Trial and error sudah pasti. Karena memang tidak ada kepastian dalam hidup ini. Kuncinya jangan menyerah dan selalu konsisten dengan usahanya.

Selamat bermimpi dan memberinya kaki, jangan lupa semua hal ada resikonya, dan semua hal harus ada usahanya.

Next Page »