Kenapa kita harus risau dengan malam, karena pagi pasti datang.

Kenapa kita harus risau dengan kemalangan, karena kesenangan akan datang.

Kenapa kita harus risau dengan kesulitan, karena kemudahan pasti akan datang.

Banyak dari kita seringkali terpuruk dalam kesedihan yang dalam, tanpa tahu harus bagaimana. Merasa frustasi, bahkan depresi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.  Padahal kalau kita selalu ingat janji ALLAH bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, maka tidak ada penderitaan yang abadi.

Hidup ini bergilir dari gelap ke terang, dari mudah ke susah, dari sehat menjadi sakit dan kemudian sehat lagi.  Walaupun kita tidak mau menerima, tetap saja saat-saat gelap pasti datang. Untuk apa dilawan. Berdoa memohon supaya tidak ada kesusahan? Seperti memohon pagi hadir tanpa malam.

Menjalani segala sesuatu sesuai dengan ketetapan-NYA dan menerima sebagai suatu hal yang memang harus terjadi atau bahasa lainnya ikhlas adalah kuncinya. Kita tidak bisa menghindar dari bencana, tetapi kita bisa menghadapi bencana. Kita tidak bisa menghindar dari kesulitan, tetapi kemudahan akan datang menyelesaikan.

Jadi, mari kita berdoa memohon kekuatan, keihlasan, dan kelapangan hati untuk menerima segala sesuatunya sebagaimana adanya, tanpa perlu menggurui TUHAN.

Apakah saya gak boleh minta sehat, minta kaya, minta selamat?  Yaa..boleh, bahkan harus meminta kepada Yang Punya Hidup, tetapi apabila kita sakit, kita miskin, kita celaka bukan karena ALLAH tidak mengabulkan doa kita, tetapi karena kita manusia memang harus menjalani sebagai bagian dari proses kehidupan.

Jika sehat dan sakit, susah dan senang, mudah dan sulit bisa kita jalani dengan kerelaan hati, tanpa perasaan yang melebihkan di salah satu bagian maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dengan sakit, kita bersyukur diberi sehat, dengan susah kita bersyukur diberi kesenangan, dengan kesulitan kita menghargai adanya kemudahan-kemudahan yang kita peroleh.

Jadi, kenapa harus risau..?

Quote of the day : bersyukurlah atas hal-hal yang kecil, karena tanpa mensyukuri yang kecil kita tidak bisa menikmati hal-hal yang besar.

Mengenal pribadi seseorang tidaklah mudah, begitu juga mengenal anak kita sendiri. Saya pribadi mengalami kesulitan dan keragu-raguan dalam “memperlakukan” anak secara tepat. Walaupun ada peribahasa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, tetapi setiap manusia mempunyai muatan lokal masing-masing dan tidak ada yang sama satu dengan yang lain meskipun sekandung.

Sebagai ibu yang gagap dan kurang ilmu yang mumpuni, saya berusaha keras mencoba mengetahui kepribadiaan dan kecenderungan putri saya yang seringkali membuat saya takjub dan melongo. Kesalahan perlakukan berulangkali terjadi, bahkan seringkali menyamakan diri sendiri dengan anaknya. Doh! Padahal katanya salah-salah perlakuan bisa menjadi trauma seumur hidup.

Banyaknya referensi dan berita-berita “menyeramkan” tentang salah perlakuan kepada anak membuat saya jadi paranoid sendiri. Sampai kadang saya punya pikiran terlalu banyak referensi membuat saya berlebihan dan takut melakukan tindakan apapun.

Tetapi saya percaya bahwa yang paling tahu tentang anak saya ya saya ibunya. Dengan segala keterbatasan ilmu dan kemampuan saya mencari ilmu tambahan yang menurut saya paling sesuai untuk memahami anak saya sehingga paling tidak ada sesuatu yang bisa saya pegang dan saya percaya. Ada beberapa referensi yang saya anggap sesuai untuk memahami anak dan manusia pada umumnya yaitu NLP, Finger Print test, buku Bahasa Kasih dan Personality Plus.

Dari referensi itu saya memperoleh banyak pengetahuan dan cara memperlakukan anak. Tidak semua bisa diterapkan memang, harus ada pemilihan dan uji coba kepada anak pun disesuaikan. seperti misalnya Finger Print Test, hasilnya memberikan gambaran bakat anak saya, kelemahannya, kecenderungan perilaku, dan metode penyerapan ilmu pengetahuan yang sesuai. Anak saya dengan IQ yang standar lebih menyukai sistem kelas yang kecil, dengan murid yang sedikit sehingga mendapat perhatian guru secara maksimal. Jika ada temannya yang berisik akan sangat mengganggu, karena dia lebih mudah menyerap apa yang disampaikan guru secara langsung. Anaknya yang naturalis menyukai alam, membuat sekolah yang banyak lapangan terbuka dan berbau alam sangat diminati. Saya pun mencari sekolah yang mirip dengan kondisi yang membuat dia nyaman, karena saya tidak ingin sekolah menjadi keharusan tetapi menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

Anggota badannya (tangan juga) yang kurang lentur, sehingga kegiatan prakarya kurang bagus hasilnya. Tetapi putri saya suka menggambar, maka kemudian dia kursus menggambar untuk melatih kelenturan tangannya. Kemajuan prestasi menggambarnya tidak secepat kawan-kawannya, tetapi karena saya tidak membuat target apa-apa kecuali melatih kelenturan tangannya maka anak saya enjoy saja. Hal lain yang disarankan adalah olahraga. Ya..anak saya mempunyai kelemahan dibidang olahraga karena kekuranglenturan anggota badannya sehingga saya bersikeras anak saya harus berolah raga. Renang adalah pilihannya, karena disamping memang suka main air, renang melatih kelenturan badannya sehingga olahraga tidak menjadi beban. Hal-hal inilah yang saya peroleh dari hasil finger print tes, disamping kenyataan bahwa anak saya follower sehingga mudah terpengaruh lingkungan sehingga saya harus cukup selektif dengan lingkungan dia di masa pendidikan dasar.

Ada lagi ajaran yang lain tentang memperlakukan anak. Bahwa anak lebih suka diajak berbicara dengan posisi setara dengan orang dewasa (jadi ibu-ibu kalo mau meminta anaknya mengerjakan sesuatu berbicaralah dengan tinggi badan sejajar dengan anak, bisa jongkok atau menekuk lutut sehingga garis mata sejajar antara ibu dan anak), masing-masing anak punya preferensi (kecenderungan) yang berbeda-beda. Menurut guru NLP saya, Bapak Wiwoho, beliau kurang setuju dengan tipe, karena kalau tipe seakan-akan sudah melekat terus. Lebih sesuai disebut kecenderungan. Jadi ada anak yang kecenderungannya visual, auditorial atau kinestetik. Kencederungan ini pun sangat kontekstual, ada yang visual ketika belajar di sekolah, dan menjadi auditorial ketika di rumah. Jika kita memahami hal tersebut akan mempermudah membantu anak belajar. Sebagai contoh anak saya auditorial, jadi ketika gurunya menerangkan dia harus mendengarkan dengan seksama sehingga bisa menyerap dengan jelas. Jika ada suara-suara yang ribut akan mengganggu konsentrasinya.

Begitu juga ketika kita ingin memberikan perhatian kepada anak. Ada buku bagus yang namanya Bahasa kasih dan Personality Plus (walaupun saya tidak setuju dengan penyebutan tipe dalam buku tsb yang seakan melekat selamanya, karena kecenderungan seseorang sangat mungkin berubah mengikuti lingkungannya). Ada 4 bahasa kasih manusia yaitu : kebersamaan waktu, sentuhan, hadiah, dan dukungan. Anak saya kebetulan sangat menyukai waktu kebersamaan dengan ibunya dan menyukai sentuhan. Bahasa kasih bisa lebih dari satu. Maka jika saya ingin memberikan reward atau punishment akan saya sesuaikan dengan bahasa kasihnya. Saya akan menemani dia bermain (menemani dalam arti ikut terlibat secara aktif) atau memeluknya untuk memberikan perhatian kepadanya. Begitu juga ketika menghukum, saya tidak memperbolehkan ikut pergi bersama saya sebagai bentuk hukuman atas perilakunya yang kurang baik. Saya akan memeluk dan mendekap jika dia sedih atau kecewa, hal itu mempercepat pemulihan emosinya. Jika tangki kasih anak itu penuh, maka perilaku yang kurang baik pun cenderung berkurang. Maka orang tua harus sering-sering memenuhi tangki kasih anaknya. Di buku Personality juga diulas tentang tipe-tipe orang dan bagaimana memperlakukan mereka. Ada melankolis, Sanguin, Koleris, Plagmatis.  Distu dijelaskan tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing tipe.

Saya juga menerapkan ilmu-ilmu di atas dalam mengajari anak saya puasa. Anak saya adalah follower, maka apa kelakuan ibunya akan ditiru. Saya menceritakan tentang puasa, tentang enaknya puasa (jangan ngomong yang gak enak ha ha ha), tentang kasih sayang Allah, Alhamdulillah tanpa diminta dia ingin ikut puasa, ikut taraweh dan ngaji. Cuma konsekuensinya ya emaknya harus konsisten memberikan contoh (itu yang susaaah yaaa……hehe). Dengan memahami kecenderungannya, paling tidak saya bisa lebih mudah mengajarkan ibadah kepada anak saya yang belum genap 6 tahun, karena sebelumnya saya agak deg-deg an juga bisa enggak ya diajak puasa.

Saya yakin masih banyak referensi, dan belum tentu pilihan referensi saya di atas sesuai untuk anda. Tetapi saya harap dengan membagi apa yang saya ketahui sedikitnya membantu orang tua memilih referensi yang sesuai dan memberikan pemahaman tentang anak. Referensi itu bukan hanya untuk anak lo..tapi bisa juga untuk pasangan, teman kerja, saudara ataupun orang tua. Selamat mengeksplorasi karena menjadi orang tua adalah belajar sepanjang hayat. Anak ibarat sumur tanpa dasar, semakin di gali semakin banyak hal yang harus dipelajari.

Masih inget Mbak Jeni dan Mas Rudi?
Kemaren kita tujuhbelas agustusan disana. Bukan mau upacara, tetapi berkumpul, bersenang-senang dan makan-makan. Sudah lama sekali saya ingin berkunjung ke rumah beliau berdua pasangan sesepuh blogger paling romantis. Mas Rudi biasa disapa Pakdhe Mbilung dan Mbak Jeni disapa budhe oleh anak-anak blogger.

Seperti biasa sang Bude mempersiapkan segala logistik, dari spaggeti yang kondang kelezatannya itu sampai pepes, puding, ayam goreng dan semua perminumannya. Lengkap, sampai bingung menyantapnya. Belum lagi tambahan bakso yang yummy dari sang legenda bakso mas Gandhung Manongan. Sumpah baksonya enak banget!

Berkunjung ke rumah teman, dijamu makan dan ngobrol-ngobrol santai merupakan kegiatan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Gaya hidup diperkotaan yang selalu akrab dengan macet dan berkejar-kejaran dengan waktu membuat budaya berkunjung ke rumah semakin ditinggalkan. Mall atau tempat-tempat makan menjadi pilihan yang diminati untuk bertemu. Disamping mudah dijangkau secara transportasi, juga bisa melakukan beberapa kegiatan sekaligus. Makan, berkumpul, ngobrol, bisnis, belanja, anak main dan cuci mata! Praktis tapi jelas ndak ekonomis babarblas! Gimana mau ngirit, yang tadinya gak niat beli jadi diborong, yang tadinya cuma mau minum tambah cemal-cemil jadi dimakan deh segala menu. Tinggal nanti melongo melihat tagihan. Uang cash gak cukup, srettt…! digeseklah si kartu kredit. Beres, tagihan pikir belakang.

Bertamu ke rumah teman menjadi hal yang langka. Berkumpul di rumah sambil mengudap dengan posisi sembarangan dan mengumbar guyonan jorok terasa lebih kekeluargaan dibanding bertemu di mall dengan waktu yang terbatas dan segala hal yang dibatasi pula. Di rumah, pembicaraan pun bisa jauh lebih akrab dan bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Anak-anak pun bisa belajar bersosialisasi dengan lebih manusiawi. Bahkan kita bisa mengenal seluruh anggota keluarganya.

Bertamu memang lebih bebas dan lebih akrab, tetapi tetap saja ada etikanya. Bertamu harus seijin dan sepersetujuan yang didatangi, atau memang diundang sang empunya. Soal hidangan juga, lihat adat kebiasaannya, bila perlu bawa juga makanan yang nanti akan di makan bersama-sama atau diserahkan ke pemilik rumah. Dan saya pun memilih bertamu ke rumah teman atau saudara yang memang sudah dekat atau akrab. Sehingga saya bisa lebih yaman dalam bertamu dan ngobrol santai itu benar-benar terjadi.

Saya akan selalu kangen berkunjung ke rumah-rumah teman, karena dapat mengembalikan semangat kekeluargaan yang semakin berkurang dikikis yang namanya kemajuan jaman. Apalagi kalau pulang masih dibekali pepes, he he he…Terimakasih Mbak Jeni, terima kasih Mas Rudi.

Yaa betul..berdebu.
Terlalu lama aku tinggalkan blog ini, sampai berdebu dan terlupakan di sudut gelap.
Kenapa? Karena facebook yang menawan, twitter yang ringkas menggoda. Halah! Itu hanya alasan atas kemalasanku. Malas berpikir dan merangkai kata, malas mengetik panjang-panjang dan malas berkreasi. Kemalasan kog dipelihara.

Seperti kata Neneng Wenni menulis adalah melatih otak, hati
dan tangan untuk sinkron: otak berfikir- hati menyaring – tangan mengetik. Dan saya bersemangat lagi, terimakasih Neng! Saya belum pernah bertemu atau berbicara denganmu tetapi blogmu menginspirasiku.

Terkadang ada perasaan cemas dan takut kalau blog ini dikomentari jelek, atau dianggap menyinggung sesorang atau sesuatu, UU ITE itu sukses juga menakutiku. Tetapi kenapa ketakutan itu dipelihara ya? Aku harus mulai belajar untuk menerima rasa takut sebagai bagian dari hal yang manusiawi tetapi tidak menghentikan langkah baikku. Apapun itu!

Selain ketakutan atas UU ITE itu -sebel enggak seh – ada satu hal dan PR banget neeh yang harus segera diselesaikan. Takut nyopir. Ya betul…dulu sekali aku bisa menyopir dan sok gaya gak pake SIM pula. Tapi entah mengapa sekarang ketakutan enggak jelas. Mungkin karena pernah tabrakan sama dokar atau karena penumpang mobilku hidungnya berdarah-darah. Jadi waktu belok kemepetan sehingga ban mobilnya beradu dengan trotoar dan temanku yang duduk dibelakang hidungnya terbentur kaca karena sedang sibuk dadah-dadah sambil mengeluarkan kepalanya. Doh!

Menyopir bagi diriku pribadi adalah salah satu ukuran kemandirian dan keberanian. Karena banyak masalah terselesaikan dan gantunganku pada orang lain menjadi berkurang. Bisa nyopir meruntuhkan salah satu gunung ketakutan. Dan aku harus mulai menyusun keberanian untuk meruntuhkan satu per satu gunung-gunung itu. .

Mari kembali menulis tanpa rasa takut. Apapun komentar orang jangan menjadikan gundah, dan sebisa mungkin tidak menyinggung pihak manapun. Yang penting seperti kata Neng Wenni menulis adalah salah satu penyaluran ekspresi diri biar tidak menjadi bisul dikemudian hari. Mariii….mariiii…!

Gonjang-gonjing pasar saham dunia yang berimbas ke perekonomian Indonesia membuat banyak investor mendadak mengalami kerugian luar biasa. Sebelumnya saham sebagai sebuah investasi yang memberikan keuntungan luar biasa dan dalam waktu relatif cepat menjadi incaran baik investor kecil maupun kelas kakap. Keruntuhan yang begitu besar tak pelak membuat kita bertanya-tanya sebenarnya investasi jenis apa yang menguntungkan dan kecil resiko kerugiannya?

Hukumnya hidup di dunia adalah segala sesuatu ada resiko baik kecil ataupun besar, semakin besar resiko semakin banyak keuntungannya. Tidak mau menanggung resiko ya jangan hidup. Begitulah pepatah sadis yang sulit kita hindari. Tapi kita masih bisa memilih, dari segala macam resiko pilihlah resiko yang paling mungkin kita tanggung. Besar kecilnya resiko sangat subyektif dan saya lebih suka menggunakan ukuran resiko yang paling mungkin kita tangung. Ada resiko yang sudah given, sudah tidak bisa diapa-apakan lagi ya sudah terima dan jalani ndak usah dipikirkan lagi karena hanya membuang energi. Tetapi ada resiko yang pilihannya ada di tangan kita, mau kita hadapi atau dihindari.

Ada sebuah investasi yang berlaku untuk sepanjang masa, resiko masih bisa kita tanggung dan manfaatnya luar biasa, bebas krisis lagi! Pertemanan. Sebuah investasi yang bisa memberikan manfaat psikologis maupun ekonomis. Hidup di dunia harus seimbang baik sisi fisik maupun bathin. Pertemanan memberikan keduanya.

Saya sangat bersyukur karena dikarunia teman yang lengkap dari berbagai jenis. Sejak saya memutuskan untuk bergaul dengan siapa saja, saya banyak menemukan hal baru. Inilah daftar teman saya :

1. Teman ber ha-ha hi-hi, yaitu tempat saya tertawa, guyon tanpa memikirkan hal lain dengan guyonan yang membumi, melepas segala embel-embel dan atribut. Mentertawakan kesedihan, mentertawakan dunia membuat hidup terasa jauh lebih mudah untuk dijalani. Pergaulan ini terapi untuk me-recharge baterei diri, menggeser sedikit arah pandangan sehingga tidak berkosentrasi pada kesulitan dan beban saja.

2. Teman berbagi, yaitu teman curhat tempat saya menumpahkan segala unek-unek membosankan dan itu-itu saja ha ha ha. Kadangkala suka geli sendiri habis curhat, cemen banget deh rasanya. Tetapi selalu kelegaan berasa setelah semua dikeluarkan dan saya tidak malu mengungkapkannya. Biasanya duduk ngopi, atau nongkrong ditempat nyaman dan mulailah dagangan curhatan digelar. Kepada sahabat-sahabat saya, terimakasih atas kesediaannya menampung curhatan gak bermutu dan keputusasaan yang berlebihan.

3. Teman sekampung yang sama-sama merantau, dengan mereka kami suka mengingat masa lalu yang wagu dan enak untuk ditertawakan. Merasa senasib dan seperjuangan. Dengan mereka saya merasa mendapat ruang untuk menjadi diri sendiri secara utuh dan mengingatkan saya betapa masa kecil kami sangat bahagia. Tempat saya ingin kembali suatu saat nanti, kampung halaman.

4. Teman girly, ini nih teman jenis baru. Saya baru memperolehnya. Ibu-ibu yang hobi nyalon dan shopping serta berbagi cerita soal remeh temeh kerumahtanggan. Teman-teman lama saya pernah bilang “apa ndak capek berteman dengan mereka?” Pada awalnya saya sangat kagok dengan lingkungan yang bukan saya banget karena tidak tahu topik apa yang mesti dibawakan. Ternyata oh ternyata asyiik juga bergaul dengan mereka. Saya banyak mendapatkan informasi yang tidak pernah saya dapat dipergaulan sebelumnya. Dari mereka saya seringkali mendapat sudut pandang yang berbeda tentang sebuah persoalan. Mereka juga membuat saya bersemangat untuk memperbaiki (walaupun sedikit, ehm..) penampilan saya yang selama ini amburadul dan seadanya banget. Sebagai seorang yang bekerja diurusan komunikasi, info-info dari ibu-ibu sosialita ini bisa menjadi data yang berguna. Kadangkala ide-ide bisnis juga keluar dari mereka. Hidup terasa ringaaaaan.

5. Selanjutnya teman sepuh, baik dari segi usianya yang sepuh atau pemikirannya yang bijaksana. Dengan mereka saya bisa berdiskusi tentang berbagai hal, kehidupan, politik, bisnis dan hal-hal lain, pokoknya ilmu kehidupan secara gratisan deh! Kepada mereka saya sering bertanya dan belajar. Karena hidup adalah proses yang tidak berhenti untuk memperbaiki diri. Kepada mereka saya sandarkan kegelisahaan saya.

Berbagai jenis teman dan bergaulan, membuat saya tidak larut dalam pergaulan yang itu-itu saja. Memberikan sudut pandang dari berbagai sisi membuat lebih bijak dalam melihat masalah. Konflik yang terjadi antar teman pasti ada, tetapi justru konflik itu memberikan pembelajaran dan tantangan untuk bisa menyelesaikan dengan baik. Berteman dengan banyak orang dapat memperkaya diri, tetapi jangan kemudian mudah mengikuti arus. Tetap dimana pun kapan pun jadilah diri sendiri. Buatlah diri ini nyaman, dan menjalaninya tanpa beban. Ketulusan dalam berteman menjadi kunci untuk masuk dilingkungan manapun. Hargai diri sendiri, tetapi jangan merendahkan orang lain.

Dulu saya sering kesulitan berada di lingkungan baru, suka kagok. Tetapi ketika ada suatu keadaan yang memaksa saya untuk seringkali berada di lingkungan baru membuat ke-kagok-an saya berangsur-angsur berkurang.” Apa ndak makan hati berteman dengan orang-orang yang sangat tidak aku?” Justru karena selama ini saya selalu merasa bahwa saya tidak cocok dengan A, saya lebih sesuai dengan B menyuburkan keangkuhan diri saya, menempatkan diri pada suatu kelas tertentu. Saya ingin menggerus ego saya, menurunkan ke-aku-an saya yang seringkali begitu tinggi saya tempatkan sehingga menghambat proses pengembangan diri. Disini saya belajar tentang sebuah keikhlasan, mengurangi tuntutan. Bukan hal yang mudah memang, dan bukan berarti sekarang saya sudah jadi makhluk yang penyabar. Tetapi proses menuju itu sedang saya jalani terus menerus dan tidak akan berhenti. Karena kebijaksanaan dan keikhlasan bukan sebuah tujuan. Lingkungan pergaulan dan pertemanan yang bermacam-macam tempat saya melatih dan menempa untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Apakah saya hanya mendapatkan kebahagiaan psikologis? Ketika sebuah pertemanan dijalankan dengan tanpa beban, memberi dan menerima tanpa diperhitungkan, keuntungan ekonomis pun mengalir dengan sendirinya. Saya banyak memperoleh info tentang pekerjaan, tentang bisnis dan serta peluang untuk mendapatkan proyek. Saya juga selalu mendapat suntikan semangat baru, pengetahuan baru tanpa capek-capek belajar. Jaringan pertemanan memudahkan pekerjaan saya, banyak teman-teman yang membantu kelancaraan usaha. Sering diajak jalan-jalan dan makan-makan gratis, itu juga keuntungan ekonomis bukan?

ndoro kakung (lagi)..1Ketika sedang duduk di angkringan Kolonel, mendadak ada yang menyelipkan buku di pangkuan. Horeee! Bukunya sang blogger kondang. Padahal sebelumnya sudah ngemis-ngemis minta sama sang Penulis dan dicuekin. Huh!. Saya celingak-celinguk mencari sang pemberi baik hati. Ahh…ternyata Ndoro sendiri. Makasiih Ndor! Gak tega sama muka melas saya yaaa….

Pagi hari karena tidak ada rencana kemana-mana, saya menyempatkan membaca buku itu sambil berharap mendapat “sesuatu” dari sang maestro blog. Ukuran bukunya pas untuk teman ngopi pagi dengan cover yang minimalis. Judulnya melankolis : “Nge-BLOG dengan Hati” membuat saya terbayang puisi dan prosa cinta Ndoro Kakung ketika jatuh cinta.

Sebelum membaca saya mengharapkan sisi “menye-menye” Ndoro dan tausiyah yang sedikit nyiyir tentang kehidupan, atau gosip-gosip para penguasa yang tertinggal dilaci mejanya tanpa pernah diekspos media. Sampai selesai lembaran-lembaran buku itu dibaca, saya tidak mendapat apa yang saya cari.

Ahh…Ndoro selalu memberi kejutan. Harapan tidak terpenuhi, tetapi saya mendapatkan hal lain diluar perkiraan. Sebuah panduan yang lengkap tapi ringkas untuk nge-blog dan bagaimana mengatasi permasalahan di dalamnya. Tak lupa sebagai seorang jurnalis, beliau memberikan gambaran sebuah realita tentang dunia maya yang sama kejamnya dengan dunia nyata, dan nge-blog bukan segala-galanya. Anda tetap hidup normal kog…walaupun tidak ngeblog.

Banyak hal yang selama ini tidak saya ketahui mendapat pencerahan dibuku ini. Misalnya soal teknolgi yang begitu melayani kebutuhan para onliner untuk tetap eksis di dunia maya. Pertanyaan saya yang selama ini tersimpan dihati tentang bagaimana Ndoro bisa update dan tetap eksis di berbagai media : blog-plurk-FB-twitter dll seakan tidak punya kerjaan lain terjawab di buku ini dalam tulisan berjudul “Sekali Klik, Dua-Tiga Layanan Terlampaui”. Kalau anda sebagai blogger pemula pengin eksis atau jadi selebritis, depresi karena diserang komen-komen miring, atau risau dengan masalah hukum dan etika nge-blog yang masih menjadi perdebatan jangan kuatir semua diulas dalam buku ini.

Buku Ndoro membuat saya kembali bersemangat untuk nge-BLOG. Saya tahu Ndoro pasti bahagia jika buku ini dapat menginspirasi banyak orang untuk nge-BLOG dan berbagi kepada sesama, walaupun akan lebih bahagia jika dampak peredaraan buku ini bisa memberikan BB Bold atau aki baru buat mobilnya.

Terimakasih Ndorokakung Wicaksono, bukumu telah menginspirasi saya untuk tidak menyerah dalam jebakan ranjau-ranjau ranah digital. Tetap semangat tetap ngeblog walaupun Sinyalnya Petak-Umpet. :)

Selamat malam Ki Sanak, sudahkah Anda membeli bukunya Ndoro Kakung? Jangan lupa jika anda mendapat manfaat atas buku ini kirimlah sebuah kemeja ukuran L untuk sang penulis. Karena sebentar lagi beliau akan sering tampil dan butuh kostum untuk ganti supaya gak nampak itu-itu saja. Ada saat mengambil, ada saatnya membagi.

Begitu banyak buku psikologi tentang motivasi untuk menjadi kaya, sukses, bahagia dan saya salah satu penggemarnya. Membaca buku tersebut terasa begitu mudah dan gampang untuk meraih kesuksesan. Berbagai macam tips diulas dengan menarik, sehingga saya bukan hanya membaca, beberapa yang ada pelatihannya saya ikuti.Tetapi saya kog tetap begini saja. Hidup saya masih seperti kemaren-kemaren, tidak ada lompatan yang signifikan. Jadi apa yang salah?

Sampai suatu saat saya mendapat kesimpulan -yang sudah pasti subyektif- bahwa pada dasarnya manusia itu mempunyai kemampuan dasar yang dianugerahkan TUHAN secara berbeda dan kemudian tumbuh di lingkungan yang berbeda pula. Ada yang mendapat lingkungan yang kondusif sehingga kemampuan dasar terasah dengan baik sekali sehingga menjadikan dia manusia yang berbakat dan sukses. Ada yang mendapat lingkungan tidak kondusif, sehingga manusia tersebut berubah haluan sesuai kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan tidak mengasah kemampuan dasar yang dimiliki. Dia tetap berhasil, tetapi jika dia bergelut dibidang yang sesuai dengan bakatnya kemungkinan prestasinya akan jauh lebih hebat. Berarti apakah dia tidak sukses? Lagi-lagi kesuksesan itu subyektif, jika dia sudah merasa puas dan merasa bahagia atas apa yang diperoleh sudah bisa dianggap sukses. Kondisi yang kurang bagus adalah jika dia yang mempunyai bakat berada di lingkungan yang tidak mendukung dan merasa frustasi atas keadaan tanpa melakukan apa-apa. Hanya mengikuti apa yang sudah ada (hati-hati lo dengan falsafah seperti air mengalir saja…) Sehingga hidupnya terasa berjalan ditempat, hidup enggan mati tak mau. Anda merasa begitu? Saya juga pernah merasa begitu.

Setiap manusia mempunyai perbedaan penyerapan terhadap suatu pesan atau pembelajaran. Ada yang cenderung visual yaitu mudah menangkap pesan yang divisualisasikan, auditorial yaitu pesan-pesan yang bentuknya suara jauh lebih mudah ditangkap atau kinestesis yaitu mudah menangkap pesan melalui pengalaman, dan indera perasa yang jauh lebih tajam. Sehingga dalam mengasah kemampuan, kita harus memahami betul kecenderungan atau preferensi kita. Pemahaman atas preferensi mempermudah dalam mempelajari sesuatu. Preferensi sifatnya sangat kontekstual, sebagai contoh kita mungkin visual di pekerjaan tetapi ketika di rumah kita lebih auditorial, dan prefenresi bukan merupakan tipe manusia, sering orang salah kaprah menilainya.

Hal yang lain adalah perbedaan minat. Setiap manusia memiliki minat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Minat sangat bermacam-macam seperti minat terhadap politik, ekonomi, teknologi ataupun seni budaya. Tidak ada yang lebih baik satu dengan yang lain, masing-masing mempunyai keunggulannya. Keberagaman manusia dengan segala plus minusnya, dan saya yakin TUHAN menciptakan seperti itu untuk membuat dunia semakin berwarna. Bagaimana jadinya jika kita semua mempunyai kemampuan dan minat yang sama?

Jadiiii…tidak ada yang salah atas buku-buku motivasi itu. Tetapi tidak semua buku moyivasi itu cocok untuk kita. Masing-masing orang punya tujuan dan cara hidup yang berbeda – disadari atau tidak. Makanya penting sekali mengenali diri, apa tujuan hidup kita dan jalan mana yang paling sesuai. Nilai yang kita anut sangat menentukan arah, tujuan dan cara menjalaninya.

Jika kita bisa termotivasi dengan kesuksesan orang, maka jadikan orang tersebut menjadi sumber inspirasi. Tetapi jika kita tertekan dengan kesuksesan orang lain – dan ini sangat mungkin terjadi – carilah sumber motivasi dari diri sendiri bukan orang lain. Karena ada orang yang begitu dihina justru termotivasi untuk berkarya lebih baik, tetapi ada juga yang justru terpuruk. Jika terpuruk, hindarilah orang-orang yang berpotensi suka menghina, karena hinaannya justru membuat kita kehabisan waktu hanya memikirkan sakit hati. Saya percaya bahwa tidak semua kritik itu membangun, karena sangat tergantung dengan pribadi masing-masing. Ada yang menerima dengan posiif tetapi banyak juga yang menjadi negatif.

Modal utama kita adalah kepercayaan diri, percaya dan yakin akan kemampuan kita. Selanjutnya memilih lingkungan – ketika kita sudah bisa memilih – juga penting. Karena lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir kita. Lingkungan yang baik akan membawa kita pada hal-hal baik. Lingkungan yang sesuai membuat kita menjadi diri sendiri dan lebih bersemangat dalam berkarya.

Jalan hidup setiap orang itu berbeda, terima kenyataan itu tapi jangan putus asa. Menerima bukan berarti menyerah. Tetapi menerima segala yang sudah terjadi dan berusaha melakukan yang terbaik saat ini. Ada orang yang sukses dengan MLM-nya, tetapi ada yang sukses menjadi karyawan. Tidak semua orang menjadi pengusaha, harus ada juga pegawainya. Menjadi yang terbaik dibidang kita dan menerima dengan ikhlas atas apa yang terjadi pada diri kita tanpa menyalahkan orang lain menjadikan kita lebih bahagia dan sukses.

Jadi apakah kita tidak boleh bermimpi? Mimpi adalah kesenangan dan sudah seharusnya kita membangun mimpi. Tetapi mimpi harus selalu diawali dengan satu langkah kaki untuk mewujudkannya. Bagaimana kita melangkahkan kaki, pilihlah jalan yang paling sesuai dan paling nyaman untuk diri anda. Tidak semua mimpi bisa diwujudkan, bangunlah mimpi-mimpi yang sesuai dengan nilai yang kita anut. Mimpi yang berkaki itu istilah saya, yaitu mimpi yang sesuai dengan nilai dan kapasitas diri. Trial and error sudah pasti. Karena memang tidak ada kepastian dalam hidup ini. Kuncinya jangan menyerah dan selalu konsisten dengan usahanya.

Selamat bermimpi dan memberinya kaki, jangan lupa semua hal ada resikonya, dan semua hal harus ada usahanya.

Sharing Bareng Komunitas, itu salah satu judul kegiatan semalam. Berbagai macam komunitas tumplek bleg jadi satu di tempat tongkrongan blogger. Acaranya sendiri rame, dan beberapa orang aktif memberikan masukan dan kritikan tentang program yang sedang dibahas yaitu “Indonesia Berprestasi Award 2009″.

Dalam mengorganisir kegiatan bareng komunitas, ini termasuk baru saya lakukan. Biasanya saya mengorganisir kegiatan diskusi atau seminar dengan kelompok atau organisasi formal. Dengan rundown acara yang detil dan terinci. Tempatnya pun di ruangan, hotel atau gedung. Pernah juga beberapa kali di Pesantren, walaupun tempatnya informal tetapi jalannya diskusi tetap formal.

Acara semalam jauh berbeda, disamping tempatnya di angkringan dan terbuka pesertanya pun komunitas. Komunitas adalah kelompok masyarakat non formal yang berkumpul berdasarkan minat yang sama akan sesuatu hal. Biasanya mereka digerakkan oleh milis, sehingga komunitas booming hanya di kota-kota besar. Tidak ada kepengurusan atau struktur yang jelas bahkan markas atau kantornya pun tidak ada. Walaupun memang ada komunitas yang cukup struktural seperti b2w-Indonesia. Mereka biasanya berkumpul atau istilahnya kopi darat (kopdar) berpindah-pindah tempat.

Karena komunitas adalah organisasi independent, maka mereka akan bergerak dan berkarya sesuai dengan keinginan mayoritas atau pentolan grup itu serta non-profit oriented. Selain menjalankan hobi bersama-sama, komunitas seringkali juga melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat atau lingkungan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri atau meminta sumbangan dari berbagai pihak tetapi tidak mengikat. Jadi benar-benar tidak ada muatan kepentingan apapun. Apalagi, kebanyakan anggota-anggota komunitas adalah para pekerja atau mahasiswa yang mempunyai kesibukan pokok diluar komunitas. Kegiatan mereka lakukan di sela-sela waktu luangnya.

Boomingnya jumlah komunitas di kota besar, menjadikan mereka lahan baru bagi para produsen. Beberapa produsen bahkan dengan sengaja membuat komunitas sesuai dengan prodaknya. Karena komunitas merupakan alternatif pilihan mensosialisasikan produk atau aktivitas suatu perusahaan. Penyebaran informasi bisa lebih cepat karena hampir semua komunitas mempunyai milis bahkan blog. Internet sebagai alat utama jalinan komunikasi diantara mereka.

Sebagai contoh baru-baru ini salah satu produk kecantikan PONDS, menggunakan komunitas blogger dalam sosialisasi produk baru mereka. Bahkan para blogger diperlakukan lebih istimewa, diajak gala dinner bukan sekedar konferensi pers. Diharapkan, setelah acara gala dinner, para blogger akan menuliskan pengalaman makam malam dalam blog masing-masing, atau sekedar berbagi foto dengan tag ke banyak teman di facebook. Secara tidak langsung sosialisasi produk tersebut sudah berjalan dengan sendirinya.

Kembali ke soal mengorganisir kegiatan, karena semalam dengan komunitas maka kegiatan dibuat informal. Tidak ada rundown acara yang baku, dalam beberapa hal kita biarkan mengalir mengikuti arus diskusi. Untuk itu, menurut saya harapan penyelenggara acara juga harus disesuaikan. Psikologi komunitas harus dipahami. Masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Komunitas kebanyakan adalah organisasi bebas kepentingan, sehingga para produsen atau penyelenggara acara tidak bisa “memaksakan” harapannya.

Naah menjadi tugas produsen atau penyelenggara acara, untuk memberikan materi yang menarik sehingga diminati oleh para komunitas. Bukan hal yang mudah ditengah penuh-sesak-hiruk-pikuk informasi, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Tinggal tugas kita untuk memeras otak mencari alternatif pilihan sekreatif mungkin.

Dalam acara sharing tersebut, saya mendapatkan beberapa masukan yang menarik, seperti kata Mas Enda Nasution semalam, bahwa apapun yang menarik pasti akan diambil dan disebarluaskan oleh orang-orang dengan suka rela melalui jalur-jalur komunikasi yang dimiliki seperti milis, facebook, blog, plurk dll. Biasanya efeknya jauh lebih besar dengan bugdet yang tidak sebesar iklan. Internet sebagai jalur sosialisasi yang mudah dan murah seperti kata Paman Tyo harus digunakan semaksimal mungkin. Masukan lucu dari Ndoro Kakung yaitu meniru cara kampanye para caleg dengan menggunakan berbagai atribut sudah pasti akan dikenal. Tetapi, suatu kegiatan yang statusnya hanya “terdengar” dan masih sayup-sayup harus diupayakan naik status menjadi “disamakan” supaya lebih banyak masyarakat yang tahu dan mau terlibat dengan cara yang baik dan elegan.

Diskusi itu terkesan mengalir begitu saja, walaupun masih banyak kekurangan disana sini, tetapi yang hadir melebihi kapasitas dan beberapa peserta aktif memberikan masukan untuk Program Indonesia Berprestasi Award. Selain mendapatkan beberapa kritikan juga mendapatkan banyak masukan supaya ke depan bisa lebih baik.

Tidak mudah memang mengorganisir komunitas, butuh pendekatan khusus dan lebih personal sifatnya. Saya sendiri menjadi bagian dari beberapa komunitas sehingga bisa merasakan bagaimana dinamikanya. Jadi bagi anda yang ingin memanfaatkan jalur komunitas sebagai bagian dari media sosialisasi, silakan pelajari dulu baik-baik kelompok masyarakat tersebut jika perlu ikutlah bergabung supaya bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang komunitas. Selamat bersosialisasi dan berkomunitas karena berteman adalah kebutuhan.

Ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis (wartawan, sastrawan, budayawan) adalah :

  1. Munafik, hipokrit
  2. Lempar batu sembunyi tangan
  3. Feodal dan patriarkal
  4. Suka hantu, paranormal, firasat
  5. Punya jiwa seni
  6. Boros, senang berutang, senang pesta
  7. Kurang gigih
  8. Gemar jalan pintas
  9. Iri, dengki, menggerutu
  10. “me too”
  11. Jumawa, belagu
  12. Baik hati, ramah, gotong royong, guyub suka damai, bisa tertawa dalam penderitaan

Saya tidak mempermasalahkan soal positif negatifnya, tetapi saya tertarik dengan ulasan majalah 3636 LIFESTYLE tentang mencari peluang usaha, atau bidang kerja apa yang cocok dengan karakteristik tersebut.

Ciri di atas kemudian memberikan penjelasan yang cukup masuk akal misalnya, kenapa tayangan gosip laris manis, atau banyak sekali jalan tikus, dan jalur busway yang sering diserobot mobil. Makanya walaupun sudah sering orang tertipu bisnis money game, tidak membuat jera bagi yang lainnya. Bisnis MLM pun tumbuh sangat subur di Indonesia, karena janjinya tanpa modal, tanpa terikat waktu nanti akan ada pasif income alias ongkang-ongkang kaki duit muter sendiri.

Sekarang adalah tahun kerbau, yang kata para peramal tahun kerja keras, walaupun menurut saya setiap tahun adalah kerja keras. Sebenarnya kerja keras saja tidak cukup, tetapi harus kerja pintar. Naah, melihat karakteristik manusia seperti yang disebut di atas, maka kita bisa memilah-milah bisnis apa yang cocok utnuk dikembangkan di Indonesia.

Sebagai contoh, karena hobi berutang maka bisnis kartu kredit, BPR, koperasi simpan pinjam akan tetap laris manis. Bisnis penjualan dengan sistem cicilan juga masih oke, sepanjang kita telaten dan rajin untuk menagih. Karena ciri yang lain lempar batu sembunyi tangan, sudah berutang suka pura-pura lupa. Hehe..

Hal lain yang bisa dipertimbangkan adalah jiwa seni yang cukup tinggi serta suka pada pesta menjadikan bisnis di bidang entertainment tidak ada matinya. Aapalagi kalau bisnis nya terkait dengan hantu-hantu dan ramalan, seperti film hantu, sms ramalan dan pengobatan alternatif. Bikinlah usaha yang terkait dengan seni, bersenang-senang dan sedikit hantu tidak mengapa asal jangan melupakan bahwa ada etika dan aturan yang tetap harus dijaga. Janganlah yang terlalu murahan atau vulgar, masyarakat kita sudah mulai bosan. Harus lebih kreatif dan berbobot supaya ada bekas di hati penikmatnya. Menghibur bukan berarti membodohi kan?

Karena baik hati dan suka gotong royong alias guyub, hal-hal yang berbasis komunitas dan berkomunikasi masih sangat berkembang. Coba saja dilihat jaringan pertemanan lewat internet, baik blog, friendster, facebook dll berkembang demikian pesatnya. Teknologi yang semakin canggih membuat kita bisa berkomunikasi via internet sepanjang waktu dengan blackberry. Sampai kata temen saya blackberry sudah kayak narkoba, bikin kecanduan, barangnya sedikit yang berminat banyak sehingga harga blackberry bisa bertahan mahal. Dan betapa laris manisnya yang namanya HP dalam berbagai bentuk dan harganya. Coba lihat di pasar-pasar dari mbok jamu sampai tukang parkir semua pakai HP. Karena kebutuhan berkomunikasi -berguyub ria- menjadi sangat vital.

Mungkin ada ide bisnis lain? Tidak ada salahnya anda mempertimbangkan ciri manusia di atas untuk mencari celah pasarnya.

Ciri yang lain yaitu “me too” dan patriarki bisa digunakan untuk teknik memasarkan. Patron atau ketokohan sangat berpengaruh. Maka seperti yang diulas dalam buku Tiping Point juga, carilah orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya untuk menjadi spokeperson atau juru bicara produk anda. Kita harus bisa mendapatkan tokoh-tokoh kunci, mendekati mereka dan menjalin relasi yang bagus sehingga mereka bisa kita jadikan salesman secara tidak langsung. Jika tokoh-tokoh ini ikut berbicara tentang produk kita, maka sesuai ciri manusia Indonesia akan banyak yang mengikuti dan menurut apa yang dikatakan. Bukankah lebih efektif dan berdampak signifikan dan biaya pemasaran pun bisa ditekan.

Semua ciri-ciri di atas bisa digali dan dicari celah untuk kemudian bisa menemukan bisnis yang sesuai dan marketable. Karena terkadang kita terlalu muluk-muluk dan susah menjangkau rencana bisnis kita padahal di sekitar kita banyak peluang yang bisa dikerjakan.

Tapi tolong hati-hati dengan ciri yang “tidak gigih”, sebagai pebisnis pantang bagi kita untuk mudah meyerah, dan tidak gigih. Untuk hal ini, kita terpaksa harus melawan ciri tersebut jika ingin sukses. Kegigihan adalah kunci sukses sebuah usaha. Apapun bentuknya. Mungkin itu juga yang menjelaskan kenapa banyak sekali usaha baru bermunculan, tetapi baru seumur jagung, sudah berguguran dan kemudian muncul yang lain lagi.

Faktor “me too” juga harus diwaspadai, jika “me too” adalah meniru bisnis anda. Banyak sekali contoh, misalnya ketika warung tenda artis muncul satu dan sukses kemudian diikuti oleh segenap artis yang tidak jelas warungnya, atau ketika booming brownies Amanda, maka orang berlomba-lomba meniru dengan merk dan bentuk semirip mungkin. Jadi berhati-hatilah dengan pesaing anda. Selamat tahun baru imlek, selamat bekerja but WORK SMART not WORK HARD. Sukses ya..!

Note : Saya jadi ingat pernyataan salah satu Bapak Menteri kita : ” Siapa bilang masyarakat menderita, itu yang kebanjiran saja bisa tertawa. Jadi mereka tidak sengsara..” So, hahaaa….kalau ini saya setuju banget dengan ciri manusia Indonesia versi pak Mochtar Lubis ” Bisa tertawa dalam penderitan.”

Tulisan ini disarikan dan terinspirasi sekali dari majalah 3636 LIFESTYLE edisi 35/ Desember 2008. GRATIS!

Akhirnya perjuangan Nabila Hening Azizah telah usai. Engkau sang Pemberi Hidup kepada-MU kami kembali. ALLAH telah memberikan yang terbaik untuk Nabila, untuk ayah dan ibunya. ENGKAU Maha Mengetahui atas segala di langit dan bumi ini, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim.

Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan baik raga maupun jiwa, Boogy akhirnya harus menerima bahwa Yang KUASA hanya memberikan waktu yang sedemikian pendek untuk menimang putrinya. Perjuangan bukan menjadi sia-sia tetapi sebuah pembelajarn yang berharga. Bukan hanya untuk Boogy dan keluarga, tetapi juga buat saya, buat kita semua.

Simpati, dukungan, bantuan serta do’a tak henti-henti mengalir. Rasa haru bercampur bangga mengaduk, ketulusan dan spontanitas teman-teman terasa sangat menyentuh. Memberikan asa tentang sebuah derita. Karena derita bukan hanya milik Boogy, tetapi derita ini menjadi milik kita semua.

Sekali lagi kalau boleh saya meminta, mohon doanya agar Boogy dan keluarga diberi kekuatan untuk menerima dan melanjutkan hidupnya kembali. Karena justru yang hidup yang butuh kekuatan dan dukungan lebih. Nabila sudah tenang disana, disisi-NYA. Kebahagiaan yang hakiki telah ia dapatkan.

Terimakasih saya haturkan. Terimakasiiih…..*saya tidak sanggup berkata-kata lagi*

NB : Dana yang dikeluarkan untuk biaya Rumah Sakit putri Boogy sebesar Rp 11 juta. Sumbangan yang saya terima sampai saat ini totalnya : Rp. 3.701.000 Rincian sumbangan :

1. Bahtiar Rifai Rp 50.000

2. No name Rp 350.000

3.Taufik Kusetyohadi Rp 100.000

4. no name Rp 150.000

5. No name Rp 100.000

6. Wisnu B Irawan Rp 500.000

7. Kukuh Indrawan Rp 500.000

8. Rifa Ilyasa Rp 50.000

9. Much Saefulloh Rp 200.000

10. Mita Dwi Armayani Rp 100.000

11. Tono Purnomo Rp 200.000

12. Indra Puri Laksmi Rp 400.000

13. Mas Dodik & Mbak Septi Rp 501.000

14. no name Rp 500.000

Next Page »