Gonjang-gonjing pasar saham dunia yang berimbas ke perekonomian Indonesia membuat banyak investor mendadak mengalami kerugian luar biasa. Sebelumnya saham sebagai sebuah investasi yang memberikan keuntungan luar biasa dan dalam waktu relatif cepat menjadi incaran baik investor kecil maupun kelas kakap. Keruntuhan yang begitu besar tak pelak membuat kita bertanya-tanya sebenarnya investasi jenis apa yang menguntungkan dan kecil resiko kerugiannya?

Hukumnya hidup di dunia adalah segala sesuatu ada resiko baik kecil ataupun besar, semakin besar resiko semakin banyak keuntungannya. Tidak mau menanggung resiko ya jangan hidup. Begitulah pepatah sadis yang sulit kita hindari. Tapi kita masih bisa memilih, dari segala macam resiko pilihlah resiko yang paling mungkin kita tanggung. Besar kecilnya resiko sangat subyektif dan saya lebih suka menggunakan ukuran resiko yang paling mungkin kita tangung. Ada resiko yang sudah given, sudah tidak bisa diapa-apakan lagi ya sudah terima dan jalani ndak usah dipikirkan lagi karena hanya membuang energi. Tetapi ada resiko yang pilihannya ada di tangan kita, mau kita hadapi atau dihindari.

Ada sebuah investasi yang berlaku untuk sepanjang masa, resiko masih bisa kita tanggung dan manfaatnya luar biasa, bebas krisis lagi! Pertemanan. Sebuah investasi yang bisa memberikan manfaat psikologis maupun ekonomis. Hidup di dunia harus seimbang baik sisi fisik maupun bathin. Pertemanan memberikan keduanya.

Saya sangat bersyukur karena dikarunia teman yang lengkap dari berbagai jenis. Sejak saya memutuskan untuk bergaul dengan siapa saja, saya banyak menemukan hal baru. Inilah daftar teman saya :

1. Teman ber ha-ha hi-hi, yaitu tempat saya tertawa, guyon tanpa memikirkan hal lain dengan guyonan yang membumi, melepas segala embel-embel dan atribut. Mentertawakan kesedihan, mentertawakan dunia membuat hidup terasa jauh lebih mudah untuk dijalani. Pergaulan ini terapi untuk me-recharge baterei diri, menggeser sedikit arah pandangan sehingga tidak berkosentrasi pada kesulitan dan beban saja.

2. Teman berbagi, yaitu teman curhat tempat saya menumpahkan segala unek-unek membosankan dan itu-itu saja ha ha ha. Kadangkala suka geli sendiri habis curhat, cemen banget deh rasanya. Tetapi selalu kelegaan berasa setelah semua dikeluarkan dan saya tidak malu mengungkapkannya. Biasanya duduk ngopi, atau nongkrong ditempat nyaman dan mulailah dagangan curhatan digelar. Kepada sahabat-sahabat saya, terimakasih atas kesediaannya menampung curhatan gak bermutu dan keputusasaan yang berlebihan.

3. Teman sekampung yang sama-sama merantau, dengan mereka kami suka mengingat masa lalu yang wagu dan enak untuk ditertawakan. Merasa senasib dan seperjuangan. Dengan mereka saya merasa mendapat ruang untuk menjadi diri sendiri secara utuh dan mengingatkan saya betapa masa kecil kami sangat bahagia. Tempat saya ingin kembali suatu saat nanti, kampung halaman.

4. Teman girly, ini nih teman jenis baru. Saya baru memperolehnya. Ibu-ibu yang hobi nyalon dan shopping serta berbagi cerita soal remeh temeh kerumahtanggan. Teman-teman lama saya pernah bilang “apa ndak capek berteman dengan mereka?” Pada awalnya saya sangat kagok dengan lingkungan yang bukan saya banget karena tidak tahu topik apa yang mesti dibawakan. Ternyata oh ternyata asyiik juga bergaul dengan mereka. Saya banyak mendapatkan informasi yang tidak pernah saya dapat dipergaulan sebelumnya. Dari mereka saya seringkali mendapat sudut pandang yang berbeda tentang sebuah persoalan. Mereka juga membuat saya bersemangat untuk memperbaiki (walaupun sedikit, ehm..) penampilan saya yang selama ini amburadul dan seadanya banget. Sebagai seorang yang bekerja diurusan komunikasi, info-info dari ibu-ibu sosialita ini bisa menjadi data yang berguna. Kadangkala ide-ide bisnis juga keluar dari mereka. Hidup terasa ringaaaaan.

5. Selanjutnya teman sepuh, baik dari segi usianya yang sepuh atau pemikirannya yang bijaksana. Dengan mereka saya bisa berdiskusi tentang berbagai hal, kehidupan, politik, bisnis dan hal-hal lain, pokoknya ilmu kehidupan secara gratisan deh! Kepada mereka saya sering bertanya dan belajar. Karena hidup adalah proses yang tidak berhenti untuk memperbaiki diri. Kepada mereka saya sandarkan kegelisahaan saya.

Berbagai jenis teman dan bergaulan, membuat saya tidak larut dalam pergaulan yang itu-itu saja. Memberikan sudut pandang dari berbagai sisi membuat lebih bijak dalam melihat masalah. Konflik yang terjadi antar teman pasti ada, tetapi justru konflik itu memberikan pembelajaran dan tantangan untuk bisa menyelesaikan dengan baik. Berteman dengan banyak orang dapat memperkaya diri, tetapi jangan kemudian mudah mengikuti arus. Tetap dimana pun kapan pun jadilah diri sendiri. Buatlah diri ini nyaman, dan menjalaninya tanpa beban. Ketulusan dalam berteman menjadi kunci untuk masuk dilingkungan manapun. Hargai diri sendiri, tetapi jangan merendahkan orang lain.

Dulu saya sering kesulitan berada di lingkungan baru, suka kagok. Tetapi ketika ada suatu keadaan yang memaksa saya untuk seringkali berada di lingkungan baru membuat ke-kagok-an saya berangsur-angsur berkurang.” Apa ndak makan hati berteman dengan orang-orang yang sangat tidak aku?” Justru karena selama ini saya selalu merasa bahwa saya tidak cocok dengan A, saya lebih sesuai dengan B menyuburkan keangkuhan diri saya, menempatkan diri pada suatu kelas tertentu. Saya ingin menggerus ego saya, menurunkan ke-aku-an saya yang seringkali begitu tinggi saya tempatkan sehingga menghambat proses pengembangan diri. Disini saya belajar tentang sebuah keikhlasan, mengurangi tuntutan. Bukan hal yang mudah memang, dan bukan berarti sekarang saya sudah jadi makhluk yang penyabar. Tetapi proses menuju itu sedang saya jalani terus menerus dan tidak akan berhenti. Karena kebijaksanaan dan keikhlasan bukan sebuah tujuan. Lingkungan pergaulan dan pertemanan yang bermacam-macam tempat saya melatih dan menempa untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Apakah saya hanya mendapatkan kebahagiaan psikologis? Ketika sebuah pertemanan dijalankan dengan tanpa beban, memberi dan menerima tanpa diperhitungkan, keuntungan ekonomis pun mengalir dengan sendirinya. Saya banyak memperoleh info tentang pekerjaan, tentang bisnis dan serta peluang untuk mendapatkan proyek. Saya juga selalu mendapat suntikan semangat baru, pengetahuan baru tanpa capek-capek belajar. Jaringan pertemanan memudahkan pekerjaan saya, banyak teman-teman yang membantu kelancaraan usaha. Sering diajak jalan-jalan dan makan-makan gratis, itu juga keuntungan ekonomis bukan?

ndoro kakung (lagi)..1Ketika sedang duduk di angkringan Kolonel, mendadak ada yang menyelipkan buku di pangkuan. Horeee! Bukunya sang blogger kondang. Padahal sebelumnya sudah ngemis-ngemis minta sama sang Penulis dan dicuekin. Huh!. Saya celingak-celinguk mencari sang pemberi baik hati. Ahh…ternyata Ndoro sendiri. Makasiih Ndor! Gak tega sama muka melas saya yaaa….

Pagi hari karena tidak ada rencana kemana-mana, saya menyempatkan membaca buku itu sambil berharap mendapat “sesuatu” dari sang maestro blog. Ukuran bukunya pas untuk teman ngopi pagi dengan cover yang minimalis. Judulnya melankolis : “Nge-BLOG dengan Hati” membuat saya terbayang puisi dan prosa cinta Ndoro Kakung ketika jatuh cinta.

Sebelum membaca saya mengharapkan sisi “menye-menye” Ndoro dan tausiyah yang sedikit nyiyir tentang kehidupan, atau gosip-gosip para penguasa yang tertinggal dilaci mejanya tanpa pernah diekspos media. Sampai selesai lembaran-lembaran buku itu dibaca, saya tidak mendapat apa yang saya cari.

Ahh…Ndoro selalu memberi kejutan. Harapan tidak terpenuhi, tetapi saya mendapatkan hal lain diluar perkiraan. Sebuah panduan yang lengkap tapi ringkas untuk nge-blog dan bagaimana mengatasi permasalahan di dalamnya. Tak lupa sebagai seorang jurnalis, beliau memberikan gambaran sebuah realita tentang dunia maya yang sama kejamnya dengan dunia nyata, dan nge-blog bukan segala-galanya. Anda tetap hidup normal kog…walaupun tidak ngeblog.

Banyak hal yang selama ini tidak saya ketahui mendapat pencerahan dibuku ini. Misalnya soal teknolgi yang begitu melayani kebutuhan para onliner untuk tetap eksis di dunia maya. Pertanyaan saya yang selama ini tersimpan dihati tentang bagaimana Ndoro bisa update dan tetap eksis di berbagai media : blog-plurk-FB-twitter dll seakan tidak punya kerjaan lain terjawab di buku ini dalam tulisan berjudul “Sekali Klik, Dua-Tiga Layanan Terlampaui”. Kalau anda sebagai blogger pemula pengin eksis atau jadi selebritis, depresi karena diserang komen-komen miring, atau risau dengan masalah hukum dan etika nge-blog yang masih menjadi perdebatan jangan kuatir semua diulas dalam buku ini.

Buku Ndoro membuat saya kembali bersemangat untuk nge-BLOG. Saya tahu Ndoro pasti bahagia jika buku ini dapat menginspirasi banyak orang untuk nge-BLOG dan berbagi kepada sesama, walaupun akan lebih bahagia jika dampak peredaraan buku ini bisa memberikan BB Bold atau aki baru buat mobilnya.

Terimakasih Ndorokakung Wicaksono, bukumu telah menginspirasi saya untuk tidak menyerah dalam jebakan ranjau-ranjau ranah digital. Tetap semangat tetap ngeblog walaupun Sinyalnya Petak-Umpet. :)

Selamat malam Ki Sanak, sudahkah Anda membeli bukunya Ndoro Kakung? Jangan lupa jika anda mendapat manfaat atas buku ini kirimlah sebuah kemeja ukuran L untuk sang penulis. Karena sebentar lagi beliau akan sering tampil dan butuh kostum untuk ganti supaya gak nampak itu-itu saja. Ada saat mengambil, ada saatnya membagi.

Begitu banyak buku psikologi tentang motivasi untuk menjadi kaya, sukses, bahagia dan saya salah satu penggemarnya. Membaca buku tersebut terasa begitu mudah dan gampang untuk meraih kesuksesan. Berbagai macam tips diulas dengan menarik, sehingga saya bukan hanya membaca, beberapa yang ada pelatihannya saya ikuti.Tetapi saya kog tetap begini saja. Hidup saya masih seperti kemaren-kemaren, tidak ada lompatan yang signifikan. Jadi apa yang salah?

Sampai suatu saat saya mendapat kesimpulan -yang sudah pasti subyektif- bahwa pada dasarnya manusia itu mempunyai kemampuan dasar yang dianugerahkan TUHAN secara berbeda dan kemudian tumbuh di lingkungan yang berbeda pula. Ada yang mendapat lingkungan yang kondusif sehingga kemampuan dasar terasah dengan baik sekali sehingga menjadikan dia manusia yang berbakat dan sukses. Ada yang mendapat lingkungan tidak kondusif, sehingga manusia tersebut berubah haluan sesuai kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan tidak mengasah kemampuan dasar yang dimiliki. Dia tetap berhasil, tetapi jika dia bergelut dibidang yang sesuai dengan bakatnya kemungkinan prestasinya akan jauh lebih hebat. Berarti apakah dia tidak sukses? Lagi-lagi kesuksesan itu subyektif, jika dia sudah merasa puas dan merasa bahagia atas apa yang diperoleh sudah bisa dianggap sukses. Kondisi yang kurang bagus adalah jika dia yang mempunyai bakat berada di lingkungan yang tidak mendukung dan merasa frustasi atas keadaan tanpa melakukan apa-apa. Hanya mengikuti apa yang sudah ada (hati-hati lo dengan falsafah seperti air mengalir saja…) Sehingga hidupnya terasa berjalan ditempat, hidup enggan mati tak mau. Anda merasa begitu? Saya juga pernah merasa begitu.

Setiap manusia mempunyai perbedaan penyerapan terhadap suatu pesan atau pembelajaran. Ada yang cenderung visual yaitu mudah menangkap pesan yang divisualisasikan, auditorial yaitu pesan-pesan yang bentuknya suara jauh lebih mudah ditangkap atau kinestesis yaitu mudah menangkap pesan melalui pengalaman, dan indera perasa yang jauh lebih tajam. Sehingga dalam mengasah kemampuan, kita harus memahami betul kecenderungan atau preferensi kita. Pemahaman atas preferensi mempermudah dalam mempelajari sesuatu. Preferensi sifatnya sangat kontekstual, sebagai contoh kita mungkin visual di pekerjaan tetapi ketika di rumah kita lebih auditorial, dan prefenresi bukan merupakan tipe manusia, sering orang salah kaprah menilainya.

Hal yang lain adalah perbedaan minat. Setiap manusia memiliki minat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Minat sangat bermacam-macam seperti minat terhadap politik, ekonomi, teknologi ataupun seni budaya. Tidak ada yang lebih baik satu dengan yang lain, masing-masing mempunyai keunggulannya. Keberagaman manusia dengan segala plus minusnya, dan saya yakin TUHAN menciptakan seperti itu untuk membuat dunia semakin berwarna. Bagaimana jadinya jika kita semua mempunyai kemampuan dan minat yang sama?

Jadiiii…tidak ada yang salah atas buku-buku motivasi itu. Tetapi tidak semua buku moyivasi itu cocok untuk kita. Masing-masing orang punya tujuan dan cara hidup yang berbeda – disadari atau tidak. Makanya penting sekali mengenali diri, apa tujuan hidup kita dan jalan mana yang paling sesuai. Nilai yang kita anut sangat menentukan arah, tujuan dan cara menjalaninya.

Jika kita bisa termotivasi dengan kesuksesan orang, maka jadikan orang tersebut menjadi sumber inspirasi. Tetapi jika kita tertekan dengan kesuksesan orang lain – dan ini sangat mungkin terjadi – carilah sumber motivasi dari diri sendiri bukan orang lain. Karena ada orang yang begitu dihina justru termotivasi untuk berkarya lebih baik, tetapi ada juga yang justru terpuruk. Jika terpuruk, hindarilah orang-orang yang berpotensi suka menghina, karena hinaannya justru membuat kita kehabisan waktu hanya memikirkan sakit hati. Saya percaya bahwa tidak semua kritik itu membangun, karena sangat tergantung dengan pribadi masing-masing. Ada yang menerima dengan posiif tetapi banyak juga yang menjadi negatif.

Modal utama kita adalah kepercayaan diri, percaya dan yakin akan kemampuan kita. Selanjutnya memilih lingkungan – ketika kita sudah bisa memilih – juga penting. Karena lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir kita. Lingkungan yang baik akan membawa kita pada hal-hal baik. Lingkungan yang sesuai membuat kita menjadi diri sendiri dan lebih bersemangat dalam berkarya.

Jalan hidup setiap orang itu berbeda, terima kenyataan itu tapi jangan putus asa. Menerima bukan berarti menyerah. Tetapi menerima segala yang sudah terjadi dan berusaha melakukan yang terbaik saat ini. Ada orang yang sukses dengan MLM-nya, tetapi ada yang sukses menjadi karyawan. Tidak semua orang menjadi pengusaha, harus ada juga pegawainya. Menjadi yang terbaik dibidang kita dan menerima dengan ikhlas atas apa yang terjadi pada diri kita tanpa menyalahkan orang lain menjadikan kita lebih bahagia dan sukses.

Jadi apakah kita tidak boleh bermimpi? Mimpi adalah kesenangan dan sudah seharusnya kita membangun mimpi. Tetapi mimpi harus selalu diawali dengan satu langkah kaki untuk mewujudkannya. Bagaimana kita melangkahkan kaki, pilihlah jalan yang paling sesuai dan paling nyaman untuk diri anda. Tidak semua mimpi bisa diwujudkan, bangunlah mimpi-mimpi yang sesuai dengan nilai yang kita anut. Mimpi yang berkaki itu istilah saya, yaitu mimpi yang sesuai dengan nilai dan kapasitas diri. Trial and error sudah pasti. Karena memang tidak ada kepastian dalam hidup ini. Kuncinya jangan menyerah dan selalu konsisten dengan usahanya.

Selamat bermimpi dan memberinya kaki, jangan lupa semua hal ada resikonya, dan semua hal harus ada usahanya.

Sharing Bareng Komunitas, itu salah satu judul kegiatan semalam. Berbagai macam komunitas tumplek bleg jadi satu di tempat tongkrongan blogger. Acaranya sendiri rame, dan beberapa orang aktif memberikan masukan dan kritikan tentang program yang sedang dibahas yaitu “Indonesia Berprestasi Award 2009″.

Dalam mengorganisir kegiatan bareng komunitas, ini termasuk baru saya lakukan. Biasanya saya mengorganisir kegiatan diskusi atau seminar dengan kelompok atau organisasi formal. Dengan rundown acara yang detil dan terinci. Tempatnya pun di ruangan, hotel atau gedung. Pernah juga beberapa kali di Pesantren, walaupun tempatnya informal tetapi jalannya diskusi tetap formal.

Acara semalam jauh berbeda, disamping tempatnya di angkringan dan terbuka pesertanya pun komunitas. Komunitas adalah kelompok masyarakat non formal yang berkumpul berdasarkan minat yang sama akan sesuatu hal. Biasanya mereka digerakkan oleh milis, sehingga komunitas booming hanya di kota-kota besar. Tidak ada kepengurusan atau struktur yang jelas bahkan markas atau kantornya pun tidak ada. Walaupun memang ada komunitas yang cukup struktural seperti b2w-Indonesia. Mereka biasanya berkumpul atau istilahnya kopi darat (kopdar) berpindah-pindah tempat.

Karena komunitas adalah organisasi independent, maka mereka akan bergerak dan berkarya sesuai dengan keinginan mayoritas atau pentolan grup itu serta non-profit oriented. Selain menjalankan hobi bersama-sama, komunitas seringkali juga melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat atau lingkungan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri atau meminta sumbangan dari berbagai pihak tetapi tidak mengikat. Jadi benar-benar tidak ada muatan kepentingan apapun. Apalagi, kebanyakan anggota-anggota komunitas adalah para pekerja atau mahasiswa yang mempunyai kesibukan pokok diluar komunitas. Kegiatan mereka lakukan di sela-sela waktu luangnya.

Boomingnya jumlah komunitas di kota besar, menjadikan mereka lahan baru bagi para produsen. Beberapa produsen bahkan dengan sengaja membuat komunitas sesuai dengan prodaknya. Karena komunitas merupakan alternatif pilihan mensosialisasikan produk atau aktivitas suatu perusahaan. Penyebaran informasi bisa lebih cepat karena hampir semua komunitas mempunyai milis bahkan blog. Internet sebagai alat utama jalinan komunikasi diantara mereka.

Sebagai contoh baru-baru ini salah satu produk kecantikan PONDS, menggunakan komunitas blogger dalam sosialisasi produk baru mereka. Bahkan para blogger diperlakukan lebih istimewa, diajak gala dinner bukan sekedar konferensi pers. Diharapkan, setelah acara gala dinner, para blogger akan menuliskan pengalaman makam malam dalam blog masing-masing, atau sekedar berbagi foto dengan tag ke banyak teman di facebook. Secara tidak langsung sosialisasi produk tersebut sudah berjalan dengan sendirinya.

Kembali ke soal mengorganisir kegiatan, karena semalam dengan komunitas maka kegiatan dibuat informal. Tidak ada rundown acara yang baku, dalam beberapa hal kita biarkan mengalir mengikuti arus diskusi. Untuk itu, menurut saya harapan penyelenggara acara juga harus disesuaikan. Psikologi komunitas harus dipahami. Masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Komunitas kebanyakan adalah organisasi bebas kepentingan, sehingga para produsen atau penyelenggara acara tidak bisa “memaksakan” harapannya.

Naah menjadi tugas produsen atau penyelenggara acara, untuk memberikan materi yang menarik sehingga diminati oleh para komunitas. Bukan hal yang mudah ditengah penuh-sesak-hiruk-pikuk informasi, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Tinggal tugas kita untuk memeras otak mencari alternatif pilihan sekreatif mungkin.

Dalam acara sharing tersebut, saya mendapatkan beberapa masukan yang menarik, seperti kata Mas Enda Nasution semalam, bahwa apapun yang menarik pasti akan diambil dan disebarluaskan oleh orang-orang dengan suka rela melalui jalur-jalur komunikasi yang dimiliki seperti milis, facebook, blog, plurk dll. Biasanya efeknya jauh lebih besar dengan bugdet yang tidak sebesar iklan. Internet sebagai jalur sosialisasi yang mudah dan murah seperti kata Paman Tyo harus digunakan semaksimal mungkin. Masukan lucu dari Ndoro Kakung yaitu meniru cara kampanye para caleg dengan menggunakan berbagai atribut sudah pasti akan dikenal. Tetapi, suatu kegiatan yang statusnya hanya “terdengar” dan masih sayup-sayup harus diupayakan naik status menjadi “disamakan” supaya lebih banyak masyarakat yang tahu dan mau terlibat dengan cara yang baik dan elegan.

Diskusi itu terkesan mengalir begitu saja, walaupun masih banyak kekurangan disana sini, tetapi yang hadir melebihi kapasitas dan beberapa peserta aktif memberikan masukan untuk Program Indonesia Berprestasi Award. Selain mendapatkan beberapa kritikan juga mendapatkan banyak masukan supaya ke depan bisa lebih baik.

Tidak mudah memang mengorganisir komunitas, butuh pendekatan khusus dan lebih personal sifatnya. Saya sendiri menjadi bagian dari beberapa komunitas sehingga bisa merasakan bagaimana dinamikanya. Jadi bagi anda yang ingin memanfaatkan jalur komunitas sebagai bagian dari media sosialisasi, silakan pelajari dulu baik-baik kelompok masyarakat tersebut jika perlu ikutlah bergabung supaya bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang komunitas. Selamat bersosialisasi dan berkomunitas karena berteman adalah kebutuhan.

Ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis (wartawan, sastrawan, budayawan) adalah :

  1. Munafik, hipokrit
  2. Lempar batu sembunyi tangan
  3. Feodal dan patriarkal
  4. Suka hantu, paranormal, firasat
  5. Punya jiwa seni
  6. Boros, senang berutang, senang pesta
  7. Kurang gigih
  8. Gemar jalan pintas
  9. Iri, dengki, menggerutu
  10. “me too”
  11. Jumawa, belagu
  12. Baik hati, ramah, gotong royong, guyub suka damai, bisa tertawa dalam penderitaan

Saya tidak mempermasalahkan soal positif negatifnya, tetapi saya tertarik dengan ulasan majalah 3636 LIFESTYLE tentang mencari peluang usaha, atau bidang kerja apa yang cocok dengan karakteristik tersebut.

Ciri di atas kemudian memberikan penjelasan yang cukup masuk akal misalnya, kenapa tayangan gosip laris manis, atau banyak sekali jalan tikus, dan jalur busway yang sering diserobot mobil. Makanya walaupun sudah sering orang tertipu bisnis money game, tidak membuat jera bagi yang lainnya. Bisnis MLM pun tumbuh sangat subur di Indonesia, karena janjinya tanpa modal, tanpa terikat waktu nanti akan ada pasif income alias ongkang-ongkang kaki duit muter sendiri.

Sekarang adalah tahun kerbau, yang kata para peramal tahun kerja keras, walaupun menurut saya setiap tahun adalah kerja keras. Sebenarnya kerja keras saja tidak cukup, tetapi harus kerja pintar. Naah, melihat karakteristik manusia seperti yang disebut di atas, maka kita bisa memilah-milah bisnis apa yang cocok utnuk dikembangkan di Indonesia.

Sebagai contoh, karena hobi berutang maka bisnis kartu kredit, BPR, koperasi simpan pinjam akan tetap laris manis. Bisnis penjualan dengan sistem cicilan juga masih oke, sepanjang kita telaten dan rajin untuk menagih. Karena ciri yang lain lempar batu sembunyi tangan, sudah berutang suka pura-pura lupa. Hehe..

Hal lain yang bisa dipertimbangkan adalah jiwa seni yang cukup tinggi serta suka pada pesta menjadikan bisnis di bidang entertainment tidak ada matinya. Aapalagi kalau bisnis nya terkait dengan hantu-hantu dan ramalan, seperti film hantu, sms ramalan dan pengobatan alternatif. Bikinlah usaha yang terkait dengan seni, bersenang-senang dan sedikit hantu tidak mengapa asal jangan melupakan bahwa ada etika dan aturan yang tetap harus dijaga. Janganlah yang terlalu murahan atau vulgar, masyarakat kita sudah mulai bosan. Harus lebih kreatif dan berbobot supaya ada bekas di hati penikmatnya. Menghibur bukan berarti membodohi kan?

Karena baik hati dan suka gotong royong alias guyub, hal-hal yang berbasis komunitas dan berkomunikasi masih sangat berkembang. Coba saja dilihat jaringan pertemanan lewat internet, baik blog, friendster, facebook dll berkembang demikian pesatnya. Teknologi yang semakin canggih membuat kita bisa berkomunikasi via internet sepanjang waktu dengan blackberry. Sampai kata temen saya blackberry sudah kayak narkoba, bikin kecanduan, barangnya sedikit yang berminat banyak sehingga harga blackberry bisa bertahan mahal. Dan betapa laris manisnya yang namanya HP dalam berbagai bentuk dan harganya. Coba lihat di pasar-pasar dari mbok jamu sampai tukang parkir semua pakai HP. Karena kebutuhan berkomunikasi -berguyub ria- menjadi sangat vital.

Mungkin ada ide bisnis lain? Tidak ada salahnya anda mempertimbangkan ciri manusia di atas untuk mencari celah pasarnya.

Ciri yang lain yaitu “me too” dan patriarki bisa digunakan untuk teknik memasarkan. Patron atau ketokohan sangat berpengaruh. Maka seperti yang diulas dalam buku Tiping Point juga, carilah orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya untuk menjadi spokeperson atau juru bicara produk anda. Kita harus bisa mendapatkan tokoh-tokoh kunci, mendekati mereka dan menjalin relasi yang bagus sehingga mereka bisa kita jadikan salesman secara tidak langsung. Jika tokoh-tokoh ini ikut berbicara tentang produk kita, maka sesuai ciri manusia Indonesia akan banyak yang mengikuti dan menurut apa yang dikatakan. Bukankah lebih efektif dan berdampak signifikan dan biaya pemasaran pun bisa ditekan.

Semua ciri-ciri di atas bisa digali dan dicari celah untuk kemudian bisa menemukan bisnis yang sesuai dan marketable. Karena terkadang kita terlalu muluk-muluk dan susah menjangkau rencana bisnis kita padahal di sekitar kita banyak peluang yang bisa dikerjakan.

Tapi tolong hati-hati dengan ciri yang “tidak gigih”, sebagai pebisnis pantang bagi kita untuk mudah meyerah, dan tidak gigih. Untuk hal ini, kita terpaksa harus melawan ciri tersebut jika ingin sukses. Kegigihan adalah kunci sukses sebuah usaha. Apapun bentuknya. Mungkin itu juga yang menjelaskan kenapa banyak sekali usaha baru bermunculan, tetapi baru seumur jagung, sudah berguguran dan kemudian muncul yang lain lagi.

Faktor “me too” juga harus diwaspadai, jika “me too” adalah meniru bisnis anda. Banyak sekali contoh, misalnya ketika warung tenda artis muncul satu dan sukses kemudian diikuti oleh segenap artis yang tidak jelas warungnya, atau ketika booming brownies Amanda, maka orang berlomba-lomba meniru dengan merk dan bentuk semirip mungkin. Jadi berhati-hatilah dengan pesaing anda. Selamat tahun baru imlek, selamat bekerja but WORK SMART not WORK HARD. Sukses ya..!

Note : Saya jadi ingat pernyataan salah satu Bapak Menteri kita : ” Siapa bilang masyarakat menderita, itu yang kebanjiran saja bisa tertawa. Jadi mereka tidak sengsara..” So, hahaaa….kalau ini saya setuju banget dengan ciri manusia Indonesia versi pak Mochtar Lubis ” Bisa tertawa dalam penderitan.”

Tulisan ini disarikan dan terinspirasi sekali dari majalah 3636 LIFESTYLE edisi 35/ Desember 2008. GRATIS!

Akhirnya perjuangan Nabila Hening Azizah telah usai. Engkau sang Pemberi Hidup kepada-MU kami kembali. ALLAH telah memberikan yang terbaik untuk Nabila, untuk ayah dan ibunya. ENGKAU Maha Mengetahui atas segala di langit dan bumi ini, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim.

Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan baik raga maupun jiwa, Boogy akhirnya harus menerima bahwa Yang KUASA hanya memberikan waktu yang sedemikian pendek untuk menimang putrinya. Perjuangan bukan menjadi sia-sia tetapi sebuah pembelajarn yang berharga. Bukan hanya untuk Boogy dan keluarga, tetapi juga buat saya, buat kita semua.

Simpati, dukungan, bantuan serta do’a tak henti-henti mengalir. Rasa haru bercampur bangga mengaduk, ketulusan dan spontanitas teman-teman terasa sangat menyentuh. Memberikan asa tentang sebuah derita. Karena derita bukan hanya milik Boogy, tetapi derita ini menjadi milik kita semua.

Sekali lagi kalau boleh saya meminta, mohon doanya agar Boogy dan keluarga diberi kekuatan untuk menerima dan melanjutkan hidupnya kembali. Karena justru yang hidup yang butuh kekuatan dan dukungan lebih. Nabila sudah tenang disana, disisi-NYA. Kebahagiaan yang hakiki telah ia dapatkan.

Terimakasih saya haturkan. Terimakasiiih…..*saya tidak sanggup berkata-kata lagi*

NB : Dana yang dikeluarkan untuk biaya Rumah Sakit putri Boogy sebesar Rp 11 juta. Sumbangan yang saya terima sampai saat ini totalnya : Rp. 3.701.000 Rincian sumbangan :

1. Bahtiar Rifai Rp 50.000

2. No name Rp 350.000

3.Taufik Kusetyohadi Rp 100.000

4. no name Rp 150.000

5. No name Rp 100.000

6. Wisnu B Irawan Rp 500.000

7. Kukuh Indrawan Rp 500.000

8. Rifa Ilyasa Rp 50.000

9. Much Saefulloh Rp 200.000

10. Mita Dwi Armayani Rp 100.000

11. Tono Purnomo Rp 200.000

12. Indra Puri Laksmi Rp 400.000

13. Mas Dodik & Mbak Septi Rp 501.000

14. no name Rp 500.000

Tadi malam saya dapat telepon dari adik di kampung (Salatiga -ps) istri salah satu pegawainya sudah melahirkan dengan selamat. Alhamdulillah.

Tetapi, ketika melahirkan sang istri menderita typus akut dan harus opname di rumah sakit  hingga hari ini  di RS Puri Asih Salatiga. Sang bayi pun tidak kalah malangnya, ketika lahir kondisi tubuhnya berwarna biru, dan setelah mendapat perawatan dari RSU Salatiga didiagnosa sang bayi mengalami infeksi paru-paru parah sehingga harus masuk ICCU. Berhubung  peralatan kurang memadai sang bayi  harus dikirim ke RS Telogorejo di Semarang dengan biaya ICCU kurang lebih Rp 1.500.000 per hari.

Sang ayah baru itu kalang kabut. Bagaimana tidak? Istri masih diopname  dan sang bayi harus masuk ICCU diluar kota. Dengan hanya ditunggu sang ayah,  jabang bayi itu berjuang memperoleh kesempatan melihat dunia  tanpa merasakan asi, tanpa dekapan dari sang bunda. Makhluk sekecil itu sudah dihadapkan pada komplikasi penderitaan di dunia. Naak, semoga TUHAN memberi yang terbaik untukmu yaaa….

Saya kebetulan kenal dengan ayah baru itu. Namanya Boggy, dia kerja menjaga persewaan buku di rumah komik dengan gaji yang tidak seberapa. Selain itu, dia juga nyambi memberikan les Bahasa Inggris untuk murid-murid SD, kadangkala kalau kepepet banget  ngamen pun pernah dijalani. Apa pun dia lakoni untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Dengan musibahnya yang bertubi-tubi, saya tak bisa membayangkan bagaimana dia bertahan. Untuk biaya  ICCU per hari  saja sudah melebihi  pendapatannya per bulan, bagaimana dengan pengobatan istrinya? Bagaimana dengan dia sendiri bertahan di Semarang dan tidak bekerja lagi?

Saya -terus terang- susah sekali untuk menuturkan “kerumitan luar biasa* yang harus ditanggungnya. Rasa-rasanya hanya keajaiban yang bisa membantunya.

Tetapi Boggy tidak menyerah dan tidak boleh menyerah. Dan saya selalu berharap akan ada keajaiban untuknya.

Ataukah dari teman-teman sekalian “keajaiban itu datang?”   Kita bisa membantu mewujudkan “keajaiban” itu bersama-sama. Bantulah Boggy, saya mohon dengan segala kerendah hati. Boggy sangat membutuhkan bantuan itu dari siapa pun dan dari mana pun. Semoga bantuan teman-teman benar-benar menjadi keajaiban untuk bayi mungil dan keluarganya.

Jika berkenan, bantuan dapat dikirim melalui rekening saya, nanti akan saya laporkan aliran dananya dan perkembangan kondisinya. Saya sangat berterimakasih atas kepedulian dan kesedian teman-teman berbagi dan membantu kepada sesama.

Salam,

Ainun Chomsun

Rekening BCA saya :

Ainun Niswati

BCA Cab. Bidakara Jakarta Selatan

A/c : 450 12 77 333

untuk informasi lebih lanjut, bisa kirim email kepada saya di : haiqa22@gmail.com

Menikmati liburan dengan menunggui putri sakit di RS mengingatkan pada sebuah percakapan dengan teman tentang asuransi. Katanya dia ikut asuransi yang akan memberikan hasil setiap bulan 30%. Saya cukup bingung dengan hal itu, karena apa mungkin asuransi memberikan benefit bulanan secara tunai sebesar 30%? Menurut saya ini patut dipertanyakan, karena jika sebuah asuransi yang meberikan profit bulanan sebesar itu kenapa orang tidak berbondong-bondong investasi disitu?

Saya kurang pandai dalam masalah investasi ataupun asuransi. Tetapi saya tahu banyak manfaatnya,  sehingga saya mulai mempelajari secara sederhana tentang kedua hal tersebut. Menurut pandangan saya pribadi, asuransi bukan merupakan investasi yang mencari keuntungan, tetapi lebih kepada persiapan dana untuk masa depan, untuk kesehatan dan untuk pendidikan. Keuntungannya apa? Keuntungannya adalah untuk masa akan datang ada dana cadangan yang telah dipersiapkan sejak kini. Jika tiba-tiba sakit dan harus opname, ada asuransi yang akan menanggulangi, jika anak masuk SD atau SMP atau SMA ada dana yang telah kita persiapkan sehingga tidak mengganggu cashflow bulanan. Atau jika masa pensiun tiba, ada dana untuk biaya hidup selanjutnya.

Jika ingin mendapatkan profit, menurut saya seharusnya berinvestasi bukan asuransi. Investasi bisa dimana saja. Bikin usaha sendiri, ikut usaha teman, deposito, reksadana atau obligasi dan saham. Sebuah investasi pasti ada resikonya sekecil apapun. Hal itu harus dipahami betul oleh investor. Bikin usaha sendiri bisa bangkrut, ikut usaha teman bisa ditipu, reksadana nilai NAB bisa turun drastis, apalagi saham dan obligasi sangat banyak faktor yang mempengaruhi resikonya. Mungkin yang paling kecil resikonya adalah deposito, kecuali melakukan deposito di bank yang kurang sehat akan menjadi besar resikonya karena banknya tutup. Sebuah bank sehat tidak akan memberikan bunga yang jauh melampaui bunga yang ditetapkan bank central. Itu jadi patokan paling gampang buat saya memilih bank. Disini hukum high risk high return tetap berlaku. Mau untung gede? Resikonya juga besar.

Jadi asuransi tidak menguntungkan? Menurut saya asuransi bukan menguntungkan, tetapi menyelamatkan cashflow kita, dan keberlanjutan kondisi finansial kita. Itung-itung kita meminta bantuan sebuah lembaga untuk mendisiplinkan kita menabung untuk hari esok. Kita tidak pernah tau kondisi kita nanti bagaimana, tetapi kita tahu pasti jika kita memerlukan dana untuk kesehatan keluarga kita, pendidikannya dan hari tua kita.

Apakah investasi tidak bisa menjamin masa depan kita? Bisa saja, tetapi tetap dipahami resiko-resiko yang bakal terjadi. Seperti baru-baru ini di Indonesia nilai saham anjlok sampai titik terendah. Padahal semua pakar ekonomi melihat kondisi keuangan negeri kita baik-baik saja tetapi karena di AS terjadi krisis keuangan kita pun kena imbasnya tanpa ampun. Resiko ini tidak pernah ada yang meramalkan, para pakar ekonomi tidak ada yang menduga akan sejeblok ini. Akibat saham anjlok, reksadana ikut turun drastis, suku bunga bank dinaikkan sehingga para investor justru lari kepada deposito. Dan semakin terpuruklah kondisi pasar modal kita.

Menurut para pakar yang berbicara di media butuh waktu 1-3 tahun untuk kembali ke kondisi sebelum krisis itu terjadi. Berarti dana yang kita investasikan di reksadana ataupun saham baru akan pulih pada waktu tersebut. Apakah kita rugi? Sebaiknya jika kondisi seperti ini kita tidak usah menjual surat berharga kita, apalagi yang investasi di reksadana. Diamkan saja, janganlah ditengak-tengok NAB-nya selain cuma bikin senewen kita juga semakin terjebak pada persepsi bahwa dana kita amblas. Biarkan para manager investasi yang bekerja memulihkan, percayakan semua pada mereka karena kita pun tidak bisa melakukan apa-apa. Jika nanti setelah 1-3 tahun, NAB sudah membaik barulah kita jual atau kita cairkan dananya. Pelajaran yang sangat baik untuk saya adalah : reksadana adalah investasi untuk jangka panjang, terlalu berisiko jika kita memperlakukan sebagai investasi jangka pendek, atau mencari keuntungan dari selisih NAB. Saya tidak begitu paham dengan pasar saham di bursa, tetapi kalau kita tidak punya bekal pengetahuan yang cukup sebaiknya jangan mencoba mengadu untung di bursa, apalagi tergiur dengan keuntungan yang selangit (tanpa mengingat resikonya yang segunung).

Saat ini, untuk jangka pendek, sebaiknya deposito saja. Selain bunganya sekarang sedang tinggi, proses pencairan yang mudah dan jangka waktunya bisa 1 bulan. Bahkan sekarang ada deposito on call yang bunga bisa lebih tinggi dari deposito biasa, jangka waktunya bisa harian, mingguan atau bulanan.

Kondisi ekonomi negeri ini (seperti kata para pakar) masih kurang baik. Menaikkan penghasilan juga susah, maka langkah paling bijak adalah mengurangi pengeluaran. Apa masih ada yang bisa dikurangi? Saya dulu juga berpendapat begitu. Sepertinya semua anggaran sudah sedemikian nge-pasnya. Tetapi, setelah saya urut satu-satu, ternyata masih ada pos yang bisa di hemat. Bagaimana cara menghemat adalah sangat subyektif, tetapi cara yang saya tempuh saat ini mungkin bisa digunakan oleh yang lain, yaitu mengeluarkan semua gaji saya dan menyisakan 10% di tabungan. Semua gaji langsung saya bagi dan serahkan kepada masing-masing pos. Sehingga di kepala saya, uang saya ya yang di dompet saya, ditabungan tidak pernah saya lihat lagi (kalau perlu atm-nya saya simpan di rumah). Atau mungkin ada cara lain? Silakan saja. Menurut saya setiap orang punya cara yang sesuai untuk dirinya sendiri.

Seperti kata guru NLP saya, tidak ada balsem di dunia ini. Artinya tidak ada satu tips atau cara jitu yang sesuai untuk semua orang. Karena manusia diciptakan dengan segala perbedaan dan keunikannya.

Selamat berinvestasi, dan selamat berhemat. Kita tidak tahu bagaimana tahun depan. Yang jelas akan ada pemilu besar-besaran yang sudah pasti mempengaruhi kondisi negeri. Maka tidak ada salahnya jika resolusi tahun depan adalah berhemat biar selamat!

Untuk investasi, karena semua saham dan reksadana lagi dijual murah tidak ada salahnya membeli tetapi ingat ini adalah sebuah investasi jangka panjang, bukan mengejar peruntungan sesaat.

SELAMAT TAHUN BARU. Selamat libur panjang, nikmati hari ini sebelum kembali kerja tahun depan.

*orang-orang inspiratif disekeliling saya*

Akhirnya saya bertemu dengan Mas Rudi dan Mbak Jeni blogger kondang nan bijaksana. Rumahnya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kopdaran atau tumpangan tidur (makan) bagi blogger perantau. Perwajahannya sesuai dengan gambar mereka di dunia maya. Ramah dan hangat.

Saya tidak mengomentari blog mereka, tetapi pertemuan nyata yang mengesankan. Mereka sudah cukup berumur dengan dikarunia anak-anak yang beranjak dewasa. Tidak nampak sebuah hubungan yang sudah menua, justru segar dan hangat tanpa dibuat-buat. Sesekali mereka bergandengan tangan. Si istri yang lembut baik tutur kata dan perilaku mendampingi sang suami yang aktif kesana kemari menjumpai para penggemar.

Gambaran tentang sebuah perkawinan yang membelenggu, membosankan, dan hambar ketika umur beranjak menua tidak terlihat pada mereka. Mereka tetap bergaul, berteman dan menjalankan kesukaan tanpa menganggu satu sama lain. Justru saling mendukung. Ketika berita perceraian sudah seperti minum obat, ketika percekcokan rumah tangga menjadi konsumsi media sehari-hari, melihat mereka membuat saya menaruh harap bahwa sebuah relasi suami istri bisa dibangun tanpa saling membelenggu tetapi justru menguatkan sampai waktu menyelesaikan semuanya.

Tehnologi yang semakin maju, merupakan berkah untuk mereka yang saat ini sedang menjalani hubungan jarak jauh. Mas Rudi yang tugasnya berkelana, dan mbak Jeny yang tetap beraktivitas di Bogor bersama anak-anaknya bisa menjalin komunikasi dengan sangat baik. Intip saja halaman maya mereka. Sang Bapak tetap bisa mengikuti perkembangan istri dan putra-putranya, begitu juga sebaliknya. Jarak bukan halangan, justru membuat mereka semakin romatis. Lihat saja ketika sang suami menulis statusnya di facebook : ngopi di Changi. Dan sang istri meninggalkan komen : bikin ngiri. Haha…saya ikut tersenyum melihat romantisme ala mereka.

Kehangatan juga menyebar kepada teman-teman mereka. Saya yang baru kenal pun tidak canggung untuk bertukar cerita tanpa ada sekat. Teman-teman bisa bercerita, berkeluh kesan apa saja dan mereka menerima dengan tangan terbuka. Kesediaan mereka mengulurkan tangannya atau sesekali memberikan “hadiah kecil” menjadikan mereka tempat bergantung bagi sebagian kalangan. Dituakan karena memang sudah tua, tetapi kebijaksanaan karena mereka melakukannya.

Buat kalian anak muda yang ingin melangkah ke jenjang pernikahan, mereka adalah cermin yang inspiratif dan pembelajaran yang sesungguhnya. Lupakan sejenak tentang gambaran pernikahan yang menyeramkan, karena mereka memiliki sebuah oase yang menentramkan. Sebuah relasi yang dibangun atas dasar kepercayaan dan kesetiaan bukan berarti tanpa hambatan atau godaan. Ketangguhan melalui badai, dan tidak terjebak kepada hubungan yang membosankan membuat kehangatan selalu terjaga diantara mereka. Siapa bilang perselingkuhan lebih indah? Tanyakan saja pada Mas Rudi dan Mbak Jeni.

Terimakasih saya ucapkan kepada mal Cilandak Town Square (CITOS) yang telah memberikan pelajaran hidup bertubi-tubi dan sangat penting untuk saya sebagai orangtua, ibu dan perempuan pekerja.

Seperti biasa, saya cukup sering belanja di supermarket yang berada di CITOS membawa putri saya -kika- yang sudah berumur 5 tahun dengan berat badan lebih dari 20 kg. Malam itu, karena kondisi logistik rumah sudah habis, dan saya sudah 3 hari dihajar tugas kerja bertubi-tubi sehingga pulang larut, maka saya dari kantor mampir ke rumah menjemput kika untuk diajak belanja. Selain memenuhi kebutuhan rumah juga memenuhi kebutuhan waktu kika dengan ibunya. Dengan kondisi badan yang kurang oke, saya berangkat ke CITOS karena biasanya kika tidak pernah rewel atau merepotkan bahkan happy jalan-jalan sama ibunya.

Tadi malam tidak seperti biasa. Kika bilang pusing dengan muka mau nangis sehingga saya tidak tega dan akhirnya saya menyelesaikan proses belanja dengan menggendongnya. Sejak dari antre yang cukup lama di kasir sampai ke lobi kika tertidur dalam gendongan. Kondisi parkiran yang cukup penuh membuat saya harus menunggu lebih lama di lobi. Punggung panas, dan kaki yang melemas, keringat mengucur, dan gendongan yang makin terasa memberat membuat saya mencari tempat untuk duduk, dan adanya hanya tiang pendek yang memang bukan untuk duduk. Saya sudah tidak kuat lagi. Tiba-tiba seorang sekuriti menegur saya “Maaf Bu, dilarang duduk disini.” Saya sampaikan bahwa saya sudah tidak kuat lagi berdiri sambil menggendong, tapi sang sekuriti yang katanya hanya menjalankan tugas menjawab bahwa itu aturan manajemen CITOS. Saya pun meminta bicara dengan manajemen atau atasannya, karena saya benar-benar harus duduk supaya saya dan anak tidak terjatuh. Saya minta salah satu dari manajemennya datang ke lobi, karena saya tidak kuat lagi jalan, menggendong dan membawa troli belanjaan. Tapi sekuriti bilang bahwa saya tidak boleh duduk disitu, tanpa memberikan saya jalan tengah yang cukup melegakan.

Sekuriti itu menghampiri sekuriti yang lain – mungkin posisinya lebih tinggi – untuk melaporkan saya yang tetap ngeyel membuat saya sangat marah. Saya pun menghampiri sekuriti yang lain itu sambil bicara untuk memberikan sedikit kelonggaran dan jalan keluar yang agak manusiawi untuk saya. Kemarahan saya semakin meninggi melihat jawaban yang hanya tidak boleh duduk titik. Airmata pun akhirnya berhamburan, bukan karena sedih tetapi kemarahan yang sudah tidak terbendung.

Melihat saya meradang, sekuriti yang lain itu menyatakan kenapa saya tidak duduk di lobi yang telah disediakan, dan saya memutar pandangan ke segala arah untuk mencari tempat duduk yang mereka sebut lobi. Karena selama ini tidak pernah  tahu ada lobi dengan tempat duduk untuk menunggu mobil jemputan datang. Dan sekuriti itu menunjuk meja konter informasi dan mengambil kursi plastik petugas supaya duduk disebelahnya. Dengan airmata kemarahan dan sakit dipinggang saya menuju konter informasi sambil menggendong serta menyeret troli belanjaan sendirian.

Ohh…baru saya tahu itu yang namanya lobi dan kursi untuk menunggu. Sang sekuriti yang lain itu pun menjawab “Ya bukan bu, ini bukan lobi yang disediakan untuk duduk.” Saya pun berteriak, marah, nangis sambil menggendong putri saya, hanya meminta rasa belas kasih secara manusiawi bukan pernyataan sekedar menjalan tugas dari manajemen yang disampaikan berulang-ulang.

Malam itu di rumah, saya menyadari banyak hal. Dan pelajaran berharga untuk saya seorang ibu, orang tua tunggal telah saya dapatkan atas insiden tersebut :

1. Olahraga. Ya, saya harus berolahraga dengan teratur supaya tetap kuat mengendong putri saya yang sudah cukup besar ketika sakit di tempat umum.

2. Membagi waktu dengan lebih efektif. Supaya kewajiban mencari nafkah dan mengasuh anak dapat dilakukan dengan baik, sehingga tidak dibebani rasa bersalah dan memaksakan waktu yang sempit untuk urusan rumah tangga dan anak.

3. Jangan belanja bersama anak jika kondisi kurang fit. Disamping tidak kuat menggendong anak juga tidak bisa mengangkut belanjaan.

4. Jangan berharap ada bantuan atau belas kasihan ditempat umum. Kalau rasa kemanusiaan di mal itu sudah tidak ada terimalah dengan lapang dada dan tetaplah tegar dan kuat baik fisik maupun mental. Jangan mengeluh dan menyalahkan pihak lain, karena itu resiko yang sudah sewajarnya.

5. Taatilah aturan manajemen mal ataupun tempat umum lainnya tanpa terkecuali apapun kondisinya.

Saya bukan konsumen yang baik jika kecewa lapor ke pengelola, tetapi cukup mengakhiri kunjungan saya kesana. Mungkin lebih baik buat saya, sehingga hikmahnya tidak lagi boros belanja di ladies day. Tetapi yang lebih penting adalah pelajaran yang saya dapatkan malam itu.

Airmata saya, kemarahan saya hanyalah umbaran yang gak penting dan hanya cukup meredakan sejenak beban di dada.

Di CITOS saya belajar berdikari yang sesungguhnya. BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI apapun yang terjadi karena kursi bukan untuk umum.

Next Page »